Berubah Demi Kamu

1216 Kata
Kedua mata Danisa terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di ambang pintu, berdiri Karenina dengan penampilan rapi, menenteng tas laptop di tangannya. Sebuah senyum merekah di wajah Danisa, disusul jeritan kegirangan. "Akhirnyaaaa... Kamu beneran balik!" Karenina tersenyum tipis. "Maaf enggak kasih tahu, aku takut enggak jadi." "Selamat datang kembali di Chantika Skin Care!" Danisa bangkit dari duduknya, memeluk erat sahabatnya itu. "Pasti Aidan yang maksa kamu, kan?" Bisiknya. Karenina mengangguk. "Katanya dia kasihan sama kamu." "Halah!" Danisa mencebikkan bibirnya, tawa kecil keluar dari bibirnya. "Kamu masih di sini? Aku kira kamu pindah ke ruanganku?" Danisa menggeleng. "Aku lebih nyaman di sini. Lagian ruanganmu itu kan, sering dipakai Paduka Aidan buat menyepi kalau lagi kangen sama kamu," sungutnya, membuat Karenina tertawa. "Kita meeting dulu, yuk, di ruanganku sebelum Aidan datang. Katanya sebentar lagi dia mau meeting sama kita." "Loh, memangnya kalian enggak berangkat bareng tadi?" tanya Danisa, mengikuti langkah Karenina yang sudah lebih dulu berjalan. "Dia udah pindah ke apartemennya lagi." "Oh ya? Pasti kamu yang suruh dia pindah?" Danisa menyelidik. Karenina mengangguk. "Itu salah satu syarat dariku. Kamu enggak tahu rasanya bertetangga sama dia. Menyebalkan sekali!" Ucapnya seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kerjanya, menghela napas. Danisa tertawa renyah mendengar gerutuan sahabatnya. "Mana bisa dia jauh dari kamu? Kamu kan, cinta matinya dia?" Selorohnya. "Cinta mati yang membuatku hampir mati beneran!" Balas Karenina, kali ini ada nada kepahitan dalam suaranya. Tawa Danisa seketika mereda. Ia menatap Karenina dengan sungguh-sungguh, kerutan khawatir terlihat jelas di dahinya. "Tapi kamu enggak akan balikan lagi sama dia kan?" Tanyanya, penuh harap. Karenina menggeleng ragu. "Sebenernya itu yang aku takutin, Sa. Aidan bilang dia akan berubah kalau aku mau balik lagi sama dia." "Kamu percaya?" "Kelihatannya dia sungguh-sungguh. Tapi masalahnya sekarang aku lagi kepingin sendiri. Aku mau fokus sama perusahaan ini, Sa. Meningkatkan profit sebanyak-banyaknya supaya bisa mengembalikan investasi Aidan dan perusahaan ini sepenuhnya menjadi milikku. Aku enggak mau terus-terusan hidup bergantung sama dia. Karena selama aku bergantung hidup padanya, aku enggak akan bisa melepaskan diri darinya," jelas Karenina, matanya memancarkan tekad yang kuat. Danisa menatap Karenina dengan mata berbinar, bangga. "Aku senang sekali mendengarnya, Nin. Dan aku akan selalu mendukung kamu." Karenina tersenyum tulus. Ia tak butuh seratus teman yang ikut bersorak saat ia mencapai puncak. Ia hanya butuh satu sahabat yang menemaninya saat ia mendaki. Dan orang itu adalah Danisa. ... Karenina baru saja menutup laptop ketika pintu ruang kerjanya terbuka, menampilkan sosok Aidan di sana. "Kerjaan kamu udah selesai?" Tanyanya, suaranya lembut. "Baru aja. Ada yang mau kamu bahas lagi?" Aidan menggeleng. "Aku ke sini cuma mau ngajak makan malam." Karenina melirik jam di meja kerjanya. Hari sudah petang. "Next time aja, ya? Aku takut pulang kemalaman. Lagian udah capek juga." "Makanya aku mau ngajak kamu makan dulu sambil istirahat. Nanti pulangnya biar diantar Pak Adi aja." Aidan tak menyerah. "Kamu kan, udah janji enggak akan maksa aku selain urusan kerjaan?" Karenina mengingatkan dengan nada datar. "Tapi ini kan, cuma makan malam, Nin? Daripada kamu kelaparan di jalan? Lihat, tuh, jalanan macet banget." Dengan dagunya, Aidan menunjuk ke arah kaca jendela di belakang Karenina, menampilkan pemandangan kemacetan ibu kota. Karenina menghela napas panjang. Memang percuma saja membuat perjanjian dengan Aidan. Dia selalu saja punya alasan untuk mengingkarinya. Akhirnya, ia pun mengalah, mengikuti langkah Aidan yang membawanya berjalan ke sebuah restoran yang terletak tak jauh dari kantor. "Kamu pasti kangen kan, sama Tom Yam di sini?" ucap Aidan begitu mereka tiba di sana, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Memangnya kamu udah booking?" tanya Karenina, sedikit heran. Ia tahu betul betapa sulitnya mendapatkan meja di restoran favorit mereka itu tanpa melakukan reservasi terlebih dahulu. Aidan mengangguk. "Aku booking dari siang tadi. Aku juga udah pesan semua makanan kesukaan kamu." "Semuanya?" Karenina menatap tak percaya. Bukankah dia tahu kalau ia menyukai hampir semua makanan di sana? "Iya, semuanya yang kamu suka. Kalau enggak habis kan, sisanya bisa kamu bawa pulang?" Aidan mengedipkan mata, sepertinya sudah memikirkan segala kemungkinan. Karenina tersenyum. Perhatian Aidan yang tak pernah berubah itu membuat hatinya sedikit luluh. Kali ini ia memakluminya. Kebetulan ia juga sedang lapar. "Gimana hari ini? Kamu sibuk banget sampai lembur." Karenina mengangguk sambil mengaduk supnya. "Banyak sekali yang harus aku follow up." "Aku senang kamu kembali ke perusahaan." Aidan menatap Karenina dengan mata bersinar, penuh makna. Tapi Karenina tahu bukan itu yang membuat Aidan senang. Dia senang karena sekarang mereka bisa bertemu setiap saat, dan mendatanginya kapan saja sesuka hatinya. "Sekarang aku mau benar-benar fokus untuk ningkatin sales perusahaan. Ke depannya aku akan sangat sibuk sekali dan enggak akan punya waktu untuk memikirkan yang lain," ucapnya, menekankan kembali batasan yang ia inginkan. "Aku enggak akan mengganggumu, Nin. Hubungan kita akan tetap profesional," janji Aidan. Karenina tersenyum lega. "Aku harap begitu," sahutnya. "Mungkin sesekali kita akan makan siang atau makan malam bersama untuk saling tukar pikiran tentang perusahaan. Tapi aku janji enggak akan lebih dari itu," tambah Aidan, seolah ingin meyakinkan. "Aku senang sekarang kamu berubah, Aidan," ucap Karenina tulus. Aidan tersenyum, sorot matanya menunjukkan keseriusan. "Aku memang lagi berusaha untuk berubah lebih baik. Aku juga udah menemui psikolog. Dan sekarang aku lagi ikut program yoga dan meditasi supaya bisa lebih tenang dan bisa mengontrol emosiku." "O ya?" Karenina menatapnya tak percaya. Meditasi? Yoga? Rasanya itu bukan Aidan yang dulu. "Kamu enggak percaya?" Aidan seolah bisa membaca pikirannya. Ah, sial! Kenapa dia selalu tahu apa yang dipikirkannya? Karenina buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku hanya kaget," sahutnya. "Aku berubah demi kamu, Nin. Supaya kamu bisa mencintaiku lagi seperti dulu." Nada suara Aidan berubah menjadi lebih lembut, ada rona harapan di sana. Tiba-tiba saja kelegaan yang sempat mampir di hati Karenina lenyap seketika. Ya, Tuhan! Dia benar-benar belum bisa move on darinya. Bagaimana kalau ia mengecewakan harapannya lagi? "Tapi cinta kan, enggak bisa dipaksa, Aidan." Karenina mencoba memberi pengertian, meski tahu itu percuma. "Aku enggak akan memaksa kamu lagi, Nin. Aku cuma mau membuat kamu mencintaiku lagi. Karena aku enggak mau kita menjalani hubungan karena terpaksa." Sesaat Karenina tertegun mendengar ucapan itu. Ini benar-benar bukan Aidan yang ia kenal, Aidan yang egois dan pemaksa, bisiknya dalam hati. "Tapi saat ini aku lagi enggak mau mikirin cinta. Aku ingin fokus dulu dengan pekerjaan." Karenina kembali menegaskan posisinya. "Aku yakin suatu saat kamu akan mencintaiku lagi. Karena aku percaya kita ditakdirkan untuk bersama." Takdir? Aidan menatap Karenina dengan keyakinan. Tiba-tiba saja hati Karenina terusik. Ia seolah disadarkan oleh kenyataan bahwa sampai saat ini ia tak pernah benar-benar bisa lepas dari Aidan. Bagaimana kalau dia benar-benar takdirnya? Bagaimana kalau ia tak bisa menolaknya? Lalu ia akan kembali menjalani kehidupan dalam dunia yang sempit dan kembali terkurung dalam sangkar emasnya? Ketakutan itu kembali menghantuinya. "Aku akan berubah, Nin, supaya kamu enggak takut lagi." Aidan seolah membaca kegelisahan di mata Karenina. Ah, lagi-lagi dia tahu apa yang dipikirkannya. "Kamu sungguh-sungguh mau berubah?" Tanya Karenina, mencari kepastian. Aidan mengangguk dengan yakin. "Maafkan aku, karena sudah membuatmu membenciku. Aku tahu enggak akan mudah buat kamu untuk kembali mencintaiku. Tapi beri aku waktu untuk membuktikannya." Kedua mata Aidan menatap penuh harap, memohon kesempatan. Hati Karenina pun luluh. Meski tak yakin, tapi ia tak ingin menghapus harapan itu di mata Aidan. Ia akan mencoba menjalaninya saja. Kalau dia benar-benar berubah seperti janjinya, ia akan mempertimbangkannya. Karena saat ini, harapan Aidan hanyalah dirinya. Entah apa yang pernah dia lalui hingga membuatnya begitu takut kehilangan dirinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN