“Satu cewek di rumah saja sudah bikin repot, Zo. Gimana ditambah Endah.” Ia menggelengkan kepala, terdengar terhibur dengan dugaanku.
“Jadi?”
“Hm?”
“Jadi, Mas Nusa sudah punya pacar atau belum?”
FIX, aku memang butuh pengendali seperti Alex.
Alih – alih menjawab pertanyaanku, mas Nusa tersenyum kecil. Ia memilih mengabaikan pertanyaanku dan kembali bernyanyi mengikuti lagu yang muncul dari siaran radio.
“Jadi, harusnya saya masih ada kesempatan dong.” Ucapku, lirih.
Tapi cukup bisa didengar oleh orang di sebelahku, ia terdiam dan melirikku. Meski aku tidak melihatnya, aku tahu mas Nusa masih melirikku sesekali di tengah fokusnya mengemudi.
“Umur kamu berapa, Zo?”
“Tiga puluh dua.”
“Saya empat puluh lima.”
“Saya tahu.”
Mas Nusa menghela napas. “Saya duda, kamu juga sudah tahu. Anak saya dua, kamu juga sudah tahu.”
“Terus?”
“Terus?” Mas Nusa mengulangi pertanyaanku, dengan penekanan terindikasi bercampur perasaan jengkel yang tak disembunyikan.
“Iya, terus kenapa?”
Ia menertawakan pertanyaanku sebelum menjawab kembali. “Kamu masih punya—buanyaaaakkk pilihan bagus. Kenapa memilih duda beranak dua?”
“Saya nggak memilih.”
“Oke. Jadi, karena nggak ada pilihan maka, saya adalah jalan keluar?”
“Karena dari dulu selalu Mas Nusa, saya nggak pernah melihat orang lain lagi. Hanya Mas Nusa.” Ucapku penuh keyakinan, membuat lawan bicaraku terdiam. “Mungkin bagi Mas Nusa, bertemu lagi dengan saya baru beberapa hari ini. Tapi untuk saya, memendam perasaan untuk Mas Nusa itu sudah sepuluh tahun lamanya.”
Radio yang berputar menyesuaikan sinyal, meninggalkan bunyi kresek – kresek yang terjeda, membuat atmosfer di dalam mobil ini berubah sedikit mencekam. Ditambah deru kendaraan di luar yang berkejaran dengan kendaraan lainnya.
“Ada alasan mengapa kita nggak pernah bertemu saat Mas Nusa menjalin kerjasama dengan Kubus. Alex tahu semuanya tentang perasaan saya. Sehingga, dia tidak pernah mengatakan apapun atau memasukkan saya ke dalam proyek yang sedang bekerjasama dengan Mas Nusa.”
Mas Nusa hendak berbicara, kemudian mengurungkannya dan kembali menatap jalanan di depan kami dengan pikiran yang entah sedang memikirkan apa.
Aku terpukau dengan keberanian yang datang bertubi – tubi datang kepadaku, memuntahkan semuanya yang selama ini tertahan di tenggorokan dan berakhir dengan debaran jantung yang kurang ajar.
“Zora—“ panggilnya.
Aku menunggu apa yang hendak dikatakan mas Nusa. Wajahnya tampak ragu, tapi kemudian ia kembali memanggil namaku.
“Zora.”
Aku menghela napas, ia menoleh dan tertawa sendiri melihat wajahku. Mungkin ada sesuatu di wajahku yang membuatnya terhibur, aku meraih cermin di atas kepala dan meneliti seluruh permukaan wajahku. Tapi nggak ada yang salah, aku merenggut pada mas Nusa dan ia kembali tersenyum seolah sangat terhibur dengan tingkahku.
“Namamu artinya apa sih? Bagus deh kedengarannya.”
Sungguh out of the box. Di saat aku sedang tersiksa menanti jawaban darinya mengenai pernyataan cinta, ia justru berkomentar tentang namaku.
“Matahari.” Jawabku acuh tak acuh.
Setelahnya kami tidak bicara, aku memilih pura – pura tidur karena tahu mas Nusa enggan membahas soal perasaan atau apapun itu. Aku bahkan belum meminta maaf karena menciumnya tadi malam, tapi sudah lah. Biar saja, aku akan memberikan jeda agar kami dapat membahas hal ini lain kali.S
.
.
.
Aku sedang mengobrol dengan Kezia saat Endah datang dengan derap langkah seperti mau perang kemudian menggebrak meja di hadapanku dengan sekuat tenaga.
Namun reaksi Kezia yang lebih dulu merespon tingkah Endah barusan.
“Mbak, elo apa – apaan sih?”
“Nih temen lo, mau jadi pahlawan kesiangan dia? Bisa – bisanya ambil proyek punya gue.”
“Lho? Mbak Endah yang bilang mundur ke mas Nusa.”
“Ya terus? Selama ini juga dia akan biarin proyek itu kosong atau ambil alih sendiri, elo harusnya tetap jadi drafter, nggak usah ngide mau gantiin posisi gue, lo!”
“A—aak...”
“Endah, ke ruangan saya.” Mas Nusa yang baru datang langsung memanggil Endah, membuat wanita itu menggeram marah padaku karena belum puas menuntaskan emosinya yang masih menggelegak.
Aku berpegangan pada pinggiran meja sesaat setelah Endah berlalu menuju ruangan mas Nusa dengan langkah dihentak – hentak kesal. Kezia memegangi lenganku dan bertanya apakah aku baik – baik saja, jelas aku menggeleng. Aku syok dibentak seperti itu di depan muka.
Mimi merangkul dan memberi usapan di punggungku agar aku lebih tenang. Staf cowok memberi ucapan agar aku tidak mengambil hati atas apa yang Endah katakan tadi, aku duduk dibantu Kezia dan ia masih menggerutu tentang Endah.
“Semoga mas Nusa pecat dia. Makin jadi aja tingkahnya, berasa senior banget. Najiiis deh.”
Kami bisa mendengar suara tangisan Endah di dalam ruangan mas Nusa, tapi Kezia dan Mimi berbisik bahwa hal itu juga biasa kalau Endah habis berdebat dengan mas Nusa. Disebut airmata buaya karena menurut mereka, Endah melakukan itu hanya untuk membuat mas Nusa iba dan terus mengulangi hal yang sama.
Timo mendekatkan kursinya pada kami dan berbisik, “mbak Endah tuh banyak kerjasama dengan pemilik supplier material. Makanya suka ngotot kan sampe debat dengan mas Nusa, itu karena dapat fee dia dari supplier itu.”
“Pantes saja.” Ucap Kezia. “Sudah tahu mas Nusa punya prinsip, segala ngide dia kasih material yang bertentangan.”
Aku membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan, meninggakan desas – desus yang masih berhembus di antara para kolegaku yang masih asyik membahas Endah dan apa yang dilakukan mas Nusa di dalam sana. Tangis Endah masih terdengar, tapi tidak dengan suara mas Nusa.
Semua orang menunggu tegang dan aku berharap apapun yang dibicarakan mas Nusa, semoga dapat memperbaiki hubungannya dengan Endah dan kami dapat bekerjasama lagi. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, termasuk wanita itu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Endah keluar dari ruangan mas Nusa dan menuju mejanya. Sepertinya pembicaraan mereka berhasil dengan baik. Endah tidak menyapa siapapun lagi dan hanya membuka laptopnya.
“Kezia, Jamal dan Aldi. Ke ruangan saya.”
Kezia menepuk pundakku dua kali sebelum melangkah menuju ruangan mas Nusa, aku masih ditemani Mimi yang bekerja satu meja denganku namun duduk bersebrangan. Ia membelakangi Endah yang duduk memunggungi kami.
Kemudian Endah menoleh, memanggil Mimi.
“Lo dan Timo ikut proyek gue.”
Mimi menatap aku dan Endah bergantian, “hotel yang sama, Mbak?”
“NGGAK. Cepetan sini.” Suruhnya, Mimi meminta maaf padaku lewat tatapan, aku mengangguk dan ia pun menyebrang untuk duduk di sebelah Endah.
Aku sendirian saat Timo pun menggeser kursi mendekati Endah, ketiganya sudah membahas hal lain dan aku tidak penasaran untuk turut mendengarkan. Selesai Kezia dan tim berbicara di ruangannya, mas Nusa memanggilku untuk membawa laptop dan tas. Ia mengatakan kami akan pergi keluar berdua.
Kuanggukkan kepala dan bersiap untuk mengikuti mas Nusa. Ia berjalan lebih dulu menuju lift, aku berpamitan pada Kezia dan mengejar langkahnya.
Begitu berada di dalam lift, ia mengatakan hal yang membuatku senang sekaligus gugup. “Proyek Hotel tetap kamu yang pegang, berhubung belum ada tambahan manpower, saya yang back up.”
“Jadi, kita berdua satu tim?” Tanyaku malu – malu.
Mas Nusa hanya tersenyum sekilas, namun tidak menanggapi perkataanku. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan senang.
“Atas nama Endah, saya minta maaf untuk sikapnya tadi.”
Senyum di wajahku memudar cepat, kenapa harus mas Nusa yang minta maaf lagi? Kali ini kan Endah yang salah.
“Mas Nusa terbiasa mengambil tanggung jawab kesalahan atas nama perempuan – perempuan ya?” Sindirku, memancing lehernya yang berputar ke arahku dengan cepat.
“Maksud kamu?”
“Kemarin Mas Nusa meminta maaf atas kesalahan yang justru saya lakukan, sekarang Mas minta maaf atas kesalahan Endah. Kenapa?”
Mas Nusa melirik ke pintu lift yang tertutup, seolah menunggu pintu itu terbuka untuk waspada kemudian ia berkata menjawab pertanyaanku.
“Kemarin saya memang merasa bersalah dan hari ini, saya tahu Endah salah tapi saya juga tahu dia nggak akan meminta maaf dengan mudah.”
“Tahu banget mbak Endah, naksir dia ya?” Pertanyaan tidak berdasarku membuat aku terlihat semakin berani terhadap sosok ini.
Please lah, aku menghormatinya. Sangat. Tapi rasa cemburu mendominasi seluruh sarafku saat ini.
Bukannya menjawab, mas Nusa hanya tersenyum. Lagi – lagi menolak secara gamblang pertanyaan yang sangat ingin kudengar jawabannya.
“Apa Mas Nusa juga terbiasa menjawab dengan senyum semua pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan?”
Tinggggg. Pintu lift terbuka di lantai dasar, ia menggelengkan kepala dan melangkah keluar menuju parkiran mobil. Aku kembali mengejar langkahnya yang panjang agar sejajar.
Ia menekan tombol switch on dan aku memasuki kursi penumpang di depan setelah meletakkan laptop dan tas di kursi belakang mobilnya. Mas Nusa naik beberapa saat kemudian. Aku mengenakan seatbelt dan mendengarnya berkata.
“Tidak menjawab juga sebuah jawaban, Zora.”
Aku terdiam dan bergerak cepat menoleh ke arahnya, ia sedang memakai seatbelt juga sekarang.
“Nggak ngerti.” Ucapku datar.
“Tidak memilih juga sebuah pilihan, begitu juga tidak menjawab. Kenapa kita harus dihadapkan dengan dua pilihan A dan B, sementara tidak ada pilihan untuk tidak memilih keduanya? Padahal tidak memilih keduanya juga sebuah pilihan yang diambil. Begitu juga jawaban, kenapa kamu bersikeras menuntut iya atau tidak, sementara tidak menjawab keduanya juga sebuah jawaban.”
Aku mengerutkan kening, memilih mengalah saja daripada harus memutar otak mencari arti dari perkataannya. Mobil yang kami kendarai melaju keluar dari parkiran, kuputuskan untuk tidak mengganggu mas Nusa lagi soal perasaan yang terlanjur kuungkapkan.
Terserah dia saja lah, yang penting kini dia tahu kalau aku menyukainya. Jadi, kalau dia memang tidak menginginkanku, dia harus berhenti membuatku jatuh cinta padanya lagi dan lagi.
©