Malam itu, Karenina merasa tubuhnya hanyalah cangkang kosong yang gelisah di atas ranjang. Kelopak matanya enggan terkatup; bayangan Bintang menjelma menjadi ribuan alfabet yang menari-nari di langit-langit kamar, menyusun kembali narasi yang seharusnya sudah ia bakar habis lima tahun lalu.
“Sialan kamu, Bintang!”
Ia melempar bantal ke sudut kamar, mencoba mengusir bayangan itu.
Pertanyaan-pertanyaan pahit mulai bermunculan: Mengapa takdir baru mengirimnya sekarang? Mengapa ia harus muncul sebagai milik orang lain, seolah sengaja datang hanya untuk menunjukkan betapa telatnya ia membaca hatinya sendiri?
Nama itu... Naira.
Karenina mencoba memanggil kembali ingatan tentang sosok perempuan itu. Hatinya tersentak, saat ingatan seorang gadis aneh muncul di kepalanya. Gadis itu... yang selalu mengikuti Bintang diam-diam bagai bayangan. Bersorak di pinggir lapangan basket. Menunggu Bintang lewat di bawah pohon besar di depan kampus. Dan selalu duduk dua meja di belakang Bintang saat di kantin.
Bagaimana bisa Binrang menikahi seorang gadis yang bahkan hampir tak ia lihat keberadaannya.
Logika Karenina memberontak. Ia percaya—Bintak tak mungkin mencintainya.
Dengan cepat ia meraih ponsel, jari-jarinya gemetar saat mengetikkan pesan singkat. Ia butuh konfirmasi. Ia butuh membalik halaman ini sekali lagi, meski ia tahu itu mungkin akan melukai jemarinya sendiri.
Ia harus menemuinya.
***
“Kamu tidak tidur semalam?”
Suara Aidan memecah sunyi di meja sarapan, tajam seperti pisau bedah yang sedang mencari titik luka.
“Ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan,” bohong Karenina. Senyumnya dipasang sesempurna mungkin. "Chantika Skincare" selalu menjadi alasan paling aman untuk Aidan.
Aidan mengelus rambutnya, lembut namun Karenina bisa merasakan sinyal protektif dari sentuhannya itu.
“Jangan biarkan ambisimu merusakmu, Nin.”
Karenina hanya mengangguk samar, menyesap kopinya yang mendadak lebih pahit dari biasanya. Mungkin buat orang lain itu hanyalah kalimat biasa. Tapi buat Aidan itu adalah peringatan: jangan sampai pekerjaanmu meninggalkan lingkar gelap di matamu.
Saat Aidan menanyakan jadwal makan siang dan rencananya sore nanti, Karenina merasa seperti sedang membangun tembok-tembok kebohongan baru. Ia menolak makan siang bareng, bahkan meminta Aidan tak menjemputnya sore itu.
Ada kilat curiga di mata Aidan—sebuah radar yang selalu berfungsi jika ada anomali dalam rutinitas Karenina yang biasanya presisi. Namun, Karenina berhasil meredamnya dengan sebuah janji palsu tentang makan malam spesial di apartemennya. Untuk pertama kalinya, Karenina merasa sedang menyunting paksa naskah hidupnya di hadapan Aidan.
***
Di kafe sore itu, waktu seolah berhenti berdetak saat Karenina melihat Bintang. Pertemuan ini bukan lagi soal desain kemasan, melainkan soal mencari sisa-sisa diri mereka yang tertinggal di masa lalu.
Saat Bintang menunjukkan desain botol bergambar siluet Bunga Matahari itu, Karenina tercekat. "Kamu masih mengingatnya?"
Bintang mengangguk. Wajahnya sedikit tersipu. "Kamu suka Bunga Matahari karena kamu seperti bunga itu. Kamu tidak suka gelap. Kamu selalu paling bersinar di antara bunga-bunga lainnya." Mata Bintang berbinar, suaranya mendayu seolah ia sedang membaca sebuah sajak indah.
"Kamu menggambarkan diriku dengan begitu indah..." Suara Karenina bergetar. Sebuah getaran yang mengguncang keyakinannya. Apakah Bintang selama ini mencintainya?
Jawaban itu kemudian ada di depan matanya. Saat ia berada di dalam mobil Bintang yang mengantarnya pulang.
Kalung bunga mataharinya yang dulu ia anggap hilang, kini berada di sana. Bergelayut tenang di kaca spion, seperti sebuah sakramen masa lalu yang dijaga dengan sangat rapi.
Tangannya gemetar saat ia meraih kalung itu. "Ini punyaku..."
Bintang terkesiap, tak menyadarinya. Ia hanya mampu mendatap dengan wajah memerah.
"Aku menemukannya waktu. Jatuh dekat mejaku."
"Kenapa kamu enggak kembalikan?"
"Aku hanya ingin menyimpannya... untuk mengenangmu," aku Bintang. Matanya tidak lagi menatap jalan, melainkan menatap langsung ke dalam luka yang selama ini Karenina sembunyikan.
Satu pertanyaan akhirnya meluncur, pertanyaan yang selama lima tahun ini menjadi hantu dalam kesunyian Karenina: "Apakah... kamu pernah mencintaiku?"
Bintang mengangguk pelan, namun cukup membuat hati Karenina runtuh seketika. "Kamu bodoh," bisik Karenina, lirih bagai bisikan pada dirinya sendiri. Kalimat itu bukan untuk Bintang, melainkan sebuah makian untuk dirinya yang baru menyadari bahwa selama ini ia telah salah membaca takdirnya sendiri.
***
Karenina berdiri di depan oven. Di dalam sana, ayam panggang dan kentang berbalur mentega dan rempah mengeluarkan aroma gurih yang memenuhi dapur. Biasanya, aroma ini adalah kebanggaannya—hidangan pavorit Aidan yang Aidan akui sebagai yang terenak. Namun malam ini, entah mengapa wangi itu terasa hambar.
Pikirannya justru terseret pada kenangan yang kini muncul begitu nyata: ayam goreng di sebuah kedai ayam goreng kecil di dekat kampus dulu. Tempat ia dan Bintang hampir setiap hari makan di sana.
Ia bahkan masih bisa mendengar keriuhan kedai itu, yang dipenuhi oleh tawa teman-temannya yang berdesakan di meja-meja sempit. Ia teringat betapa sederhananya kebahagiaan saat itu; hanya sepotong ayam goreng berminyak dan sambal, tapi rasanya jauh lebih nikmat. Lebih hidup.
Kenangan itu begitu kuat sampai bunyi klik dari pintu apartemennya membuyarkan lamunannya.
Aidan melangkah masuk. Wajahnya yang lelah langsung berubah saat inderanya mencium aroma masakan yang sangat familier. "My Butter Chicken." Ucapnya sambil tersenyum, berjalan mendekat. Namun langkahnya langsung berhenti saat Karenina mengangkat telunjuknya.
"Your shoes, Aidan!" Tegur Karenina, sambil menunjuk sepatu Aidan.
Aidan mendengus kecil, lalu melepas sepatunya sambil bergumam malas, menuruti aturan yang sudah berulang kali diingatkan Karenina.
Dengan langkah tanpa alas kaki, ia menghampiri Karenina yang kembali sibuk mengaduk salad di meja island. Aidan melingkarkan lengannya di pinggang Karenina dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.
"Wanginya enak banget sayang," bisik Aidan lembut.
Pelukan itu tetap sama; kokoh dan hangat. Namun bagi Karenina, ada sesuatu yang berbeda. Seolah di antara dekapan itu, sebuah rasa yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya, kini mulai merembes keluar dan ikut bernapas. Rasa itu pelan-pelan merayap, mengisi ruang di antara tubuhnya dan Aidan, mengingatkannya pada sesuatu yang seharusnya sudah mati, namun ternyata masih berdenyut.