Hari ini adalah hari besar untuk salah satu sahabatku, Alex. Meski dia tidak mengundangku secara pribadi, aku berkesempatan datang sebagai tim Matahari Nusantara. Bahkan Zayn pun tidak diundangnya, entah apa maksud Alex padahal dia cukup sering main bareng dengan adikku.
Kami maraton kondangan hari ini, karena di hari yang sama ada tiga undangan menanti dan mas Nusa mengajak kami semua untuk menghadirinya. Yang pertama klien, kedua rekan kerja yang sering berhubungan dan ketiga Alex dianggap partner kerjasama. Aku menumpang mobil Kezia, dia menjemputku sejak pagi.
Sepanjang jalan Kezia masih menggerutu soal undangan yang dikirim Alex secara profesional bukan pribadi, padahal kami berdua terhitung sebagai teman dekat sejak kuliah. Aku juga sama kesalnya, tapi terwakilkan dengan Kezia yang lebih berapi – api membahasnya.
Pernikahan pertama ini anak dari salah satu klien Matahari Nusantara, berlokasi di aula mewah yang sering dipakai acara hiburan di tv.
Mas Nusa dalam balutan busana batik sungguh menggoda pertahananku yang sudah memutuskan untuk tidak bergerak agresif mendekati duda dua anak ini. Pertama, karena mas Nusa minder dengan statusnya (dugaanku), kedua karena mungkin baginya ini hal baru. Dia pasti melihatku hanya sebatas mahasiswa dan stafnya saja sebelum tradegi ciuman itu terjadi. Aku yakin dia akan melihatku berbeda ketika aku sudah mengakui perasaan milikku yang sejak dulu hanya untuknya. Kemarin - kemarin, aku tidak berani bahkan sekedar membayangkan menjadi pendampingnya. Tapi sekarang aku berharap bahwa mas Nusa dapat melihatku sebagai wanita, bukan lagi sekedar murid yang pernah ia ajar.
Mas Nusa mengajak Nadia sebagai partner kondangan, gadis itu mengenakan gaun berwarna senada dengan yang dipakai papanya. Kami bertemu di lokasi kondangan pertama dan Nadia menempel padaku dan Kezia untuk cerita – cerita. Ada Endah juga, tapi sejak insiden dia melabrakku, belum ada tegur sapa darinya hingga hari ini. Meski aku kerja sendiri, aku tidak kesulitan sama sekali karena langsung dibantu yang punya kantor. Mas Nusa berjanji akan mencarikan tim baru untuk membantuku, ia sudah meminta bantuan mbak Debby untuk hire orang lagi.
Aku melihat Endah dan Timo menemani mas Nusa di tengah acara, bertegur sapa dengan beberapa orang yang mereka kenal. Aku belum melihat rekan kerja kami yang lainnya. Kezia menyeret kami, aku dan Nadia, mencicipi berbagai suguhan makanan yang terhidang. Kami bertiga cocok, sama – sama suka makan dan ngemil. Nadia berlaga seperti food vlogger, ia mengomentari segala hal yang ia cicipi dan aku berpura – pura merekam wajahnya dengan mengarahkan kamera hape. Kami menertawakan tingkah anak ini sambil terus mendorongnya untuk mencicipi lebih banyak lagi.
“Untung tadi pagi aku nggak sarapan, cuma minum s**u. Perutku happy nih dibawa kondangan.”
Kami berdua terbahak mendengar pengakuan polos Nadia.
“Zuppa soup, Nad.” Aku mencolek lengan Nadia penuh semangat, Kezia maupun Nadia pun bergerak cepat masuk ke dalam antrian.
“Harusnya kita bagi peran, Ra. Lo antri sate, Nanad antri Zuppa Soup, gue antri apa yaa? Oh itu tuh, sushi beneran nggak sih?” Aku mengikuti arah telunjuk Kezia dan mengangguk.
“Kayaknya beneran.”
“Yaudah kita bagi tugas.”
Kami pun berpencar untuk mengantri tiga makanan terpisah dan bertemu lagi di spot yang kami sepakati untuk saling mencoba hasil ‘buruan’ masing – masing. Harusnya aku dan Kezia memanfaatkan momen ini untuk menebar portfolio, tapi sudah ada mas Nusa dan Endah yang melakukannya. Kewajiban hadir dalam undangan klien juga salah satu bentuk prospek untuk mendapatkan proyek ke depannya, memang dasar kami berjiwa kacung, bukannya mengikuti langkah bosnya malah asyik bertukar makanan dengan anaknya. Anak SMP pula. Hihihi.
Kami bahkan nggak sadar sudah seharusnya pergi menuju lokasi kondangan kedua, kalau saja mas Nusa tidak menelpon Nadia karena mencari anaknya itu.
Setelah bertemu di parkiran, Nadia mengatakan ingin ikut mobil Kezia alih – alih papanya.
“Nanti kan tetap ketemu di sana.” Kilah Nadia saat mas Nusa memaksanya mengikuti dia.
“Ini tante Endah ikut kita, kamu kok malah pindah kesana.” Ujar mas Nusa, membuat kedua telingaku berdiri tegak mendengarkan dengan seksama percakapan ayah dan anak itu.
“Memang tante Endah nggak bawa mobil?”
“Nggak, tadi diantar om Danu. Ayo, Nad.”
“Nggak mau ah, itu Papa sudah ada temannya. Aku mau sama kak Kezia aja.” Ucapnya ngeyel, membuat mas Nusa menunjukkan wajah datar.
Menghela napas, mas Nusa menitipkan anaknya pada Kezia.
“Hati – hati nyetirnya ya, Kesh.”
“Siap, Mas.”
Namun, diam – diam aku melirik punggung mas Nusa yang berbalik menuju kendaraan miliknya dan juga kulihat Endah sedang menunggunya di sana. Ck. Bisa nggak sih tukeran saja posisinya, aku yang bersama mas Nusa, Endah yang ikut Kezia?
Batinku misuh – misuh, namun tetap juga aku menaiki kursi penumpang di depan setelah Nadia dengan semangat duduk di kursi belakang sambil memanggil – manggil namaku agar bergerak lebih cepat.
Pernikahan kedua adalah pernikahan Ricko, salah satu staf vendor yang bekerjasama dengan Matahari Nusantara. Berlokasi di rumah pengantin wanita, sederhana namun terlihat hangat karena keakraban para tamu maupun pemilik acara.
Nadia menggamit lenganku sejak turun dari mobil dan aku menyadari lirikan mata Endah yang kemudian menyapa Nadia dengan riang dan menanyakan alasannya ikut mobil Kezia.
“Kita bisa ngobrolin drakor soalnya, kalau sama papa kan nggak bisa.” Jawaban polos Nadia membuahkan senyum segaris Endah.
Tidak menunggu lama, wanita itu berjalan lebih dulu mengikuti mas Nusa yang sudah sampai di depan kedua pengantin untuk memberi ucapan selamat.
Kami tidak seleluasa di kondangan sebelumnya dalam mencicipi makanan, karena ruang yang sempit akan membuat kami mudah diperhatikan. Nadia berbisik – bisik, menanyakan apakah aku akan makan lagi sementara perut kami rasanya sudah penuh di pernikahan tadi.
“Kenyang aku, Nad.” Jawabku.
“Sama sih, lihat papa deh. Kalau papa makan, aku minta saja.”
Kami terkikik mendengar ucapan Nadia. Namun gadis itu harus menelan kecewa karena mas Nusa justru asyik berbincang dengan para tamu lainnya. Kezia juga sempat menyapa mereka sebelum kembali pada kami berdua. Saat aku bertanya, Kezia menjawab bahwa yang sedang mengobrol dengan mas Nusa adalah staf dari perusahaan vendor tempat Ricko bekerja.
Nggak lama – lama, mas Nusa kembali mengajak kami untuk lanjut ke pernikahan ketiga yaitu pernikahan Alex dan Lenny. Saat hendak keluar, kami berpapasan dengan Mimi, Jamal dan mbak Debby. Kami pun saling berpamitan karena akan mengejar waktu resepsi di pernikahan Alex, ketiganya kompak menyahut akan menyusul.
Kezia melemparkan kunci mobilnya padaku, untung saja tanganku lebih cepat dari pada gaya gravitasi yang akan membuat kunci tersebut menyentuh jalanan.
“Capek gue.”
Aku menghadiahinya jitakan kecil di dahi. Nadia masih mengekori kami dan lagi – lagi berkata pada papanya bahwa ia memilih ikut denganku.
“Nanad.” Tegur mas Nusa, suaranya rendah namun penuh penekanan.
“Iya nanti pulangnya baru sama Papa.” Ucap gadis itu, memberikan kecupan di pipi kanan papanya sebelum berlari cepat memasuki mobil Kezia yang sudah kubuka kuncinya.
Kezia menginterogasi Nadia begitu aku melajukan kendaraan keluar gang dari lokasi pernikahan tadi dan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan besar.
“Kenapa sih Nanad nggak mau di mobil papa aja?”
“Di sini seru, bisa ngobrol sama Kakak – Kakak.”
“Ooowwhhh. Eh Nad, mbak Endah sering main ya ke rumah kamu?”
Aku melirik Nadia dari cermin tengah, Nadia mengangguk – angguk menjawab pertanyaan Kezia.
“Papa sama mbak Endah, dekat banget ya, Nad?” Telisiknya lagi, aku ingin protes tapi juga penasaran ingin tahu jawaban Nadia.
“Dekat lah. Papa sama om Danu kan berteman dari lama. Waktu mama masih ada, om Danu juga sering main ke rumah kok.”
“Yeee, bukan om Danu maksud aku. Tapi mbak Endah.”
“Ya kan tante Endah adiknya om Danu, gimana sih Kak Kezzzz.” Aku menertawakan ucapan Nadia yang tidak sesuai dengan harapan Kezia.
“Ya tahu kalau itu mah, maksud aku tuh...ihh nggak jadi deh.”
“Apaan?” Nadia menotol – notol lengan kanan Kezia, menuntutnya untuk melanjutkan pertanyaan yang urung ia lontarkan. “Apa, Kak?”
“Tapi Nanad jangan marah ya, Kak Kezia cuma penasaran aja.”
“Iya apaaaa, Cantik?” Aku terkekeh, serasa usia keduanya terbalik.
Kezia yang kepo ala bocah disahuti gaya sok tua Nadia yang menggodanya.
“Mereka berdua tuh, pacaran nggak sih?”
Aku membelalakkan kedua mata pada Kezia, ia malah menepuk lenganku sambil melayangkan tangan ke depan. “Fokus aja lo!”
Frontal banget pertanyaannya tolong, bagaimana pun juga kan Nadia masih kecil dan ia ditinggal ibunya saat usianya masih jauh lebih muda dari saat ini. Terdengar nir-empati banget pertanyaan Kezia barusan, makanya aku hendak protes tadi.
“Mana aku tahuuuuu.” Jawaban tak acuh Nadia membuat kekhawatiranku mereda.
“Kok nggak tahu?”
“Aku memang nggak tahu.”
“Tapi kalau papa sama mbak Endah pacaran, Nanad setuju?”
“Nggak tahu juga.”
“Iihh, kok nggak tahu juga sih?”
“Sekarang aja papa suka pergi – pergi, sibuk banget. Kalau papa punya pacar juga, nanti makin sibuk. Sibuk pacaran tapinya.”
Kezia tertawa sambil memukul – mukul lenganku, aku protes kesakitan dan mengomeli Kezia agar berhenti ‘menganiaya diriku’. Meski alasan sebenarnya, aku sedang memikirkan jawaban Nadia. Dia terdengar nggak mau punya ibu tiri. Terus, gimana prospek perasaanku ke depannya kalau anaknya saja sudah kasih lampu merah?
Memangnya yakin mas Nusa suka sama kamu juga, Ra? Batin jahatku mengejek, aku meniupnya dengan terompet tahun baru biar dia musnah dari dalam diriku.
“Tapi Nanad pernah nggak sih kepikiran kalau papa nikah lagi?”
Ealaaah interogasi Kezia belum selesai, meskipun aku sedang kepusingan mencari lokasi hotel tempat Alex mengadakan perhelatan akbarnya, aku ikut penasaran juga dengan jawaban Nadia.
“Pernah sih. Abang juga pernah nanya, kalau papa nikah lagi perasaan aku gimana.”
“Terus, terus?” Mulutku ikut bertanya, Kezia tidak terdistraksi dan malah menanti jawaban Nadia dengan fokus.
“Tapi aku benar – benar nggak tahu, akan gimana. Teman aku ada yang papa mamanya pisah terus sudah menikah masing – masing, dia bilang repot karena harus gantian nginep. Kalau mamanya mau liburan, dia dititip ke papanya. Gitu terus. Tapi kan, mama aku udah nggak ada ya. Jadi, aku mikir kalau papa mau liburan sama istrinya nanti aku ditinggalin gitu? Sedih aku mikirannya doang.” Jawaban polos itu sedikit mengempiskan harapan dalam dadaku.
Kezia menghela napas, ia menjangkau lengan Nadia untuk memberikannya tepukan ringan.
“Nggak gitu juga konsepnya, Nad. Ada kalanya orangtua pasti mau waktu pribadi, tapi nggak akan selalu ninggalin kamu kok. Aku yakin, papa kamu nggak gitu.” Semoga ucapanku bisa menghibur Nadia dan mengubah cara pikirnya juga.
“Iya sih, sekarang juga aku sering ditinggal – tinggal. Tapi kan papa kerja, masih bisa aku video call. Kalau lagi liburan sama istrinya, memang mau jawab video call aku?”
Ya ampun. Kalau aku yang jadi istrinya, sudah pasti mau kok, Nad. Restuilah kami.....
©