Manisnya cinta di kebun stroberi

1722 Kata
Reyna jongkok pelan, jemarinya menyibak dedaunan hijau segar. Matanya berbinar saat melihat buah merah yang ranum menggantung. “Mas, lihat deh… stroberinya gede-gede banget.” Abyan ikut jongkok di samping istrinya, lalu pura-pura serius. “Hmm… gede sih, tapi masih kalah sama senyummu, Sayang.” Reyna langsung mendelik, wajahnya merona. “Mas Abyan bisa aja.” Bimo yang baru sampai di belakang mereka malah tertawa keras. “Astaga, Mas… ini kebun stroberi, bukan kebun gombal. Nggak tahan aku liatnya.” Abyan menoleh dengan tatapan malas. “Kalau nggak tahan, jangan nonton, Bim.” Kakek Mulyana cuma geleng-geleng sambil terkekeh. “Dasar anak muda.” Reyna menunduk lagi, memetik satu buah stroberi matang, lalu membersihkannya sebentar. Dengan ragu, ia menyodorkannya ke Abyan. “Mas, coba ini.” Abyan langsung berbinar, menerima stroberi itu dari tangan istrinya. “Dikasih langsung sama istri, pasti rasanya manis banget.” Reyna tersenyum malu. Tapi sebelum Abyan sempat menggigit, Bimo dengan cepat menyambar stroberi itu. “Makasih ya, Mbak Reyna. Manis banget!” katanya sambil mengunyah, pura-pura tak tahu salah. “Bim!” Abyan hampir meloncat berdiri, wajahnya kesal setengah mati. Reyna spontan menutup mulutnya menahan tawa. Pipinya merah, matanya berair saking menahan geli. “Tenang, Mas. Jangan marah. Masih banyak stroberi kok,” sahut Kakek Mulyana sambil tertawa. Abyan mendesah panjang, lalu menatap Reyna. “Sayang, lain kali kasih stroberinya langsung masukin ke mulut Mas aja biar nggak disamber maling.” Reyna menunduk, wajahnya makin panas. “Mas, ih… ada Kakek.” Bimo masih ngakak sambil memetik stroberi lain. “Waduh, Mas Abyan kalah cepat nih sama aku. Kasihan banget, ditikung di depan istri.” “Bim…” Abyan memperingatkan dengan nada setengah bercanda, setengah serius. Kakek Mulyana kembali geleng-geleng. “Sudahlah, kalian ini bikin kebun kakek jadi ramai sekali.” Reyna tersenyum hangat. Dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Kehangatan keluarga yang sederhana, bercampur rasa nyaman yang makin lama tumbuh untuk Abyan. Setelah Bimo sibuk dengan keranjangnya sendiri, Abyan menarik pelan tangan Reyna ke sudut kebun yang agak sepi. “Mas, mau ngapain sih? Kok jauh-jauh?” bisik Reyna, matanya melirik takut ketahuan kakek atau Bimo. Abyan tersenyum nakal, lalu menunjuk setangkai stroberi merah segar. “Sayang, coba petik yang itu buat Mas.” Reyna menurut, memetik stroberi itu lalu memberikannya ke Abyan. Tapi Abyan tidak langsung mengambil. Ia malah menundukkan kepala sedikit, membuka mulut. “Langsung aja suapin ke sini.” Reyna membelalakkan mata. “Mas, malu ah… ada orang.” “Biarin, kan cuma Kakek sama Bimo. Mereka lagi sibuk sendiri.” Abyan makin mendekat. “Ayolah, sekali aja. Mas janji, habis itu nggak usil.” Reyna mendengus, tapi akhirnya menyodorkan stroberi itu pelan ke bibir Abyan. Saat Abyan menggigitnya, matanya sengaja menatap Reyna dalam-dalam. “Hmm…” Abyan mengunyah pelan, pura-pura mikir. “Rasanya… manis banget. Tapi masih kalah manis sama kamu.” “Mas Abyan!” Reyna langsung mendorong pelan bahunya, wajahnya panas sekali. Abyan tertawa kecil, lalu tiba-tiba memegang tangan Reyna yang masih memegang stroberi. Ia mendekat dan berbisik, “Makasih ya, Sayang. Kamu bikin Mas bahagia.” Reyna terdiam. Ada rasa hangat yang merambat di dadanya, membuat hatinya berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menarik tangannya dari genggaman Abyan. Dari kejauhan, Bimo berseru keras, “Woy, Mas Abyan! Kalau mau pacaran jangan di kebun, nanti stroberinya jadi saksi hidup!” Reyna langsung menunduk, ingin menutupi wajahnya yang merah padam, sementara Abyan mendengus kesal. “Bimo, awas ya kalau Mas dapet kamu nanti.” Kakek Mulyana hanya tertawa terbahak-bahak. “Ah, sudah, sudah. Sini kumpulin stroberinya, nanti kita bikin jus sama selai bareng-bareng di rumah.” Reyna tersenyum kecil, tapi hatinya berdebar tak karuan. Dalam hati ia bergumam, kayaknya aku bener-bener mulai jatuh cinta sama Mas Abyan. Di rumah kakek Mulyana, meja makan sudah penuh dengan keranjang stroberi segar yang baru mereka petik. “Wah, panennya lumayan juga,” ucap kakek sambil tersenyum puas. “Ayo kita bikin jus sama selai. Biar sore ini bisa dinikmati bareng-bareng.” “Siap, Kek!” sahut Abyan semangat. Ia langsung menggulung lengan kemejanya, seolah mau jadi chef profesional. Reyna tersenyum melihat tingkah suaminya. “Mas, jangan gaya doang ya. Bisa nggak bikin jus?” Abyan pura-pura cemberut. “Eh, jangan salah. Mas ini jago bikin jus. Nanti kamu pasti ketagihan.” Bimo ikut nyeletuk sambil mengambil beberapa stroberi. “Iya, ketagihan… bukan jusnya, tapi ketagihan sama Mas Abyan.” “Bimo!” Abyan langsung melempar stroberi ke sepupunya, membuat Reyna tertawa ngakak. Mereka pun mulai sibuk di dapur. Reyna memotong stroberi, Abyan menyiapkan blender, sementara kakek dan Bimo duduk santai sambil mengomentari. “Sayang, coba sini, Mas suapin,” ucap Abyan tiba-tiba sambil menyodorkan sepotong stroberi ke bibir Reyna. Reyna melotot. “Mas! Lagi banyak orang!” “Biarin. Biar semua tahu kalau kamu istri Mas yang paling manis.” Abyan tetap nekat menyodorkannya. Reyna akhirnya pasrah, menggigit stroberi itu dengan wajah merah padam. Kakek Mulyana tertawa terpingkal-pingkal. “Hahaha, dasar pengantin baru.” Bimo malah bersiul usil. “Cieee, nggak tahan ya, Mas? Baru sebentar nikah udah kayak gitu.” Reyna langsung pura-pura sibuk meracik gula, sementara Abyan dengan santainya menepuk bahu Bimo. “Bimo, kalau kamu masih ganggu, Mas nggak bakal ngenalin kamu ke teman-temannya Reyna yang cantik-cantik.” Bimo langsung diam, tapi matanya berbinar. “Eh… serius, Mas? Ada temannya Reyna?” Reyna menoleh, terkekeh kecil. “Ada sih… tapi nggak tahu deh mereka mau sama cowok bawel kayak kamu.” Kakek kembali tergelak, suasana rumah terasa penuh tawa dan kehangatan. Setelah jus jadi, mereka duduk bersama menikmati hasilnya. Reyna meneguk perlahan, lalu tersenyum. “Ternyata enak juga, Mas.” Abyan menatapnya penuh arti. “Tuh kan, Mas bilang apa? Kamu bakal ketagihan.” Reyna mendengus, tapi diam-diam jantungnya berdebar lebih kencang. Dalam hati ia berbisik, ya Allah… jangan-jangan aku beneran mulai jatuh cinta sama suamiku ini. Sore itu angin berhembus sejuk, udara kebun teh makin terasa segar. Di tepi kolam ikan, Abyan dan Bimo sibuk menjaring nila, sementara Reyna duduk manis di bangku panjang bersama Kakek Mulyana. “Kakek titip Abyan ya, Nak,” ucap Kakek pelan, tatapannya lurus ke arah cucunya yang sibuk tertawa bersama Bimo. Reyna menoleh, tersenyum lembut. “Iya, Kek.” Kakek menghela napas panjang, matanya sedikit redup. “Abyan itu ditinggalkan mamanya sejak masih bayi. Bapaknya… menikah lagi dengan istri barunya. Kakek tahu, dia bisa keras kepala, wataknya keras. Tapi sebenarnya hatinya lembut, gampang tersentuh.” Reyna ikut menatap ke arah suaminya. Bibirnya terangkat tipis. “Iya, Kek…” jawabnya lirih. Namun Kakek masih menatapnya penuh selidik. “Tapi kakek lihat… kamu seperti kurang suka sama Abyan, ya, Nak?” Deg. Jantung Reyna seketika mencelos. Dia buru-buru tersenyum menutup rasa canggungnya. “Ng… nggak kok, Kek. Reyna cinta sama Mas Abyan.” Kakek menepuk pelan punggung tangan menantunya itu. “Kalau kamu mau cerita sama Kakek, cerita aja, Nak. Jangan dipendam sendirian.” Reyna menggeleng kecil sambil memaksakan senyum. “Nggak ada, Kek. Beneran…” Belum sempat percakapan itu berlanjut, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kolam. “Woiii! Nih gede