Saat Endah datang, kami pun mulai pertemuan lagi untuk membahas pekerjaan yang sedang berlangsung. Endah tampak berpikir keras, dahinya mengerut saat melihat draft yang telah kubuat. Seolah gambarku adalah rumus yang sedang ia coba pecahkan. Ia belum bersuara, membuat ketegangan di ruangan ini meningkat signifikan. Mungkin hanya aku yang bisa merasakan, ini pekerjaan pertamaku dan aku berharap tidak mengecewakan.
“Not bad, Zora.”
Alhamdulillah.
Selanjutnya tidak ada yang kukhawatirkan lagi, aku mengikuti ritme kerja Endah dan tim yang sudah ada. Tidak begitu sulit bagiku, dan seperti yang diberitahukan Mimi, Endah memang cukup keras dan sulit dipuaskan. Timo berdebat dengannya untuk beberapa hal dan selalu berakhir dengan geraman kecewa karena Endah tidak bisa dibantah.
Aku dan Kezia sudah janjian akan makan siang bersama, aku menyetujui tempat yang ia rekomendasikan. Tidak jauh dari kantor kami dan memiliki banyak pilihan.
Tempat makan yang dimaksud Kezia bernama Chillax, semacam food court berisi berbagai stan makanan dengan menu yang variatif. Kami memiliki banyak pilihan. Ruangannya outdoor, namun memiliki kanopi yang besar dan hembusan angin cukup membuat suasana sekitarnya adem tanpa bantuan kipas angin.
Aku membiarkan Kezia pesan lebih dulu dan menunggu di kursi yang sudah kami tempati. Sambil berkirim pesan dengan ibu, aku sudah menceritakan bahwa aku telah bekerja di tempat baru. Ibu menanyakan kabar Alex, kubilang bahwa kami belum bertemu lagi.
“Gue pesan ramen, lo coba keliling dulu aja kalau masih bingung.”
Bergantian dengan Kezia, giliranku memesan makanan. Aku berkeliling dan menjatuhkan pilihan pada nasi hainan dan memesan segelas tebu lemon sebelum kembali ke meja kami.
Kezia melayangkan tatapan matanya pada meja yang berada agak jauh dari kami di sisi sebelah kananku, aku menoleh dan mendapati Endah sedang duduk bersama mas Nusa dan satu orang laki – laki lain yang tidak aku kenal. Ketiganya sedang asyik bercengkrama dan tidak melihat kami.
“Itu kakaknya mbak Endah, temannya mas Nusa. Namanya mas Danu.”
“Oh.” Kucuri pandang pelan – pelan saat Kezia terfokus pada hapenya. “Inget nggak sih, waktu kita kuliah, mas Nusa suka ajak anak – anaknya ke kampus?”
Sedikit berhati – hati, aku mengungkit kenangan lama kami. Harusnya Kezia tidak menyadari perasaanku sih, karena dia memang cenderung cuek dengan banyak hal. Tidak sepeka Alex untuk urusan mendeteksi perasaan orang lain.
“Lupa. Tapi gue inget kalau ada acara, mas Nusa pasti bawa keluarganya sih.”
“Iya itu juga, tapi anaknya juga sering diajak. Yang laki – laki tuh, kakaknya Nadia.” Aku pura – pura melupakan namanya, Kezia menebak dengan tepat.
“Fatih?”
“Ah iya. Selain Fatih dan Nadia, ada lagi nggak sih anaknya mas Nusa?”
Kezia menggeleng, “Cuma dua.”
“Hm.”
“Kayaknya mereka pacaran deh.” Ucap Kezia, setelah sekilas melihat meja mas Nusa dan Endah.
“Hah? Siapa?” Tanyaku, ingin memastikan.
“Mbak Endah sama mas Nusa.” Kemudian Kezia seperti lupa memberitahukan sesuatu, ia mengatakan hal yang sudah kuketahui lebih dulu. “Istrinya mas Nusa sudah meninggal, tiga atau empat tahun lalu gitu. Duren Sawit itu.”
“Hah, Duren Sawit?”
Kecia memicingkan mata bete, “duda keren sarang duit. Duren Sawit.”
Kontan aku terbahak seraya mendorong lengannya yang terulur di atas meja, ia terkekeh.
“Hah, kalau belum pacaran sama mas trainer, udah gue sikat juga itu mas Nusa. Duda, duda gitu, penampilannya nggak kalah sama single, Bok!”
Aku nyengir pada Kezia sambil sedikit mencuri pandang pada objek ghibahan kami yang sedang menopang tangannya di atas meja, dengan lengan kemeja dilipat rapi.
“Eh, Alex sudah undang lo secara pribadi?”
Aku jadi teringat undangan yang dikirim Timo tadi pagi.
“Belum.”
Bell yang dibawa Kezia berbunyi, pesanannya sudah siap dan ia bergegas mengambilnya. Begitu juga bell milikku, namun setelah Kezia datang baru aku pergi mengambil pesananku dan kami kembali mengobrol.
“Masa dia undang kita atas nama Matahari Nusantara sih? Nggak sopan banget, bertahun – tahun temenan undang kek secara pribadi.” Kezia bersungut – sungut, kemudian ia seperti teringat sesuatu dan melebarkan matanya padaku. “Jangan – jangan, kalian bertengkar ya? Lo tolak dia ya sebelum dia tunangan?”
“IIhhh, tolak apaan? Nembak saja nggak.”
Kalau confession Alex dikatakan nembak, lebih baik aku sembunyikan. Biar lah itu menjadi rahasia kami berdua saja.
“Masa? Dia cinta mati gitu sama elo. Gue agak curiga nih, pernikahannya hanya kedok aja. Biar dia nggak dibaweli sama nyokapnya soal nikah. Apalagi nikahnya sama Lenny, dia pasti bisa kontrol Lenny lah.”
“Hush. Suuzon lo.”
Saat hendak makan, seseorang mendekati meja kami dan aroma parfum yang dikenakan mas Nusa hinggap di indera penciumanku. Dalam sekejap aku sudah bisa menebak sosok yang mendekat ini, seketika aku menoleh dan mas Nusa berdiri menjulang di sisi kananku.
“Hai, makan di sini juga rupanya. Saya sedang makan bersama Endah dan Danu tuh di sana.” Mas Nusa melambaikan tangannya pada meja Endah, wanita itu menyapa sambil melambaikan tangan pada kami.
Aku mengangguk dan kembali menatap mas Nusa.
“Sudah pesan makan, Mas?” Ini pertanyaan dari Kezia, aku menunda suapanku karena keberadaan mas Nusa cukup menganggu segala hal yang berhubungan dengan saraf motorikku.
Daripada membuat diriku sendiri malu, lebih baik aku menunggunya pergi saja. Toh, aku yakin ia hanya basa basi saja menghampiri kami. Dia orang yang sangat ramah dan sopan, terlebih kami adalah pegawainya.
“Kalian kenal Alex kan? Saya yakin Zora pasti cukup akrab lah ya, founder Kubus kan dia.”
Bukannya pergi, mas Nusa justru mengambil tempat di sebelahku. Ikut duduk bersama kami. Setelah menawari mas Nusa makan, dengan santai Kezia melahap makanannya. Sementara aku, meladeni pertanyaan mas Nusa barusan.
“Iya, Mas. Dia mau nikah ya.”
“He’eh. Kita datang barengan saja, hadiri pernikahan Ricko dulu baru ke Alex.”
“Ricko itu siapa, Mas?”
“Oh kamu belum kenal ya. Dia orang sistem dan jaringan kita. Sebenarnya vendor sih, tapi lumayan sering on site juga kadang di kita. Dua minggu ini memang dia lagi nggak ke kantor kita.”
“Oh iya, iya.”
“Eh dilanjut makannya, saya jadi ganggu.”
“Hehehe, nggak kok, Mas.” Jawabku sepenuhnya bohong, karena ya jelas dia membuatku urung menyantap makanan.
Mas Nusa beranjak setelah pamit pada kami, dan aku mulai kembali bernapas normal. Mas Nusa memang tidak baik untuk kesehatan jantung dan pernapasanku.
“Kenapa lo?” Tanya Kezia, ia meneguk minumnya sesaat setelah bertanya padaku.
Aku menjawab dengan gelengan kepala dan mulai memakan makananku.
“Mas Nusa bikin grogi ya? Memang tuh dia, nggak tahu diri. Ngaca kek, punya muka ganteng gitu jangan ramah – ramah banget kenapa sama lawan jenis. Makin tua kok makin jadi aja, bikin anak perawan orang tremor saja.” Aku hampir menyemburkan makanan yang sedang kukunyah saat mendengar gerutuan Kezia.
Ia terkekeh sendiri dan meminta maaf, karena perkataannya membuatku tersedak.
.
.
.
Aku langsung menginterogasi Zayn saat kami bertemu di rumah. Namun, adikku juga baru tahu kalau undangan Alex sudah disebar. Ia mengatakannya kalau ia belum mendapatkan undangan apapun dari sahabat baikku itu.
“Memang nggak ada hubungi lo di wa?”
“Nggak. Belum. Lupa kali.”
“Lupa? Sama gue?” Aku menunjuk hidungku sendiri di hadapan Zayn, adikku memutar mata dengan ekspresi dongkol.
Ya maksudku, hubungan kami itu bukan sekedar teman biasa. Bisa – bisanya dia lupa mengabari aku atau setidaknya Zayn, yang memiliki hubungan darah denganku.
“Mau gue tanyain?”
Dengan cepat aku mencegahnya.
“Nggak usah, gue mau kasih dia kejutan di hari pernikahannya kalau beneran sengaja nggak mengundang gue.”
Aku beranjak dari sofa, memasuki kamar. Foto – fotoku bersama Alex dan Kezia ada yang kupajang di atas meja belajar. Foto itu saat kami masih kuliah dan sering hangout bersama. Kadang Alex mengajak temannya, kadang Kezia juga mengajak temannya yang di luar circle kita. Hanya aku yang paling banter ngajak Zayn yang saat itu masih sekolah.
Setahun lalu, Alex masih sedekat nadi denganku. Aku yang memang memilih menjauh, tapi bukan berarti tidak ingin lagi memiliki Alex di hidupku. Tidak bisa kah kami tetap berdekatan sebagai teman?
Apa Alex takut Lenny cemburu jika kami masih berteman?
Aku sedih, hanya padanya aku bisa cerita secara terbuka tentang mas Nusa. Saat ini aku sangat membutuhkannya, aku butuh saran dan nasihat dirinya tentang menjaga sikapku di depan mas Nusa. Bahkan, aku butuh dia sebagai kontroler ketika perasaan ini sudah tak terbendung lagi. Hanya dia yang biasanya menyadarkanku bahwa mas Nusa tidak pernah bisa kugapai dan bahkan tidak mungkin kumiliki.
Apakah aku harus mulai merelakan Alex sebagai orang yang paling kuandalkan selama ini?
©