Tak Bisa Melupakanmu

1128 Kata
Dari kejauhan, Naira memandangi Bintang yang sedari tadi hanya duduk terdiam, menatap pepohonan di depan teras. Sejak mereka pindah ke Malang, Bintang memang menjadi lebih pendiam dan banyak melamun. Naira tak ingin bertanya, ia tahu siapa yang memenuhi pikiran Bintang. Ia mencoba menerimanya dengan lapang d**a. Bintang sudah memilihnya, dan ia tak ingin lagi berharap lebih. Biarlah nanti waktu yang akan bicara tentang siapa yang paling tulus mencintainya. Sambil memaksakan bibirnya tersenyum, Naira menghampirinya, membawakan secangkir kopi hangat dan sepiring gorengan apel buatannya. "Lagi mikirin apa sih, dari tadi?" tanyanya berbasa-basi, mencoba memecah keheningan. Seketika Bintang tersadar dari lamunannya. "Ah, enggak..." elaknya, tersenyum tipis. "Kamu bosan, ya?" Kali ini Bintang mengangguk. "Kita jalan-jalan, yuk? Weekend-an kayak orang-orang? Aku sekalian mau cari tanaman bunga." "Kamu mau tanam bunga?" Bintang menatapnya, ada sedikit ketertarikan di matanya. "Iya. Menurut kamu bunga apa yang bagus?" Sambil meraih cangkir kopi dari atas nampan, Bintang mengerutkan keningnya, berpikir. "Hmm, Bunga Matahari?" Jawaban itu menusuk tepat di jantung Naira. Firasatnya benar, Bintang memang tengah memikirkan Karenina. Ia tahu Bunga Matahari adalah bunga kesukaan Karenina. Namun, ia kembali mencoba bersabar, menekan gejolak cemburu di dadanya. "Hmm, aku kepinginnya sih, menanam Anggrek," ucapnya, mencoba mempertahankan senyum. "Oh, Anggrek juga bagus." Anggrek juga bagus? Mengapa dia tak mengatakan kalau Anggrek itu lebih bagus? Mengapa dia selalu menjadi nomor dua di hatinya? Naira menarik napasnya, berusaha meredam api cemburu yang semakin menyesakkan dadanya. Ia lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Enak gak apel gorengnya?" tanyanya, melihat Bintang memasukkan apel bersalut tepung itu ke dalam mulutnya. "Enak! Aku baru tahu apel bisa dibikin gorengan. Aku tahunya dibikin Apple Pie." "Kamu suka Apple Pie?" Bintang kembali mengangguk. "Dulu aku pernah camping di Batu sama teman-teman kampus. Dan dekat tempat perkemahan itu ada kedai kopi yang jual Apple Pie enak. Sejak itu aku jadi suka." Ya Tuhan! Tak bisakah ia melupakannya sebentar saja? Mengapa semuanya harus tentang dia? Naira tahu Bintang pasti tengah mengingat masa lalunya bersama perempuan itu, karena mereka sering camping bersama. Naira menarik napasnya kembali, berusaha menenangkan diri. "Nanti aku bikinin, ya?" Senyumnya terpaksa. "Memangnya kamu bisa?" Saat melihat Naira mengangguk, wajah Bintang berubah sumringah. "Asal enggak merepotkan kamu," imbuhnya. Naira menatap Bintang dengan putus asa. Mengapa dia masih saja mengatakan itu? Mengapa dia masih saja sungkan padanya? Bukankah dia tahu ia sama sekali tak punya pekerjaan lain selain mengurus rumah kecil mereka? Apakah dia masih belum terbiasa dengan kehadirannya? Atau hatinya memang belum sepenuhnya bisa menerima ia menjadi istrinya? Namun lagi-lagi, ia hanya bisa memendam rasa itu tanpa berani untuk mengungkapkannya. Ia tak ingin merusak hubungan yang baru saja membaik itu dengan pertanyaan yang akan membuat Bintang kembali memikirkan hubungan mereka. Oh, tidak! Lebih baik ia pendam saja dalam hati. "Kamu enggak harus melakukannya, Nai..." Kata-kata itu membuat Naira terkejut. Bintang seperti tahu apa yang tengah dipikirkannya. "Maksud kamu?" tanyanya, bingung. "Kamu enggak harus menyenangkanku setiap waktu." "Tapi aku istrimu, Bin. Tugasku adalah menyenangkanmu." Bintang tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah dilihat Naira. "Kamu enggak harus melakukan sesuatu yang aku suka. Kalau kamu enggak mau, jangan lakukan. Kalau kamu enggak suka, jangan paksakan. Aku enggak akan marah." "Tapi aku melakukannya dengan senang hati. Aku tidak merasa terpaksa." "Nai..." Kini Bintang menatapnya dalam-dalam. "Kamu sudah melakukan banyak hal untukku bahkan sebelum kita menikah. Dan aku sangat menghargai itu. Tapi sekarang aku lebih senang kita saling bicara dari hati ke hati daripada kamu sibuk di dapur membuatkan sesuatu untukku. Aku lebih senang mendengarkanmu bercerita daripada kamu sibuk mengurus rumah tanpa henti. Kamu istriku, Nai, bukan asisten rumah tangga!" "Hah?!" Mata Naira terbelalak lebar. Jadi selama ini dia menganggapnya asisten rumah tangga? ... Karenina menutup laptop-nya saat dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh sore. Pekerjaannya sudah selesai. Sekarang ia akan beristirahat sejenak sebelum membersihkan diri. Ia pun lalu beranjak bangun dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk. "Mbak Karin!" Namun, suara itu memaksanya untuk kembali bangun dan bergegas membuka pintu. Seorang pria muda berdiri di depan pagar rumahnya sambil mengulurkan sebuah bungkusan dalam kantong plastik. "Maaf mengganggu, Mbak... Saya mau kasih Mangga. Kebetulan tadi saya mampir ke tukang buah." "Oh, makasih banyak, Mas Rifan," ucap Karenina seraya mengambil bungkusan dari pria yang merupakan tetangga sebelah rumahnya itu. "Sama-sama, Mbak!" Mas Rifan tersenyum ramah. "Baru pulang kerja, Mas?" "Iya, Mbak. Kantor saya dekat sini. Mbak Karin kalau mau titip beli sesuatu, kasih tahu aja nanti saya bantu belikan." "Ah, nanti jadi ngerepotin." "Enggak kok, Mbak. Sekalian saya pulang kantor." "Oke, kalau gitu lain waktu saya akan minta tolong Mas Rifan." Pria itu lalu tersenyum lebar. "Saya balik dulu, ya, Mbak. Kalau perlu sesuatu jangan sungkan mengetuk pintu rumah saya. Siapa tahu ada keran yang bocor lagi?" selorohnya, mengedipkan mata. Karenina pun tertawa mendengarnya. Ia memang pernah meminta bantuannya untuk memperbaiki keran dapurnya yang bocor. Ia ingat saat itu dengan pakaian yang basah karena tersemprot air, ia mengetuk pintu rumah Mas Rifan dengan panik. Dan itulah awal perkenalan mereka. Setelah pria itu pergi, Karenina pun kembali ke dalam rumah dan menutup pintunya. Namun, sejenak ia tertegun menatap rumah yang berada di depannya. Entah mengapa selama beberapa hari ini ia merasa seperti ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari balik jendela rumah itu. Minggu lalu rumah itu masih kosong, tapi sekarang sudah ada penghuninya. Anehnya, penghuni itu tidak tinggal di sana. Dia hanya datang menjelang sore hari lalu pergi lagi mengendarai mobilnya saat malam tiba. Ia tak pernah melihat wajahnya tapi sepertinya laki-laki. Siapa dia? Mencurigakan sekali. Jangan-jangan orang jahat? Karenina pun buru-buru menutup jendela dan menarik tirainya. Ia akan menanyakannya saja besok pada Mas Rifan. Mungkin dia tahu siapa penghuni itu. Ah, baik sekali dia. Sambil mengeluarkan Buah Mangga dari kantongnya, Karenina tersenyum. Sejak mengenal Mas Rifan, ia sudah tak takut lagi tinggal sendirian di perumahan yang masih sepi itu. Meski ia merasa pria itu menaruh hati padanya, namun ia tahu Mas Rifan tak akan berani mengungkapkannya. Ia telah membohonginya dengan mengatakan bahwa ia telah bertunangan. Karenina mengusap cincin di jari manisnya. Entah mengapa sampai saat ini ia masih berat untuk melepasnya. Mungkin karena ia masih merasa bersalah. Dan ia memang salah. Ia telah mengacaukan hidup Bintang, dan sekarang ia mengacaukan hidup Aidan. Sedang apa dia sekarang? Apakah tengah berada di dalam apartemennya yang hancur? Danisa bilang setiap pulang kantor Aidan selalu datang ke apartemennya hingga tertidur di sana. Entah apa yang dilakukannya. Apakah dia sedang mengingatnya? Ia tahu Aidan tak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Karena ia tak hanya meninggalkannya, tapi juga menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya. Luka yang tak akan sembuh hanya dengan waktu. Karena dibalik sifatnya yang pemarah, hatinya begitu mudah terluka. Ia tahu Aidan tak akan memaafkannya dengan mudah. Karena ia telah menghancurkan hati yang rapuh itu. Karenina menarik napasnya dengan berat dan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Maafkan, aku, Aidan... lirihnya dalam hati, penuh penyesalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN