Rencana Kerja

1168 Kata
Sejak masih menjadi dosen kami, mas Nusa terkenal dengan idenya tentang konsep membangun secara eco-friendly dan sustainable architecture. Kini, dengan segala modal dan kekuatan yang ia miliki, ia menerapkan konsep itu secara langsung. Bukan sekedar teori, namun mendemonstrasikannya secara jelas. Sejak aku mulai membuat draft hingga pemilihan material, semua akan ditinjau ulang oleh mas Nusa dan apabila tidak lolos, kami harus legowo untuk mengubah material hingga rancangan itu sendiri. Salah satu keuntungan pernah menjadi mahasiswanya adalah, aku memahami konsep itu sejak dulu. Meski kala itu, konsep yang digadang – gadang mas Nusa masih sangat asing bahkan kerap diabaikan. Bicara soal ide yang dulu pernah dikampanyekan mas Nusa, material yang dipilih Endah dalam proyek kami bertentangan dengan ide itu. Sebelumnya, aku mengusulkan ide tentang penggunaan bahan daur ulang untuk bagian lantai yang diubah Endah menjadi keramik. Sekarang keduanya sedang berdebat mengenai hal itu. Oh ya mas Nusa mengetahui ideku karena dalam draft mentah dicoret Endah bukan dihapus. Mimi memilih undur diri saat debat itu agak memanas, diikuti Timo yang juga memberikan kode lewat lirikan matanya padaku. Namun aku merasa terjebak di tengah mas Nusa dan Endah yang masih beradu argumen tentang pemilihan bahan, yang kini berbuntut panjang pada sumber daya alam yang berada di lokasi hotel tersebut. Aku merasa serba salah, keputusan Endah mengganti material mungkin ada benarnya dan mas Nusa tidak ingin mengkhianati prinsip yang sudah sejak lama ia gunakan. Pertama kali sejak mengenal mas Nusa, aku belum melihatnya se-serius ini menanggapi pemilihan material. Oke, dulu semuanya hanya teori. Sekalipun tidak setuju dengan pendapat mahasiswanya, mas Nusa cenderung lunak karena toh hal paling jauh yang kami lakukan hanya membuat maket. Berbeda dengan saat ini, proyek yang kami tangani adalah bangunan sungguhan. Meski aku yakin sering bertentangan dengan keinginan klien, mas Nusa selalu punya cara meyakinkan klien – kliennya untuk menerapkan konsep yang ia bawa dengan iming – iming less budget. Memangkas biaya adalah harapan semua pengusaha maupun pemilik bangunan. Prinsip ekonomi dasar berlaku di semua sektor, tak terkecuali di bidang yang kami jalani sekarang. Bokongku semakin panas sejak tadi belum bergerak atau beranjak dari kursi yang sudah tiga jam kududuki ini. Sementara dua orang di sisi kanan dan kiriku masih ngotot dengan argumen masing – masing. Menurut Endah, lantai parket dari kayu daur ulang akan berisik jika banyak tamu dan kru yang lalu lalang dalam bangunan. Sementara mas Nusa berpendapat, wilayah hotel itu adalah dataran tinggi dengan suhu rendah saat siang hari dan bahkan lebih rendah ketika malam hari. Lantai kayu akan membuat ruangan menjadi lebih hangat dan memberikan kesan rileks juga dekat dengan alam, mengikuti konsep hotel dan lingkungan sekitarnya yang memang memanjakan pengunjung dengan tujuan ‘healing’. Tidak ada yang mengalah dan aku harus menyerah karena kandung kemihku meronta ingin dibebaskan bebannya, sehingga aku meminta maaf pada keduanya dan berlari ngibrit menuju toilet dengan iringan tawa jahat Kezia yang melihatku terperangkap di ruang meeting itu. Kezia mengikutiku masuk ke dalam toilet, begitu aku menuntaskan misi tersebut, Kezia sedang mengaca dan memperbaiki pulasan bibirnya. “Ribut kenapa lagi sih mereka?” Aku mencuci kedua tangan sambil mengeluhkan perut yang mulai keroncongan. “Material. Baru gue lihat mas Nusa kayak gini, waktu jadi dosen, lebih penuh toleransi.” Kezia melipat kedua tangannya di depan d**a, bersandar pada wastafel, ia merespon ucapanku. “Beda dulu dan sekarang, Bestie. Dulu kan hanya sekedar ngajar, kita juga belum terjun langsung pegang proyek. Sekarang, proyek depan mata. Cuan, Geys, cuan. Salah dikit, rugi bandar. Belum lagi kalau dapat review jelek, bisa amsyong proyekan beberapa bulan.” “Makan yuk, I’m starving.” “Kuy deh, nggak kelar – kelar mereka berdua berdebat. Nunggu salah satunya kasih segel maut.” “Hah? Apaan segel maut?” “Vitamin K.” “Hah?” Aku masih tidak mengerti maksud Kezia. “Kiss, Zora. Kissing, kisseu. Kiss. Lo kelamaan jomlo sih, sampe lupa kan lo rasanya di-kiss?” Langkahku terhenti, membuat Kezia menabrak punggungku dan misuh - misuh. “Kok kiss? Memang mereka pasangan?” “Itu lebih baik. Biar Dunia ini aman, tentram, gemah ripah loh jinawi. Terhindar dari murka Endah yang suka gagal dapat perhatian mas Nusa.” Bisik Kezia, kemudian ia menarik lenganku menuju lift. “Yuk ah, gue laperrrrrr.” Belum sempat aku protes, pintu lift terbuka dan Kezia menyeretku masuk ke dalamnya. “Dompet, gue lupa bawa dompet.” Ucapku, sambil mengeluarkan hape dari kantong blazer. “Pake Qris dong, belajar cashless coba.” “Ihh.” Aku menggerutu namun pasrah juga saat lift terus turun membawa kami menuju lantai dasar. “Ngomong – ngomong, Alex pelit banget nih. Gue kan tagih undangan pribadi ya, dia bilang include sama tim Matahari Nusantara saja.” Ugh, aku teringat tentang Alex dan waktu pernikahannya yang semakin dekat. “Ah jangan ingetin gue deh.” “Serius tuh Alex beneran nggak ngundang lo secara pribadi? Memang dia tahu lo kerja di sini?” “Mana gue tahu.” Pintu lift terbuka di lantai dasar, kami berjalan menuju area makanan di mall yang tergabung dengan gedung perkantoran ini. “Gue rasa dia memang sengaja nggak ngundang lo deh, Ra. Takut batal nikah dia sama Lenny kalau lihat lo.” Kezia terkikik sesudah membuat dugaan yang tidak berdasar, aku memutar mata padanya. Tentu saja aku berharap Alex sungguhan melihat Lenny sebagai pasangan dan apapun yang pernah ia miliki tentang diriku semoga sudah hilang tak berbekas. Selamanya kami hanya teman, meski aku membutuhkannya sekarang, tapi aku tidak akan mencoba untuk memaksanya tetap dekat jika itu sulit baginya. Selesai makan siang, mas Nusa memanggilku ke ruangannya. Ia bertanya apakah aku ada janji malam ini, dia berkata ingin mengajakku visit ke lokasi. “Lokasi Hotel, Mas?” Ia mengangguk dan mengatakan akan mengantarkanku ke rumah untuk mengambil baju ganti. “Kita nginap?” Mas Nusa menoleh dan menatap wajahku serius, “iya. Kamu keberatan?” “Engg. Mbak Endah ikut juga?” “Dia sudah pulang.” Tentu saja aku terkejut, kukira Endah hanya sedang makan siang setelah debat panjang dengan mas Nusa tadi. “Kamu yang pegang proyek ini, Endah pilih mundur.” “Mundur?” Aku bergumam sendiri, namun mas Nusa meresponnya. “Kenapa? Kamu nggak siap ambil proyek ini?” “Engg...” “Draft yang kamu buat sudah oke, saya approve sampai ke material.” Aku masih terpaku berdiri di seberang mas Nusa yang sedang mengetik di laptopnya. Hingga ia menyadariku dan bertanya, apakah masih ada yang ingin aku tanyakan. “Timo ikut, Mas?” Mas Nusa menghela napas, ia memberikan senyuman yang tampaknya ingin meyakinkanku. “Kita saja.” “O..oke.” Aku tergagap, kemudian sambil berusaha membalikkan badan tanpa gerakan kikuk aku pergi keluar dari ruangan mas Nusa sukses tanpa tersandung apapun. Kami akan pergi berdua ke lokasi rencana pembangunan Hotel tersebut. Jauh dari Jakarta, menginap dan hanya berdua. Berdua. Sesampainya di mejaku, aku berusaha bernapas dengan benar. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku terus bersama dengan mas Nusa berdua saja, jauh dari Jakarta dan orang – orang yang bisa membantuku bersikap normal di depannya? ©
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN