Intervensi

1018 Kata
Miranda tersenyum lebar, menyambut kedatangan seorang perempuan muda di rumahnya. "Apa kabar, Trisha?" Sapanya, seraya memeluk perempuan itu, dan mempersilakannya duduk di sofa yang nyaman. "Baik, Tan. Tante kelihatan tambah cantik?" Trisha membalas sapaan itu dengan pujian tulus. "Terima kasih. Gimana kabar Mama Papamu. Sehat?" "Sehat, Tan." "Kamu juga kelihatan lebih segar? Masih sering yoga sama Aidan?" "Masih, Tan," Trisha mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya. "Perusahaan gimana? Lancar?" Trisha tersenyum kecil, raut wajahnya sedikit masam. "Masih struggling cari proyek, Tan. Maklum, perusahaan baru. Belum banyak yang kenal." "Memulai bisnis memang begitu. Yang penting jangan menyerah. Kami juga dulu begitu." “Kata Aidan perusahaan lagi banyak proyek, Tan?" Miranda mengangguk pelan. “Iya. Sejak Aidan bantu Papanya, proyek memang tambah banyak." Ada nada bangga terdengar dari suaranya. "Kalau Tante cuma di belakang layar. O ya, Tante dengar kamu lagi kerja sama dengan Aidan untuk desain interior apartemen?" "Iya, Tan. Tapi itu hanya berdasarkan permintaan individu saja. Kebetulan baru selesai mendesain apartemen Karenina." Miranda menarik napas, senyum di wajahnya berubah sinis. "Perempuan yang sangat beruntung. Entah bagaimana dia bisa merayu Aidan untuk mendapatkan apartemen itu dengan gratis," desisnya, nada suaranya mengandung sedikit kepahitan. Trisha mencoba memecah keheningan yang mulai terasa canggung. "Tapi kelihatannya Aidan sangat mencintainya." Miranda menghela napas. "Cinta memang bisa membuat orang bodoh. Dan saat ini Aidan sedang dibodohi oleh perempuan itu." "Hm, maksud... Tante?" Trisha bertanya hati-hati, ragu dalam nada suaranya. "Kamu benar-benar tidak tahu?" Trisha menggeleng. "Enggak, Tan," sahutnya polos. "Dia pernah selingkuh dengan pria beristri. Dia meninggalkan pernikahannya demi pria itu. Tapi ternyata pria itu lebih memilih istrinya. Lalu dia kembali mendekati Aidan..." Trisha terpaku, matanya menatap tak percaya. "Maaf, Tan... Saya baru tahu ceritanya. Selama ini Aidan enggak pernah cerita apa-apa." "Aidan memang tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Tapi semua orang tahu apa yang sudah dilakukan perempuan itu dan keluarganya pada kami." "Oh..." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Trisha. Ia menunduk sebentar, mencoba menenangkan pikirannya. Meski ingin mengetahui seluruh cerita, ia merasa tak berhak ikut campur. Terlebih ia tahu hubungan Aidan dengan ibunya sangat buruk. "Tante takut perempuan itu kembali pada Aidan hanya untuk memanfaatkannya. Aidan sudah memberikan segalanya. Perusahaan, apartemen, mobil mewah, bahkan pekerjaan untuk Kakaknya di Bali. Dan apa yang Aidan dapatkan dari semua itu? Pengkhianatan!" "Perempuan itu meninggalkan Aidan tepat di hari pernikahannya... Aidan hancur..." Suara Miranda bergetar, matanya berkaca-kaca. Trisha tak mampu berkata. Ia sangat mengerti rasanya dikhianati. Ia pernah merasakan yang sama. Pengkhianatan yang nyaris menghancurkannya. "Kamu tidak bisa membayangkan rasa malu yang kami hadapi di hadapan keluarga besar dan tamu saat itu." Miranda mencoba menahan diri agar tetap tegar, namun getaran dalam suaranya tak bisa menyembunyikan luka hatinya. Siapa pun dapat merasakan kekecewaan yang terpancar dari wajah wanita itu. Trisha tahu lamanya perjuangan wanita itu demi mendapatkan kembali cinta Aidan. Ia mengerti rasanya memendam sesal dan kerinduan berpuluh tahun tanpa bisa melakukan apa-apa. "Itulah kenapa Tante memintamu datang. Tante ingin meminta tolong padamu." "Tolong apa, Tan?" Trisha bertanya, suaranya lembut. "Jauhkan Aidan dari perempuan itu." "Maksud Tante...?" Trisha menatap terkejut, alisnya mengernyit. "Kamu pernah dekat dengannya. Kamu sangat mengerti Aidan. Kamu yang menemani Aidan di masa-masa tersulitnya dulu. Kamu pasti tidak ingin melihatnya kembali terluka..." "Tapi sekarang Aidan sudah kuat, Tan. Dia sudah tidak seperti dulu lagi," kata Trisha yakin. Miranda menggeleng pelan. "Dia tidak sekuat itu. Perempuan itu pernah membuatnya hancur. Dan Tante tidak ingin membiarkan dia menghancurkan Aidan lagi." "Jadi Tante ingin memisahkan Aidan dari Karenina?" Miranda mengangguk pelan. "Tante hanya ingin menyelamatkan Aidan." "Tapi... Aku enggak bisa melakukan apa-apa. Aidan sangat mencintai Karenina. Aku enggak mungkin bisa menjauhinya." "Tapi kamu bisa membujuk perempuan itu..." "Membujuk Karenina?" Trisha menggeleng. "Aku tidak mengenalnya, Tan. Aku tidak tahu caranya." "Dekati dia. Nanti kamu akan menemukan jalannya." "Maaf, Tan. Tapi aku..." Trisha ragu, mencari alasan. "Kalau kamu berhasil menjauhkan perempuan itu dari Aidan, Tante akan menjadikan perusahaanmu sebagai partner kami. Untuk seluruh proyek yang kami buat, bukan perorangan." Trisha terdiam. Ia menatap Miranda dengan sungguh-sungguh, otaknya memproses tawaran yang menggiurkan itu. Miranda menggenggam tangan Trisha erat. "Tak ada seorang Ibu di dunia ini yang rela melihat anak tercintanya tersakiti. Tante ingin melihat Aidan bahagia. Tapi bukan dengannya. Perempuan itu hanya akan membuatnya menderita." Benak Trisha dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bimbang. Apakah ia harus menerimanya? Apakah yang dilakukannya benar? Bagaimana kalau Aidan mengetahuinya? "Kalau kamu tidak mau melakukan ini demi Aidan, lakukanlah demi perusahaanmu. Tante tahu kamu membutuhkannya." Trisha menghela napas panjang. Ia memang sangat membutuhkan proyek jangka panjang untuk bertahan hidup. Uang simpanannya sudah habis digunakan membangun perusahaannya. "Saya akan coba pikirkan, Tan," ucapnya pelan. Miranda tersenyum lega. Ia tahu Trisha akan melakukannya. Dia akan melakukan apa pun demi Aidan seperti dulu. Karena ia tahu Trisha masih mencintai Aidan. --- "Woow! Bagus bangeet!" Danisa tak bisa menyembunyikan kagumnya saat melangkah ke dalam apartemen baru Karenina. "Aidan beneran kasih ini buat kamu?" Sorot matanya memindai seluruh ruangan. Karenina mengangguk sambil tersenyum bangga. "Dia membuat desain ini khusus untukku," sahutnya, sambil menarik masuk sebuah koper besar di tangannya. "Pantesan kamu langsung pindah. Senyaman dan seestetik ini?" Danisa menggeleng kagum. "Aidan memang sengaja kasih apartemen ini supaya aku ninggalin rumah itu." "Jadi, sekarang kamu udah balikan beneran?" Danisa bertanya antusias. Karenina menggeleng. "Katanya dia kasih ini tanpa syarat." "Oh ya?" Danisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Karenina mengangguk. "Aku enggak mau buru-buru, Sa. Dia juga enggak maksa aku. Biarlah nanti semuanya terjadi dengan sendirinya." "Aku senang dengarnya, Nin. Tapi aku harap kamu enggak mematahkan harapannya." "Asal dia benar-benar bisa berubah, aku akan menerimanya kembali. Tapi untuk saat ini biarlah kami saling introspeksi dan menyelesaikan masa lalu kami dulu." "Termasuk masalah kalung itu," imbuh Danisa, suaranya lebih rendah. Karenina tersenyum. "Mudah-mudahan semuanya cepat selesai. Kamu udah kasih tahu Bu Nora kan, aku akan ketemu mereka jam empat nanti?" "Udah. Kamu beneran enggak mau ditemani?" Karenina menggeleng. "Enggak usah. Kamu kan sibuk di kantor. Lagian, tinggal dealing harga aja, kan?" "Katanya sih begitu," angguk Danisa. Karenina menghela napas lega. Ah, ia tak menyangka masalahnya akan berakhir lebih cepat. Kini ia tak mempermasalahkan harga lagi. Asal cukup untuk menebus kalung itu, ia akan melepasnya. Toh, Aidan sudah menggantinya dengan yang lebih bagus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN