Menekan bel berkali-kali tanpa jeda. Senyum gadis itu terus melengkung ke atas. Jeans berpadu jaket tebal dan satu tangan memeluk tas berisi laptop. Tampak tidak sabar menunggu pintu terbuka. “Vilien!” teriak Sye riang begitu pintu terbuka lebar dan Vilien tampak siap. “Oh, gadisku!” Sahut Vilien dengan kedua bola mata melebar riang. Mereka berpelukan ala gadis alay dengan sedikit melompat kecil di tempat. Seperti baru berjumpa setelah bepisah bertahun-tahun. Zayden yang berada di belakang Vilien hanya mengerutkan dahi dengan raut wajah aneh. “Apa-apaan ini,” seru Zayden dengan suara datar. “Selamat pagi, Tuan muda...” sapa Sye dengan sedikit menarik suaranya diakhir kalimat. “Hm.” “Aku ke sini untuk menjemputmu,” ucap Sye sambil melerai pelukan. Senyum di bibir cantiknya masih s

