Sebelas - Tinggalkan Dia!

1694 Kata
“Ken, gue boleh bilang sesuatu?” pertanyaan Rayyan mengakhiri keheningan mereka. “Lu harus jauhi Kyara! Karena gue mau dia jadi milik gue!” dengan mimik wajah yang serius Rayyan membuat pernyataan yang langsung membuat Kenan meminggirkan mobilnya. “Gue udah pernah peringati lu sebelumnya, jangan sampai lu jatuh hati sama dia. Kyara itu milik gue Ray!” tegas Kenan seraya memukul roda kemudinya dengan tangan kanannya. Apa sebegitu berartinya seorang Kyara bagi Kenan? Begitulah yang kini ada dipikiran Rayyan. Tetapi Rayyan mengakui di dalam hatinya jika dia juga mulai tertarik dengan Kyara karena sikap manis namun tetap santun saat menanggapi Kenan. Rayyan menginginkan wanita seperti Kyara. Rayyan pun merasa sangat yakin jika Kyara akan dengan mudah diterima oleh keluarganya.   ***   Hari ini Aku menemani Elsa berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang berada di kawasan Jakarta Utara. Elsa ingin membeli beberapa helai pakaian baru yang nanti akan dia kenakan saat menemui seseorang. “Kamu milih baju lama banget sih Sa! Udah pegel aku tuh pindah-pindah toko tapi baju yang cocok sama kamunya gak ada.” Keluhku pada Elsa karena lelah menemani berbelanja. “Sabar dong, Kya! Aku kan harus tampil spesial malam ini.” jawab Elsa sambil memilih-milih baju yang digantung berjejer di dalam toko. “Emang nanti malam kamu mau ada acara apa sih Sa?” “Aku mau ketemu orang yang spesial, Kya.” Raut wajah Elsa menunjukan jika dia sangat senang menantikan malam ini. Aku mulai penasaran dengan siapa Elsa akan bertemu nanti malam. Sepertinya seorang lelaki sehingga Elsa sangat sibuk menyiapkan penampilannya untuk nanti malam. “Orang spesial tuh siapa? Jangan-jangan kamu mau ketemu pacar kamu ya? Kok kamu gak bilang-bilang kalau udah punya pacar sih, Sa!” aku menghujani Elsa dengan pertanyaan karena aku sangat penasaran dengan siapa Elsa akan bertemu. Elsa mengerlingkan matanya lalu mengernyitkan dahinya. “Lah kamu Kya udah pacaran sama yang namanya Pak Kenan aja gak ngomong-ngomong sama aku!” sindir Elsa. “Loh kok kamu tahu? Tahu dari siapa?” tanyaku terkejut karena aku sama sekali tidak pernah memberitahu sahabatku ini jika aku sudah berpacaran dengan Kenan. Aku masih malu mengakuinya, malu karena Kenan terlalu tampan untuk seorang sepertiku. Elsa menghentikan kegiatannya mencari pakaian, dia membalikan tubuhnya dan berdiri tegak di hadapanku. “Kya, aku tuh sahabat kamu bukan sih?” tanyanya dengan tatapan mata yang tajam. “Iya kamu sahabat aku lah Sa!” jawabku. “Terus kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu udah punya pacar?” lanjut Elsa bertanya. Aku terdiam sejenak dan memperhatikan raut wajah Elsa yang sepertinya kecewa padaku karena aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Kuhela nafas sesaat lalu kujawab apa yang ditanyakan Elsa. “Maaf, Sa. Aku masih malu bilangnya sama kamu.” “Malu kenapa sih Kya?” “Yaa aku malu karena pacar aku tuh masih bisa dibilang penanggung jawab di divisiku. Terus dia juga ganteng banget, aku malu karena aku gak cantik-cantik amat Sa.” Jawabku malu-malu. Elsa memegang kedua bahuku dan menatapku tajam. “Kamu tuh cantik, Kya. Cuma kurang dipoles aja.” Katanya menyemangatiku. “Dan aku kan sahabat kamu, harusnya aku tahu kamu sudah punya pacar tuh ya dari kamu sendiri, bukan dari orang lain.” tambahnya. “Iya Elsa, aku minta maaf.” aku pun menundukan kepalaku lalu Elsa tiba-tiba memelukku. “Udah ah, kok kita jadi drama gini sih Kya? Nanti kenalin aku sama pacar kamu ya! Aku kan sahabat kamu.” ujar Elsa. Aku tersenyum dan mengangguk cepat. Kemudian Elsa kembali melanjutkan kegiatannya untuk mencari pakaian terbaik yang akan dia pakai malam ini. Lalu aku? Aku hanya menemaninya dan bersiap untuk membantunya membawa tas-tas belanjaannya nanti. Setelah selesai berbelanja, kami berdua langsung pulang ke rumah. Elsa pulang ke rumahnya sendiri, begitu juga denganku. Langkahku terhenti saat aku baru menginjakan kaki masuk ke dalam rumah. Ada Rayyan yang sedang berbincang dengan papaku di ruang tamu. “Kamu udah pulang Kyara? Ini ada teman kamu sudah nunggu dari tadi.” kata Papa saat melihatku sudah berada di hadapan mereka berdua. “Hai, Kyara!” sapa Rayyan dengan hangat. Aku tidak menyangka jika seorang Rayyan bisa bersikap hangat seperti itu. Bahkan aura dirinya yang biasanya terlihat gelap kini sangat cerah secerah senyum yang ditampilkannya kini. “Nahh ini Kyara sudah pulang, saya masuk ke dalam dulu ya mau minta mamanya Kyara nyiapin cemilan.” kata Papa seraya bangkit dari tempat duduknya. Rayyan juga ikut bangkit dari tempatnya. “Makasih Pak Adnan, gak perlu repot-repot. Saya mau ajak Kyara pergi keluar sebentar. Boleh kan Pak?” Aku langsung mengernyitkan dahi mendengar Rayyan meminta izin pada papaku untuk mengajaku pergi keluar. Kukerlingkan mataku tajam pada Rayyan yang tersenyum sangat hangat pada papa. “Hmm asal tidak memulangkan Kyara terlalu malam.” Aku terkejut Papa memberikan izinnya pada Rayyan. “Kyara, Papa masuk dulu ya.” Papa pun pamit dan meninggalkanku berdua saja dengan Rayyan. Kulihat Rayyan tersenyum puas setelah mendapatkan izin dari Papa untuk mengajakku pergi keluar. Rayyan melangkah mendekatiku dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya. “Ayo, Kyara kita pergi sekarang!” ajaknya. “Hah?” tanyaku dengan memasang raut wajah bingung. “Kok malah hah! Ayo kita pergi!” Rayyan mengulurkan tangannya padaku. “Kamu ngapain sih Ray?” kembali aku melontarkan pertanyaan pada Rayyan dan mengabaikan uluran tangannya. “Aku mau ajak kamu pergi keluar sebentar. Tadi kamu juga sudah dengar kan aku izin kayak gitu sama Papa kamu?” jawab Rayyan dan menarik kembali uluran tangannya. “Ya kamu ada urusan apa sama aku? Kalau cuma mau ngobrol kita bisa ngobrol disini aja, di rumahku.” “Ada hal penting yang harus aku bicarain sama kamu, Kya. Kamu harus ikut aku! Tenang aja aku gak bakal berbuat macam-macam.” Rayyan kembali mengulurkan tangannya padaku. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya aku setuju untuk ikut dengan Rayyan. Aku mengabaikan uluran tangan Rayyan dan berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah. Kudengar Rayan menghela nafas saat aku mengabaikan uluran tangannya. Namun Rayyan kemudian mengikuti berjalan keluar rumah. Sebuah mobil mewah berwarna hitam tiba-tiba sudah terparkir di depan rumahku. Mobil tersebut sebelumnya tidak ada disini saat aku pulang tadi. “Gak perlu bingung, memang baru datang kok. Tadi aku suruh supir isi bensin dulu.” Celetuk Rayyan seolah membaca pikiranku. Pak supir kemudian membukakan pintu untukku dan juga Rayyan. Kamu berdua duduk berdampingan di kursi belakang. Aku tak tahu akan dibawa kemana oleh Rayyan. Aku harus waspada dan duduk menjaga jarak dengan Rayyan. Bukan ingin berpikir negatif tentangnya, tetapi aku juga harus menjaga diriku. Ditambah sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan Rayyan. Aku mengenalnya karena dia adalah pimpinanku, dan juga sahabat dari kekasihku. Selama perjalanan Rayyan juga tak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya duduk dan memasang raut wajah dinginnya. Sangat berbeda saat dia berada di rumahku tadi. Aku mulai menerka-nerka kembali apa yang ingin dia bicarakan padaku. Sampailah kami di sebuah taman di pinggir kota. Rayyan pun mengajakku untuk turun dari mobil. Dia berjalan sedikit lebih cepat di depanku, lalu duduk di sebuah kursi taman yang kosong. “Kita duduk disini aja ya, Kya.” katanya. Aku menganggukan kepalaku lalu ikut duduk di sebelahnya. “Ray, kamu mau ngomong apa sih sampai harus kesini?” tanyaku sesaat setelah menempelkan bokongku di kursi. “Baru juga duduk disini kamu sudah nanya-nanya aja.” Rayyan memalingkan wajahnya dariku. “Ya kan katanya ada yang mau diomongin tadi.” Aku mengendikan bahuku. Rayyan menoleh kepadaku dan merubah posisi duduknya agar bisa sedikit berhadapan denganku. “Kamu serius sama Kenan?” tanya Rayyan dengan raut wajah seriusnya. “Memangnya kenapa?” “Tinggalin Kenan, dan jadilah milikku!” Rayyan mengucapkan sesuatu yang membuat kedua mataku terbuka lebar, juga membuat mulutku sedikit menganga. “Kamu apa-apan sih!?” bentakku secara tak sadar. Aku pun berdiri hendak pergi meninggalkan Rayyan. Kemudian Rayyan menarik tanganku sedikit kasar menghentikan langkahku. “Duduk, Kya!” titahnya. Raut wajah Rayyan sangat menakutkan. Tatapannya begitu tajam dan dingin. Diriku kembali dibuat takut dengan auranya sehingga tak berani balas menatap matanya. “Balik duduk disini, Kyara!” Rayyan menarik tanganku agar kembali duduk di tempatku tadi. “Lihat aku!” pintanya dengan sedikit membentak. “Tinggalin Kenan, dan jadi kekasihku!” kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya kini terdengar seperti sebuah perintah dibandingkan sebuah permintaan di telingaku. Aku menarik tanganku darinya kemudian aku memalingkan wajahku. Aku benar-benar takut berhadapan dengannya. Aku takut menatap kedua matanya. “Jawab aku!” Rayyan menarik bahuku agar aku berbalik padanya. “Apa yang harus aku jawab? Aku kekasih Kenan, sahabat kamu sendiri. Sudah pasti aku tetap memilih dia.” Aku memberanikan diri untuk mengatakan hal tersebut dengan tegas. “Apa kurangnya aku dibanding Kenan?” tanya Rayyan gusar. “Tidak ada. Hanya saja aku tidak ada perasaan apa-apa padamu. Hatiku hanya untuk Kenan.” tegasku. “Cih!” Rayyan berdecak kesal. “Persetan dengan perasaanmu! Aku menginginkan kamu dan kamu harus jadi milikku!” Tatapan mata Rayyan semakin tajam seperti ingin mengulitiku. Degub jantungku semakin cepat. Tubuhku mulai gemetar. Aku tak tahu mengapa Rayyan sangat memaksakan keinginannya seperti itu. Setahuku dia juga sudah mempunyai kekasih. Lalu kenapa dia harus memaksa aku menjadi kekasihnya? “Aku gak mau ngelanjutin pembicaraan ini.” Aku segera berdiri dari tempatku. “Kamu sudah punya pacar, sebaiknya kamu lebih memperhatikan pacar kamu daripada berbicara hal seperti tadi padaku.” tambahku. “Jangan pergi, Kyara!” lagi-lagi Rayyan menghentikan langkahku dengan menarik tanganku. “Apa lagi sih, Ray?” aku membalikan tubuhku dengan kesal. Rayyan maju satu langkah lalu menarik daguku dan mendaratkan sebuah kecupan ke bibirku. Dengan cepat aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku. “Apa-apaan sih kamu, Ray!” bentakku. Kuseka bibirku yang baru saja dikecup olehnya. Aku tidak suka kecupan ini. Amarah mulai memenuhi hatiku. Kedua bola mataku sudah berlinang air mata yang siap turun membasahi pipiku. “Aku sudah bilang, aku mau kamu jadi milikku. Itu artinya kamu harus jadi milikku. Kamu gak boleh menentang!” Rayyan mulai mengancamku. “Kamu gila Ray!” “Ya! Aku gila karena menginginkan kamu!” jawab Rayyan dengan cepat. Sepertinya Rayyan tidak main-main. Raut wajahnya menunjukan dia sangat serius. Aku bingung harus berbuat apa. Aku semakin tidak menyukainya. Aku ingin segera menjauh dari lelaki yang sedang menatapku tajam di depanku ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN