Makin Tua Makin Jadi

1195 Kata
He’s aging like a fine wine. Aku berani bersumpah, usia hanya membuat mas Nusa semakin mempesona. Aku tahu dia menginjak usia 45 tahun ini, ohya jangan tanya bagaimana aku bisa tahu. Bahkan tanggal ulangtahun mas Nusa saja aku mengetahuinya juga. Ya Tuhan, aku harus membunuh perasaan ini pelan – pelan, aku tidak ingin mengacaukan pekerjaanku sekarang. Bisa berdekatan dengannya adalah suatu anugrah yang patut aku syukuri. Aku duduk di kursi penumpang di belakang Nadia, sehingga memandangi mas Nusa yang duduk di balik kemudi semudah membalikkan telapak tangan. Aku menikmati pemandangan indah ini, yaitu profil wajah mas Nusa dari sisi sebelah kiri. Rahangnya yang tampak kokoh itu memiliki sedikit bayangan bekas cukuran yang masih sangat rapi, ia pasti rajin bercukur untuk menjaga penampilannya. Ia memiliki hidung mancung yang panjang, kedua mata dengan manik hitam yang teduh, dan bibir tipis yang apabila tersenyum sanggup membuat detak jantungku menggila. Aku masih ingat mas Nusa sempat memiliki kumis kecil yang kini tidak ia tampilkan lagi. Darah Arab yang diwariskan orangtuanya membuat appearance mas Nusa memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Sungguh indah ciptaanmu ini yaa Tuhan. Fiuuhhh. Bernapas dalam ruang sempit bersamanya memang sungguh menyesakkan. Sesak sebab kami tak ada hubungan lebih dari sekedar staf dan bos. Sesak, karena ternyata, aku tidak pernah benar – benar bisa melupakan maupun beranjak dari perasaan yang sama. Setelah bertahun – tahun lamanya kami tidak berjumpa. Ajaib. Pasangan ayah dan anak di depanku sedang berbincang akrab, mas Nusa menanyakan tentang sekolah Nadia dan apa saja yang dilalui si anak seharian ini. Aku menjadi pendengar setia, sesekali ikut tertawa saat Nadia menceritakan hal lucu dengan seru. Hujan membuat perjalanan kami tersendat karena membludaknya kendaraan roda empat. Mas Nusa cukup sabar dengan tidak membunyikan klakson berkali – kali seperti beberapa pengendara di sekitar kami, ia menikmati obrolan dengan Nadia, aku bisa menduganya. Mungkin karena waktu yang mereka miliki tidak banyak, sehingga mas Nusa memanfaatkan momen seperti ini untuk ngobrol dengan putrinya. Sesekali Nadia mengajakku ikut serta dalam obrolan, tapi aku terlalu grogi untuk sekedar menjawab pertanyaan sepele yang ia lontarkan. “Kak Zora kedinginginan ya?” Justru dingin menjadi pertanyaan Nadia ketika aku menjawab pertanyaannya dengan suara pelan. “Dingin, Zo?” Lekas aku menyanggah dugaan Nadia. “Nggak kok, aman.” “Aku kira Kakak sedang menggigil.” “Ehe.” Aku menggigit bibir, perlahan mencoba menetralkan degup jantung dan napas yang balapan bekerja. “Jadi, selama resign dari Kubus kamu ngapain saja, Zo?” Netra kami bertatapan karena mas Nusa menoleh saat melemparkan pertanyaan padaku. “Uhm...kerja freelance saja, Mas. Cari job di Upwork.” “Oh, banyak ya cari klien di sana?” “Lumayan. Setiap minggu pasti dapat klien.” “Nggak ada yang long term gitu?” “Kalau design nggak ada, yang long term gitu biasanya assistant.” “Huumm.” Hening, Nadia mulai asyik dengan hape. Aku memandangi curah hujan yang masih deras di luar. Kemudian mas Nusa kembali bicara, aku memutar leher menatapnya lagi. “Setahun lalu saya isi acara di kampus kita, kamu datang nggak waktu itu?” Tentu saja aku ingat hari itu. Hari yang paling aku tunggu – tunggu dan berubah menjadi hari paling kelam dalam hidupku. “Nggak, Mas. Ayah saya meninggal di hari itu.” Mas Nusa tampak terkejut, spontan ia mengulurkan tangan kirinya menyentuh lenganku yang berada di atas ransel yang berada di pangkuanku “Maaf, Zo. Saya turut berduka cita.” Aku tahu tanganku dingin dan mas Nusa menggenggamnya selama beberapa detik sebelum kembali meletakkan tangan kirinya di kemudi. Jari – jari panjang itu meninggalkan jejak panas yang tak dapat kumengerti pada bagian tangan yang ia genggam sebentar itu. Ia masih mas Nusa yang sama yang aku kenal semasa kuliah dulu, penuh empati dan memiliki hati yang hangat. Bagaimana bisa ia tidak berubah sama sekali, kecuali gurat usia yang membuatnya hanya terlihat semakin—seksi? Tanpa sadar, aku menghembuskan napas lewat mulut secara perlahan. Dan setelahnya, semua rasa grogi dan gugup itu menghilang seiring roda kemudi melaju menuju rumahku. . . . Ibu berpesan agar aku lebih memperhatikan makanan yang dimakan adikku Zayn. Jadi, serupa dengan ibu dulu, aku pun kini terbangun jam tiga pagi untuk menyiapkan sarapan untuk adikku sebelum ia berangkat kerja dinas pagi. Untungnya dia nggak selalu dapat dinas pagi, dibagi tiga shift dalam seminggu. Kadang ia berangkat jam sebelas siang, kadang juga jam tiga sore. Hanya dua hari dalam seminggu ia kebagian shift pagi. Setelah ia berangkat, aku menunggu waktu Subuh dan tidur sebentar sebelum mulai bersiap berangkat kerja. Mas Nusa memasukkanku ke dalam grup kantor kami, sejak semalam grup itu ramai perbincangan tentang banyak hal. Tidak hanya kerjaan, banyak juga candaan ringan. Kezia bahkan mereog dalam grup tersebut. Sejak kuliah, ia memang orang yang ceria dan ceplas ceplos. Tak heran kalau Kezia mudah akrab dengan orang lain, sangat berbeda denganku. Aku suka zona nyaman dan enggan mencoba berteman dengan orang baru yang tak terduga. Saat sudah memiliki Alex dan Kezia yang kuanggap bestie, aku pun hanya sekedar bergaul untuk terjun ke kehidupan sosial ala kadarnya. Tidak terlalu akrab dengan banyak orang dan enjoy dengan circle yang itu – itu saja. Sebuah tautan link dikirim mas Nusa ke dalam grup, aku sedang meminum segelas air putih setelah menandaskan spagheti instan yang kubuat untuk sarapan. Di sana tertulis wedding invitation dari seseorang bernama Ricko dan Tania, aku tidak mengenalnya. Timo merespon pertama kali, ia berkata bahwa dirinya juga baru diundang oleh seseorang di tanggal yang sama. Undangannya ditujukan untuk mas Nusa dan tim. Kemudian, di undangan kedua ini lah aku tertegun sebentar. Nama Alex dan Leonnore tertulis sebagai pasangan pengantinnya. Entah apakah Alex mengetahui aku sudah di Jakarta lagi atau belum, tapi mendapatkan undangannya dari orang lain kok ya nggak enak. Aku pikir kami sudah cukup lama bersahabat, apabila dianggap orang terdekat, bukan kah aku pantas menyandang gelar itu bagi Alex? Karena Zayn sudah berangkat kerja sejak sebelum Subuh tadi dan dia sulit terhubung di hape jika sedang dinas, aku akan bersabar menanyainya malam nanti saja. Mungkin Zayn lupa menyampaikan padaku bahwa Alex telah mengundangku, atau kami. Aku memesan ojek karena semalam motor kutinggalkan di parkiran, tidak lupa aku juga membawa jas hujan untuk kusimpan di dalam jok. Agar tidak ada lagi drama diantar sampai rumah dan menahan grogi sepanjang jalan seperti semalam. Meski Nadia semangat sekali saat melihat rumahku, ia bahkan memohon pada papanya untuk mampir sebentar. Untung saja ada Zayn di rumah, jadi aku tidak sendirian dan Zayn mudah berbaur juga. Nadia bahkan terang – terangan memuji Zayn, ia mengatakan bahwa Zayn sangat ganteng. Please lah Nadia, bagiku papamu lah yang paling tampan. Bisa kulihat binar mata penuh kekaguman Nadia tercipta saat melihat wajah adikku semata wayang itu, semalam. Sesampainya di kantor, sudah ada mbak Debby yang sedang menyalakan AC semua ruangan, termasuk ruangan mas Nusa. Ia menyapaku sebelum berlalu ke dalam ruangannya. Tak lama, Mimi dan Jamal datang hampir berbarengan. Begitu duduk di kursinya, Mimi membuka bungkusan yang ternyata sarapan. Ia menawariku, aku berkata bahwa sudah sarapan dari rumah. “Mimi mah nggak bisa makan pagi – pagi banget, Mbak. Mules tahu.” Aku nyengir, Jamal mengejek perkataannya. “Sebuah informasi berguna untuk mengawali hari.” Ucapku, kedua orang itu tertawa. ©
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN