“Tapi dia tuh gak mikirin kepentingan kita, Kyara! Bukannya Mama jadi bersikap egois namanya?!” “Tapi Mas—“ “Gak ada tapi-tapi lagi, Kya!” Rayyan memotong ucapanku. “Kamu sudah sering mengalah tetapi pada akhirnya kamu yang tersakiti. Aku akan berbicara langsung pada Mama. Aku akan tanyakan kenapa sikap Mama jadi seperti ini.” Aku menghela nafas. Menahan emosi yang sedari tadi sudah ingin meluap. Aku juga sebenarnya kesal dengan sikap Ibu Kirana. Tetapi aku tidak bisa melampiaskannya. Dia adalah mamanya Rayyan, dan aku hanya bisa menyuruh batinku untuk memaafkan semua sikapnya pada kami. Kedua orang tuaku tidak mengajarkanku untuk membantah apalagi memarahi orang tua. *** “Ma, aku mau bicara sama Mama!” Rayyan mengahampiri Ibu Kirana di kamarnya. Pak Barra tidak ada di sana, Pak

