bc

Dikejar Cinta CEO Tampan

book_age16+
526
IKUTI
3.5K
BACA
HE
love after marriage
heir/heiress
bxg
lighthearted
loser
detective
city
like
intro-logo
Uraian

Bagi Devan, Cleo adalah sebuah keajaiban yang bisa mecairkan hatinya yang beku sejak kematian mantan kekasihnya. Devan jatuh Cinta pada Cleo karena kebaikan hati Cleo yang telah menolongnya dalam tragedi penusukan oleh seorang rival bisnis.

Devan pun mendekati Cleo dengan menjadi Secret Admirer. Seorang pengagum rahasia yang mngirim banyak hadiah untuk Cleo. Hati Cleo mulai tersentuh dan dia merencanakan sebuah pertemuan dengan pengagum rahasianya itu.

Cleo pun akhirnya tahu bahwa Secret Admirer adalah Devan yang pernah ditolongnya. Cleo jatuh cinta pada Devan dan mereka pun menikah. Namun, kehidupan pernikahan mereka tidaklah mulus. Banyak teror yang dialami Cleo hingga dia nyaris meninggal dunia. Selain itu, hadir pula Nada yang merupakan sekretaris Devan yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Cleo semakin terguncang dengan segala teror dan prahara dalam rumah tangganya. Diam-diam Devan berhasil menyelidiki pelaku teror itu. Namun, dia harus merahasiakannya dari Cleo.

Cleo mengetahui ada yang disembunyikan oleh Devan. Dia pun diam-diam menyelidiki apa yang disembunyikan oleh Devan. Sebuah fakta mencengangkan berhasil dia dapatkan. Pelaku teror yang hampir membuatnya mati dan gila adalah Bram, ayah kandung Devan. Mampukah Cleo tetap bertahan dalam kemelut rumah tangga dan teror yang menimpanya? Apakah akhirnya Cleo memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semua dengan perpisahan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan Berdarah
“Jangan macam-macam atau kubunuh kamu!” ujar seseorang sambil menodongkan sebilah pisau pada Devan. “Siapa kamu?” Devan bertanya dengan napas yang mulai tidak teratur. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang. “Kamu? Mungkin tepatnya kalian ya?” Seseorang menyahut dari belakang Devan. Devan sangat terkejut. Ternyata ia sedang dihadang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam. Devan tidak mengenali wajah mereka karena kondisi gang yang gelap dan mereka mengenakan masker wajah dan topi. Suara mereka juga terdengar asing di telinga Devan. “Apakah kalian suruhan Pak Anjas?” Devan tetap bertanya dengan santai, tapi waspada. “Kamu tidak perlu tahu. Memangnya kamu tidak punya musuh lain?” Salah satu dari mereka menimpali. Devan tampak berpikir. “Saya tidak merasa punya musuh.” “Cih, jangan sok suci!” tukas salah satu dari komplotan berbaju hitam. “Mau kalian apa?” tanya Devan sambil mengambil ancang-ancang dan bersiap siaga menghadapi serangan lawan yang bisa datang kapan saja. “Mengirimmu ke neraka!” Dua orang memegang tangan Devan. Saat itu, Devan masih bisa mengandalkan kemapuan bela dirinya untuk lolos dari dua orang yang berusaha memegang tangannya. “Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Devan sambil tetap bersiaga untuk menyerang. Baru selesai Devan mengucapkan kalimat dari bibirnya, sebilah pisau tertancap di perutnya. Devan limbung dan terjatuh. Para penjahat itu pergi meninggalkannya dengan perut yang tengah berdarah. Ada bekas tusukan di perut sebelah kiri. Pandangan Devan mulai kabur. “Tolong.” Suara Devan lirih. “To ... tolong.” Devan masih berusaha untuk meminta pertolongan. Darah yang mengalir dari perut Devan tidak berhenti. Ia hanya bisa menekan laju aliran darah itu agar tidak semakin banyak. Namun, semakin Devan berusaha untuk bergerak, sakitnya semakin menjadi-jadi. Di gang sempit yang sepi itu, tidak ada satu pun orang yang terlihat sedang beraktivitas di sana. Devan telah pasrah dengan kondisinya saat ini. Ia terkulai dengan pandangan yang kian gelap. *** Beberapa menit yang lalu, Devan mendapat telepon dari rekan bisnisnya. “Halo, Pak Anjas. Selamat siang. Bagaimana proyek pembangungan apartemen kita, Pak?” Sang CEO tampan berusia 30 tahun sedang melakukan panggilan. “Oh, tenang saja, Pak. Soal itu akan saya urus. Selebihnya kita obrolkan saja secara langsung ya,” jawab Devan menanggapi obrolan di telepon. “Di mana, Pak? Saya belum pernah mendengar cafe itu.” Si tampan tampak mengernyitkan dahi. Pak Anjas tampaknya menginginkan pertemuan tertutup di sebuah cafe kecil atau tepatnya warkop (warung kopi). “Ya sudah, setelah ini kita bertemu di sana ya, Pak. Saya akan cari tempatnya. Baik, saya akan datang sendirian.” Komunikasi telah usai. Sang CEO sepertinya masih berpikir. Salah satu ciri khasnya saat berpikir adalah dengan meletakkan kedua jemarinya, yaitu jempol dan telunjuk, di bawah dagu membentuk simbol centang. CEO tampan itu adalah Devano Mahendra. Seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Ia membangun perusahannya sendiri hingga sukses. “Tumben Pak Anjas minta ketemuan di warkop!” ujarnya pada diri sendiri. “Tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Proyek bernilai milyaran rupiah haru jatuh ke tanganku.” Meski ragu, Devan tetap memenuhi permintaan Pak Anjas untuk bertemu di warkop. Letaknya di dalam gang sempit yang kumuh. Sebenarnya dia tidak yakin di dalam gang itu ada warkop. Namun, mau tidak mau, disusurinya jalan sempit itu. Devan berhasil mencarinya melalui google maps. Karena gang yang ia lalui sempit, Devan memarkir mobilnya di luar gang dan ia pun menelusuri gang kecil dan gelap itu dengan berjalan kaki. Devan mulai dilanda dengan perasaan yang tidak enak. Pasalnya, gang itu gelap, kumuh, dan sempit. Baru kali ini Devan mendapati seorang pengusaha besar yang mau bertemu di tempat yang kumuh seperti itu. Devan tetap berjalan menelusuri gang sambil sesekali memperhatikan google maps yang masih menyala untuk memandunya agar sampai di sebuah warkop. Tiba-tiba, langkah Devan terhenti. Ia seperti mendengar suara langkah kaki seseorang yang tengah mengikutinya. Ditolehnya ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Perasaan Devan semakin tidak enak. Betapa terkejutnya Devan saat ada seseorang memakai pakaian serba hitam dengan masker dan topi muncul dari balik bangunan. Devan kaget dan tercekat. Lalu, tragedi penusukan pun terjadi. *** “Huh sebal. Kenapa hampir setiap hari aku selalu pulang malam. Seolah semua pekerjaan dilimpahkan kepadaku,” gerutu wanita cantik yang sedari tadi berjibaku dengan angka-angka. Wanita itu adalah Cleo Andira Wilson. Orang-orang memanggilnya Cleo. Ia adalah seorang wanita cantik berusia 23 tahun. Biasanya, Cleo sangat bersemangat dengan pekerjaannya. Namun, malam ini ia sangat lelah. Pekerjaannya sangat menyita waktu. Selama hampir seminggu, Cleo selalu pulang malam. Padahal jam kerjanya hanya sampai sore. Namun, ia pun tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaannya terbengkalai. Ia tetap menyelesaikannya dengan sangat baik. “Ya ampun, aku baru ingat mobilku di bengkel. Tadi kan ke sini naik taksi online.” Mobil Cleo memang sedang bermasalah. Tadi pagi ia memesan taksi online untuk pergi bekerja. “Tampaknya malam ini cuaca menyenangkan untuk aku menikmati udara malam. Aku pesan ojek online saja kalau begitu.” Cleo memesan ojek online. Sudah lama ia tidak naik ojek. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang driver ojek online. “Bu Cleo ya?” Sapa driver ojek online. “Iya. Panggil mbak atau kakak aja, Pak. Saya masih muda,” jawab Cleo dengan sedikit kesal. Orang sering memanggilnya ibu lantaran pakaiannya yang selalu formal. Namun, ia sendiri tidak begitu suka dipanggil ibu karena belum menikah. “Oh iya maaf ya mbak.” Driver online itu tampak tersenyum melihat tingkah Cleo. Cleo pun memakai helm dan naik di atas motor tepat di belakang driver itu. “Ayo Pak, jalan! Jangan ngebut-ngebut ya, Pak. Saya takut dibonceng kalau ngebut.” “Siap, Mbak. Saya tidak ngebut kok kalau bawa motor. Diantar sesuai alamat di aplikasi kan, Mbak?” “Iya, Pak.” Driver ojek online itu pun melaju menuju apartemen Cleo. Malam itu, arus lalu lintas lancar. Cleo memandangi gedung-gedung dan udara malam. Sesekali ia melihat langit yang begitu cerah dengan bintang-bintang yang bertaburan. Hati Cleo yang semula tidak mood menjadi senang dan ceria kembali. Sudah lama ia tidak merasakan pengalaman seperti ini. Momen indah yang dirasakan Cleo tiba-tiba buyar seketika saat motor ojek online terhenti. “Wah, sepertinya motor saya mogok ini, Mbak.” “Hah? Yang benar, Pak? Kok bisa?” “Sebentar saya cek dulu ya, Mbak. Mohon mbaknya turun dulu.” Driver itu meminta Cleo dengan sopan. Cleo sedikit cemas, tapi apartemennya sudah tidak jauh dari situ. “Mbak, saya kurang tahu ini motor saya kenapa tiba-tiba mogok, tapi sepertinya saya tidak bisa mengantar Mbak sampai alamat tujuan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya, Mbak. Akhir-akhir ini memang motor saya bermasalah.” Driver itu memohon maaf dengan sangat hormat kepada Cleo. Cleo pun tidak sampai hati untuk marah atau protes kepada driver itu. “Baik Pak, kalau begitu tidak apa-apa. Apartemen saya juga sudah dekat. Ini buat Bapak ya.” Cleo menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan kepada driver itu. “Wah, Mbak. Ini terlalu banyak. Tarif ojeknya tidak sebanyak ini.” “Tidak apa-apa, Pak. Bapak sehat-sehat ya. Saya jalan kaki saja lewat gang tembusan situ.” “Itu gangnya sepi lo, Mbak. Bahaya kalau sendirian.” “Saya bisa karate, Pak. Tenang saja.” Cleo berkata sambil cekikikan. Tentu saja ia hanya bercanda. Ia tidak ingin driver itu merasa tidak enak padanya. “Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga Mbak juga sehat selalu dan selamat sampai tujuan.” “Aamiin. Saya duluan ya, Pak.” Cleo pamit kepada driver itu. “Hati-hati, Mbak.” Cleo berjalan menelusuri pinggir jalan raya. Ia sudah sangat lelah sebenarnya, tapi entah mengapa hatinya menjadi hangat karena ia bisa menikmati malam dengan berjalan kaki. Ini momen yang sangat langka. Ia pun merasa bahagia karena bisa membantu driver ojek online tadi. Cleo memilih jalan tembusan untuk bisa sampai di apartemennya. Ia memilih gang kecil. Ia sendiri sebenarnya agak takut untuk melewati gang itu karena penerangan yang minim dan kondisinya sangat sepi. Namun, ia juga ingin segera sampai di apartemennya tanpa ribet memesan ojek online lagi. Cleo pun jalan kaki menelusuri gang itu. Dari kejauhan, ia melihat sesuatu yang samar-samar. Seperti bayangan hitam sedang melintang di tengah gang. Cleo agak takut sekaligus penasaran. Ia berjalan lebih cepat, tapi tetap waspada. Setelah jaraknya lumayan dekat dengan objek hitam itu, Cleo baru bisa melihatnya dengan jelas. Seorang pria sedang terkapar penuh darah di perutnya. Cleo berteriak dan histeris. “Tolong .... tolong ...” Cleo berteriak dengan kencang tapi tidak ada orang di sekitar situ. Gang itu sempit, kumuh, dan sangat sepi. Cleo segera meraih ponselnya dan mencari nomor kontak salah satu rumah sakit terdekat. Ia segera memesan ambulans untuk pria itu. “Pak, Anda tidak apa-apa?” Cleo mencoba untuk mengguncang tubuh pria itu. Menepuk-nepuk pipinya agar tersadar. Darah tampak masih segar dan merembes dari pakaian pria itu. Cleo menutupnya dengan sapu tangan agar aliran darahnya bisa terhenti. Ia panik sambil menunggu ambulans datang. Devan membuka matanya. Ia sadar ada seseorang yang tengah menolongnya. Ketika ia membuka matanya, pandangan Devan masih kabur. Namun, ia sempat melihat gurat wajah cantik Cleo yang panik dan hampir menangis. Setelah itu, ia tidak sadarkan diri. “Pak, tolong bertahanlah. Sebentar lagi ambulans datang.” Cleo masing mengguncang tubuh pria yang baru ditemuinya itu. “Ambulans, please segera datang. Bisa-bisa nyawa orang ini tidak tertolong. Cleo meletakkan kepala Devan di pangkuannya. Tangannya masih tetap menahan sapu tangan di perut Devan. Beberapa saat kemudian, ambulans pun datang. Para tenaga medis segera membawa Devan ke rumah sakit terdekat di daerah itu. Cleo pun turut serta menemani Devan. Cleo takut terjadi apa-apa dengan pria itu. Ia juga takut nantinya akan berurusan dengan polisi. Ingin rasanya ia kabur saja saat melihat pria itu tadi. Namun, hati kecilnya berkata bahwa ia harus menolong orang malang itu. Sesampainya di rumah sakit, Devan segera dibawa ke IGD. Ia segera mendapatkan perawatan terhadap luka tusukannya. Pakaian Cleo berlumuran darah. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia sama sekali tidak mengenal pria itu. Beberapa menit kemudian, seorang dokter muncul dari ruang IGD. “Dokter, bagaimana keadaan orang itu?” “Tusukan pisaunya tidak terlalu dalam. Sekarang sedang dijahit. Mbak siapanya orang itu?” “Saya bukan siapa-siapanya, Dokter. Saya tadi lewat di gang itu dan pria itu sudah tergeletak berlumuran darah. Saya benar-benar tidak tahu siapa dia, Dokter.” Cleo menjelaskan dengan panik dan suara bergetar. “Anda yang tenang ya. Anda hubungi nomor ini! Ada nomor telepon kantor tempat dia bekerja.” Dokter menyerahkan kartu nama yang tersimpan di dompet Devan. Cleo menerima sebuah kartu nama dan melihat nomor yang tertera di sana. Cleo segera menghubungi nomor itu. Ketika telepon diangkat, Cleo langsung menyerocos. “Halo. Ini saya Cleo. Pegawai Anda yang bernama Devano Mahendra sedang berada di National Hospital. Segera ke sini ya. Nanti saya jelaskan lebih detail.” “Halo. Pak Devan kecelakaan?” Suara seorang perempuan merespon dengan pertanyaan. “Iya. Cepat ke sini.” “Baik, Bu.” Telepon terputus. “Apa yang terjadi dengan Pak Devan?” Seseorang berbadan kekar dan tinggi bertanya pada Cleo. Orang itu tiba-tiba muncul begitu saja. “Sa ... saya hanya membantu dia.” Cleo gemetar. “Apa yang terjadi pada bos kami?” bentak pria lain yang tidak kalah menyeramkannya. “Sumpah saya tidak tahu. Saya hanya menyelamatkan dia. Dia tergeletak dengan luka bekas tusukan.” Cleo mencoba menjelaskan sambil menahan tangis. Para pria bodyguard tengah mencercanya dengan pertanyaan. Ingin rasanya dia kabur dari orang-orang yang menyeramkan itu, tapi tidak bisa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook