Ayu datang sambil membawa nampan berisi nasi hangat, lalapan, dan sambal ulek yang aromanya langsung membuat perut keroncongan.
Senyum manisnya mengembang ketika melihat Bimo.
“Mas, aku bawain nasi sama sambal,” ucap Ayu lembut.
Bimo langsung bangkit menyambut istrinya. Tanpa ragu, ia memeluk Ayu dengan penuh kasih sayang, lalu tangannya refleks mengelus perut besar sang istri yang sudah memasuki bulan terakhir kehamilan.
“Makasih ya, Sayang. Kamu capek nggak jalan ke sini?” tanyanya khawatir.
Ayu menggeleng pelan sambil tersenyum.
“Nggak kok, Mas. Aku seneng bisa nemenin.”
Dengan penuh perhatian, Bimo menggandeng istrinya menuju teras yang sudah diberi tikar.
Ia membantu Ayu duduk dengan hati-hati, lalu meletakkan nasi dan sambal di depan mereka.
Abyan yang melihat itu tersenyum, lalu mendekat ke Reyna.
“Itu istri Bimo, namanya Ayu,” bisiknya sambil menoleh ke arah pasangan sepupunya itu.
“Oh…” Reyna mengangguk pelan, matanya memperhatikan interaksi Bimo dan Ayu yang begitu hangat.
Ada rasa kagum dalam hatinya, sekaligus harapan semoga rumah tangganya dengan Abyan pun bisa penuh kelembutan seperti itu.
Setelah ikan nila matang, aroma bakaran yang gurih memenuhi udara. Abyan cepat-cepat menggandeng Reyna untuk duduk di tikar, tepat di sampingnya.
Ia sengaja merapatkan diri, membuat Reyna salah tingkah.
Di sisi lain, Bimo duduk manis di samping Ayu, sesekali mengipasi ikan bakar agar tidak gosong.
Kakek Mulyana duduk di tengah-tengah mereka, wajahnya berseri penuh kebahagiaan.
“Alhamdulillah… beginilah nikmat keluarga. Duduk bareng, makan bareng, penuh canda dan syukur,” ucap kakek sambil menatap satu per satu cucu dan menantunya.
Reyna menunduk tersenyum, sementara Abyan meraih tangan istrinya di bawah tikar, menggenggam erat seolah tak ingin melepas.
Malam itu rumah kakek Mulyana terasa hangat, meski udara Ciwidey dingin menusuk.
Di ruang keluarga, mereka semua duduk lesehan di atas tikar pandan. Televisi menayangkan siaran langsung pertandingan bola—Persib melawan Persija.
Suasana riuh penuh semangat, apalagi Bimo yang paling heboh berkomentar setiap ada peluang tercipta.
Dari dapur, aroma harum gorengan menyeruak. Reyna dengan cekatan menggoreng bakwan dan pisang, sementara Ayu, istri Bimo, setia menemaninya sambil sesekali tertawa kecil melihat cara Reyna yang kaku tapi penuh semangat.
“Dikit lagi mateng, Yu,” ucap Reyna sambil meniriskan gorengan ke piring besar.
“Iya, bawa aja ke ruang tengah. Pasti langsung ludes,” sahut Ayu sambil terkekeh.
Benar saja, begitu dihidangkan di tengah-tengah, gorengan itu langsung diserbu.
“Wah, mantap banget! Reyna jago juga gorengannya,” seru Bimo sambil nyemil bakwan panas.
Ayu tersenyum, lalu Bimo membantu istrinya duduk di sampingnya dengan penuh perhatian.
Abyan tak mau kalah, ia meraih tangan Reyna, menuntunnya duduk di sebelahnya.
Reyna menyenderkan kepalanya di lengan Abyan, matanya sudah mulai sayu karena lelah.
Abyan refleks memeluknya dengan satu tangan, membuat Reyna makin nyaman.
“Ngantuk ya? Udah ke kamar aja, istirahat,” bisik Abyan lembut.
Reyna menggeleng pelan, matanya masih menatap layar televisi.
“Aku mau nemenin Mas nonton.”
Abyan tersenyum, lalu menepuk pahanya pelan. “Tidur sini aja.”
Wajah Reyna memerah, tapi senyum tipis muncul di bibirnya. Dengan ragu-ragu ia membaringkan kepalanya di paha Abyan. Hangat. Nyaman.
Abyan menunduk sedikit, jarinya menyusuri helaian rambut Reyna dengan lembut.
Sesekali ia menyuapkan gorengan ke mulut sendiri, matanya fokus pada pertandingan yang kian seru.
Sementara itu, kakek Mulyana duduk di kursinya sambil tersenyum melihat kebersamaan mereka, seolah hatinya tenang melihat cucu-cucu yang ia sayangi menemukan kebahagiaan masing-masing.
“Gol! Gol!” teriak Bimo tiba-tiba, membuat Reyna sedikit terlonjak, tapi langsung kembali tenang karena belaian Abyan di rambutnya.
Di tengah hiruk pikuk pertandingan, Reyna perlahan terpejam, tertidur dengan damai di pangkuan suaminya.
Abyan tersenyum, menunduk, lalu berbisik lirih, “Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Aku jagain kamu.”
Pertandingan bola akhirnya usai, Persib keluar sebagai pemenang. Bimo melonjak kegirangan.
“Yesss! Menang juga akhirnya!” serunya sambil mengepalkan tangan ke udara.
Namun tawa Bimo mendadak berhenti ketika melihat istrinya meringis sambil memegangi perut.
“Sayang… kamu kenapa?” tanya Bimo panik, segera mendekat.
Ayu terengah, wajahnya pucat. “Mas… kayaknya… aku mau lahiran.”
Kakek Mulyana langsung berdiri terburu-buru.
“Astaghfirullah! Bimo, cepat panggil Bu Bidan Susi! Jangan lama-lama!”
“Iya Kek! Iya!” Bimo berlari keluar rumah, suaranya nyaris terbawa angin malam.
Abyan segera mengguncang pelan bahu Reyna.
“Sayang, bangun. Bangun, cepat!”
Reyna mengucek mata, masih setengah sadar. “Kenapa, Mas?”
“Ayu… mau melahirkan!” suara Abyan tegas tapi terdengar cemas.
“Apa?!” Reyna langsung terduduk, matanya melebar panik. Ia bangkit dan segera menghampiri Ayu yang sudah mondar-mandir memegangi pinggangnya.
“Astaga, Mbak Ayu…” Reyna memegang lengannya, berusaha menuntun.
“Sini, pelan-pelan ya. Jangan panik. Mulesnya sering, Mbak?”
Ayu meringis. “Iya… aduhh… sering banget.”
Reyna menepuk pelan punggung Ayu, mencoba menenangkan. “Tarik napas dalam-dalam, ya. Kamu kuat. Sabar…”
Sementara itu, Abyan menyiapkan kamar, membentangkan perlak di atas kasur.
Dari dapur, terdengar suara kakek Mulyana sibuk merebus air.
Tak lama ia keluar sambil membawa segelas jus kurma.
“Ayu, nak… minum ini dulu. Biar ada tenaga buat melahirkan.”
Dengan tangan gemetar, Ayu menerima gelas itu.
“Terima kasih, Kek.” Ia meneguk sedikit demi sedikit.
Tak lama kemudian, Bidan Susi datang terburu-buru membawa perlengkapan.
“Mana pasiennya? Ayo, kita masuk kamar!”
Reyna membantu Ayu berjalan masuk. Bidan Susi segera memeriksa dengan sigap. “Pembukaan delapan. Sudah dekat waktunya. Semua siap-siap!”
Malam itu udara semakin dingin. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat. Suara jeritan Ayu menggema dari kamar.
“Aaaaahhh…!” Ayu mengejan kuat, wajahnya penuh peluh. Tangannya mencengkeram lengan Bimo sampai nyaris berdarah.
“Mas… sakit banget…” Ayu terisak.
Bimo menunduk, matanya basah, tapi ia tetap menggenggam tangan istrinya erat.
“Sabar, Sayang… kamu kuat. Aku di sini, aku nggak akan ninggalin kamu.”
Dari luar kamar, Reyna menutup mulutnya, hatinya berdebar keras. Ia menatap Abyan dengan wajah pucat.
“Mas… aku takut… serem banget rasanya lihat Mbak Ayu kesakitan begitu.”
Abyan meraih bahunya, menenangkan.
“Tenang, Sayang. Kita doain bareng-bareng, ya. Semoga Ayu dan bayinya selamat.”
Jeritan Ayu kembali terdengar, disusul instruksi tegas Bidan Susi. “Ayo, Ayu! Sedikit lagi! Tarik napas, lalu dorong! Sekuat tenaga!”
Dan tiba-tiba—suara tangisan nyaring memecah malam.
“Oaaa… Oaaa… Oaaa…”
Suasana hening seketika, hanya tangisan bayi yang terdengar.
“Alhamdulillah,” ucap Bidan Susi lega. Dengan cekatan ia membersihkan bayi mungil itu, lalu menunjukkannya pada Ayu. “Laki-laki, sehat.”
Ayu menangis haru, begitu juga Bimo yang langsung mengadzankan putranya dengan suara bergetar. “Allahu Akbar….”
Di luar kamar, Reyna menutup wajah dengan kedua tangan, air matanya menetes.
Abyan tersenyum lega sambil merangkul istrinya. “Alhamdulillah… mereka selamat.”
Kakek Mulyana mengusap d**a, wajahnya lega bercampur bahagia.
“Syukurlah… syukurlah ya Allah.”
Tak lama kemudian, Bidan Susi keluar membawa ari-ari dalam kendi tanah liat.
“Ini harus segera dikuburkan, Pak.”
Abyan mengangguk cepat, lalu menyerahkan amplop ke tangan Bu Susi.
“Terima kasih banyak ya, Bu. Berkat Ibu, semuanya lancar.”
Bidan Susi tersenyum hangat. “Sama-sama, Nak. Bayinya sehat, ibunya juga kuat. Itu yang paling penting.”
Keesokan dini hari, suasana rumah Kakek Mulyana ramai. Kedua orang tua Ayu datang dengan wajah haru, mata mereka berkaca-kaca melihat cucu pertama mereka.
Ayah Ayu menimang bayi mungil yang masih terlelap dengan penuh kasih.
“Alhamdulillah… cucu Bapak ganteng sekali. Semoga jadi anak saleh.”
Sementara itu, ibu Ayu sibuk di dapur bersama para tetangga yang datang membantu.
“Besok kita masak yang banyak. Syukuran kecil-kecilan, sebagai bentuk rasa syukur Ayu melahirkan dengan selamat,” ucapnya sambil mengaduk sayur.
Reyna ikut membantu, menggulung lengan bajunya lalu menyiangi sayuran bersama ibu-ibu.
“Eh, kenalin, ini istrinya Abyan,” ucap ibu Ayu sambil tersenyum bangga.
Reyna membalas dengan sopan, menunduk sedikit. “Assalamu’alaikum, Bu. Saya Reyna.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab ibu-ibu hampir serempak.
“Masya Allah, cantik banget istrinya Abyan, ya. Serasi sekali!” celetuk Bu Tina, ibu bertubuh gendut yang dikenal suka bercanda.
Disambut tawa kecil dari ibu-ibu lain, dapur makin ramai dengan obrolan hangat. Reyna tersipu, tak terbiasa jadi pusat perhatian.
Dari luar, Abyan memperhatikan. Ia melihat wajah Reyna yang mulai pucat kelelahan. Ia pun mendekat, berdiri di dekat pintu dapur.
“Maaf, Bu-Bu semua,” Abyan berkata sopan. “Sepertinya istri saya perlu istirahat dulu. Dia kelihatan lelah.”
“Wah, Abyan… kamu perhatian banget sama istri,” timpal Bu Wilda sambil tertawa kecil.
Bu Tina ikut menimpali sambil menggoda, “Kamu tuh ya, Ban… anak gadis saya saja nggak kamu lirik, eh tahu-tahu sudah menikah sama gadis lain.”
Ibu-ibu tertawa serentak. Abyan hanya tersenyum, lalu meraih tangan Reyna dengan lembut. “Jodohnya memang sama gadis ini, Bu.” Jawabnya sopan.
Reyna menunduk malu, mengikuti langkah suaminya masuk ke kamar. Jam dinding sudah menunjuk pukul tiga dini hari.
“Tidurlah, Sayang. Biar besok kamu segar lagi,” ucap Abyan, mengelus pelan rambut istrinya.
Reyna mengangguk, rebah di kasur. “Hmm… iya, Mas. Kamu jangan begadang ya.”
“Iya, Mas tinggal sebentar. Tidurlah,” Abyan mengecup keningnya sebentar sebelum keluar kamar.
Di ruang tengah, para laki-laki masih terjaga, duduk lesehan sambil bermain catur.
Abyan pun bergabung, duduk di samping kakek Mulyana yang tampak menikmati suasana penuh kekeluargaan itu.