Sambil terisak dan lelehan air mata yang terus membasahi pipi, satu persatu piring yang memenuhi meja makan Vilien angkat. Menyimpan semua yang sempat tertata rapi, serta menyimpan bayangan makan malam romantis yang sempat terlintas saat mengaduk sup kentang dua jam lalu. Dalam sekejap semua telah berubah. “Berhentilah menangis, bodoh!” maki Vilien pada dirinya. Sambil mencuci dan membereskan kekacauan, Vilien terus menyalahkan dirinya. Menangis, tertawa kecut, terisak hingga nafasnya terputus-putus saking sesak yang ditahan dalam dadanya. Untuk malam ini saja, dirinya akan menumpahkan segala rasa yang bercampur aduk dan menyesakkan. Demi Tuhan, esok semua akan ia rubah. Akan ia buat semua yang terjadi di malam ini hanya angin badai yang tidak sengaja mampir. Selesai mengemas rapi, Masu

