Wanita itu berdiri membeku, menatap punggung Aidan yang membelakanginya dengan tatapan tak percaya bercampur kerinduan. Akhirnya, setelah penantian panjang yang menyesakkan, saat yang paling dinantikannya tiba. Putranya, laki-laki yang sangat dicintainya, kini datang menemuinya. Rasanya seperti mimpi, melihat putranya nyata berada di rumahnya, di hadapannya. Jantungnya berdebar, napasnya tertahan. Dengan suara bergetar menahan gejolak emosi, ia memanggil, "Aidan..."
Aidan membalikkan tubuhnya. Matanya menyorot dingin, wajahnya kaku.
"Akhirnya kamu datang juga ke rumah Mama..." Wanita itu melangkah maju, ingin memeluk, ingin merasakan kembali kehangatan putranya. Namun, Aidan justru menjaga jarak, mundur selangkah, seolah tak ingin Mamanya menyentuhnya.
Langkah wanita itu terhenti. Senyum tipis yang baru saja mengembang di bibirnya seketika menghilang, digantikan oleh gurat kepedihan.
"Aku ke sini cuma mau menyampaikan sesuatu, Mah," Aidan memotong keheningan, menjawab tanya yang terpancar jelas di wajah Mamanya.
"Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya wanita itu hati-hati, ada cemas terselip dalam suaranya.
Aidan menghela napas panjang, tatapannya menajam. "Tolong, Mah. Jangan pernah mencampuri hidupku lagi. Jangan pernah menyuruh Nina datang menemui Mama dan mengintimidasinya lagi. Apa pun masalah yang terjadi di antara kami, itu bukan urusan Mama."
Wanita itu terperanjat, matanya membelalak kaget. "Kamu salah paham, Aidan. Mama tidak pernah mengintimidasi dia. Mama cuma..."
"Apa pun alasannya, Mah! Jangan pernah memintanya datang tanpa sepengetahuanku!" Suara Aidan meninggi, menusuk. Tatapannya begitu tajam hingga membuat wanita itu hanya bisa terdiam, kelu.
"Dia satu-satunya kebahagiaanku, Mah. Jangan Mama kacaukan lagi." Desakan dalam suara Aidan mengandung kepedihan yang dalam.
"Mama cuma ingin melihat kamu bahagia," ucap wanita itu, matanya berkaca-kaca, air mata mulai menggenang.
"Kalau Mama ingin membuatku bahagia, menjauhlah dari kehidupanku, Mah. Urus saja anak angkat Mama itu dan suami baru Mama... Bukankah dulu Mama meninggalkanku demi laki-laki itu?" Tatapan Aidan begitu sinis, penuh luka masa lalu yang tak pernah usai. Kata-katanya adalah belati yang sengaja ditusukkan untuk mengingatkan Mamanya akan kesalahan yang tak pernah ia lupakan. Tanpa menunggu jawaban, Aidan melangkah pergi, meninggalkan hati Mamanya yang hancur.
Wanita itu menatap kepergian Aidan, air mata deras membanjiri pipinya. Hatinya kembali pilu, diremukkan oleh rasa sakit dan penyesalan yang kian dalam. Entah sampai kapan ia harus berharap putranya memaafkannya. Entah berapa lama lagi ia harus menghukum dirinya atas kesalahan yang tak pernah ingin ia lakukan.
"Mami kenapa?"
Tiba-tiba suara itu mengejutkannya. Ia buru-buru menghapus air mata. Di hadapannya berdiri seorang remaja laki-laki berseragam sekolah, menatapnya penuh tanya.
Wanita itu memaksa bibirnya membentuk senyum. "Mami enggak apa-apa..." sahutnya, berusaha terdengar biasa.
---
Aidan menggandeng Karenina memasuki lobi sebuah gedung apartemen baru yang tampak megah. Desain mewah dan modern terpancar dari setiap sudutnya.
"Kamu sebenarnya mau kasih tahu apa, sih? Kok ke sini? Ini bukannya proyek apartemen baru kamu?" Tanya Karenina, alisnya bertaut penasaran.
"Iya. Apartemen ini baru selesai. Aku mau tunjukin sesuatu yang aku yakin kamu pasti suka," sahut Aidan seraya menarik Karenina masuk ke dalam elevator yang membawa mereka ke sebuah unit apartemen di lantai atas.
Saat Aidan membuka pintu unit apartemen itu, Karenina tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, sekaligus kekaguman. "Oh! Cantik sekali, Aidan!" Serunya dengan mata berbinar.
Ia melangkah masuk, menyusuri seluruh ruangan yang didominasi warna putih dan kuning pastel yang lembut. Perpaduan warna itu menciptakan atmosfer hangat dan cerah, terasa begitu menenangkan. Karenina merasa apartemen itu seolah diciptakan khusus untuknya.
Kakinya melangkah ke sebuah kamar tidur yang luas. Di sana, ia tertegun. Sebuah lukisan besar bunga Matahari terlukis indah di dinding, tepat di belakang tempat tidur. Karenina menyentuh lukisan itu dengan jemarinya, merasakan setiap detailnya.
"Aku tahu kamu pasti suka," ucap Aidan sambil tersenyum tipis.
"Cantik sekali, Aidan. Ini bunga kesukaanku. Mimpiku pasti indah di sini." Karenina menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk, memejamkan mata sejenak.
"Aku seperti tidur di bawah Bunga Matahari," imbuhnya, suaranya dipenuhi kekaguman.
"Tidurlah di sini. Ini kan punya kamu. Aku sengaja membuat desain ini supaya kamu betah di sini."
"Maksud kamu?" Karenina bangkit, menatap Aidan bingung.
"Unit ini milik kamu. Kamu bisa tinggal di sini supaya enggak kejauhan lagi pulang pergi ke kantor."
"Hmm, enggak usah, Aidan, terima kasih. Aku masih betah di rumahku. Sewanya juga masih lama. Lagian percuma. Nanti kamu hancurin lagi."
Aidan tertawa mendengar jawaban Karenina. "Kalau yang ini aku enggak berani hancurin lagi, karena sudah resmi punya kamu. Nih, lihat sertifikatnya atas nama kamu. Tinggal tanda tangan aja." Aidan mengulurkan sebuah amplop besar berwarna cokelat yang dipegangnya sejak tadi.
Karenina mengambil amplop itu, jemarinya sedikit gemetar saat mengeluarkan isinya. Ia membuka lembar demi lembar dokumen. Benar saja, namanya tertera jelas di sana sebagai pemilik. "Ini beneran?" Tanyanya tak percaya, matanya mengerjap.
"Aku kan enggak pernah bohongin kamu?" Sahut Aidan, matanya penuh keyakinan.
"Aku enggak mau, Aidan." Karenina buru-buru mengembalikan dokumen itu ke tangan Aidan.
"Alasannya?" Aidan menatap bingung, tak mengerti penolakan itu.
"Enggak ada alasan. Aku memang enggak mau aja. Yang kamu kasih kemarin aja kan, aku tinggalin?"
"Tapi yang ini aku kasih beserta sertifikatnya. Ini benar-benar milik kamu, Nin! Aku sengaja kasih apartemen ini supaya kamu bisa melupakan masa lalu kita yang buruk. Aku tahu kamu enggak mau kembali ke sana karena trauma. Makanya aku ganti dengan yang baru." Aidan menjelaskan, nada suaranya lembut, penuh pengertian.
"Tapi aku enggak mau, Aidan! Ini terlalu berlebihan. Aku tahu apartemen ini harganya lebih mahal."
"Aku punya ratusan unit apartemen di sini. Dan memberi kamu satu unit itu sama sekali enggak berlebihan buatku." Aidan berusaha meyakinkannya, raut wajahnya serius.
Karenina terdiam. Ia tahu pemberian itu sama sekali tidak memberatkan bagi Aidan. Tapi ia juga tahu tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini.
Melihat Karenina yang tetap bergeming, Aidan akhirnya menghela napas. "Apa kamu takut aku akan memaksakan hubungan kita kalau kamu menerimanya?"
Karenina menatap ragu, kebenaran terpancar dari sorot matanya.
Aidan tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Nin. Aku memang mengharapkan kamu kembali. Tapi percayalah, aku memberikan hadiah ini dengan tulus tanpa syarat."
"Aku percaya sama kamu. Tapi aku enggak bisa terima pemberian kamu lagi. Udah terlalu banyak yang kamu kasih ke aku dan keluargaku. Aku enggak bisa lagi nerimanya."
"Oke... kalau kamu enggak mau. Aku akan kasih Mama kamu aja. Dia pasti..."
Belum sempat Aidan menuntaskan kalimatnya, Karenina sudah merebut kembali dokumen itu dari tangannya. "Jangan cari gara-gara, Aidan! Aku kan udah bilang jangan pernah kasih sesuatu ke Mama dan Kak Martin tanpa sepengetahuanku!" Omelnya, matanya melotot.
Aidan berusaha menahan senyumnya. "Sorry..."
Karenina memandangi kembali dokumen di tangannya. Ia menatap Aidan sungguh-sungguh. "Bagaimana kalau nanti aku mengecewakanmu lagi? Kamu pasti akan menyesal," ucapnya, ada keraguan dan ketakutan dalam suaranya.
"Bagaimana kalau nanti kamu membuatku bahagia?" Balas Aidan, suaranya penuh harap.
Karenina akhirnya tersenyum. Ucapan itu melenyapkan semua keraguan.
"Kamu akan tinggal di sini, kan?" Aidan memohon.
Karenina mengangguk, senyumnya merekah. Setelah semua yang Aidan lakukan, bagaimana mungkin ia bisa menolaknya?
"Terima kasih, Aidan," ucapnya sambil memeluk laki-laki itu dengan erat.