Kami banyak terdiam sepanjang perjalanan, aku mengingat perlengkapan yang kubawa di kursi belakang. Khawatir ada yang tertinggal, tapi kayaknya sudah terbawa semua deh. Oke, aman. Aku mengangguk – anggukkan kepala.
“Tahu lagunya?”
“Hah?”
“Kamu melamun ya? Saya kira kamu angguk – angguk karena menikmati musiknya.”
“Oh, haha. Nggak, Mas.” Aku bahkan nggak sadar musik apa yang sedang berputar.
Aku mencari cara agar momen ini tidak canggung, tapi bagaimana caranya? Membahas proyek yang tiba – tiba dialihkan menjadi tanggung jawabku? Mulai dari mana? Ribuan kali aku selalu membayangkan dapat mengobrol ringan dengannya dalam benakku, namun saat kesempatan itu ada, lidahku justru mendadak kelu.
“Sudah kabari pacar kamu, kalau kamu pergi dengan saya?”
“Hah?”
Mas Nusa tertawa, “kabari pacar kamu. Jangan sampai dia salah paham.”
Kemudian sebelah matanya mengedip jenaka. Saat melakukannya, mas Nusa terlihat mirip dengan Nuno Bettencourt dan Humood Alkhuder menjadi satu. Gurat nakal dan rock n roll milik Nuno, berpadu senyum manis Humood.
Oh my God, dia lah alasanku mendengarkan Extreme hanya untuk sekedar melihat Nuno saat masa kuliah dulu.
“Ih, Mas Nusa mah ngeledek. Saya nggak punya pacar.” Ucapku lirih.
“Eehh, maaf. Saya nggak tahu kan.”
Sebuah keberanian muncul dalam diriku, aku tidak ingin percakapan kami berakhir seperti ini.
“Mbak Endah kenapa mundur, Mas? Apa karena bersikeras soal lantai?”
“KIta mah banyak nggak cocoknya, Zo. Ra. Eh enak manggil namamu pake ‘Zo’ ya?!”
Apakah mas Nusa berusaha mengalihkan pembicaraan? Aku melirik curiga. Mataku semakin berani bermain, mungkin karena kami berdua sudah berkendara lebih dari dua jam. Entah, aku menikmatinya.
“Terserah Mas Nusa saja.” Ucapku, berkomentar akan panggilannya untuk namaku barusan. “Saya nggak enak dengan mbak Endah, kalau dia tahu proyek ini diberikan ke saya.”
“Lho, kenapa? Toh dia yang mengundurkan diri dari proyek ini, itu saja artinya dia melepas tanggung jawab yang sudah diberikan oleh klien.”
“Tapi mbak Endah tetap kerja, Mas?”
“Santai, Zo. Ini bukan pertama kalinya Endah menentang saya, sudah biasa. Lihat saja hari Senin nanti, dia pasti masuk kok.”
“Hmm.”
Selanjutnya perbincangan kami membahas masa – masa kuliah, mas Nusa bertanya apakah aku sering menghadiri pertemuan reuni yang diadakan kampus kami. Saat aku menjawab bahwa aku lebih sering datang pada momen buka puasa bersama, ia tertawa. Mas Nusa pun menceritakan bahwa setahun setelah tahun kelulusanku, ia terbang ke Jepang untuk melanjutkan kuliah lagi dan bekerja di sana. Meninggalkan anak dan istrinya di Indonesia, sampai – sampai ia kecolongan soal penyakit yang diidap istrinya.
Dan aku baru mengetahui penyebab kepergian mbak Alisa.
Mas Nusa baru kembali dari Jepang lima tahun lalu dan ia menyesali keputusannya pergi Jepang karena tidak memiliki banyak waktu bersama mbak Alisa sebelum kepergiannya.
Aku dapat memahami perasaannya, meski diselingi senyum tegar, aku bisa merasakan pahitnya penyesalan yang ia ucapkan tadi. Aku juga tidak menyangka bahwa mas Nusa akan terbuka soal ini padaku. Siapa lah aku baginya.
Kami tiba di lokasi saat sudah jam delapan malam, tidak ada yang terlihat karena gelap menyelimuti hampir segala pemandangan yang terbentang di hadapan kami. Penerangan yang ada tidak memadai dan mas Nusa memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu untuk kemudian bertemu dengan klien.
Baru besok paginya kami akan meninjau lokasi ini lagi.
“Zo,”
Aku menghentikan langkah menuju kamar yang sudah kami booking. Kami memilih dua kamar berbeda dengan posisi saling berhadapan.
“Nggak mau buru – buru istirahat kan?”
“Kenapa, Mas?”
“Masih banyak yang ingin saya bahas soal proyek ini.”
Restoran di bawah sudah tutup dan mas Nusa berkata ingin bekerja dari kamar, mungkin ini maksudnya. Tetap memintaku bekerja sampai pembahasan kami rampung dan final.
“Oke. Saya taruh baju dulu ya, Mas.”
“Nanti bawa laptop kamu kesini ya.”
“Oke.”
Begitu menutup pintu kamar, kedua lututku merosot ke lantai. Aku sudah cukup menahan banyak hal selama perjalanan dari Jakarta kesini tadi dan ajakan mas Nusa barusan membuat detak Jantungku kembali berloncatan menggila.
Dia memintaku membahas pekerjaan di dalam kamarnya. Ruangan tertutup, hanya berdua. Sebelum kewarasanku menghilang, aku memencet nomor Kezia dan bertanya, apakah hal ini sering terjadi padanya juga.
“Iya. Sering lah, gue pernah pergi ke Bali berdua mas Nusa doang. Dia pesan kamar terpisah kan? Nggak tiba – tiba ngajakkin lo bobo bareng? Ya walaupun gue yakin lo nggak nolak sih, ihik!”
“Kecooootttt.” Aku menggeram ingin memakinya dengan panggilan yang ia benci.
“Tenang, Zora. Mas Nusa laki – laki bermoral, walaupun dia ngajak bahas proyek berduaan di dalam kamar, dipastikan dia akan video call si Nanad sebagai bukti kalau dia nggak akan ngapa – ngapain lo. Yaelah, tenang saja sih.”
Nggak, Kezia nggak paham karena dia nggak pernah tahu perasaanku untuk mas Nusa. Yang kukhawatirkan bukan itu, melainkan diriku sendiri. Entah apa yang akan terjadi jika aku mengabaikan segala hal seperti hukum, ajaran moral maupun status kami. Mas Nusa tetaplah laki – laki yang pernah aku impikan sebagai lawan jenis yang aku inginkan. Uugghhh. Betapa sungguh membuat frustasi memiliki sesuatu yang tak dapat kau bagi.
Aku tidak pernah takut pada mas Nusa, selama ini yang kutakutkan adalah diriku sendiri. Takut apabila perasaanku tak terkendali, aku bisa nekat menggodanya meski tahu ia beristri. Aku pun sering bimbingan dengannya berduaan saat masa kuliah dulu. Tapi selalu ada Alex yang akan menjagaku. Menyadarkanku agar tetap waras dan tidak menyerang mas Nusa bagai perawan haus belaian.
Jadi, sebelum memberanikan diri menuju kamar mas Nusa, aku melakukan banyak ritual serta olahraga ringan. Semua stres dan perasaan terpendam ini harus tersalurkan dengan benar, atau aku akan mempermalukan diri sendiri di dalam sana, nanti.
Begitu siap, hapeku kembali berdering. Nama Endah sebagai penelponannya, aku berharap Endah berubah pikiran dan menyusul kami kesini.
Dengan semangat, aku menggeser tombol dan menyapa Endah. Namun, teriakannya lah yang kuterima.
“TEGA LO YA, RA! TEGA BANGET LO!”
“Mbak, maksud Mbak Endah apa?”
“Pura – pura polos lo ya, sudah tahu mas Nusa marah ke gue bukannya menunggu dia tenang seenak jidat lo CURI proyek gue.”
“Lho? Mas Nusa bilang Mbak Endah yang mengundurkan diri.”
“GUE HANYA SEDANG MEMBERI WAKTU PADA MAS NUSA AGAR MENARIK IDE KONYOL DAN IDEALISNYA ITU! Gila lo ya!”
“Tt-ttapi, Mbak—“
“Gue tahu lo masih baru, nggak gue sangka lo licik juga. Segitu cepatnya lo menyingkirkan gue sebagai mentor lo?????”
“Mbak,” aku menggigit bibir menahan tangis. “Mas Nusa yang minta ak—“
“DAHLAH! Nggak bisa dipercaya lo memang!”
Endah mematikan sambungan telepon lebih dulu, aku berusaha menghubunginya kembali tapi selalu di-reject panggilan yang aku buat.
Aku nggak paham maksudnya, mas Nusa bilang Endah sudah mundur, lantas kenapa dia playing victim dan menudingku merebut proyeknya. Kan dia yang mundur?
Mas Nusa menelponku sekarang, akhh aku ragu. Harus kah aku menuju kamarnya dan membahas proyek ini bersama atau—meminta penjelasannya mengapa Endah menuduhku merebut ini semua?
“Ya, Mas?”
“Kamu ngantuk ya? Nggak apa – apa kalau mau istirahat.”
“Nggak, Mas. Sebentar lagi saya kesana.”
“Nggak apa – apa kok beneran, jangan maksain kalau capek.”
“Nggak, ada yang mau saya tanya juga ke Mas Nusa.”
“Oh oke, makanan yang saya pesan sudah datang juga sejak tadi.”
“Oke, Mas.”
Mas Nusa memang mengatakan akan memesan makanan saat kami memesan kamar tadi, karena restoran di hotel sudah tutup sejak jam tujuh dan untuk mencapai restoran terdekat memang jauh harus turun lagi menuju arah kota, sehingga pilihan hanya memesan makanan pada kitchen yang bersedia mengantarkan ke kamar.
Aku pun meraih laptop dan memutar handle pintu kamar, kemudian melangkah sedikit untuk menyebrang menuju kamar mas Nusa. Aku mengetuk pintunya yang ternyata tidak ditutup rapat.
“Masuk, Zo.”
Aku melebarkan pintu dan melihat dua orang di dalam, mas Nusa dan seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi. Mas Nusa memperkenalkanku sebagai arsiteknya dan pria paruh baya ini ternyata pemilik hotel yang tak lain adalah klien kami. Bernama pak Sultan.
Keinginanku mempertanyakan soal Endah tertahan selama ada pak Sultan. Kami makan bertiga dan setelahnya membahas detil proyek hingga waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Beruntungnya, pak Sultan tidak banyak menuntut, sepertinya ini bukan kerjasamanya pertama kali dengan Matahari Nusantara maupun mas Nusa.
Pak Sultan pamit menuju kamarnya dan mas Nusa memintaku untuk tetap tinggal sebentar, katanya.
“Engg, Mas. Tadi mbak Endah telepon.”
“Hm?”
“Kayaknya dia nggak berniat melepas proyek ini deh.”
Mas Nusa menggaruk pelipisnya dan tersenyum.
“Dia pasti menuduh kamu mencuri proyeknya, ya?”
“Tapi saya nggak mencuri, Mas Nusa yang meminta saya—“
“Iya. Kamu nggak mencuri, saya yang mengalihkan tanggung jawab ini ke kamu. Kamu berpengalaman, kamu capable. Kenapa harus menunggu seseorang menyelesaikan ngambeknya untuk kembali bekerja sementara klien kita sedang menunggu hasil kerja kita?”
“Saya nggak enak.” Aku-ku.
“Urusan Endah, biar menjadi tanggung jawab saya. Tanggung jawab kamu adalah yang tadi kita diskusikan bareng pak Sultan. Kamu lihat sendiri kan, beliau nggak banyak nuntut. Beliau punya tenggat waktu, yaitu libur sekolah. Kita berburu sama waktu untuk membuat usaha-nya beliau mulai running di high season.”
“Baik, Mas.”
Ponsel mas Nusa berbunyi, ada sebuah panggilan video masuk. Saat melihat layarnya, senyum di bibir tipisnya mengembang.
“Hai, Sayang. Kamu kok belum bobok sih?”
“Papaaaaaahhh, abang belum pulang. Masa Nanad sendirian sih.”
“Nggak sendirian dong, kan ada bik Puji.”
“Bibik mah udah tidur jam segini.”
“Ya kan capek ngurusin kamu tuh si bibik. Sudah jam segini, Nanad, bobok saja sana.”
“Memang Papa masih kerja?”
“Masih ini. Jangan bobok malem – malem, kamu bangunnya susah besok. Bantuin bibik dong kalau libur, jangan main hape terus.”
“Aku mau nungguin abang.”
“Lagi main kali sama temen – temennya. Biarin saja, nanti kalau ngantuk juga pulang.”
“Curang ih Papa, abang main nggak pernah dicariin. Aku main baru jam tujuh saja sudah diteleponin.” Suara Nadia yang merajuk terdengar lucu, aku tersenyum mendengarnya.
“Nggak boleh ngiri, abang kan sudah dewasa. Sudah bisa jaga diri, Nanad belum dewasa. Masih bikin Papa cemas kalau belum pulang.”
“Huuu, curang.”
“Sudah ya, Papa masih mau lanjut kerja.”
“Yaudah, dagh Pa. I love you.”
Mas Nusa tersenyum senang mendengar ungkapan cinta Nadia, ia membalasnya dengan suara lembut. “Love you too, Nak.”
Selesai meletakkan ponselnya, mas Nusa berucap. “Duh ngeri punya anak perempuan tuh, Zo. Bikin cemas tiap hari.”
Aku hanya tersenyum meresponnya.
“Gitu juga nggak ayah kamu, protektif ke kamu?”
Aku mengangguk, mengingat masa remajaku yang kerap membuat ayah ngomel kalau pulang terlambat atau main tanpa izin.
“Sama.”
“Iya, kan? Apalagi sedang beranjak remaja begini, makin susah dikasih nasehatnya. Sedang masa – masa memberontak dan mencari tahu banyak hal.”
Curhatan mas Nusa seputar Nadia membuatku menyingkirkan segala hal tentang Endah dan teriakan marahnya beberapa waktu lalu. Membuatku terfokus pada segala ekspresi lelaki di hadapanku kini, ia begitu senang juga gemas akan tingkah laku putri kecilnya yang sedang menuju remaja. Jauh di dalam lubuk hatiku, muncul sebuah keinginan. Membantu mas Nusa melewati fase ini bersama, sebagai orang yang mendampinginya mengarahkan Nadia dalam ikatan yang membuat kami pantas disebut sebagai ‘keluarga’.
Keinginan konyol dan tak tahu diri itu bukan tanpa dasar. Mas Nusa adalah segala hal yang aku inginkan. Pasangan, teman, mentor dan sosok pelindung yang menggantikan posisi ayah di sisiku. Ia adalah paket lengkap yang ingin kubeli, berapapun harganya.
Dan keinginan itu menumbuhkan keberanian lain yang membuat tangan kananku bergerak tanpa sadar menyentuh wajahnya. Mas Nusa terdiam ketika tangan kananku menangkup rahangnya yang terasa kasar di permukaan tanganku yang hangat. Aku tidak bisa menemukan kewarasanku saat segala indera hanya tertuju pada bibirnya yang tipis dan terbuka sedikit, membuat celah kecil untuk kususupi.
Dorongan itu terus mendesakku untuk melakukannya dan aku menyerah pada hasrat yang meronta ingin dituntaskan. Sesaat, aku memejamkan mata dan merasakan embusan napas lelaki yang kini mematung di hadapanku. Tubuhku bahkan sudah menyebrangi meja kopi kecil yang memisahkan tubuh kami sebelumnya dan tidak butuh waktu lama bagi kedua bibir kami bertemu.
Aku berhasil menempelkan bibirku di atas bibirnya yang masih terbuka dan membeku. Ia terdiam, tidak bereaksi sama sekali akan tingkahku yang sudah di luar batas.
Bukan kah sudah empat tahun ia menduda? Apakah dia memiliki kekasih? Bukan kah hubungan fisik seperti ini akan mendorongnya berbuat lebih?
Tapi, ia masih terdiam hingga aku memaksanya untuk bergerak mengikuti gerakan yang kubuat. Namun, aku ditolak.
Mas Nusa menahan lengan kiriku dengan sedikit tenaga, memintaku mundur dan berhenti memperlakukannya bak boneka.
Sial.
“Sepertinya kita butuh istirahat.” Ucapnya saat aku menarik diriku sendiri.
Aku ditolak, ia tidak membalasnya. Ia tidak menyukaiku.
Bergegas aku berdiri dan mengambil semua barang milikku dan kembali ke dalam kamarku sendiri tanpa berkata apa – apa lagi. Sesampainya di dalam kamar, aku menangis tersedu – sedu. Perasaan tidak diinginkan mengejek diriku yang kurang ajar karena melewati batas yang sepuluh tahun lalu telah kutahan keras – keras.
Aku menangis di atas kasur hingga tidak menyadari kapan akhirnya aku berhenti dan terlelap.
©