Lima

1064 Kata
Jihan Drrtt.. Drrtt.. “Rai, telepon kamu bunyi tuh,” sorakku pada Raia tepat saat aku baru saja menyandarkan punggungku pada sofa. “Iya!” jawabnya dari dapur. Raia segera berlari menuju ruang tengah dan merogoh tasnya yang terletak di atas meja. Aku sekilas menatapnya,ia tersenyum kecil ke arahku. Lalu berjalan menjauh untuk menerima panggilan itu. Aneh, tak biasanya Raia seperti itu. Ini pertama kalinya ia bersembunyi untuk menerima panggilan seseorang. Raia bukan tipe orang yang punya banyak rahasia yang harus di sembunyikan. Aku menaruh curiga, apakah yang menelfon itu Dandi? Aku berusaha untuk tidak memerdulikan hubungan mereka walaupun sedikit mengusik benakku. Aku menyalakan televisi dan mencari-cari siaran yang pas. Mataku terbelalak seketika saat melihat salah satu sinetron di televisi. Sadam! Astaga! Sudah berapa lama aku tidak menghubunginya. Cepat-cepat aku berlari ke kamar dan mencari ponselku yang tidak salah kuletakkan di dalam tas. Dapat! Aku mencari-cari kontaknya. Kemudian menekan tombol call. Nihil. Tak ada jawaban. Aku mencobanya sekali lagi. Namun masih sama, ria itu tak mengangkat telfonnya. Aku merasa sangat gusar dan bersalah. Bisa-bisanya aku tidak menghubunginya sudah hampir tiga hari. Aku tak bisa membayangkan bagaimana ia marah padaku nanti. “Kenapa, Ji?” tanya Raia tiba-tiba dari balik pintu. “Ini, Rai. Sadam nggak angkat-angkat telepon aku.” Aku masih mengutak-atik ponselku. “Udah tidur kali ama bininya,” sarkas Raia. “Itu dia masalahnya, Rai. Mbak Yuliana itu lagi ke Tokyo, dan Sadam sendirian. Yaampun, kenapa aku bisa lupa sih, sama dia.” Aku mengacak-acak rambutku. “Gara-gara sering ketemuan sama Dandi, jadi lupa ama Sadam ya, kamu.” Raia tergelak. Jelas sekali ia sedang menggodaku agar tak terlampau panik. Namun yang di bilang Raia ada benarnya, sejak otakku terfokuskan pada Dandi, aku tak mengingat Sadam barang sedikitpun. “Kamu nggak usah ngomong gitu deh, Rai. Sekarang aku tanya, kamu sama Dandi ada hubungan apa?” aku langsung menembak Raia dengan pertanyaan yang sudah lama mampir di otakku. Raia mendadak gugup, “Hubungan maksud kamu? Ya kita temenan lah, masih sama kaya dulu, Ji.” “Yakin?” tanyaku tak percaya, “kamu pinsan tadi dia panik banget loh, Rai.” “Yaampun, kamu kaya nggak kenal Dandi aja. Dari dulu kan dia emang super panikan,” Raia tergelak. Bagaimanapun aku bertanya, ia pasti akan menyangkal. “Sampai cium kamu?” “Maksud kamu?” “Sampai Dandi nyium kamu, itu masih bisa di bilang teman?” tanyaku sarkas. “Tunggu, tunggu. Dandi nyium....” Raia menunjuk dirinya sendiri. Ia seperti tak percaya Dandi berlaku seperti itu padanya atau ia hanya menyangkal saja. Kemudian aku mengangguk mengiyakan maksudnya. Raia beranjak dari pandanganku. Entah malu, marah, aku tak.bisa menebaknya. Raia memang begitu, perasaannya sulit di tebak. Dari mulut dia bilang tidak, di hati jawabannya adalah ‘iya’. Tok! Tok! Tok! Suara nyaring dari sebuah kayu terdengar hingga ke kamarku. Siapa yang mengetuk pintu rumahku selarut ini? Aku dan Raia pun tidak meemsan makanan delivery malam ini mengingat kondisi keuangan kami yang sedang sulit. Aku berjalan melewati ruang tengah dan berjalan menuju pintu depan. Tok! Tok! Tok! Sekali lagi pintu itu di ketuk dengan irama yang sama. “Siapa?” tanyaku sedikit berteriak. Aku tak berpikir macam-macam, karena