Penyesalan memang selalu ada di akhir. Saat membuka mata pertama kali pagi ini, yang kuingat adalah wajah syok mas Nusa dan suara beratnya yang mengusirku secara halus.
Aku mengutuk jiwa jalangku yang semalam menunjukkan taringnya. Entah bagaimana penilaian mas Nusa terhadapku kini, padahal selama ini aku telah sukses menjadi kenangan baik baginya sebagai mahasiswa cerdas yang selalu tertarik dengan campaign yang ia galakkan. Rusak semua, rusak!
Kalau saja ada Alex—aarrghhhh. Aku lah pengendali diriku sendiri, mengapa aku harus menyalahkan Alex yang sudah kutinggalkan juga atas keinginanku sendiri?
Tenggelam lah kau, Zora. Tenggelam lah dalam perasaan malu dan tertolak, kau pantas mendapatkannya. Sisi hatiku yang jahat bersorak dengan kejam.
Aku bercermin, melihat pantulan diriku yang kacau. Kedua mata yang bengkak, rambut acak – acakan yang catnya telah pudar dan aura gelap menyelubungi diriku. Wajar mas Nusa menolakku, bahkan seujung kuku pun aku tidak pantas membandingkan diri dengan mbak Alisa. Beliau cantik bak dewi, sementara aku, bagaikan upik abu dalam busana kasual.
Entah harus ditaruh mana wajahku sekarang, aku tidak memiliki keberanian untuk menghadapi mas Nusa saat ini dan selamanya.
Tapi, seolah tidak ada yang terjadi malam tadi. Mas Nusa kembali dalam mode atasan ramah dan mentor yang penuh pengertian. Ia mengetuk pintu kamarku lebih dulu, mengajak sarapan dan bertanya apakah aku siap karena kami harus langsung check out untuk meninjau lokasi pembangunan hotel.
Padahal aku yakin, mata bengkak ini belum kembali normal dan mas Nusa mengabaikannya seolah mataku baik – baik saja.
Tidak ada pertanyaan tentang apa yang aku lakukan semalam. Begitu bertemu pak Sultan, pembahasan hanya berputar pada pekerjaan dan kerjasama kami. Lambat laun, aku kembali dapat bersikap dengan nyaman di sisi mas Nusa dan menjelaskan ide – ideku pada pak Sultan.
Kami meninjau lokasi, rupanya lahan yang hendak ditempati hotel pak Sultan berdekatan dengan sumber mata air panas dan itulah yang mas Nusa maksud tentang menyatu dengan alam.
“Kamu pernah ke Jepang, Zo?”
Aku menggeleng. Tokyo, Kyoto dan Osaka adalah tiga kota dalam wishlist yang ingin segera kuwujudkan. Aku pernah membuat janji dengan Alex untuk mengunjungi Negara itu, tapi belum kesampaian sejak covid attack dan pemerintah Jepang menutup border dari turis asing.
“Di sana, ada istilah penginapan bernama Ryokan. Kamu bisa cari tahu nanti kalau ada rencana liburan. Ryokan – ryokan di sana memang konsep hotel dengan tema tradisional, di sini yang unik. Ryokan yang berdekatan dengan sumber mata air seperti ini, akan memiliki onsen yang langsung dialiri dari sumber mata air tersebut. Itu maksud saya kemarin pada Endah dan dia menolak mentah – mentah ide ini.”
Aku mengangguk – angguk mendengar penjelasan mas Nusa.
Aku mencatat poin - poin penting dan memasukkan ide mas Nusa tentang sumber mata air panas yang akan kujadikan seperti pemandian namun lebih privat. Selesai meninjau lahan, pak Sultan mengajak kami makan di restoran miliknya yang tidak jauh dari lokasi dan kami tertahan makan di sana hingga jam tiga sore. Kemudian, kami pamit pada pak Sultan setelah semua pembicaraan selesai dan hasil dari pembahasan sudah didapat.
Ini lah, saat di mana aku tidak yakin apakah mas Nusa masih akan bersikap sama atau justru sebaliknya. Saat kami berdua kembali menuju Jakarta.
Nadia melakukan panggilan video call lagi, mas Nusa menjawabnya meski ia sedang berkendara. Diletakkan hapenya pada penyangga ponsel dan ia menyapa Nadia dengan riang.
“Papaaaaa.”
“Haiiii, Sayang. Kamu lagi di mana itu?”
“Lagi di toko buku. Abang lagi nyari buku, aku anterin.”
“Oohh. Berdua saja?”
“Iyaaa.”
“Mana abangnya?”
“Bang! Abang! Papa nih.”
Aku melirik layar ponselnya, kemudian sesosok laki – laki muda menyela panggilan video itu.
“Papa di mana?” Tanya si anak muda itu.
Aku masih ingat Fatih, dulu ia masih SD saat sering dibawa mas Nusa ke kampus. Sekarang mungkin sudah kuliah.
“Ini otw Jakarta lagi.”
“Si Nanad minta beli casing hape sama ear pod mahal banget nih, Pa.”
“Memang kenapa casing yang sekarang.”
“Bosen, Pa.” Teriak Nadia di sebelah abangnya.
Mas Nusa menertawakan alasan Nadia, suaranya renyah dan kebapakkan, sarat dengan karakter bijak yang tidak pernah ditampilkan pada kami sebagai mahasiswa maupun timnya di kantor.
“Berapa harganya memang?”
“Casingnya seratus, ear podnya lima ratus. Habis deh uang aku mah kalau kayak gini.”
“Diih, uang papa kaleeeeee. Abang aja minta sama papa.” Keduanya beradu mulut di depan layar.
“Iya udah pake uang lu ajaa.”
“Ehh Abang, masa adeknya di ‘elu – elu’.” Mas Nusa menegur Fatih.
“Tahu nih, Pa. Elu dasar ya!” Balas Nadia, aku menyembunyikan wajah yang menertawakan tingkah keduanya.
“Yaudah beliin dulu, Bang. Nanti Papa ganti.”
“TUUUHHH. Makasi Papaku sayang, I love you to the moon and back.”
Mas Nusa kembali terkekeh.
“Yasudah ya, Papa mau masuk tol nih.”
“Oke oke, hati – hati Papa sayang. Dadahh.”
Layar ponsel kembali terkunci saat panggilan terputus, mas Nusa masih tertawa kecil sambil bergumam.
“Haduh, berisik ya mereka.”
Aku hanya memberikan cengiran serba salah, entah harus merespon apa. Kalau aku berkata ‘iya’ nanti disangka aku tidak menyukai kedua anaknya. Kalau kubilang ‘enggak’, dia pasti mikir aku bohong dan hanya ingin menyenangkan hatinya saja.
Mas Nusa bersiul mengikuti irama lagu yang sedang berputar, aku membuka hape dan membalas pesan Kezia. Ohya aku bertanya soal Kezia dan menceritakan kejadian Endah menelponku semalam. Balasan Kezia membuatku mematung selama beberapa saat.
Endah memang gitu, Ra. Suka ngambek kalau kalah debat sama mas Nusa, terus nanti lepasin project. Cuma selama ini nggak ada yang berani ambil alih, jadi biasanya kalau project dilepas Endah ya mas Nusa yang turun tangan langsung. Handle gantiin Endah. Sekarang ada elo, ya posisi lo sebelumnya juga sudah jadi arsitek perencana, dianggap mampu berarti sama mas Nusa untuk replace Endah. Biar aja dia kapok suka mainin klien. Lagian kerja sih baperan banget. Dia tuh take personal kalau ditegur mas Nusa, seolah paling disalahin gitu. Padahal kita semua juga sering ditegur, diomelin, disalahin, disuruh ulang kerjaan sama mas Nusa untuk kepentingan klien.
Udah cuekin aja. Kan mas Nusa yang nunjuk lo, bukan elo yang sok iyee carmuk ke beliau kan? Nggak mungkin lah ya lo kasih pap tt ke mas Nusa terus dia alihin project ke elo gara – gara itu. Kalau iya sih, gue percaya juga. HAHAHA.
Ujungnya ga enak. Ya kali aku serendah itu, meski ya aku serendah itu malam tadi. Tapi setelah mas Nusa menunjukku untuk menggantikan Endah, bukan sebelumnya.
Hanya suara musik yang mengirini perjalanan kami. Aku jelas tidak berani mengucapkan sepatah kata pun daripada harus mengungkit kejadian malam tadi. Meski secara nurani, aku ingin meminta maaf atas ke-kurang-ajaran yang terjadi begitu saja tanpa kendali diri.
“Saya minta maaf ya.” Tiba – tiba saja mas Nusa berkata lebih dulu.
Aku masih tergagu dan tidak mengerti maksud permintaan maaf ini untuk apa. Apakah untuk penolakannya terhadapku atau apa.
“Saya minta maaf kalau saya memberi kesan sedang menggoda kamu—atau entah yang kamu pikirkan.”
Mas Nusa selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali – kali. Mengapa dia harus merasa bersalah padahal aku lah si pelakunya. Aku lah orang yang tidak dapat menahan diri dari godaan untuk menyentuhnya.
Tapi lagi - lagi, lidahku terasa kelu. Seberapa kuat pun aku ingin membantahnya dan meminta maaf, yang bisa kulakukan hanya menarik napas dan menghembuskannya demi menjaga kestabilan detak jantung ini.
Aku mencari kata yang tepat dalam kepala untuk mengatakan pada mas Nusa, bahwa aku lah yang salah. Dia berhak marah padaku, bukan sebaliknya. Dia boleh menjauhi bahkan menjaga jarak denganku, karena aku berbahaya baginya.
Tapi kata – kata yang keluar adalah, “Mas Nusa menolak saya?”
“Hah?”
Oh Tuhan, bahkan ekspresi terkejut itu tidak dibuat – buat dan membuatnya tampak semakin menggemaskan.
“Iya. Mas Nusa menolak saya, kan? Semalam.”
Kemudian ia tertawa, tawa kosong yang terdengar seperti ingin menenangkanku saja.
“Kamu lucu, Zo. Kalau pun ada yang bisa menolak di antara kita, ya itu harusnya kamu. Bukan saya.”
“Kenapa saya harus menolak Mas Nusa?”
“Memang kurang jelas?” Ia bertanya retoris, aku membuang muka darinya.
“Mas Nusa sudah punya pacar? Lagi dekat dengan mbak Endah ya?”
Lidahku semakin kurang ajar bertanya, tanggung deh. Sekalian saja biar nggak penasaran.
“Endah?” Ia menuntaskan tawanya sebelum kembali melanjutkan jawaban. “Memang kelihatannya kami pacaran?”
Aku mengangkat kedua bahu bersamaan.
©