banget ikannyaaa!” Abyan berlari sambil mengangkat seekor nila besar dengan wajah sumringah. Namun saking semangatnya, langkahnya malah terpeleset di batu licin. “Byaaarrr!” Abyan jatuh tercebur ke kolam, membuat air muncrat ke mana-mana. Bimo langsung terbahak. “Hahaha! Mas Abyan! Kayak anak kecil!” Kakek juga ikut tertawa sampai geleng-geleng kepala. Reyna menutup mulutnya, tak kuasa menahan geli. Dengan cepat, Reyna bangkit dan mendekati tepi kolam. “Mas! Sini, aku tarik!” Reyna mengulurkan tangannya. Abyan yang basah kuyup menyambut uluran tangan istrinya, wajahnya setengah kesal setengah malu. Tapi bukannya berhasil menarik Abyan ke darat, Reyna malah ikut kehilangan keseimbangan. “Byaarrrr!!” Reyna pun jatuh ikut tercebur ke kolam, tepat di sebelah suaminya. Air cipratan mengenai Bimo dan Kakek. Bimo sampai terpingkal-pingkal, hampir jatuh ke tanah. “Astaga! Hahaha! Pasangan kompak banget! Bukannya nolong malah ikutan nyemplung!” Kakek Mulyana tertawa terbahak, menepuk pahanya sendiri. “Astaghfirullah… ini kolam ikan, bukan kolam renang, kalian berdua!” Reyna muncul ke permukaan, wajahnya basah dan merah menahan malu. Abyan menatapnya, lalu malah tersenyum nakal. “Yah… udah jatuh berdua, sekalian aja kita main air, Sayang.” “Mas!! Banyak yang liat!” Reyna memelototinya. Abyan terkekeh, lalu mencipratkan air ke wajah Reyna. Reyna terkejut, balas menciprati suaminya. Dalam sekejap, mereka berdua malah sibuk saling siram air, tertawa seperti anak kecil. Dari atas bangku, Kakek dan Bimo hanya bisa geleng-geleng, tapi senyum mereka jelas penuh kehangatan. Tubuh Abyan dan Reyna basah kuyup saat akhirnya berhasil naik ke tepi kolam. Reyna menunduk, pipinya memerah karena malu, sementara Abyan malah tertawa puas sambil mengibaskan air dari rambutnya. “Mas! Malu tau, dilihatin semua orang,” gerutu Reyna sambil meremas ujung bajunya yang meneteskan air. Abyan menoleh santai, tatapannya jahil. “Lagian siapa suruh sok-sokan nolongin aku? Ya jelas ikut nyemplung lah.” Reyna melotot. “Aku kan niat baik!” Bimo yang sejak tadi tak berhenti tertawa langsung nyeletuk, “Niat baik tapi hasilnya gagal total! Hahaha, sumpah kalian kayak adegan sinetron!” Kakek Mulyana hanya geleng-geleng kepala, tapi senyumnya hangat. “Ya ampun, dasar anak muda. Udah sana ganti baju dulu, nanti masuk angin malah repot.” Abyan mendekat ke Reyna lalu meraih tangannya. “Ayo, Sayang. Kita ganti baju dulu.” Reyna sempat menepis, masih malu. Tapi genggaman Abyan terlalu hangat untuk ditolak. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan suaminya menariknya masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, sore berganti dengan langit oranye keemasan. Di halaman belakang rumah, Bimo sudah menyiapkan bara api untuk memanggang ikan nila. Aromanya mulai menyebar, bercampur dengan semilir udara dingin pegunungan. Reyna duduk di kursi panjang, kali ini mengenakan sweater hangat. Rambutnya yang masih sedikit basah tergerai, membuatnya tampak semakin manis. Abyan duduk di sebelahnya, sesekali menyibak rambut Reyna agar tidak menutupi wajah istrinya. “Mas… jangan gitu, diliatin orang,” bisik Reyna setengah kesal. “Biarin. Biar semua orang tahu kamu istri aku,” balas Abyan santai sambil tersenyum. Reyna hanya bisa mendesah pelan, pipinya memanas. Bimo yang sibuk membolak-balik ikan menoleh sambil berseru, “Nih, tinggal nunggu matang dikit lagi. Siap-siap kenyang, Mbak Reyna!” Kakek Mulyana duduk sambil menyesap teh hangat. Tatapannya teduh melihat kebersamaan cucunya. “Alhamdulillah… rumah ini jadi rame lagi.” Reyna menoleh ke arah kakek, hatinya hangat. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan. Sore itu, meski sederhana, terasa begitu indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN