Danisa menatap Karenina dengan mata membulat.
"Maksudmu... Bintang yang pernah kamu ceritakan itu? Dia benar-benar muncul lagi?"
Karenina mengangguk cepat.
"Iya, Sa! Dia! Tiba-tiba dia muncul begitu saja."
Danisa mengernyit. "Kok bisa? Setelah sekian lama?"
"See? That's destiny!" Mata Karenina berbinar. "Ternyata dia memang pernah mencintaiku, Sa! Dia bahkan masih menyimpan kalung bunga matahariku!"
"Nin!" Danisa meninggikan suara. "Dia pernah mencintaimu. Tapi sekarang dia sudah menikah. Dan sebentar lagi kamu juga mau nikah. Jangan main api!"
"Aku bukan mau merebutnya dari istrinya," sanggah Karenina cepat. "Aku cuma ingin tahu, apakah dia jodohku yang sebenarnya!"
"Ya Tuhan, Nin! Dia sudah mendapatkan jodohnya!"
"Bagaimana kalau Naira itu bukan jodohnya? Dan Aidan bukan jodohku?"
"Demi Tuhan, Nina! Tolong jangan lakukan ini!"
"Aku cuma enggak mau menyesal karena tidak pernah mencobanya, Sa. Bertahun-tahun aku dan dia memendam rasa yang sama. Dan dia datang tepat sebelum aku menikah. Bukankah itu pertanda?"
Danisa menggeleng-geleng. "Kamu tidak waras, Nin."
Karenina menarik tangan sahabatnya.
"Please, Sa. Kamu sahabatku. Bantu aku. Aku cuma akan mencobanya sembilan puluh hari. Kalau aku gagal, aku akan melupakannya. Dan aku akan menikahi Aidan tanpa beban."
Danisa menarik tangannya, lalu meremas rambutnya sendiri, frustasi.
"Aku tidak pernah memohon sesuatu yang besar padamu," lanjut Karenina lirih. "Kali ini aku mohon. Aku akan melakukannya dengan benar."
"Mana ada perselingkuhan yang benar?" potong Danisa tajam. "Kamu mau merebut suami orang. Enggak ada alasan apapun yang bisa dibenarkan."
Karenina memejamkan mata.
"Aku janji, aku enggak akan memaksanya, menggodanya, atau menyakiti istrinya."
"Bagaimana mungkin kamu enggak akan menyakiti istrinya?" Danisa melotot. Di saat seperti ini ia benar-benar lupa Karenina adalah atasannya.
"Aku akan membuat Bintang mencintaiku tanpa paksaan."
"Dan lalu kamu akan membuatnya meninggalkan istrinya, Nin!"
"Kalau dia meninggalkan istrinya," suara Karenina bergetar, "itu bukan karena dia berselingkuh denganku. Tapi karena dia menyadari bahwa dia tidak pernah mencintai istrinya."
"Dari mana kamu tahu?"
"Dia menikahinya hanya tiga bulan setelah mereka bertemu! Tiga bulan, Sa!"
Suara Karenina meledak-bersama pecahan harapan dan keputusasaan yang selama ini ia pendam. Matanya berkaca-kaca.
"Tolong aku, Sa. Aku sangat mencintainya..." Ia menatap Danisa, memohon. "Aku akan menyesal seumur hidup kalau aku tidak mencobanya. Bertahun-tahun aku memimpikannya datang... dan sekarang dia datang, Sa..."
Danisa menatap sahabatnya tak percaya. Ia belum pernah melihat Karenina seputus asa ini.
...
Danisa menyerahkan jadwal harian Karenina kepada Aidan yang menatapnya dengan sorot tak percaya. Ia memang selalu curiga padanya. Danisa tak peduli. Ia keluar ruangan setelah tak ada lagi pertanyaan dari Aidan.
Aidan memang sedetail itu. Ia harus tahu semua yang dilakukan Karenina di kantor. Bukan karena ia yang mendanai perusahaan-melainkan karena ia posesif. Rasa cemburunya lebih besar daripada rasa cintanya.
"Biasanya meeting kamu setiap Senin. Sekarang nambah Rabu dan Jumat. Meeting apa lagi?" tanyanya, menatap Karenina penuh selidik.
"Persiapan launching produk baru," jawab Karenina setenang mungkin.
"Bukannya semua sudah siap dari bulan lalu? Tinggal desain kemasan, kan?"
"Iya... tapi masih butuh beberapa revisi."
"Kenapa sampai malam?" Aidan mendengus. "Kamu tahu itu waktu kita."
"Takut meeting-nya delay."
Aidan terdiam, menatapnya lama.
Karenina mendekat, tersenyum manis.
