Dandi
Nada Jihan barusan terdengar menyimpan rasa cemburu. Benar, dia cemburu. Tapi aku tak habis pikir mengapa Raia masih berbohong di kondisi mepet seperti ini.
"Dan, walaupun nggak ada Raia. Aku yakin kita bisa nyelesaiinnya. Aku mohon bujuk James, ya?"
"Oke aku coba," ujarku.
Raut kesal Jihan masih belum terlepas dari wajahnya. Mungkin ia sngat sebal dengan Raia yang beralasan pergi liburan. Ah, tapi dia sendirian di sana. Sepertinya aku harus menjenguknya lagi sebentar lagi.
"Dan, aku masak, ya? Kamu mandi gih! Habis itu kita kerja bareng." Jihan memakai apron yang tergantung di dapur. Kemydian ia mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas. Ia berlagak seperti ini adalah rumahnya sendiri. Aku tak marah, memang inilah yang ku mau, tapi entah mengapa ada sedikit rasa aneh yang menjalar di hatiku. Dan, aku tak bisa menjenguk Raia setelah ini. Aku harus menundanya setidaknya sampai besok.
Aku bergegas menuju kamar mandi dan menghubungi Raia.
Sejurus kemudian suara di ujung sana menyapaku dengan lirih.
"Hallo, Rai. Apa kamu sudah makan?" tanyaku.
"Sudah, kamu jangan mengkhawatirkan aku, Dan. Di sini ada perawat yang bakal urusin aku, kok."
"Iya tapi tetap aja kamu sendirian, Rai."
"Aku udah di sururh tidur nih. Besok pagi telfon aku lagi, ya? Bye Dan!"
Wanita itu menutup telfonnya. Raia emabg sosok yang hebat. Dalam kesendiriannya ia sanggup menghadapi masalah demi maslah sendirian.
Aku menghidupkan shower dan membiarkan air-aor itu menyentuh kulitku. Segar rasanya di terpa air seperti ini. Aku berharap saat mandi pun masalah demi masalah ikut luntur. Namun tentu sajak tidak.
***
Aku menuju ke ruang makan dan mendapati Jihan masih asik memasak di dapur. Aku menapakkan kakiku ke arahnya. Mungkin sebaiknya aku menolongnya memasak agar cepat selesai.
"Ada yang bisa aku bantu?" tawarku.
"Tentu," ujarnya. Kemudian ia memberiku sebuah piasu dan beberapa buah bawang merah dan bawang putih, serta bawang bombay. Aku mengupas kulitnya dan mulai memotong-motong bawang dengan tehnik yang pernah ku pelajari dulu.
"Tadi aku udah nelfon James. Katanya malam ini juga dia harus udah terima konsep dari kamu dan tentu saja vendor-vendor yang lain sudah harus acc." aku masih melanjutkan aksi memotong bawangku.
"Oke, setelah ini kita makan. Dan kamu bantu aku kerja. Btw gaun kamu udah selesai?" tanyanya.
Sebenarnya belum, cuma aku punya gaun cadangan yang nggak pernah aku tunjukan ke siapa pun. Sepertinya aku akan beri gaun itu ke istri James saja."
Jihan mengerutkan bibirnya dan mengangkat bahu pertanda ia menyerahkan pekerjaanku padaku tentu saja.
Bawang terkahir, daan... Selesai. Bawang merah terakhir relah selesai aku potong. Aku menuangkannya pada mangkuk kosong dan menyerahkannya pada Jihan. Jihan mengambilnya dan kemudian memasukkannya pada wajan tumisan. Wangi bawang putih menyeruak hidungku. Sangat nikmat. Tak lama ia memasukkan wortel serta brokoli lalu menumisnya kembali. Setelah itu ia menuangkan air dan menutup wajan itu.
Ia beralih pada wajan yang lain. Di sana ia menumis daging dengan lada hitam sepertinya. Ketika ia membuka penutup wajan itu, sungguh wangi dan menggugah selera. Benar-benar wanita yang cekatan. Entah sadar atau tudak, aku mendekatkan diriku dan berdiri tepat di sebelahnya. Ia sepertinya tak memyadariku. Aku terpaku dengan pandanganku. Ia mematikan kompor dan segera menuang tumisan itu ke dalam mangkuk.
Tak lama, ia mendongak padaku.
"Apa?" tanyanya setelah sadar bahwa aku sedang mengamatinya.
Aku menggeleng, tetapi dia masih enggan memalingkan wajahnya padaku. Bukan hanya dia, aku pun memjadi malas menatap yang lain jika sudah menatapnya seperti ini. Entah mengapa tiba-tiba kepalaku sangat ingin menunduk dan menciumnya. Namun aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Tapi kepalaku terus merunduk, dan merunduk hingga akhirnya hidungku menyentuh hidungnya dan bibirku dengan sigap melumat bibir Jihan.
Jihan memundurkan dirinya dan mengagetkanku. Ciuman sekilas itu membuat jantungku berhemti berdetak. Wajan dan mangkuk yang masih di pegangnya terlihat sedikit bergetar. Ia segera mengalihkan pandangan dariku dan melanjutkan pekerjaannya seperti tak terjadi apa-apa.
"Aku akan mandi, tunggu aku, ya?" katanya sambil membuka apron dan berlalu meninggalkanku yang masih dirasuki rasa rindu pada dirinya.
***
"Dandi!!" Pekikkan Jihan mengagetkanku yang sedang menonton.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku nggak bawa baju ke sini, gimana dong?"
"Yaudah pakai baju aku saja, kamu pilih aja yamg sesuai dalam lemari ya!" perintahku.
***
"Enak nggak?" tanyanya.
Aku mengangguk antusias. Memang masakan Jihan sangat enak menurutku. Bukan hanya karena ia kekasihku, maksudku mantan kekasihku, namun siapapun yang memakan masakannya akan merasakan hal yang sama denganku. Ya, senikmat itu memang masakan Jihan.
Setengah jam berlalu, aku dan Jihan selesai makan malam. Aku membantunya mengemaskan piring-piring yang ada di atas meja. Ia seperti menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri. Ia bahkan sudah hafal tempat piring dan sendok tanpa bertanya denganku, padahal rumahku ini ia tak pernah menempatinya sebelumnya.
"Dan, aku boleh minta kertas sama pensil nggak?" tanyanya.
"Buat apa?" tanyaku.
"Ya buat kerjalah, kamu lupa kalau James ngasig waktu cuma sampe jam 12 malam ini?" katanya.
Benar! Astaga mengapa aku sampai lupa?
"Kita ngerjainnya di ruangan aku saja," ujarku. Ia mengangguk.
Aku menaiki anak tangga satu-persatu menuju ruang kerjaku yang berada di lantai dua. Aku merogoh sakuku untuk membuka kunci pintunya dan menghidupkan lampu ruangan itu. Bau manekin baru dan beberapa kain menajdi ciri khas ruangan ini. Aku menyukai bau kain yang baru.
Jihan memalingkan kepalanya kesana kemari. Kalau boleh ku tebak sepertinya ja takjub dengan ruanganku ini.
"Ruangan kerja kamu besar juga ya, Dan. Super lengkap lagi." ia menyentuh beberapa gulung kain yang tersamdar di dinding.
"Kamu kan tahu aku dari dulu mendambakan ruangan yang super luas, biar bisa santai sekaligus kerja." aku kemudian duduk di sofa yang terletak tepat di sebelah pintu. Jihan duduk di atas kursi meja kerjaku. Ia melihat-lihat filecfileku seperti anak kecil yang sedang ingin tahu.
"Ayo mulai," ajakku.
Ia tersenyum dan kemudian menegapkan badannya di kursi itu. Aku memberinya kertas dan pensil. Aku pun sinuk mendesign baju-bajuku.
Kemudian Jihan mengutak-atik ponselnya dan berusaha menelfon beberapa orang untuk menjadi vendor pernikahannya.
Sesekali ia terdengar seperti memohon dan tawar menawar harga. Aku hanya membiarkannya sibuk dengan kegiatannya. Karena setahuku, yang bkasa menelfon vendor-vendor ini adalah Raia. Ah, Raia. Bagaimana keadaanya ya? Saat aku bersama Jihan seperti saat ini, pikiranku selalu teralih padanya. Mungkin aku hanya prihatin akan kesendirian dan oenyakitnya.
Tiga jam berlalu, sekarang tepat pukul setengah dua belas malam. Sepanjang itu kami bahkan tak mengobrol sama sekali. Jihan sngat fokus pada pekerjaannya. Kemudian ia merengangkan badannya.
"Sudah selesai?" tanyaku.
"Hm," angguknya. "Kamu tolong hubungi James, ya?File-file dan data vendor sudah aku susun. Dan semuanya fix."
Aku mengangguk dan meraih ponselku. "Kirim ke emailku, ya?" pintaku. Wanita itu mengamgguk memgiyakan.
Selesai untuk sementara, tahap selanjutnya adalah Hari H pernikahan James.