“Tinggalin Kenan, dan jadilah milikku!” Rayyan mengucapkan sesuatu yang membuat kedua mataku terbuka lebar, juga membuat mulutku sedikit menganga.
“Lihat aku!” pintanya dengan sedikit membentak. “Tinggalin Kenan, dan jadi kekasihku!” kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya kini terdengar seperti sebuah perintah daripada sebuah permintaan di telingaku.
“Cih!” Rayyan berdecak kesal. “Persetan dengan perasaanmu! Aku menginginkan kamu dan kamu harus jadi milikku!” Tatapan mata Rayyan semakin tajam seperti ingin mengulitiku.
“Kamu gila Ray!”
“Ya! Aku gila karena menginginkan kamu!” jawab Rayyan dengan cepat.
***
Kriinngg.. Kriinngg.. Suara ponselku berdering dengan kencang. Menyadarkanku dari alam mimpi. Kuraih ponsel yang berada di samping bantal lalu kulihat nama yang tertera di layar ponsel dengan mata yang setengah terbuka. Kenan meneleponku.
“Halo Ken!” kataku saat menerima panggilan telepon darinya.
“Kya, kamu sudah siap?”
“Siap ngapain Ken?” tanyaku sedikit bingung.
“Kamu lupa ya? Kita kan sudah janjian kalau aku bakal jemput kamu dan ajak kamu mampir ke apartemenku!”
Mataku yang tadinya masih setengah terbuka kini sudah terbuka dengan sangat lebar. “Ya ampun aku lupa Ken! Duuhh maaf maaf, aku buru-buru mandi sekarang deh!”
“Ya udah kamu jangan lama-lama mandinya ya! Aku siap-siap jemput kamu.” Kenan pun mengakhiri panggilan teleponnya.
Langsung saja aku berlari ke kamar mandi dan mandi secepat kilat. Aku pilih pakaian yang sedikit feminim, baju terusan selutut berwarna dasar putih dengan motif kotak-kotak. Kutata rambutku dengan mencepolnya dan menyisakan poni tipis di keningku. Kusapukan blush on di pipiku lalu kupoleskan lipstick berwarna merah muda di bibirku. Ini memang bukan kencan pertamaku dengan Kenan, tetapi ini pertama kalinya Kenan akan mengajakku berkunjung ke apartemennya.
Tepat setelah aku selesai bersolek, terdengar suara Kenan mengucapkan salam di depan rumahku. Dengan cepat aku berlari keluar kamar dan menyambut kedatangannya.
“Hai, Ken!” sapaku saat membukakan pintu.
“Kyara? Ini beneran kamu?” Kenan takjub melihat perubahanku yang menjadi sangat cantik.
“Ehmm emang ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku bingung.
“Enggak ada yang salah Kya. Justru ini perfect banget!” puji Kenan.
Aku tersenyum malu namun bahagia mendapat pujian dari sang kekasih. Untuk beberapa saat kedua mata kamu saling bertatapan penuh cinta. Sampai sang mama datang menghampiri kami karena mendengar ada suara seseorang yang datang.
“Ada tamu ya, Kya?” suara Mama membuat kami berhenti saling menatap satu sama lain.
“Assalamualaikum Tante.” Kenan mengulurkan tangannya pada Ibu Hera, mamaku.
Ibu Hera menyambut uluran tangan Kenan lalu Kenan mencium punggung tangannya. “Wa’alaikumsalam, eh siapa ini? Temannya Kyara?”
“Iya Tante, teman dekat banget malah.” Jawab Kenan.
“Ma, kenalin ini Kenan. Pacarnya Kya.” Malu-malu aku memperkenalkan Kenan sebagai pacar atau kekasihku pada mama.
“Pacar kamu Kya? Waahh ganteng banget sih pacar kamu ini!” reaksi tak terduga dari sang mama. Awalnya aku berfikir jika Mama akan bersikap serius atau mungkin menyeleksi lelaki yang menjadi kekasihku. Tapi ternyata Mama malah terpesona dengan ketampanan Kenan.
“Makasih Tante atas pujiannya, tapi saya masih kalah ganteng sama artis papan atas yang lagi hits di tv-tv itu Tan.” Canda Kenan. Padahal menurutku Kenan yang lebih tampan daripada artis di tv.
“Ya udah yuk sini duduk, ngobrol-ngobrol dulu!” Mama mengajak Kenan untuk masuk.
Kenan menuruti keinginan Mama untuk duduk dan berbincang sebentar di ruang tamu. Raut wajah Mama tampak senang saat sedang berbincang dengan Kenan. Sepertinya Mama sudah menyukai Kenan.
Di tengah kehangatan suasana diantara kami bertiga, tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselku. Kulihat siapa yang sudah mengirimiku pesan. Rayyan mengirimiku pesan.
Rayyan :
Kya, saya jemput jam makan siang!
Sebuah pesan masuk bernada perintah dari Rayyan mengingatkanku tentang kejadian kemarin. Apa yang terjadi kemarin saat dia memaksaku agar aku meninggalkan Kenan bukanlah mimpi. Rayyan benar-benar melakukannya dengan tatapan dingin, memintaku meninggalkan kekasihku dan menjadi kekasihnya. Permintaan yang sungguh gila.
“Siapa yang kirim pesan, Kya?” tanya Kenan penasaran.
“Operator.” Jawabku seraya menyembunyikan ponsel di balik tubuhku.
Aku sedikit berbohong pada Kenan. Aku tidak mau membuat suasana yang sangat hangat ini menjadi suram hanya karena sebuah pesan dari Rayyan.
Sekitar setengah jam Kenan berbincang dengan mama. Kemudian dia meminta izin pada mama ingin mengajakku pergi. Tanpa perlu banyak bertanya mama langsung memberikan izinnya. Kami berdua berpamitan tanpa beban.
Di dalam mobil Kenan terus mencuri pandang ke arahku. Saat aku menoleh memiringkan kepala bertanya ada apa, dia hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Sepertinya dia masih tidak percaya jika aku bisa berdandan seperti ini. Jangankan dia, aku sendiri terkadang tidak percaya jika bisa tampil cantik seperti sekarang.
“Kya!” panggilnya dengan lembut.
“Hmm?” aku kembali menoleh dan memiringkan kepala menatapnya.
“Kita mampir dulu ke supermarket ya!”
“Mau beli apa?” tanyaku heran.
“Ini kan sebentar lagi udah mau jam makan siang, yaa masih satu setengah jam lagi sih, kan bosen kita makan di restoran terus, jadi aku mau makan siang nanti kita makan masakan kamu.” Kenan memintaku memasak dengan cara berbelit-belit.
Aku tertawa kecil mendengar permintaannya itu. “Kamu yakin banget aku bisa masak ya Ken?”
“Loh emang kamu gak bisa masak Kya?” raut wajah Kenan sedikit terkejut. “Ya udah gak apa-apa kan bisa sambil streaming belajar masaknya.” Tambahnya.
“Ahahahaha!” tawaku seketika pecah mendengar reaksi Kenan.
“Kamu kok malah ketawa sih?” Kenan menjadi semakin bingung dengan sikapku.
“Ya udah yuk kita mampir ke supermarket! Aku masakin kamu menu makanan yang kayak di restoran Jepang aja ya! Sedikit-sedikit sih aku bisa, walau rasanya gak seenak yang di restoran sih!”
“Seriusan? Oke kalau gitu kita langsung meluncur ke supermarket!” raut wajah Kenan dengan cepat berubah sangat senang setelah mendengar aku akan memasak untuknya.
Di supermarket kami berbelanja berdua seperti pengantin baru. Kenan mendorong troli dan aku berjalan berdampingan dengannya. Banyak pasang mata yang melirik ke arah kami. Aku tahu itu semua pasti karena Kenan yang sangat tampan. Pesonanya mencuri banyak perhatian.
“Daging, bawang bombay, paprika hijau, emm apa lagi Kya?” Kenan mendikte belanjaan yang ada di troli.
“Di apartemen kamu sama sekali gak ada bahan makanan atau bumbu-bumbu gitu?” tanyaku.
“Ada sih, sesekali kan ada Bibi yang datang buat beberes sama nyiapin makan malam. Kalau lagi libur kerja ya Bibi datang dari pagi buat nyiapin menu 3 kali makan.” Kenan menjawab namun pandangan matanya tetap fokus dengan belanjaan di troli.
“Eh, tapi khusus untuk hari ini aku minta Bibi untuk libur aja! Karena kan kita bakal makan siang berdua!” sambungnya.
“Emang orang tua kamu kemana?” spontan aku bertanya tentang orang tuanya.
“Mereka gak di Jakarta, Mama ikut Papa ke Singapore ngurusin binisnya.” Jawab Kenan dengan santai.
Aku baru mengetahui jika selama ini Kenan tinggal sendirian di Jakarta. Jadi nanti di apartemennya aku dan Kenan hanya berdua saja? Pikiranku langsung berfikir ke arah sana. Perempuan dan lelaki berdua saja di apartemen, apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku masih belum siap.
“Tenang aja, Kya! Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok!” Kenan berkata demikian seolah membaca pikiranku.
Aku pun menunduk malu. Bisa-bisanya aku berpikir yang aneh-aneh tentang Kenan.
Selesai berbelanja kami langsung menuju ke apartemen Kenan. Sesampainya di apartemen aku langsung diarahkan menuju dapur. Kenan sudah sangat lapar, dia sudah tidak sabar menunggu makanan tersaji di atas meja.
Kugulung lengan bajuku lalu segera menyiapkan makan siang untuk kekasihku. Kupotong lalu kuiris tebal paprika hijau serta bawang bombay yang kami beli tadi. Dagingnya sudah tidak perlu dipotong-potong lagi, sudah siap di masak.
“Mau aku bantu gak, Kya?” Kenan menawarkan bantuan.
“Gak usah Ken, kamu duduk manis aja di sana!” aku menjawab sambil tetap fokus memasak.
Tiba-tiba Kenan memelukku dari belakang. Melingkarkan tangannya di pinggangku. Dalam sekejap fokusku langsung hilang. Detak jantungku langsung tidak beraturan.
“Kenan?” panggilku.
“Kita kayak pasangan muda yang baru nikah ya, Kya! Hehehe.” kata Kenan lalu terkekeh setelahnya.
Aku tak menjawab Kenan karena aku berusaha mengatur detak jantungku. Kenan menyadari sikapku yang gugup lalu mulai menjahiliku.
“Kya, kamu kenapa?” tanya Kenan berbisik di telingaku, membuatku bergidik dan juga pipiku bersemu kemerahan.
Aku menggelengkan kepalaku. Kulonggarkan pelukannya lalu aku membalikan tubuhku menghadapnya. “Kenan, jangan gangguin aku ya! Kan kamu udah lapar, nanti makin lama ini selesainya kalau kamu gangguin aku kayak gini!” seruku.
Kenan tertawa terpingkal setelah aku memarahinya. Dia langsung berjalan menjauh lalu menunggu di meja makan. Dia tak akan menggangguku lagi, dia hanya akan memperhatikanku dari sana.
Makan siang kini sudah tersaji di atas meja. Kenan makan dengan lahapnya sambil terus memuji masakanku. Dia bilang dia sangat menyukai rasa masakanku. Bahkan dia menambahkan kembali nasi beserta lauknya ke dalam piring yang sudah hampir habis.
“Ternyata kamu jago masak Kya! Tahu gini mending setiap hari aku minta kamu yang nyiapin makan siang buat aku. Bawain bekel gitu Kya.” Katanya sambil mengunyah.
“Emang kamu gak malu aku bawain bekel makan siang?”
“Ya kenapa harus malu? Kan calon istri yang bawain masa aku malu! Yang ada aku malah senang!”
Calon istri? Kenan tidak salah berbicara kan? Apa dia sudah sangat yakin denganku?
“Kamu mau kan Kya jadi istriku nanti?” Kenan menanyakan hal penting seperti itu disela-sela kegiatan mengunyah makanannya.
“Kamu lagi ngelamar aku?” tanyaku dengan kedua alis yang terangkat ke atas.
“Hmm kalau kamu bilang gitu, ya iya!” jawab Kenan.
“Aku dilamar kok gak ada romantis-romantisnya sih Ken!” godaku.
Kenan langsung meletakan sendok dan garpunya, lalu dia bangkit dari kursinya dan bersimpuh di sampingku. Kenan meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Kyara Anindhia, kamu mau kan jadi istriku nanti? Memang bukan dalam waktu dekat, tapi aku akan siapkan semuanya secepat yang aku bisa. Kamu mau menungguku kan?” sebuah kalimat lamaran terlontar dengan sangat romantis dari mulut Kenan.
Aku tersenyum lalu menganggukan kepala. “Iya, aku mau. Aku akan nunggu kamu.” Jawabku.
Kenan pun berdiri dan menarik tubuhku agar ikut berdiri. Kemudian dia memelukku dengan erat. “Makasih ya, Kya.” Bisiknya di telingaku.
Hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagiku. Tanpa kuketahui, Rayyan sudah menungguku di rumah. Bahkan Rayyan sudah berbincang dengan Papa jika dia ingin memperistriku. Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hubunganku dengan Kenan?