Sejak beasiswa dicabut, Vilien semakin disibukkan oleh pekerjaan. Beberapa profesi ia jalani untuk tambahan. Karena saking sibuknya, kerap kali makan sambil jalan. Seperti sekarang ini, mengunyah roti sambil berjalan menuju restoran. Satu tangan lain memegang gelas kertas berisi kopi panas. Earphone seperti saudara, kemana pun ia pergi benda itu setia menyumbat kedua lubang telinganya. Dari jarak pandang yang bisa Vilien tangkap, Zayden keluar dari kafe bersama seorang wanita. Vilien mencoba melihat lebih jelas wajah si wanita, tapi tubuh Zayden menutupi sampai si wanita masuk dalam mobil pria itu. Meneguk saliva dan memaksa bibirnya tersenyum meski keadaan dalam hati seperti dirajang dan tercabik. Rasanya ingin menitikkan air mata, tapi itu bodoh jika dirinya harus menjatuhkan air mata

