Karenina menatap rumah besar berpagar tinggi di depannya dengan jantung berdegup kencang, irama yang tak senada dengan ketenangan sore yang menyelimuti. Dihelanya napas berulang kali, mencoba menyingkirkan gumpalan cemas di dadanya, lalu melangkah turun dari taksi. "Selamat sore, Pak. Saya mau bertemu dengan Ibu Miranda. Apa beliau ada?" tanyanya pada seorang satpam yang menghampirinya. "Maaf, apakah Ibu sudah membuat janji?" tanya pria itu. Membuat janji? Karenina menggeleng pelan, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya. "Apa saya bisa minta tolong untuk memberitahunya, Karenina ingin bertemu?" pintanya penuh harap. "Ooh, Mbak Karenina..." Pria itu seketika tersenyum, sebuah tatapan pengakuan yang sempat membuat Karenina sedikit lega. Ternyata ia masih dikenali. "Sebentar saya

