“Kamu mau kan Kya jadi istriku nanti?” Kenan menanyakan hal penting seperti itu disela-sela kegiatan mengunyah makanannya. “Aku dilamar kok gak ada romantis-romantisnya sih Ken!” godaku. Kenan langsung meletakan sendok dan garpunya, lalu dia bangkit dari kursinya dan bersimpuh di sampingku. Kenan meraih tanganku dan menggenggamnya. “Kyara Anindhia, kamu mau kan jadi istriku nanti? Memang bukan dalam waktu dekat, tapi aku akan siapkan semuanya secepat yang aku bisa. Kamu mau menungguku kan?” sebuah kalimat lamaran terlontar dengan sangat romantis dari mulut Kenan. Aku tersenyum lalu menganggukan kepala. “Iya, aku mau. Aku akan nunggu kamu.” Jawabku. *** Aku menghabiskan waktu hampir seharian di apartemen Kenan. Setelah tadi kami menyelesaikan makan siang, Kenan mengajakku untuk

