Setelah menutup mushaf kecilnya, Abyan merebahkan tubuh di samping Reyna.
Perlahan, ia merangkul istrinya dari belakang, membiarkan kehangatan itu menyelimuti mereka berdua.
Dalam sekejap, keduanya pun tertidur lelap.
Di kamar sebelah, Aryan dan Elsa masih tertidur pulas, berpelukan tanpa peduli waktu yang sudah merambat jauh. Jam dinding menunjuk pukul sembilan pagi.
Reyna menggeliat kecil. Matanya perlahan terbuka, dan yang pertama ia rasakan adalah lingkaran lengan Abyan di pinggangnya.
Ia berbalik badan, kini wajah Abyan hanya sejengkal darinya. Wajah itu begitu tenang, damai dalam tidurnya.
“Mulai sekarang… aku harus melupakan Mas Aryan, dan mencoba mencintai Mas Abyan,” batinnya lirih. Pandangannya melunak.
“Ternyata Mas Abyan tampan juga kalo lagi tidur begini…”
Tangannya terulur hati-hati, menyentuh lembut pipi Abyan, lalu membelainya pelan.
Abyan sebenarnya sudah bangun dari tadi, tapi ia memilih berpura-pura tidur. Begitu merasakan sentuhan istrinya, jantungnya berdetak kencang, tapi matanya tetap terpejam.
Reyna menunduk, mengecup kening suaminya dengan mesra, lalu bibirnya turun perlahan menyentuh bibir Abyan.
“Aku akan mencoba mencintai kamu, Mas…” bisiknya lembut.
Dalam hati Abyan seperti melayang, tubuhnya seakan ringan, tapi ia tetap menahan diri, pura-pura tak mendengar.
“Terima kasih sudah sabar menghadapi Reyna, Mas…” lirih istrinya lagi, lalu mencium pipi Abyan sebelum perlahan melepaskan pelukan itu.
Reyna turun dari ranjang dengan hati-hati dan keluar kamar menuju dapur.
Begitu pintu tertutup, Abyan langsung membuka matanya dengan senyum lebar.
Ia meloncat turun, berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru mendapat mainan.
“Yeayy! Istriku mau mencintai aku!” teriaknya girang, sampai tangannya ikut-ikutan goyang seperti joget t****k.
Tak disangka, Reyna kembali ke kamar untuk mengambil ikat rambutnya.
Begitu masuk, ia tertegun melihat suaminya yang sedang asyik berjoget dengan ekspresi kelewat bahagia.
Abyan menoleh, langsung beku. Wajahnya merah padam, buru-buru duduk di tepi ranjang sambil garuk-garuk kepala tak gatal.
“Ehem… ini… anu, Mas lagi… stretching,” ucapnya salah tingkah.
Reyna hanya tersenyum geli, mengambil ikat rambut di meja rias, lalu keluar lagi. Dari dapur, terdengar tawa kecilnya.
“Nggak nyangka orang dewasa bisa kayak anak kecil gitu…” gumamnya, sambil mengikat rambut.
Abyan yang masih di kamar menutup wajah dengan bantal, setengah malu setengah senang.
Di meja makan, suasana terlihat normal. Aryan dan Elsa duduk tenang menikmati sarapan, sementara Abyan dan Reyna sesekali saling bertukar senyum geli—ada rahasia kecil di antara mereka.
Tanpa terlihat, kaki Abyan bergerak nakal di bawah meja, menggesek pelan kaki istrinya.
Reyna langsung menegang, menoleh sekilas dengan tatapan tajam. Tapi Abyan pura-pura serius mengunyah.
“Mas!” bisik Reyna, wajahnya merah.
Alih-alih berhenti, Abyan malah makin menjadi-jadi. Kakinya naik ke arah paha Reyna.
Reyna buru-buru menunduk, tangannya diam-diam menjepit dan mencubit kaki suaminya. Abyan meringis, menahan tawa.
Sementara itu, Aryan dan Elsa asyik menyantap makanannya, tak sadar ada drama kecil di depan mereka.
Begitu selesai sarapan, Aryan meletakkan sendok.
“Makasih ya, Pak Abyan.”
Abyan tersenyum santai.
“Oke, sama-sama ya.”
Reyna memeluk Elsa sebentar di depan pintu. “Hati-hati di jalan ya.”
“Iya, Reyna. Makasih ya,” balas Elsa dengan senyum ramah.
Aryan hanya mengangguk singkat, lalu keduanya berjalan beriringan menuju villa mereka yang berjarak sekitar tiga ratus meter.
Begitu pintu tertutup, Reyna langsung masuk ke dapur, membereskan bekas sarapan.
“Sayang, biar Mas aja yang cuci,” ucap Abyan sambil mengikuti.
“Ngga usah, Mas. Sedikit kok.” Reyna tersenyum tipis, langsung menggulung lengan bajunya dan mencuci piring di wastafel.
Abyan berdiri di belakang, memperhatikan istrinya. Entah kenapa, pemandangan Reyna yang serius mencuci piring membuat hatinya hangat.
Ia mendekat, lalu tanpa basa-basi memeluk Reyna dari belakang.
“Mas…” Reyna refleks menoleh.
Abyan menunduk, menciumi lehernya dengan lembut. Reyna meringis geli.
“Mas, geli… udah ah.”
“Tadi siapa yang nyium bibir Mas waktu tidur, hm?” bisik Abyan, suaranya nakal.
Reyna tercekat, pura-pura cuek. “Siapa?”
Abyan terkekeh, bibirnya masih menyapu kulit leher istrinya.
“Ya siapa lagi kalo bukan istriku. Kenapa diam-diam gitu, Sayang? Mas seneng kok… kamu udah mulai belajar mencintai Mas.”
Reyna menggertakkan giginya pelan, wajahnya merah padam. “Mas… ish…” gumamnya, setengah malu setengah gemas.
Tapi Abyan sama sekali tidak berhenti, malah makin mesra menciumi leher Reyna, membuat gadis itu semakin salah tingkah, antara geli dan malu.
Setelah membereskan dapur, Abyan menggandeng tangan Reyna keluar villa.
“Yuk, Sayang. Kita jalan-jalan. Mas udah sewa motor sport, seru nih,” ujarnya penuh semangat.
Reyna sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk. Tak lama kemudian, suara mesin motor meraung pelan, dan mereka melaju menembus jalan berliku Ciwidey.
Reyna spontan memeluk Abyan erat dari belakang, kepalanya menempel di punggung suaminya.
Hembusan angin pegunungan menerpa wajahnya, membuat rambutnya sedikit berantakan.
Tapi justru sensasi itulah yang bikin Reyna tertawa kecil, merasa benar-benar bebas.
“Kamu bahagia, Sayang?” teriak Abyan di atas suara angin.
“Iya! Aku bahagia banget, Mas!” balas Reyna tak kalah keras.
Abyan tersenyum lebar, hatinya penuh. Ia merasa momen itu seperti hadiah Tuhan.
Mereka akhirnya berhenti di hamparan kebun teh yang hijau membentang.
Abyan mematikan mesin, turun, lalu menggandeng tangan Reyna. Ia mengajaknya berjalan ke sebuah rumah tua yang sederhana tapi asri di pinggir kebun.
Reyna mengernyit heran.
“Mas… ini rumah siapa?”
Abyan hanya tersenyum penuh misteri. “Sabar, ntar juga tahu.”
Ia mengetuk pintu sambil mengucap salam. Tak lama, dari dalam terdengar suara serak seorang tua menjawab salam.
Pintu terbuka, tampak seorang kakek berwajah teduh dengan rambut putih dan sorot mata ramah.
“Kakek!” Abyan langsung memeluk pria itu erat.
Kakek Mulyana Permana tertawa kecil, menepuk-nepuk punggung cucunya.
“Iya, iya, Bi. Masuk, ayo masuk.”
Abyan menggandeng Reyna masuk ke ruang tamu. Udara sejuk bercampur aroma kayu memenuhi ruangan.
Reyna duduk sopan di kursi anyaman, matanya masih berkeliling, kagum dengan suasana rumah yang bersih dan penuh tanaman hijau di luar jendela.
“Eh, ini siapa, Bi?” tanya Kakek Mulyana sambil melirik Reyna.
Abyan nyengir. “Hmm… ini istri Abyan, Kek.”
Kakek spontan menatap tajam. “Dasar anak kurang ajar! Nikah diam-diam, ya kamu!”
“Hehehe… maaf, Kek. Makanya sekarang Abyan kenalin sama Kakek.”
Kakek Mulyana beralih menatap Reyna dengan senyum hangat. “Kamu pintar cari istri, Bi. Cantik, anggun lagi.”
Reyna tersipu, wajahnya memerah. Sementara Abyan langsung merangkul bahu Reyna, cemberut pura-pura.
“Wah, Kek… awas aja jatuh cinta sama istri Abyan.”
Kakek hanya geleng-geleng kepala. “Dasar bocah ini.”
Lalu nada suaranya berubah serius.
“Ayah kamu sudah tahu, Bi?”
Abyan menunduk, wajahnya agak salah tingkah. “Belum, Kek…”
“Astagfirullah! Anak ini bener-bener, ya. Nggak tahu adab!” cerocos Kakek, meski jelas-jelas masih ada kasih sayang di matanya.
“Maaf, Kek. Nanti kalau Reyna lulus kuliah, baru Abyan umumin,” jawab Abyan pelan.
Kakek menoleh pada Reyna.
“Oh, masih kuliah, Nak?”
“Iya, Kek. Semester akhir,” jawab Reyna sopan.
“Oh begitu… ya sudah. Kakek doakan semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warahmah.”
Reyna tersenyum, hatinya hangat. “Aamiin. Terima kasih, Kek.”
Abyan meremas tangan Reyna diam-diam, seolah berkata: Lihat kan? Sekarang kamu udah jadi bagian keluarga Abyan.
“Kalian sudah makan?” tanya Kakek Mulyana sambil menatap keduanya.
“Sudah, Kek,” jawab Abyan cepat.
“Oh begitu…” gumam kakek sambil mengangguk, lalu tersenyum tipis.
Tak lama, terdengar suara langkah masuk. Seorang pemuda seumuran Abyan muncul dengan wajah cerah.
“Mas Abyan!” sapa pemuda itu.
Abyan langsung berdiri dan tertawa kecil. “Hai, Bimo! Tambah gagah aja kamu sekarang.”
“Hehehe, iya dong. Masa Mas Abyan aja,” balas Bimo sambil nyengir.
Tatapannya kemudian bergeser ke arah Reyna.
“Eh, ini siapa, Mas?” tanyanya dengan penasaran.
“Istri Mas, dong, Bim,” jawab Abyan santai sambil merangkul Reyna. “Memangnya kamu doang yang boleh nikah?”
“Oh, jadi Mas Abyan udah menikah ya?” Bimo tampak kaget sekaligus kagum.
Abyan tersenyum bangga. “Iya, Bim. Kenalin, Sayang… ini Bimo, sepupu Mas.”
Reyna tersenyum manis, hendak menjabat tangan Bimo. “Reyna,” ucapnya sopan.
Namun Abyan buru-buru menahan, tangannya lebih dulu meraih jemari Reyna.
“Udah, nggak usah salaman.”
Bimo melotot sambil terkekeh. “Dih, Mas Abyan posesif banget!”
“Biarin,” jawab Abyan cuek tapi dengan nada penuh arti, membuat Reyna hanya bisa tersenyum malu-malu.
Bimo akhirnya duduk di samping Kakek Mulyana.
“Mas, di belakang rumah kebun stroberi lagi berbuah, loh.”
“Serius, Bim?” tanya Abyan, matanya berbinar.
“Iya.”
Abyan menoleh pada Reyna, menggenggam tangannya lembut. “Sayang, kamu suka stroberi?”
Reyna mengangguk pelan. “Suka, Mas.”
“Ya sudah, ajak istri kamu ke kebun, Bi,” ujar Kakek Mulyana sambil tersenyum penuh arti.
“Iya, Kek,” jawab Abyan.
Abyan lalu berdiri, masih menggenggam tangan Reyna.
Mereka melangkah ke arah kebun belakang, diikuti Kakek Mulyana dan Bimo yang ikut berjalan sambil bercanda ringan.
Udara sejuk Ciwidey makin terasa segar ketika langkah mereka sampai di dekat kebun stroberi.
Tanahnya lembap, aroma dedaunan bercampur manisnya buah matang menyambut kehadiran mereka.
Reyna menatap hamparan tanaman stroberi dengan mata berbinar.
“Masya Allah… cantik banget.”
Abyan meliriknya, tersenyum. “Lebih cantik kamu, Sayang.”
Reyna hanya bisa mencubit lengan Abyan pelan.
“Mas, ih… ada Kakek sama Bimo.”
Tapi Abyan malah terkekeh kecil, wajahnya jelas-jelas menikmati suasana itu.