Siang itu di sebuah restoran, Karenina memandang Aidan sambil menahan senyum, melihat wajah pria itu yang tampak bosan. Sesekali, Aidan memainkan ponselnya, mencari kesibukan. Sesekali ia hanya menatap sisa makanan di piringnya, seolah remah makanan di piring itu lebih menarik daripada presentasi di depannya.
Karenina tahu Aidan benci berada di tengah rapat dengan Bu Sita, pimpinan perusahaan marketing yang selama ini membantu Chantika Skin Care. Tapi ia sengaja memaksanya ikut. Ia ingin Aidan tahu bahwa bisnis skin care, yang sering ia pandang sebelah mata, tak semudah yang dipikirkannya selama ini. Ada banyak kerumitan, pengorbanan waktu, serta energi yang tak pernah Aidan rasakan. Terlebih, perusahaannya sudah besar bahkan sebelum ia lahir.
"Jadi, bagaimana Pak Aidan, setuju dengan usulan saya?"
Suara Bu Sita yang ramah namun lugas memaksa Aidan menoleh. Dengan acuh tak acuh, ia mengangguk, seolah tak peduli apa pun yang dibahas.
Bu Sita tersenyum maklum. Wanita paruh baya itu sudah sering mendengar ‘drama’ Aidan.
"Kalau begitu, semua sudah beres. Nanti saya akan kirimkan orang untuk berdiskusi lebih lanjut dengan Bu Nina."
"Siapa orangnya?" Tiba-tiba Aidan bersuara, nadanya berubah serius.
"Untuk saat ini saya belum bisa memutuskan, Pak. Saya akan diskusikan dulu dengan tim siapa yang punya ide sesuai keinginan Bu Nina," sahut Bu Sita, tetap tenang.
"Bukan Bintang, kan?" Aidan mengejar, sorot matanya menajam.
"Aidan?!" Karenina terkesiap, menatap Aidan dengan mata membelalak.
"Kami bekerja dalam tim, Pak. Anggota tim kami banyak, bukan hanya Bintang," sahut Bu Sita, senyumnya sedikit mengembang.
"Oh, jadi sebenarnya dia masih kerja di perusahaan Bu Sita?" Tiba-tiba Aidan menegakkan punggung, menatap wanita itu tajam.
Bu Sita kembali menanggapinya dengan tenang, sudah hafal sifat Aidan.
"Maaf, Pak Aidan. Saya belum bisa melepasnya. Kami masih membutuhkan dia. Tapi akan saya pastikan dia tidak menangani lagi proyek Chantika Skin Care. Dan Pak Aidan tidak perlu khawatir. Sekarang dia tinggal jauh di luar kota, bekerja dari rumah."
Jawaban Bu Sita membuat wajah Aidan terlihat sedikit lega.
"Saya rasa meeting hari ini cukup, Bu?" Karenina menatap Bu Sita, memberi isyarat agar pertemuan segera diakhiri. Ia tak ingin Aidan membuat drama lagi.
Bu Sita mengangguk paham. "Kalau begitu saya pamit duluan," ucapnya, lalu beranjak pergi.
Setelah Bu Sita pergi, Karenina tak bisa lagi menahan emosinya.
"Kamu memang enggak pernah belajar dewasa!" Ditatapnya Aidan dengan mata melotot. "Kamu selalu saja mencampuradukkan pekerjaan dengan urusan pribadi!"
"Loh, bukannya dulu kamu yang memulai?" Sahut Aidan, tak kalah kesal.
"Itu sudah berlalu! Kenapa kamu masih mengungkitnya?"
"Karena dia yang menghancurkan hubungan kita," Aidan menjawab sengit.
Jawaban itu membuat Karenina terdiam. Andaikan Aidan tahu betapa ia sangat membenci Bintang saat ini… Tapi ia tak ingin Aidan tahu. Ia tak ingin memberinya harapan.
"Aku hanya enggak suka kamu menyebut namanya saat aku berusaha melupakannya," ucapnya lirih.
Mendengar itu, wajah Aidan berubah. Ada sedikit kelegaan yang terpancar di matanya.
"Kamu mau pulang sekarang? Aku harus ke kantor," tanyanya tiba-tiba, suaranya lebih lembut.
Karenina mengangguk. Ia membiarkan Aidan menggandengnya keluar restoran.
Namun, tanpa mereka sadari, dari sudut sebuah kafe yang tersembunyi, Bintang menatap keduanya dengan sorot mata tak percaya. Hatinya meradang, benaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Untuk apa Karenina meninggalkan pernikahan jika hanya untuk kembali lagi? Apakah laki-laki itu telah memaksanya? Atau mengancamnya lagi? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Bintang…?"
Suara Bu Sita menyadarkan Bintang. "Maaf, Bu!" ucapnya, buru-buru memalingkan wajah.
"Menjauhlah dari mereka, Bin. Saya tidak mau kehilangan klien," Bu Sita berbisik, matanya melirik ke arah Aidan dan Karenina yang mulai menjauh.
"Maaf, Bu, saya cuma kaget," gumam Bintang, pipinya memerah.
Bu Sita menghela napas panjang. "Itulah mengapa kita tidak boleh mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan," ucapnya, seperti sebuah nasehat.
Bintang hanya bisa tersenyum malu. Seperti semua orang di kantornya, Bu Sita tahu tentang hubungan mereka yang penuh drama. Itu pula alasan Bu Sita memintanya bekerja dari jauh. Tapi keadaan justru tak semakin membaik. Seolah semua yang dilakukannya sia-sia.
"Oh ya, mulai sekarang kamu sudah tidak menghandle Chantika Skin Care lagi." Bu Sita tiba-tiba mengubah topik.
Bintang terhenyak. "Maksudnya, Bu?"
"Kamu sudah tidak boleh berhubungan lagi dengan perusahaan mereka."
"Tapi selama ini saya memang sudah menjaga jarak, Bu. Saya tidak berhubungan langsung dengan mereka, tapi lewat Danisa."
"Tapi sekarang sudah tidak boleh lagi, Bin. Sama sekali," Bu Sita menatap Bintang sungguh-sungguh, nada bicaranya tak terbantahkan.
"Aidan yang memintanya?" Suaranya tertahan.
Bu Sita menggeleng. "Karenina," sahutnya singkat.
Jawaban itu membuat Bintang terpaku.
---
Sore itu terasa sesak, langit menutup dengan awan kelabu, dan udara di jalanan seolah ikut menekan d**a.
Di dalam mobilnya, setelah meeting yang melelahkan itu, mobil Bintang melaju menuju rumah. Rumah masa kecilnya. Rumah yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan di pikirannya.
Mobil berhenti pelan. Ia menatap rumah itu lama, dadanya berdesir. Seandainya tak ada sesuatu yang harus diambil, ia pasti tak akan kembali ke sini.
Seorang wanita tua yang tengah menyiram tanaman tergopoh-gopoh menyambutnya dengan senyum canggung.
"Mas Bintang?!" serunya. "Sendirian ke Jakarta, Mas?" Tanyanya, sambil mendorong pintu pagar besi hingga terbuka.
"Sama Naira, Bik, tapi dia lagi sibuk packing barang," sahut Bintang singkat.
"Oh… kebetulan Bapak juga baru datang," ujar wanita itu, nadanya hati-hati.
Bintang terhenti, seolah kakinya terpaku di tanah. "Dia baru balik berlayar?" tanyanya, suaranya tercekat.
"Iya, Mas. Semalam," jawab wanita itu, menunduk.
Dengan langkah berat, Bintang menyeret kakinya masuk.
"Kamu datang, Bin?"
Suara familiar namun asing itu memecah kesunyian.
Seorang pria paruh baya duduk di ruang tamu. Gurat wajahnya tegas, namun matanya seolah menyimpan lelah dan beban yang berat.
Bintang hanya mengangguk, tanpa kata, tanpa emosi. Ia meneruskan langkahnya, melewati pria itu seolah tak ada.
"Papa mau bicara."
Bintang memutar tubuhnya, rahangnya mengeras. "Mau bicara apa, Pah?" tanyanya dingin.
"Duduk dulu. Ada yang ingin Papa tanyakan."
Dengan enggan, Bintang duduk di hadapan pria itu. Suara gesekan kursi terdengar memilukan, seolah mencerminkan retaknya hubungan mereka.
"Apa hubunganmu dengan istrimu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu membuat Bintang terkejut. Dari mana pria ini tahu? Apakah orang tua Naira menceritakannya? Sebuah perasaan kesal menyeruak, tapi ia enggan bertanya. Ia hanya mengangguk kaku.
"Jawab yang jujur, Bintang. Papa ingin tahu dari mulutmu sendiri. Apa kamu pernah mengkhianati istrimu?"
Desakan itu membuat Bintang tak tahan untuk bertanya. "Apa orang tua Naira yang menceritakannya?" Tatapan matanya menajam, penuh selidik.
Pria itu mengangguk, tatapannya sedikit melunak. "Selama kamu di Malang, Papa sering menghubungi Ayah mertuamu untuk menanyakan kabarmu. Papa tidak percaya kamu mengkhianati istrimu."
Senyum sinis terukir di bibir Bintang. "Oh. Papa takut aku mengikuti jejak Papa? Mengkhianati Mama berkali-kali? Jangan takut, Pah. Semua sudah baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkan istriku," jawabnya, suaranya dipenuhi duri.
"Papa tidak pernah meninggalkan Mamamu, Bintang. Kamu tahu itu!" Tiba-tiba suara pria itu pecah di udara.
Bintang tak gentar. Ia menatap pria itu dengan nyala dendam membakar di matanya. "Lalu Papa di mana saat Mama sakit dan meninggal dunia?"
"Kamu terus saja mengungkitnya!" Pria itu bangkit, tangannya terkepal.
"Karena Papa tidak pernah mau menjawabnya!" Bintang membalas, suaranya tak kalah keras.
"Papa ini Nahkoda, Bintang. Pekerjaan Papa mengharuskan Papa jarang pulang."
"Dan Papa terus saja membela diri!" Bintang berdiri, suaranya meledak. "Kenapa tidak katakan saja terus terang kalau saat itu Papa sedang bersama wanita lain? Semua orang sudah tahu, Pah. Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut Papa!" Suaranya bergetar.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, melangkah cepat menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, Bintang menahan air matanya agar tak keluar. Ia menghela napas berulang kali, mencoba menenangkan badai di hatinya. Dadanya sesak oleh rasa benci yang semakin membelenggu, mengikatnya kuat pada kenangan pahit yang tak pernah terhapus.
Pria itu, yang selama ini membuatnya enggan kembali pulang, ke tempat yang seharusnya terasa seperti rumah.