The Silent Guard

1180 Kata
Dari balik kemudi, Aidan memperhatikan wajah Karenina dari samping. Wajahnya tampak keruh, alisnya sedikit berkerut, bibirnya melengkung tipis, seperti ada yang mengganggu pikirannya. "Kamu kenapa?" tanyanya lembut. Tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, Karenina menjawab, "Kenapa apanya?" "Kamu cemberut terus dari tadi." "Memangnya enggak boleh?" Karenina menyahut dengan nada sedikit ketus, tangannya bersidekap di d**a, dagunya menunduk sedikit. Aidan mengernyitkan keningnya, terkejut dengan responsnya. "Boleh aku tahu alasannya?" tanyanya lagi, tetap tenang, berusaha menahan sabar. "Memangnya semua harus pakai alasan?" Karenina akhirnya menoleh, tatapannya menantang, namun ada garis kekesalan yang jelas di matanya. "Apa aku bikin salah?" Kerutan di dahi Aidan makin dalam. Akhirnya Karenina menoleh sepenuhnya. "Jadi kamu enggak merasa berbuat salah?" Nada tak percaya menyertai kata-katanya. "Kayaknya enggak..." Aidan menatap bingung. "Enggak? Kamu beneran enggak ingat?" Mata Karenina membulat, sorot matanya menekan. Aidan menggeleng, makin bingung. "Trisha!" Karenina meledak. Bersamaan dengan itu, tawa Aidan pecah. "Kamu cemburu?!" tanya Aidan di tengah tawa, matanya berbinar. "Aku enggak cemburu! Aku cuma heran kenapa kamu enggak pernah ceritain dia ke aku? Pantas aja kamu jadi rajin ikut yoga!" Pipi Karenina memerah, tatapannya tajam. "Ya, karena enggak penting, Nina sayaaang!" Aidan mencoba meredakan suasana, tersenyum lebar. "Enggak penting? Terus kalau enggak penting kenapa tadi dikenalin ke aku?" Tawa Aidan langsung berhenti, alisnya mengernyit. "Ya... biar kamu kenal aja sama temanku. Kalau aku punya hubungan spesial, enggak mungkin aku kenalin ke kamu, kan?" Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Karenina, mencoba meyakinkan dengan logika. "Siapa tahu kalian cuma pura-pura?" sungut Karenina, matanya menyipit, penuh selidik. Aidan kembali tertawa, kali ini lebih pelan, diselingi nada godaan. "Aku senang akhirnya kamu cemburu juga. Gimana rasanya? Enak?" Tatapannya berbinar, melihat sisi berbeda Karenina yang membuatnya bahagia. "Aku enggak cemburu!" elak Karenina, membuang muka ke jendela. Rona merah di pipinya semakin jelas. Bagi Aidan, cemburu itu tanda cinta. Tapi bagi Karenina, cemburu itu adalah satu-satunya sisa ego yang coba ia pertahankan. "Ngaku aja kalau cemburu. Aku bahagia lihatnya. Cemburu itu kan tanda cinta..." Godaan Aidan berlanjut. "Aku kan cuma tanya alasan?" Karenina tetap memgelak. Aidan akhirnya berhenti menggoda, menyadari Karenina memang butuh penjelasan. "Oke, aku jelasin, ya..." Aidan menarik napas panjang. "Aku sama Trisha itu sudah berteman dari SD. Dulu kami sama-sama tinggal di Sydney. Setelah lulus kuliah, aku kembali ke Jakarta dan dia lanjutin kuliah di Amerika. Dia kerja dan nikah di sana. Tapi setahun yang lalu dia cerai. Kembali ke Jakarta, bikin perusahaan Desain Interior." "Kenapa baru cerita sekarang?" Masih ada nada curiga dalam suara Karenina. "Karena aku juga baru tahu kalau dia ada di Jakarta waktu kirim undangan pernikahan kita yang enggak jadi itu." Ada luka terselip saat mengucapkan kata pernikahan. "Terus kenapa dia tiba-tiba ngajak kamu yoga bareng? Kamu ceritain semua masalah kita?" Karenina menyipitkan mata, merasa tak nyaman persoalan mereka diketahui orang lain. Aidan menggeleng. "Dia tahu kita enggak jadi nikah, tapi aku enggak cerita alasannya. Dia ngajak aku yoga bareng katanya biar pikiranku jadi tenang." "Oh, jadi kamu ngikutin program itu karena dia?" Suara Karenina kini terdengar sinis. Aidan menghela napas. "Aku ikut program itu demi kamu, Nina sayang... Kebetulan dia juga punya masalah yang sama. Dia sempat depresi karena perceraian." Karenina akhirnya terdiam. Meski masih penasaran, melihat ekspresi Aidan yang tulus dan penjelasan yang masuk akal, ia tahu tidak ada hubungan spesial di antara keduanya. Setidaknya, Aidan tidak menganggapnya spesial. "Ada lagi yang mau kamu tanya?" Senyum kecil Aidan mengembang. "Hm, apa dia punya anak?" Aidan menggeleng. "Untung aja belum." "Untung belum punya? Maksud kamu?" Karenina kembali menatap curiga, alisnya mengernyit. Perasaan cemburu yang sempat mereda kini muncul lagi. Aidan kembali bingung menatapnya. Ia tak mengerti apa yang salah dengan ucapannya. Ia hanya berpikir hal itu bagus karena Trisha tidak harus menanggung beban perceraian dengan anak. Ada apa sebenarnya dengan Karenina? Mengapa hari ini dia begitu emosional? ... Karenina menatap Danisa, menunggu kalimat keluar dari mulutnya. "Itu artinya kamu masih cinta sama Aidan!" Danisa menahan senyum tipis. "Ah, kamu sama aja kayak Aidan," sungut Karenina, bibirnya melengkung. "Ya, memang hanya itu penjelasan yang masuk akal. Memangnya kamu berharap Aidan menjawab sebaliknya?" Karenina terdiam. Ia bukannya tidak mengerti. Hanya saja, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh perempuan itu. "Aidan segitu bucinnya aja kamu masih curiga? Gimana kalau punya suami kayak Mas Surya yang super cuek? Saking cueknya sampai aku kadang mempertanyakan cintanya ke aku." Karenina akhirnya tersenyum, bahunya rileks. "Aku juga enggak tahu, Sa. Beberapa hari ini kan, pikiranku memang lagi enggak tenang. Aku jadi enggak bisa berpikir jernih." "Tenang, Nin! Kata Bu Nora udah ada yang tertarik sama apartemen kamu." "Oh ya?" Wajah Karenina mendadak cerah, matanya berbinar. "Bu Nora lagi ngatur jadwal buat showing apartemenmu minggu depan, tapi harinya belum tahu." "Ya, Tuhan! Mudah-mudahan jadi, Sa..." Karenina menatap penuh harap. Melihat wajah sahabatnya yang memelas, Danisa merasa iba. Karenina tak seharusnya begini, menanggung perbuatan keluarganya seorang diri. Mengorbankan satu-satunya harta yang ia miliki demi menyelamatkan nama keluarganya. Rasanya Danisa tak tega melihatnya menderita lagi. Tapi bagaimana cara menolongnya? "Sa, tolong wanti-wanti ke Bu Nora supaya Aidan jangan sampai tahu." Tiba-tiba saja ucapan itu membuat Danisa tersadar. Tak ada orang lain yang bisa membantunya, kecuali Aidan. *** "Kalung itu digadaikan?!" Aidan menatap Danisa tak percaya, matanya membulat. Danisa mengangguk takut, bibirnya tercekat. Tiba-tiba ia menjadi tak yakin dengan keputusannya. Bagaimana kalau Aidan marah lalu menghubungi Karenina? Bisa kacau semuanya. "Dan dia mau menjual apartemen untuk menebusnya?" Tanya Aidan lagi, memastikan. Danisa kembali mengangguk. "Kenapa kamu baru bilang sekarang, Sa?" "Karena aku enggak berani, Aidan! Dan sekarang ini aku lagi mempertaruhkan persahabatanku dengan Nina. Kalau sampai Nina tahu, dia enggak akan mengakui aku sebagai sahabatnya lagi. Danisa tahu, ia sedang bermain dengan api. Namun baginya, melihat Karenina hancur perlahan jauh lebih menakutkan daripada menerima kemarahan sahabatnya nanti. Aidan menghela napas, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, menatap jauh. "Maaf, Aidan. Tapi aku enggak bisa lama-lama di sini. Aku takut dicariin Nina. Tadi aku cuma izin sebentar beli kopi." Danisa melirik layar ponselnya dengan khawatir. "Oke. Kamu lanjutin aja jual apartemen itu. Aku enggak akan ikut campur. Aku punya rencana lain." "Maksud kamu aku tetap jual apartemen Nina?" Tanya Danisa memastikan, alisnya sedikit terangkat. Aidan mengangguk. "Kamu lakuin aja apa yang dia minta. Aku enggak akan terlibat sama sekali. Dan anggap aku sama sekali enggak tahu. Aku enggak mau dia curiga. Aku akan bantu dia dengan cara lain." Sejenak ragu, akhirnya Danisa mengangguk. "Oke. Kalau gitu aku pergi," ucapnya seraya beranjak bangun. "Thanks, Sa!" Danisa tersenyum tipis. Baru kali ini Aidan berterima kasih padanya. Kini ia merasa sedikit lega. Ia memang tidak menyukai Aidan, tapi ia percaya Aidan akan melakukan apa pun demi Karenina. Meski kini hatinya khawatir, takut Karenina tahu. Saat Danisa meninggalkan ruangan, Aidan menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Ia tak percaya yang telah dilakukan keluarga Karenina. Tapi yang lebih membuatnya tak percaya, Karenina menyembunyikan semua itu karena malu. Pantas saja sikapnya jadi aneh beberapa hari ini. Ia tidak marah karena kalung itu digadaikan; tapi ia merasa terluka karena Karenina lebih memilih kehilangan harta jerih payahnya daripada berbagi beban dengannya. Namun, ia tidak akan menghentikan penjualan itu. Ia tidak ingin membuatnya curiga. Ia hanya akan menyiapkan jaring pengaman yang lebih besar untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN