Hidup Memang Tak Sempurna

1083 Kata
Danisa mengerutkan kening saat langkahnya memasuki kantor disambut tatapan ketakutan para karyawan. Sebuah pemandangan yang tak biasa. Namun, semuanya menjadi jelas saat pandangannya menangkap sosok Aidan yang duduk tegak di ruang kerja Karenina, menunggunya. Napas panjang diembuskan, ini saatnya. Jantung Danisa berdebar kencang, firasatnya mengatakan Aidan akan menginterogasinya habis-habisan. Ia melangkah masuk, mencoba menenangkan diri. "Pagi, Aidan..." sapanya, suaranya sedikit bergetar. "Aku mau bicara!" Aidan menatapnya dengan wajah sedingin es, tatapan yang menusuk tajam. Danisa duduk di hadapan Aidan, merasakan detak jantungnya makin tak terkendali. Ia sudah menduga ini akan terjadi, namun tetap saja, ketenangan sulit didapat. Sorot mata Aidan tak bergerak sedikit pun. Danisa menelan ludah. Kini ia mengerti, mengapa Karenina begitu sulit melepaskan diri dari pria ini. Dengan kedua tangan terlipat di d**a, Aidan menyandarkan punggungnya. "Mulai hari ini, kamu yang akan menggantikan posisi Karenina di perusahaan ini. Aku enggak mau mencari orang lain. Profit perusahaan ini belum cukup menguntungkanku. Aku enggak mau buang-buang uang lagi." Danisa terpaku, sulit memercayai apa yang baru saja ia dengar. Aidan? Percaya padanya? Pria itu selalu menganggapnya sekadar asisten pribadi Karenina, bukan bagian dari perusahaan ini. Dan sekarang ia memintanya untuk enggantikan Karenina sebagai Direktur Utama? Itu adalah hal terakhir yang terlintas di benaknya. Dan alasan Aidan terlalu sederhana untuk bisa dipercaya. Kecurigaan merayapi benaknya. Adakah rencana lain di balik semua ini? "Apa kamu yakin?" Tanyanya, ragu. "Apa kamu enggak yakin?" Aidan balik bertanya, tatapannya bergeming. "Aku hanya kaget." "Sekarang perusahaan ini menjadi tanggung jawabmu. Aku akan memberimu target profit untuk satu tahun ini. Kalau kamu tidak bisa mencapainya, perusahaan ini tidak perlu ada. Dan mulai hari ini juga aku enggak akan menambah dana investasi lagi. Jadi untuk membayar distributor, biaya operasional, dan gaji karyawan, kamu harus mengusahakannya sendiri." Jadi itu maksudnya? Mengapa harus menunggu selama itu? Bukankah dia tahu ia tak akan mampu? Ia bukanlah Karenina yang sudah terbiasa memikirkan dan melakukan semuanya sendirian. Ia hanya membantu—seorang asisten yang selama ini mengikuti ritme Karenina, bukan menciptakannya. Dan sekarang ia harus menggantikan Karenina dan membuat perusahaan ini menghasilkan profit seperti yang diinginkannya? Apakah dia sengaja ingin perusahaan ini bangkrut di tangannya? "Kamu mengerti, kan?" Suara Aidan penuh tekanan. Danisa mengangguk lemah. Ia tak punya pilihan lain. Karena menolak berarti Aidan akan menutup perusahaan saat itu juga. Dan itu artinya, ia dan dua puluh karyawan lainnya akan langsung kehilangan pekerjaan. Setidaknya, dalam satu tahun ini mereka bisa mempersiapkan diri mencari pekerjaan lain. Aidan lalu pergi begitu saja, meninggalkan Danisa yang masih terhuyung dalam kebingungan. ... Karenina menatap Danisa dengan mata melotot. "Kamu menggantikanku?!" Tanyanya tak percaya. Danisa mengangguk malas. "Begitulah." "Kenapa dia enggak cari orang lain saja? Waktu itu dia pernah bilang setelah aku menikah dia akan cari orang profesional untuk menggantikanku." "Karena dia sengaja mau bikin Chantika Skin Care bangkrut di tanganku. Dia menggunakanku untuk membalas dendamnya padamu." "Masak iya?" Karenina mengerutkan kening, seolah tak percaya. "Ah, kamu masih saja membelanya, Nin!" Gerutu Danisa, membuat Karenina tertawa kecil. "Bukan membela, tapi Aidan itu orang yang penuh perhitungan. Dia enggak akan melakukan hal yang sia-sia, apalagi sampai merugikan." "Masalahnya ini bukan tentang untung dan rugi, Nin. Ini tentang hati..." Karenina terdiam. Ia memang sudah menduga Aidan tak akan menerima perlakuannya begitu saja. Dia pasti akan membalaskan sakit hatinya. Tapi mengapa harus dengan cara seperti itu? Apa maksudnya? Apa Aidan berpikir dengan menghancurkan perusahaan itu ia akan memohon untuk kembali? "Nin..." Danisa menatap Karenina dengan ragu. "Kenapa?" "Kamu harus membantuku!" "Hah?! Aku enggak mungkin kembali, Sa!" Karenina terkesiap. "Bukan kembali ke sana. Tapi membantuku dari jauh. Membantu dengan pikiranmu." "Tapi aku enggak mungkin bisa membantu sepenuhnya, Sa. Karena kamu yang menjalankannya. Kamu akan bertemu dengan orang-orang. Melakukan presentasi, negosiasi, bertemu dengan vendor, pelanggan, media, dan lain sebagainya." "Tapi aku tidak akan mampu melakukannya tanpa dukungan kamu, Nin. Kamu kan, tahu kemampuanku? Jangankan satu tahun, tiga bulan saja aku pastikan perusahaan itu akan bangkrut di tanganku." Karenina menghela napas, mencoba berpikir. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk. "Aku akan coba semampuku," ucapnya. Wajah Danisa langsung berseri. "Makasih, Sayang!" Ia memeluk sahabatnya erat. "Sekarang aku balik dulu, ya. Mas Surya sudah nungguin aku untuk makan malam." "Hidupmu lebih beruntung dariku, Sa," ucap Karenina lirih. Danisa menyunggingkan senyum kecil. "Tadinya aku yang iri sama kamu. Aku sering membandingkan Mas Surya dengan Aidan. Tapi sekarang aku bersyukur, Mas Surya memang hanya seorang pelatih fitness yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan bayar listrik. Tapi dia laki-laki yang baik. Dia tidak pernah menyakitiku dengan kata-kata apalagi dengan tangannya. Tapi... itulah hidup, Nin. Terkadang kita harus melihat penderitaan orang lain untuk membuat kita lebih bersyukur." "Dan terkadang kita harus mengalami penderitaan itu sebelum menyadari ada yang salah dalam hidup kita," timpal Karenina. "Hidup itu memang enggak sempurna. Penuh dengan kesalahan dan kegagalan. Tapi kalau kita hanya pasrah dan menyerah, hidup kita tidak akan membaik. Dan sekarang kamu sedang memperbaikinya. Kamu harus kuat, Nin, karena selama kita mengayuh roda, kehidupan ini akan terus berputar. Dan kita enggak akan selamanya berada di bawah." "Tapi aku bingung, Sa. Bagaimana aku menjalani hidup ini sendirian? Apalagi kamu akan semakin sibuk. Sedangkan aku di sini kesepian tanpa ada yang aku lakukan. Aku enggak bisa mencari pekerjaan tanpa Aidan mengetahuinya." "Hm... aku punya ide..." "Ide apa?" "Bagaimana kalau kamu pura-pura jadi aku?" "Maksudnya?" "Aku akan memberikanmu akses pekerjaanku biar kamu bisa menggantikanku. Maksudku, berperan menjadi dirimu lagi, Direktur Utama. Kamu yang merancang semuanya sejak awal, Nin. Kamu hanya melanjutkan. Dan kamu bisa melakukannya dari sini. Membalas email dari vendor, klien, membuat bisnis plan, marketing plan, presentasi, dan lain sebagainya. Jadi kamu enggak akan menganggur lagi." Kedua mata Karenina berbinar. "Aku akan melakukannya dengan senang hati." "Dan aku akan memberikan separuh gajiku padamu." Karenina menggeleng. "Enggak perlu, Sa. Kalau untuk makan, tabunganku masih cukup." "Kamu harus menerimanya, Nin. Separuh gaji Direktur Utama itu sudah melebihi gajiku saat ini. Itu lebih dari cukup, okay? Aku pulang dulu, ya?" Karenina akhirnya mengangguk. "Terima kasih, Sa," ucapnya seraya mengantarkan kepergian sahabatnya hingga ke depan pagar. Saat mobil Danisa menghilang dari pandangannya, Karenina menghela napas lega. Ia membayangkan kesibukan yang akan dijalaninya sebentar lagi. Meski tak sesibuk dulu, itu lebih baik daripada hanya berdiam diri di rumah tanpa ada yang bisa ia lakukan. Ia benci sendirian, tapi ia lebih membenci berdiam diri. Ah, tiba-tiba saja ia merindukan kehidupan lamanya yang penuh kesibukan. Namun, tanpa Karenina sadari, tak jauh dari sana, di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di balik rimbunnya pohon, sepasang mata menatapnya lekat. Sorot matanya sarat emosi yang tak terurai "Jadi kamu di sini, Nin?" lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN