Empat

1123 Kata
Dandi Aku memegang pipinya yang dingin. Tak ada reaksi apapun saat ia kugendong masuk ke dalam mobil. Bahkan saat Jihan rem mendadak dengan sangat keras tadi pun, ia tak memberi respon apa-apa. Amu mencari nadi pada tangannya, astaga! Tak berdenyut. Tuhan, tolong selamatkan Raia! Ragu-ragu aku mencoba mendekatkan pipiku pada hidungnya. Hangat. Syukurlah, dia masih bernafas. Tapi tetap saja aku takut jika-jika sakitnya parah. Jihan memberhentikan mobil tepat di ruang UGD. Kemudian ia membukakan pintu belakang dan menolongku untuk membopong Raia. Aku melihat ekspresi tak menyenangkan terlukis di wajahnya. Apakah dia cemas? Atau kesal karena repot? Entahlah. Yang penting aku hanya harus terfokus pada Raia. Tak lama dua orang pria berpakaian serba putih membawa brankar dengan terburu-buru ke arah kami. Mereka membantuku mengangkat Raia ke atasnya. Mereka mendorong brankar, namun, saat tiba di satu ruangan, aku dan Jihan tidak di perbolehkan masuk. Kami terpaksa menunggunya di luar. Satu jam berlalu, namun Raia tak jua ada kabarnya di dalam sana. Jihan masih asik memainkan ponselnya. Aku ragu apa dia mencemaskan Raia atau tidak? Seharusnya sebagai seorang sahabat, ia yang paling was-was.  “Kamu kok santai banget, sih?” tanyaku pada Jihan yang duduk di sisi kiri lorong rumah sakit. “Maksud kamu? Santai gimana?” jawabnya. Ia bahkan enggan menatapku, matanya masih asik memainkan gawai itu. “Ya kan harusnya kamu panik, Raia sahabat kamu loh,” ujarku. Tuhan! Dia benar-benar mengesalkan. “Kan ada kamu yang panik, ngapain aku ikut-ikutan? Lagian Raia sering kok kaya gitu, dan dia bilang kecapaian. Makanya mimisan.” Matanya masih enggan menatapku. Entah apa yang salah sekarang. Tapi sikapnya ini benar-benar menjengkelkan. Saat aku masih sibuk memikirkan apa yang salah, pintu ruangan tempat Raia di periksa tiba-tiba terbuka. Aku segera menghampiri dokter yang menangani Raia. “Apa aku bisa bicara dengan wali Nona Raia Candramaya?” tanya dokter tersebut. Aku melirik pada Jihan yang masih asik memainkan ponselnya. Sial! Wanita itu tidak punya rasa kemanusiaan lagi rupanya. “Saya! Saya wali Raia Candramaya, Dok!” ujarku sedikit lantang agar terdengar oleh Jihan. Namun nihil, ia tak jua melihat ke arahku. “Baiklah, ikut saya keruangan.” Dokter itu berjalan, kemudian aku mengekorinya dari belakang. *** “Jadi begini, setelah kami melakukan pengecekan darah pada Raia, kami menemukan bahwa Raia sepertinya terkena sindrom mielodisplasia,” jelas dokter itu. “Apa itu, Dok?” tanyaku. Jujur saja, istilah-istilah medis seperti ini tidak ada satupun yang aku tahu. Jika kalian bertanya apa jenis wol yang bagus, aku akan menghafalnya. Tapi istilah seperti ini? “Sindrom mielodisplasia adalah keadaan di mana satu atau seluruh sel darah yang di hasilkan sumsum tulang belakang tidak terbentuk dengan baik,” Aku mengernyitkan dahiku, “Apa ada penjelasan yang lebih mudah di mengerti, dok?” tanyaku. “Begini, ini masih sekedar analisaku. Untuk memastikannya, kita harus melakukan pengecekan pada sumsum tulang belakang. Jika Raia sudah sadar nanti, cobalah tanyakan padanya apa ia menyembunyikan penyakitnya selama ini atau tidak tahu sama sekali. Karena jika dibiarkan, akan berdampak lebih parah.” Dokter itu menggenggam kedua tangannya. Dari cara bicaranya terlihat ia adalah orang yang bijaksana. Ia memiliki kebiasaan mengatupkan kedua bibir ketika selesai berbicara. “Seperti?” tanyaku. “Leukimia, atau kanker darah,” jawabnya. Deg! Jantungku seakan-akan berhenti sejenak. Persetan dengan segala istilah kedokteran yang telah ia sebutkan dari tadi. Namun kanker? Siapa yang tidak mengenal penyakit ini? Astaga! Tuhan! *** Aku mencari-cari Jihan yang seharusnya duduk di ruang tunggu. Namun aku tak melihat dirinya lagi. Wanita ini benar-benar membuatku kesal, bagaimana bisa ia tidak tahu penyakit Raia? Bukankah Raia yang telah menemaninya selama ini?  Tetapi mengapa ia bisa setidak peduli itu dengan sahabatnya sendiri. Benar-benar tak habis pikir. Pintu tempat Raia di periksa tadi terbuka. Tak lama aku melihat Jihan yang tengah membopong Raia keluar dari sana. Astaga! Mengapa wanita tega membawa Raia pulang? Padahal kondisinya masih belum sehat. “Rai? Kok kamu bangun, sih?” tanyaku panik. Aku segera menghampiri mereka. “Maksud kamu apa? Kamu do’ain aku supaya nggak bangun-bangun? Iya?” Raia terkekeh mendengar pertanyaanku. “Bukan gitu, Rai. Kamu kan masih harus di rawat, sakit kamu itu parah, loh, nggak main-main.” Jelasku panjang lebar. Raia tiba-tiba membelalakkan matanya padaku pertanda ia menyuruhku untuk berhenti bicara. “Parah? Parah gimana? Raia sakit apa Dan?” tanya Jihan yang sepertinya benar-benar tak tahu apa-apa. “Raia itu....” “Tau nih, Dandi. Ngaco aja, jelas-jelas aku cuma kecapaian. Yuk, Ji, kita pulang.” Raia menggandeng tangan Jihan dan beranjak dari hadapanku. Aku hanya melongo melihat mereka berjalan, kemudian aku melihat Raia menolehkan pandangannya padaku sambil memberi isyarat untuk menyuruhku diam. Baiklah, aku paham. Ternyata selama ini Raia menyembunyikan penyakitnya dari Jihan. Tapi apa tujuannya? *** Aku benar-benar tak habis pikir. Kenapa masalah datang bertubi-tubi? Saat tenaga Raia di butuhkan untuk pernikahan James, ia malah sakit. Bahkan sakitnya bukan yang akan sembuh dalam sehari. Sudah hampir sepuluh menit aku mondar-mandir di ruanganku karena memikirkan Raia. Aku sendiri pun tak mengerti mengapa aku secemas ini padanya. Well, walaupun dia sahabat Jihan, aku merasa bertanggung jawab juga atasnya. Ia hanya punya aku dan Jihan sebagai tempat bergantung. Bayangkan saja ia mampu hidup sebatang kara dengan penyakit mematikan yang berselimut di darahnya. Dan, sebagai sahabatnya juga, bagaimana mungkin Jihan tak memperhatikan keanehan-keanehan dari Raia? Sering mimisan? Sering pinsan? Atau apapun, bukankah suatu yang berlebihan itu salah? Kemana saja Jihan selama ini? Dan apa pula motivasi Raia menutupi semuanya dari Jihan? “ARRGGHH!!” Erangku. Pikiranku tak bisa jernih. Aku berjalan menuju kulkas yang menyimpan minuman dingin kesayanganku. Aku mengambilnya sebotol, lalu menenggaknya habis. Apa yang harus aku lakukan? Diam saja? Atau membantunya? Tapi bagaimana caranya? Aku memilih mengistirahatkan otakku sementara di ruangan kerjaku. Aku mengambil pensil dan kertas lalu mulai mencoret-coretnya sesuai dengan imajinasiku. Aku membentuk sebuah garis liku untuk mempertegas bagian pinggang. Kemudian aksen bunga mawar putih aku gambarkan di bagian d**a. Karena tubuhnya yang pendek, sepertinya sangat bagus jika petite wedding dress ini kubuat dengan model A line.  Satu jam sudah berlalu, satu demi satu garis kutautkan membentuk sketsa. Mataku memberat. Aku benar-benar mengantuk. Aku berjalan gontai menuju kasurku yang empuk dan meninggalkan sketsa itu di meja. Entah mengapa Raia tiba-tiba terbesit kembali di benakku. Aku mengambil ponselku di atas meja dan mencari nama Raia di sana. Aku memutuskan untuk bertemu dengannya esok dan menuntut penjelasan. Kemudian aku menekan tombol yang kemudian di sambut dengan nada sambungan. Sejurus kemudian suara Raia terdengar di telingaku. “Rai, aku mau bicara,” “Besok saja, Dan. Udah malem,” “Cuma empat mata, aku minta penjelasan,” “Iya, iya. Aku akan jelasin. Jangan sekarang. Besok aku kabari. Bye!” TUT! TUT! Sambungan telfon itu terputus. Aku meletakkan ponselku asal. Tak lama mataku tertutup dengan rapat. Nyaman sekali rasanya. Ah, semoga aku mimpi indah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN