“Tahu nggak, Kak, kenapa gue nggak diundang bang Alex? Dia takut gue kasih kabar ke elo. Dia belum tahu lo sudah di Jakarta lagi kemarin.”
Tentu saja informasi ini sudah dapat aku duga, tapi masa iya gitu lho. Pernikahannya adalah hal yang paling aku tunggu – tunggu, setidaknya aku lega, Alex move on dari ketidak pastian bersamaku. Kenapa aku malah tidak boleh tahu?
“Dia minta maaf, tapi ya gue juga nggak bisa berbuat apa – apa. Bang Alex memang pernah bilang dia secara khusus melihat lo bukan sebagai teman tapi perempuan yang dia sukai. Bertahun – tahun dia menjaga lo berharap ada harapan untuk bersama. Tapi saat ayah meninggal, lo malah menjauh.”
Tentu saja. Jauh hari sebelum pertemananku berjamur dengan Alex dan Kezia, ayah pernah berpesan padaku.
Kak, sebesar apapun cintamu pada laki – laki, pastikan dia seiman. Jika tidak, maaf, bagi ayah lebih baik kamu sendiri selamanya. Itu lebih baik.
Padahal, saat itu aku sedang jatuh sejatuh – jatuhnya cinta pada mas Nusa bukan Alex atau laki – laki lain. Tapi mungkin itu yang dinamakan firasat atau ayah cukup jeli melihat sikap dan tingkah laku Alex saat bersamaku di rumah, sehingga ucapan itu terlontar. Sejak saat itu pula, Alex tidak pernah menjadi sosok yang aku pertimbangkan untuk menjajaki pelaminan.
Ponselku berdering, suaranya teredam seperti tertindih sesuatu. Aku bangkit dari sofa dan mencari letak ponsel yang sejak tadi sembarang kuletakkan entah di mana. Hingga kutemukan benda pipih itu di bawah clutch yang tergeletak di atas karpet abu – abu.
Nomor Nadia memanggil, aku menggeser icon telepon hijau untuk menjawabnya.
“Halo, Nad.”
“Kak Zoraaaaaa.” Ia menyapa ceria, Zayn yang sedang menekuri acara tv pun menoleh dibuatnya.
“Waduuh, waduuh. Happy banget kamu kedengarannya, lagi di mana Nad?”
“Di rumah nih, aku berdua saja sama mbak Puji. Abang lagi pergi main sama temannya, papa lagi pergi keluar.”
“Tumben kamu nggak ikut papa?”
“Nggak boleh. Kakak nggak kemana - mana hari Minggu?”
“Capek, Nad. Kemarin kan kita sudah marathon kondangan.”
“Kakak nggak punya pacar yaaaaaaaa?” Nada mengejeknya spontan kutertawai, kalau saja kamu tahu, Nad.
“Nggak. Jomlo nih.”
“Hahahaha. Kalau kak Kezia aku tahu punya pacar, namanya om Rega. Katanya kerja di Gym.”
“Iya, trainer dia. Kamu kenal sama Rega?”
“Pernah ketemu dua kali.”
“Oh, di mana?”
“Pertama, waktu acara halal bi halal kantor papa. Terus, kedua waktu ikut abang aku nge-Gym. Om Rega ada di sana.”
Aku manggut – manggut. Sambil setengah berbaring di sofa, aku menyuap salad buah yang kubeli sambil mendengarkan Nadia bercerita.
“Makanya, kalau hari Minggu, aku diomelin kak Kezia kalau telepon dia. Waktunya pacaran.”
“Hahaha.”
“Kenapa nggak telepon temen kamu?”
“Temen aku juga pacaran kayaknya, aku doang yang nggak punya pacar.”
“Kenapa tuh?”
“Nggak boleh sama papa. Kata papa, jangan pacar – pacaran. Kalau mau nonton bioskop, sama papa atau abang aja. Abang aku juga nggak boleh pacaran.”
“Hehehe.”
Papa kamu bisa dipacarin nggak tapi?
“Kakak mau nonton nggak sama aku? Suka film Anime nggak?”
“Huummm ... aku jarang nonton anime sih. Memang apa yang lagi tayang?”
“Hmmm, sukanya film apa?”
“Drakor.”
“Yaaa, itu sih bisa nonton dari hape. Kalau film horor suka nggak?”
“Hmm, bisa nonton kok tapi. Kamu mau nonton?”
Please lah ajak papa kamu juga.
“Kakak mau temenin aku nonton?”
Bukannya menjawab Nadia, aku menendang paha adikku bertanya padanya.
“Jen, mau nonton keluar nggak?”
Panggilan kesayangan kami memang Jejen dan Jojo. Praktis. Berawalan huruf Z membuat kami tersiksa selama sekolah, selalu menjadi nama terakhir dalam absensi.
“Gue kerja jam 2.”
“Oiya.”
“Ada bang Zayn ya, Kak?”
“Iya nih, lagi nonton tv.”
“Dia nggak mau nonton, Kak?”
“Kerja dia. Aku bawa motor aja deh.”
“Kakak mau nonton sama aku?”
“Yaudah ayo. Tapi jangan muterin mall ya, aku sudah renta.”
“Hahahahaa. Iya, nonton aja terus makan terus pulang.”
“Boleh.”
Well, kami pun janjian di sebuah mall untuk nonton film bareng. Oke, sepanjang perjalanan dari rumah ke mall ini aku sudah bertekad bahwa aku tidak sedang mendekati Nadia untuk memacari papanya. Nggak, Nadia memang terlihat nyaman denganku dan Kezia. Kami se-frekuensi untuk beberapa hal seperti ; makanan, drama korea dan make up. Toh yang tahu aku menyukai mas Nusa hanya dirinya sendiri, minus Alex tentu saja. Dan lagi – lagi, ini Nadia yang mendekatiku duluan bukan sebaliknya. Aku bisa membela diri kalau dianggap memanfaatkan gadis kecil ini untuk mendapatkan hati papanya.
Bukannya mau sombong, tapi memang iya. Aku bisa mendekati mas Nusa dengan agresif kalau mau, tapi nggak. Aku nggak mau. Mas Nusa terlalu berharga untuk aku dekati secara persuasif. Perasaanku untuknya bukan sekedar cinta sesaat karena dia ganteng, banyak uang dan kebetulan duda. Lebih dari itu, aku pernah mendoakannya menjadi orang paling bahagia di tiap ibadahku. Agar pernikahannya langgeng, anak – anaknya sehat dan mereka berdua forever till jannah. Tapi takdir Tuhan berkata lain, mbak Alisa dipanggil lebih dulu. Mungkin karena mbak Alisa adalah bunga terindah yang Tuhan ciptakan dalam hidup mas Nusa, sehingga Tuhan mengambilnya lebih dulu karena sangat mencintainya. Tidak setitik pun aku iri pada sosok mbak Alisa, sebaliknya, aku tidak merasa pantas membandingkan diri dengannya. Dulu maupun sekarang. Sebesar itu rasa hormatku pada mama Nadia, mana mungkin aku tega berpikir culas dengan memanfaatkan putri kecil mereka untuk merebut mas Nusa ke pelukanku.
Mas Nusa telah tahu perasaanku, itu cukup. Biarkan semua mengalir apa adanya. Nggak bohong, ada momen di mana aku ingin bangeettt teriak di hadapannya sambil berkata ‘I love you’, ‘look at me’ dan sebagainya. Tapi, penyesalan menciumnya seperti itu pun masih menggerogoti hatiku yang malang. Mas Nusa tidak marah, sebaliknya, dia merasa bersalah. Bagaimana bisa aku menjadi lebih bodoh untuk melukai harga dirinya lagi? Bukan kah tindakanku kemarin bisa dianggap sebagai bentuk pelecehan? Karena dia tidak consent saat aku menempelkan bibir kami berdua.
“Hayoo, lagi melamun apaaaa?” Aku terkejut karena Nadia tiba – tiba melompat di depan mukaku begitu saja.
“Haduh kamu, untung jantung aku nggak copot, Nad.”
“Hehehe. Jangan dong, nanti malah ke rumah sakit bukannya nonton kita.”
“Nggak apa – apa, siapa tahu dokternya kayak Lee Dong Wook. Hihihi.”
Nadia memberi tatapan mengejek dan tertawa kemudian. Aku meraih bahunya, merangkul dengan tangan kanan dan mengajaknya melihat – lihat film yang sedang diputar hari ini.
“Eh kamu dianter siapa kesini?”
“Naik ojol lah, kan sudah aku bilang nggak ada abang atau papa di rumah.”
“Iya sih, kamu berani banget.”
“Berani dong, Kak.” Ia menjawab tanpa ragu, aku menganggukkan kepala.
Kami memilih film horor lokal, kayaknya Nadia tipe anak yang antimainstream. Dia bilang suka film maupun permainan yang memicu adrenalin. Baik. Aku sih tipe flat – flat saja, nonton horor masih bisa. Naik wahana seperti roller coaster pun masih mau. Tapi ya nggak hobi juga.
“Kakak tahu nggak, papa aku kalau naik roller coaster itu nggak teriak lhooo. Malah senyum – senyum. Waktu naik kora – kora juga, papa duduk di belakang dan lempeng aja mukanya. Mama dulu sering bilang, papa mah urat takutnya udah putus. Hehehe.”
Ih aku baru tahu, seneng deh dengernya.
“Papa juga nggak takut nonton film horor, nggak pernah kaget atau teriak kayak kita.”
Sambil mengelus punggung Nadia aku berkata, “iya papa kamu mah takutnya kalau kamu kenapa – kenapa.”
Spontan Nadia membenarkan perkataanku dengan antusias. “Iya bener! Bener banget, Kak. Kata papa juga gitu.”
“Iya lah, semua papa memang begitu. Hehehe.” Aku berujar berdasarkan pengalaman tentu saja.
Kalau ada berita kecelakaan kereta dalam kota, pasti yang ayah cari tahu pertama kali adalah nama masinisnya dan tentu saja berharap bahwa bukan nama Zayn yang akan muncul di berita. Tapi kalau dirinya sendiri yang kecelakaan, ayah masih sanggup berjalan sendiri ke rumah sakit meski terpincang – pincang.
©