Jihan
Wangi pancake dengan lumuran mentega menyeruak hingga ke ruang tengah, tempat aku duduk saat ini. Ternyata Dandi masih pemasak yang ahli. Di cuaca dingin ini, ia membuatkanku sepiring puncake untuk kudapan. Dandi membawaku ke rumahnya karena ia ingin aku aman. Aku memilih untuk menurutinya karena jika pulang sama saja dengan bunuh diri, kan? Aku tak tahu keberadaan Sadam kini, namun sampai detik ini tak ada satupun panggilan yang masuk.
"Terima kasih, Dan." aku meraih piring berisi puncake yang di berikan Dandi. Aku segera menyantaonya dengan rakus karena aku sangat-sangat lapar. Atau karena aku sudah merindukan masakan ini? Entahlah. Akubterus memasukkan potongan demi potongan ke dalam mulutku dengan jeda yang bisa di bilang tidak ada.
"Kamu kelaperan?" tanya Dandi.
Aku tersedak mendengar pertanyaannya. Astaga ini begitu bodoh, kenapa aku berperilaku seakan-akan Dandi masih menerima caraku makan? "Maaf," ujarku.
"Pelan-pelan, Ji." Dandi mengambil selembar tisu dari atas meja. Ia menyeka kotoran yang ada di sudut bibir kiriku. Aku terpaku. Astaga Dandi, kenapa kau membuatku bingung begini?
"Ekhem," dehamku. Namun Dandi masih bersikap biasa saja, seakan-akan tidak ada batasan pada kami. Sama seperti dulu.
"Kamu udah mau cerita sama aku sekarang, Ji?" tanyanya. Aku termangu sesaat. Apa yang harus kuceritakan? Apa aku harus menceritakan segala ke susahanku pada Dandi? Atau apa?
"Nanti saja kalau kamu belum mau cerita, Ji." Dandi berdiri dan sepertinya menyadari gelagat tidak nyamanku.
"Maaf, Dan. Tapi aku..."
"Udah, nggak usah di pikirin." ia membuka lemari yang terletak di bawah televisi dan seperti sedang mencari-cari sesuatu. "Nonton, yuk!" ajaknya.
Hatiku senang sekaligus canggung. Tanpa di sadari kepalaku mengangguk begitu saja, antusias. Kemudian ia membuka dvd nya dan memasukkab kaset ke dalamnya. Tak lama lambang wally disney terpapar pada layar televisi.
"Film apa Dan?" tanyaku.
"Tonton aja." ia kemudian menekan tombol pada remot dan membesarkan volumenya. Ia menghempaskan tubuhnya pada sofa. Tangannya merangkul bahuku dari belakang, sama seperti saat dulu ia menghiburku saat aku sedang sedih.
***
Satu jam berlalu, aku dan Dandi sama-sama tertidur. Aku melirik ke arah jam yang terletak tepat di atas televisi, jam 7! Dan film kami bermain sendiri tanpa ada yang menonton
Dandi tertidur pulas di atas pahaku. Kakiku kesemutan dan kebas. Aku malas menggerakkan badanku takut pria itu terbangun. Aku melihat wajahnya yang lucu saat tidur. Bulu matanya yang lentik, bahkan mengalahkanku lentiknya terlihat indah di matanya yang sedikit sipit. Aku menyibakkan poni yang menghalangi pemandangan ini. Dandi bergerak. Jantungku tiba-tiba jatuh hingga ke dasar! Astaga! Lagian tindakanku barusan sangat bodoh pikirku.
Benakku menerawang jauh kembali mengingat sadam. Sedang apa dia sekarang? Sudah makan kah? Oh astaga! Untuk apa aku mengingat pria yang hampir menjualku itu! Aku jadi teringat saat dua orang pria itu mulai mengejarku kesana kemari untuk menikmati tubuhku! Jika tak ada Dandi, ah entahlah..
Drrt.. Drrt..
Ponsel Dandi bergetar di sana, di atas meja tepat di sebelah remote televisi. Aku memanjangkan leherku untuk melihat siapa yang sedang menelfonnya. Mataku membulat saat nama Raia tertera di layarnya. Aku memilih mengabaikan panggilan itu saja.
Lagian, kemana dia? Mengapa dia tak menghubungiku? Mengapa dia hanya menghubungi Dandi? Walaupun, ya mungkin mereka sedang menjalin hubungan. Ah! Itu sungguh menjengkrlkan. Tunggu, tapi kenapa aku malah merasa jengkel?
“Kamu masih nonton?” suara Dandi mengagetkanku dari lamunan panjangku.
“Enggak, Dan. Aku baru bangun juga, kok.” Aku menyelipkan rambutku kebelakang telinga. Dandi segera duduk dan beranjak dari bantalnya. Aku meluruskan kakiku untuk membiarkan aliran darah mengalir. Dandi meregangkan badannya sambil menguap.
“Kaki kamu nggak kesemutan?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Lumayan.”
Tiba-tiba ia beranjak dari tempat duduknya dan bersimpuh di lantai.
“Kamu ngapain Dan?” tanyaku.
Ia menatap kakiku dengan ekspresi yang sepertinya aku kenal, samar.
“Kasian, sini aku pijetin,” ujarnya. Tangannya langsung menyanbar kaki kananku dan menekan-nekannya. Astaga! Dia sedang mengerjaiku!
“Dandi, setop!” pekikku. Dia masih enggan mendengarku. Kakiku ngilu sejadi-jadinya. Ia terrawa terbahak-bahak melihatku.
Kesemutanku mereda, sial pria ini! Tapi aku merasa sedikit senang karena hal ini sering kami lakukan dulu.
“Dandi, tadi ponsel kamu getar. Nggak tahu siapa yang nelfon,” ujarku, bohong. Dandi nenaikkan sebelah alisnya dan beralih menatap ponselnya. Ia menekan-nekan layar dan berjalan menjauh dariku. Ah, kenapa harus sembunyi-sembunyi?
Rasa penasaranku memuncak hingga ke ubun-ubun. Ada hubungan apa Raia dan Dandi sebenarnya?
"Ji, barusan James nelfon aku. Katanya dia mau batalin kerja samanya," ujar Dandi ragu-ragu.
"Apa? Tapi kenapa Dan? Kan kita masih ada waktu! Bu.. Bujuk James lagi Dan, please! Aku nggak bisa kehilangan projek ini." Projek James bisa membuatku kaya mendadak dalam sesaat dan mungkin bisa membebaskan diri dari hutang yang di buat Sadam.
"Tapi James udah cari vendor lain, Ji."
"Dan, aku mohon. Bantu aku, aku nggak mau kehilangan kesemoatan ini. Aku janji kita bakal selesai tepat waktu."
"Tapi gimana kamu mau kerja sendiri, Ji? Sementara Raia nggak ada di sini." Dandi tiba-tiba terdiam. Mulutmya ternganga sedikit seperti menahan sesuatu.
"Nggak ada? Emang Raia kemana? Dia nggak ngabari aku sama sekali. Kamu tau Raia di mana?" desakku.
Dandi gelagapan, ia seperti kebingungan.
"Raia, nggak. Aku nggak tahu, Ji."a
"Terus gimana kamu bisa bilang kalau Raia nggak ada?" aku semakin heran dengan semua ini. Ada aa sebenarnya?
Drrt.. Drtt..
Kini giliran handphone ku yang berbunyi
"Hallo? Jawabku tepat setelah menelan tombol jawab dan melihat nama Raia di layar. "Kamu di mana Rai?"
"Hah? Bali?"
"Kerjaan kita gimana?"
"Oke! Aku bisa ngatasinnya! Tanpa kamu!"
Aku terduduk setelah mematikan ponsel. Kata Raia dia pergi liburan dan sekarang ada di Bali. Astaga yamg bemar saja!
"Kenapa Ji?"
"Cewek kamu lagi liburan ke Bali, kamu nggak ikut?" ujarku sarkastik.
***