di gerbang menuju rumahku ada penjaga yang siaga dua puluh empat jam. “Ini aku,” jawab suara berat khas seorang pria. Dandi? Suaranya sangat mirip dengan Dandi. Ada keperluan apa dia datang kemari? Ah, ya. Bukankah barusan dia menelepon Raia? Hah baiklah, apa yang Dandi dan Raia akan lakukan di rumah ini. Aku menekan gagang pintu ke arah bawah dan perlahan pintu terbuka. Aku melihat seorang pria berjaket kulit warna hitam sedang membelakangiku. “Da....” pria itu membalikkan badannya dan. Deg! Ia tersenyum ke arahku, matanya berbinar. Aku mengenal senyum ini, senyum yang kemudian membuatku sedikit ngeri. “Surprised!” kejutnya. “Sadam? Kamu ngapain kesini? Nanti kalau orang liat gimana? Kalau ada yang....” “Ssstt..” Sadam merekatkan jari telunjuknya tepat di bibirku. Lalu ia mendorongku masuk ke dalam rumah. “Jangan ngomong panjang-panjang. Otakku lagi mumet,” ujarnya. “Iya, Dam, kan kamu bisa telepon aku dulu,” jawabku. “Siapa Rai?” tanya Raia tiba-tiba. Tentu saja aku terperanjat. Namun tidak dengan Sadam yang justru tersenyum santai pada Raia. Raia tak menyukai pria ini, raut wajahnya berubah seketiksa saat tahu Sadam telah masuk ke kediamannya. “Hai, Rai? Udah sembuh?” tanya Sadam dengan gamblangnya. Tapi tunggu, dari mana Sadam tahu bahwa Raia sakit? Apa ia memata-mataiku? Tanpa menjawab, Raia langsung melengos masuk ke dalam. Aku tahu kekesalan teramat sangat kini sedang bersarang di dadanya, setelah aku memberi tahu Dandi menciumnya, kini Sadam berada di sini. Benar-benar mengacaukan keadaan. “Sadam, kamu ngapain kesini?” tanyaku untuk yang kedua kalinya. “Aku Cuma rindu, Ji. Kamu tahu kan Yuliana lagi ke Tokyo? Kenapa kamu nggak hubungin aku, sih?” Sadam mendekap pinggangku erat. Aku berusaha membukanya namun ia sangat kuat. Bau menyengat alkohol tercium dari mulutnya. Asataga! Dia mabuk. “Dam, sekarang kamu pulang, ya? Besok aku ke rumah kamu, ya?” pintaku. “Aku udah jauh-jauh loh datang kesini karena rindu sama kamu? Masa iya kamu usir?” rajuknya. “Dam, nggak enak diliat Raia,” sergahku lagi. Sadam segera melepas tangannya dari pinggangku kasar. “Gue kesini buat nemeuin lo!” aku terkesiap. Sifatnya berubah hanya dalam beberapa menit. “Iya, Dam. Tapi sekarang kan udah malem. Kamu pulang ya sayang?” pintaku selunak mungkin karena takut akan terjadi hal yang tak ku inginkan. PLAK! Jackpot! Hal yang aku takutkan barunsaja terjadi. Aku terdiam. Tangan kirinya tepat mendarat di pipi kananku. Aku yakin kini kondisinya memerah karena kurasakan panas di sana. “Masih mau ngelak apa, lo? g****k! Emang nggak tahu diri banget ya, lo?” nada suaranya semakin meninggi. Tiba-tiba rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Aku masih tak bergeming, aku terlalu takut untuk mwlawannya. “Sekarang, lo ikut gue!” Sadam menarik tanganku dengan kuat. “Ke.. Kemana Dam?” tanyaku. Perasaanku benar-benar tak enak. Aku pun tak berani untuk meminta pertolongan pada Raia karena ia akan menyebabkan kerusuhan kedua. “Kalau gue bilang ikut, ya ikut! Dasar g****k!” hardiknya. Serendah itu aku di matanya kalau sedang marah. Aku terpaksa mengikuti perintahnya walaupun tak mau. Ia seperti seorang bipolar jika sudah begini. “Rai, aku pergi! Tutup pintu, ya?” teriakku pada Raia dengan nada setenang mungkin agar ia tak khawatir. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN