“Saya bisa mengerti, Kya. Tetapi bisakah kamu tetap bertahan di rumah ini, sebagai istrinya Rayyan, dan juga sebagai menantu Papa? Papa mohon sama kamu.” Kata Pak Barra memohon padaku. “Jadi sekarang Papa membela Kyara? Papa lupa siapa istri Papa? Seharusnya Papa ada dipihak Mama!” lantang Ibu Kirana bersuara. “Kyara tidak pernah mengatakan apapun tentang hal itu! Semua dinding di rumah ini mempunyai telinga. Dan saya tak perlu bertanya pada kalian tentang semua itu.” *** Satu minggu berlalu dengan damai. Para asisten rumah tangga termasuk Mbok Asih sudah kembali membantu dan melayaniku. Mbok Asih meminta maaf padaku karena harus mengikuti perintah Ibu Kirana sebelumnya agar tidak membantuku. Aku tidak bisa menaruh benci pada Mbok Asih dan juga asisten rumah tangga yang lainnya,

