“Memang kenapa sih, Kak? Memang papa sama tante Endah beneran pacaran ya?” Berbalik, kini Nadia yang melemparkan pertanyaan pada Kezia.
Namun jawabannya, membuatku ingin menabrakkan sisi mobil sebelah kiri saja eh tapi ada Nadia. Bercanda, Kesss.
“Semoga iya sih, biar mbak Endah cepetan resign deh. Jadi ibu rumah tangga saja. Kalau mood-nya lagi jelek, bikin kesel di kantor.”
“Masa sih, Kak?”
“Eh—mungkin kalau jadi istri mas Nusa, beda kali ya.” Ucap Kezia, seolah ia tidak ingin Endah dinilai jelek oleh Nadia sehingga mengaburkan penilaiannya terhadap wanita itu.
“Tapi aku kurang suka tante Endah sih, Kak.”
“Kenapa, kenapa?” Tanyaku semangat.
Kezia memojokkanku dengan berkata, “seneng lo ya dapat sekutu melawan Endah.”
“Dia suka atur – atur aku, terus komenin status aku. Kalau aku lagi bikin status makan apa kek gitu, suka dikomen ‘ih itu nggak sehat, Nad’ atau ‘jangan kebanyakan main, Nad’ kayak gitu – gitu. Aku kan bete. Memangnya dia siapa.”
“Yee itu kan perhatian, Nanad.” Kezia kembali mengipasi bara yang dia tidak tahu juga ikut membakar hatiku. Errghh.
“Waktu aku renang, kan hape aku nyebur ya ke kolam renang terus mati total tuh, Kak. Papa sampe datang ke sekolah aku, nyariin. Aku malah diomelin sama tante Endah, katanya harus pamit lah, kabari lah. Aku memang salah karena nggak pamit, tapi aku juga nggak bisa kasih kabar ke papa, hape aku aja mati total. Aku mikirnya, aku kualat kali karena nggak izin. Masa yang omelin aku malah dia, papa nggak marah cuma bilang papa panik. Gitu doang. Males banget deh.”
Aku menyembunyikan seringai senang diam – diam. Sungguh perjalanan yang penuh manfaat bersama dengan Nadia dan Kezia, menyenangkan.
Kami tiba di lokasi pernikahan Alex, aku pun membelokkan setir menuju tempat kami akan parkir.
Another wedding to attend. My best friend’s wedding. My not—best—anymore friend lebih tepatnya.
Semua serba putih. Dekorasi altar tempat pemberkatan, hall tempat acara berlangsung, hingga stage di mana tiga orang DJ bersiap menghibur dan membuat party setelah semua acara seremonial selesai. Alex menyulap tempat ini menjadi lokasi pernikahan yang all in.
Akhirnya, dia memutuskan menikah juga. Setelah cukup lama kami bersama seperti dua orang i***t yang tak terpisahkan namun tidak pernah berani memulai. Dinding yang menjulang di antara kami begitu tinggi. Hingga membuat kami sama – sama ambigu menerjemahkan kebersamaan yang telah berlangsung lama dan enggan beranjak pergi.
Saat aku memutuskan untuk menjauhi Alex, aku terus berdoa agar ia dapat menemukan apa yang ia cari dalam diriku pada orang lain. Dan sekarang Lenny adalah jawabannya.
Aku dapat melihat keduanya sedang berada di meja pengantin, bersama keluarga mereka. Kezia menyikut lenganku sambil mengarahkan pandangan pada dua orang yang paling bahagia di ruangan ini.
“Gue harus nanya Lenny, siapa MUA-nya. Flawless, natural, but still, stunning.” Bisik Kezia lagi, aku menyetujui perkataannya.
Lenny sangat cantik tanpa make up wah seperti yang biasa kami lihat di pernikahan orang lain. Namun, tidak mengurangi kecantikannya sebagai pengantin wanita. Wajahnya bersinar, ia pasti sangat bahagia dapat menikahi laki – laki yang dicintainya sejak kecil ini.
“Lo nggak patah hati, kan?” Bisik Kezia, di luar jangkauan Nadia yang sudah bergabung dengan papanya dan Endah.
Tentu saja aku ikut bahagia atas pernikahan ini. Orang lain pasti mengira hubunganku dan Alex sangat spesial melihat kedekatan kami, faktanya kami hanya berteman. Hanya ada satu nama yang sejak dulu mengusik ketenangan batinku. Dan hanya Alex yang tahu sosok itu.
Hanya Alex seorang yang dapat melihat perasaanku dengan gamblang, meski tak berbalas. Bahkan tanpa diketahui oleh orang yang kucintai. Alex telah menjadi saksi di mana aku telah berjalan dalam diam di perjalanan cinta yang sunyi. Meski sejak awal aku sadar bahwa aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersamanya namun aku tetap menyukai dia. Kukira, aku telah berhasil melupakannya ketika berpacaran dengan beberapa mantanku dan bahkan dengan Alex di sisiku.
Aku pikir mas Nusa tidak akan mengingatku saat kami pertama kali bertemu lagi sejak aku wisuda dari kampus tempatnya mengajar. Tapi, aku terkejut ketika ia bahkan mengingat namaku. Hal kecil yang menambah kadar perasaan suka ini berkali – kali lipat jadinya.
Dan betapa ajaibnya perasaan itu, di tengah lautan manusia yang menjadi tamu, hanya pada wajah mas Nusa netraku tertuju. Gesturnya kala menyapa berbagai kenalan yang menyapa, senyumnya sambil memperkenalkan Nadia yang ia rangkul dengan tangan kiri dan ia mengedarkan pandangan hingga menemukan kedua mataku yang masih rakus memandanginya penuh cinta. Kedua sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum, membuatku salah tingkah di momen yang tidak seharusnya. Bahkan aku tidak lagi fokus pada apa yang dikatakan Kezia saat ini.
Aku tersentak karena dorongan Kezia, ia berbisik cepat. “Ayo kita beri mereka ucapan selamat.”
Kemudian aku menyadari antrean orang – orang yang ingin memberi ucapan selamat pada kedua mempelai telah mengular. Aku pun mendengar panggilan Nadia di belakangku dan kulihat staf Matahari Nusantara sudah ikut mengantre.
Seharusnya aku merekam wajah syok Alex saat kami tiba di hadapannya, ia hampir menjatuhkan rahangnya sendiri kalau saja Kezia tidak dengan cepat mencairkan suasana yang menjadi canggung.
“Congratulations you two!” Sorak Kezia, meraih bahu Lenny dan memberinya cipika cipiki.
Aku meninju d**a Alex sambil mengucapkan selamat. Ia tergagap, namun Lenny menggamit lengannya hingga Alex kembali menapaki Bumi dan menemukan kendali dirinya lagi.
“Tt-thanks, Guys. Thankyou sudah datang.”
“Iya walaupun diundang sebagai karyawan Matahari Nusantara.” Ucap Kezia sadis, Lenny menghibur kami dan berkata bahwa banyak juga orang – orang yang terlewat diberi undangan.
Tiba saatnya bersalaman dengan Lenny, ia duluan yang menarik lengan kiriku untuk berangkulan. Aku pun memeluk Lenny dan memberinya ucapan selamat yang tulus.
“Makasi banyak ya, Ra. Gue akan jagain Alex.”
“Dia yang harusnya jagain elo.” Candaku, Lenny mengusap sudut matanya yang basah. Aku kembali memeluk gadis itu agar ia tidak perlu merasa apapun selain bahagia.
Ini hari bahagianya.
Antrean bergeser dan di saat itu lah aku menyadari Alex melihat mas Nusa dan aku secara bergantian. Ketika mas Nusa memberinya ucapan selamat, aku bisa merasakan tatapan mata Alex yang penuh arti. Tanpa sadar, aku menggeleng kecil entah untuk alasan apa. Aku harap Alex mengerti maksudku, agar tidak mengacaukan harinya.
Mas Nusa bertanya untuk berfoto bersama, kedua pengantin menyetujui dan kami pun berpose untuk mengambil gambar sebelum akhirnya memberi kesempatan pada tamu lain untuk memberi ucapan selamat pada Raja dan Ratu sehari di tempat ini.
Kami berjalan menuju gubug makanan, Nadia langsung nyempil di antara aku dan Kezia sambil menggamit lengan kami berdua.
“Apakah Kakak – Kakak sudah lapar lagi?” Ia bertanya sambil mengedarkan pandangan pada suguhan makanan di hadapan kami.
“Oh tentu saja.” Jawab Kezia yang langsung maju bersama Nadia untuk mengantri gubukan, meninggalkanku sendiri yang belum sempat merespon apapun perkataan keduanya.
Aku hendak berbalik dan hampir saja menabrak d**a mas Nusa yang sejak tadi berada di belakang kami tanpa aku sadari.
“Eh, maaf, Mas.”
Aku dapat mencium aroma parfumnya yang segar dari jarak dekat ini. Mas Nusa merespon permintaan maafku dengan jawaban template, ‘nggak apa – apa’. Aku juga baru menyadari kalau Endah, Timo, Chris dan Aldi yang sempat kulihat bersama – sama tadi, sudah mengantre untuk makan.
Kami bersandar pada pilar, berdiri saling bersisian. Aku senang saat mas Nusa dengan sigap ‘melindungiku’ ketika banyak orang berlalu lalang di hadapan kami sambil membawa piring, gelas bahkan box makanan yang dilakukan para petugas katering. Padahal ia hanya mengulurkan tangan kirinya melintang di depan tubuhku, namun aku dapat merasakan wajahku bersemu merah karena hal ini.
Ingin mengakhiri momen canggung bersamanya, aku berbasa – basi menanyakan mengapa mas Nusa tidak ikut stafnya yang sedang mengantre makanan.
“Nggak makan, Mas?”
Refleks ia menyentuh perutnya dengan tangan kanan seraya menjawab, “masih kenyang saya.”
Out of nowhere, tiba – tiba datang lah Alex ke hadapanku dan ia lambat menyadari aku sedang bersama mas Nusa saat ia dengan cepat meraih siku kananku untuk ditarik ke tempat yang mungkin tidak seramai hall ini sekarang.
“Lho, pengantin kok muter. Lapar ya?” Mas Nusa menggoda Alex, dengan cepat aku menyingkirkan tangannya yang hendak membawaku pergi.
“Hai, Mas. Kalian kok bisa—“
“Iya aku kerja di Matahari Nusantara.” Aku memotong perkataan Alex yang kuduga ingin bertanya mengenai kedekatan kami saat ini. “Ada salam dari Zayn.”
Aku sengaja menyinggungnya, Alex mengangguk.
Aku tidak perlu usaha untuk mengusir Alex karena MC memanggil dia dan memintanya untuk melakukan games dengan beberapa tamu. Dia tidak memiliki pilihan lain selain kembali pada spotlight di mana ia seharusnya berada. Semoga saja Lenny tidak menyadari hal ini. Dia akan terluka jika melihat Alex mencoba bicara denganku di hari spesial seperti sekarang.
“Kamu nggak apa – apa?”
“Ha?”
Aku mengangkat wajah yang sempat tertunduk selama beberapa saat dan melihat mas Nusa yang menatapku dengan sorot mata khawatir.
“Itu. Saya dengar rumor kalau kalian dulu dekat.”
“Rumor? Dari siapa?”
Mas Nusa terlihat seperti salah tingkah, ia menggaruk tengkuk lehernya dan mengitari pandangan pada gubug – gubugan tempat Kezia dan Nadia berhasil mendapatkan makanan yang mereka incar. Aku pun menyadari, pasti sumber segala rumor ini adalah orang yang paling dekat denganku.
“Pasti Kezia.”
Tidak mengelak, mas Nusa justru tersenyum sungkan. Ini orang masih belum sadar apa ya, sudah aku curi cium masih juga belum MEMBUKA PINTU BERNAMA HATI itu hey.
“Nggak seperti yang orang lain pikirkan kok. Saya dan Alex, seperti saya dan Kezia. Nggak lebih.” Ucapku.
Ingin rasanya meneruskan bahwa, hanya pada dirimu lah hatiku tertuju. Namun tidak terucap, ditambah kedatangan dua orang pemburu makanan yang menyodorkan pada kami untuk mencicipi itu semua.
“Enak lho, Pa, ini macaroni schotel-nya.” Nadia memberikan sendok miliknya dengan potongan macaroni schotel pada mas Nusa.
“Papa kenyang.” Jawab mas Nusa, membuat gadis kecilnya merenggut namun melahap makanan yang tak jadi ia berikan.
Begitu hendak pulang, Nadia memeluk aku dan Kezia bergantian. Mas Nusa juga mengucapkan terima kasih padahal kami hanya memberi tumpangan dan dapat menginterogasi Nadia tentang dirinya. Tentu saja dia tidak tahu.
Aku bisa melihat Endah yang masih ikut menumpang di mobil mas Nusa dan menelan ludah kecewa karena mereka bertiga terlihat seperti keluarga bahagia sekarang.
Kami pun bertolak untuk pulang ke rumah masing – masing, aku menawarkan diri untuk mengendarai mobil sampai ke rumahku. Kezia menerimanya dengan senang hati.
Dalam perjalanan, berulang kali Kezia mengkonfirmasi perasaan maupun sikapku dan Alex di acara tadi. Aku merahasiakan soal Alex tiba – tiba menemukanku yang sedang bersandar pada pilar sambil menunggu mereka mengantre makanan.
Entah kenapa aku bisa menduga besok atau nanti Alex akan menghubungi segera. Ia pasti merasa dikhianati karena aku tiba – tiba berada di Jakarta, bekerja dengan mas Nusa dan menghadiri pernikahan mesti tanpa undangan darinya. Tapi, semoga Alex mengerti dan kami dapat berteman seperti dulu lagi.
©