"Jangan ngambek dong, sayang. Kita kan akan bersama sepanjang akhir pekan."
Seperti biasa, senyum itu berhasil. Tatapan Aidan melunak.
"Oke. Tapi Jumat malam kamu harus langsung ke apartemenku," gumamnya sebelum pergi.
Saat punggung Aidan menghilang, Karenina menghela napas lega. Danisa langsung kembali masuk.
"Kalau dia tahu jadwal tambahan itu buat ketemu Bintang, aku bisa dibunuh!" seru Danisa.
Karenina tersenyum ringan.
"Thank you, sayang. You are my everything."
Danisa hanya bisa menghela napas, berharap sahabatnya sadar sebelum sembilan puluh hari berakhir-dan kembali pada Aidan, satu-satunya pria yang berhasil menyematkan cincin di jarinya.
...
Karenina mengganti pakaian untuk ketiga kalinya. Hari ini ia akan kembali bertemu Bintang. Jantungnya sudah berdebar sejak pagi, padahal meeting masih setengah hari lagi.
Ia menarik napas puas. Dress selutut biru langit itu pas-anggun, sederhana, cukup menarik perhatian.
Ia memulas lipstik natural.
Sempurna.
Senyumnya merekah, ia merasa seperti hendak pergi kencan pertama.
Ponsel berdering.
Aidan.
Senyumnya lenyap. Aidan sudah menjemputnya.
"Aku turun," jawabnya singkat.
Di dalam mobil, Aidan menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Tumben."
"Apanya?" Karenina pura-pura tak paham.
"Penampilan kamu."
"Kamu enggak suka?"
"Suka... cuma tumben."
"Hari ini meeting panjang. Biar nyaman aja."
"Meeting-nya habis makan siang, kam?"
"Iya."
"Aku makan siang di tempat kamu, ya?"
"Boleh."
Karenina menatapnya dari samping. Rasa bersalah menyelinap. Bagaimana kalau Aidan tahu?
"Kenapa?" Aidan menoleh.
"Enggak..."
Tapi Aidan, seperti biasanya tak langsung percaya. "Ada apa, Nin?"
Karenina diam sejenak.
"Apa yang bikin kamu jatuh cinta sama aku, Aidan?" tanyanya tiba-tiba.
Aidan bingung. "Kok nanya begitu?"
"Aku cuma pengin tahu."
"Semua laki-laki normal pasti jatuh cinta sama kamu," jawabnya bangga. "Kamu itu sempurna. Cantik, seksi, pintar. Dan aku berhasil mendapatkanmu."
Karenina menggeleng pelan.
"Kamu tahu enggak bunga kesukaanku?"
Aidan mengangkat alis. "Rose?"
Karenina diam.
Setahun lebih mereka bersama, Aidan tak tahu apa-apa tentangnya. Ia tak tahu bunga kesukaannya, karena ia memang tak pernah memberinya bunga.
Sejak bertemu Bintang, kini ia mempertanyakan cintanya pada Aidan.
...
Siang itu, Aidan datang ke kantor Karenina, membawakannya makan siang. Ia mengecup pipi Karenina, menutup laptopnya.
"Sudah, berhenti dulu."
Karenina tersenyum, membuka bungkusan yang dibawa Aidan.
"Ada kabar buruk." Aidan menghempaskan tubuhnya di kursi. Wajahnya mengeras.
"Kabar apa?" Karenina menoleh, terkejut.
"Orang tuaku nambah undangan. Jadi lima ratus."
Karenina menghela napas. Ia mengira terjadi sesuatu yang benar-benar buruk. "Lalu kabar buruknya apa?"
"Kita pesan hotel cuma buat kapasitas dua ratus lima puluh. Kalau nambah lagi, enggak bisa. Tanggal segitu hotel penuh. Bisanya minggu depan."
"Ooh. Sedikit mundur enggak apa-apa, kan?"
"Kita sudah mundur dua kali gara-gara kamu!" suara Aidan meninggi. "Dan kamu kan, tahu aku enggak suka terlalu banyak tamu."
"Kamu selalu mempermasalahkan hal kecil."
Aidan menghela nafas.
"Kadang aku merasa kamu enggak nganggap penting pernikahan kita."
"Kamu terlalu tegang, Aidan." Karenina mencoba menenangkan. "Jangan memaksakan diri. Kalau memang harus tertunda..."
"Apa maksudmu?" Aidan memotong tajam. "Kamu mau menundanya lagi?"
"Bukan begitu..."
"Itu tidak akan terjadi, Nin," potong Aidan tajam. "Kita akan menikah sesuai jadwal. Apa pun yang terjadi."
Karenina meneguk minumannya. Rasa takut tiba-tiba menyergap.