BAB 17| BERKELAHI KARENA ALEX
"Bisa, asal lo ngasih kontak nya" pinta gadis itu kembali membuatku suntuk.
Aku mengeluarkan selembar kertas, kemudian menulis angka di sana.
Nomor paman Alex??
Ohh....tentu saja 'iya'
Setelah menulis angka-angka di sana, aku memberikannya kepada gadis yang 'katanya orang terpintar yang di akui di sekolah ini'
"Done. Gue pergi dulu! Yok, Dav! Tess!"
Aku melangkah santai keluar di ikuti oleh David dan Tessa dari belakang, tanpa menghiraukan seruan-seruan terimakasih dari pada gadis c***l itu.
Cabul...??!
Yeahh...meski kata c***l sering di gunakan ke pria, namun apa salah nya jika memberikan gelar itu juga ke cewe b******n yang pemaksa?
Namun, belum sempat kami pergi cukup jauh.
Ternyata gadis tadi sudah berlari dan mencegat kami duluan "heii....tung-tunggu!!!" pinta nya menetralkan nafas yang sudah menderu.
"Apa lagi? Masih ada permintaan? Maaf...gue lagi ga mood ladenin orang gadak guna"
Ketika ingin berjalan lebih lanjut, sebuah tamparan keras mendarat di wajahku, membuat ku terpaling seketika.
"Maaf??!"
Aku menatap nya pura-pura tidak tahu apa-apa "kenapa anda menampar saya?" ucap ku dengan menggunakan bahasa formal.
Seketika, gadis yang aku kenal akan ke humorisan nya dan juga kesombongan nya. Segera berubah bak serigala yang tengah berburu pada malam hari.
Dadanya naik turun, nafas nya semakin lama semakin cepat. Menandakan jika ia benar-benar marah besar. Namun karena apa, aku' pun tak tahu.
"Dasar gadis sampah! Beraninya menipuku, dan membuatku malu besar?!"
Teriaknya lagi-lagi mendaratkan tamparan di pipi ku.
Panas...
Sakit....
Namun semua itu bukan apa-apa bagi ku. Bahkan aku sudah pernah berhadapan dengan singa di hutan liar bersama paman Alex, dan terkena cakarannya.
Rasanya? Bahkan lebih sakit dari tamparan tak berguna ini.
Namun tetap saja membuat ku ingin marah.
Untung ini berada di koridor sekolah yang dekat dengan kaki lima. Ruang guru dan ruang kepala sekolah jauh dari sini.
Jadi tidak apa-apa bukan jika membalas balik perbuatannya?!.
"Hei jalang sialan! Lo gilak, ya? Ngapain datang ga jelas kemari dan malah mancing perkelahian, hah? Lo tahu siapa gue?!"
Tessa menatap netra hitam pekat itu sembari bertolak-pinggang.
"Seharusnya gue yang bilang! Lo tahu gue siapa?" gadis itu balas menatap tajam Tessa.
Dan langsung menoleh ke arah ku "Dan lo jalang! Lo masih pura-pura ga tahu kesalahan lo, hah? Yang buat harga diri gue jadi rendah seketika, huh?" gadis yang entahlah aku' pun tak tahu namanya, menunjuk kasar wajah ku menggunakan telunjuknya.
Aku terdiam. Dan mengingat kejadian tadi.
Flashback On
"Cepetin dah! Lo liatin apa sih di tuh, tas? Cepetin kasih nomor teleponnya"
"Bentar. Sabar dikit bisa, gak? Udah nya mintol masih banyak permintaan" dumel ku pura-pura sibuk di balis tas ku.
"Huh?! Di kelas ini banyak orang. Cepetin deh"
Aku yang tak tahan lagi, segera membuka ponsel ku. Mengingat nomor telepon seseorang dan segera menuliskannya di selembar kertas
Sebelumnya aku sudah menatap ke arah Morgan dan memberi sebuah isyarat lewat kedipan mata.
Pada saat itu Morgan mengangguk dan membawa ponselnya keluar.
Dan aku melakukannya saat gadis cerewet itu tengah menatap ke lain arah.
Saat Morgan masih di luar, aku segera memberikan surat itu ke pada gadis tak tahu diri dan mengajak kedua sahabatku pergi. Sekilas aku bisa melihat, saat kami sudah keluar, benar saja dugaan ku tadi!
Gadis cerewet itu segera menghubungi nomor telepon yang aku tuliskan tadi. Dan saat kami melewati taman, Morgan masuk ke kelas sambil menerima telepon.
Mungkin rencana ku tadi berhasil. Aku jamin seratus persen, telepon yang di terima Morgan berasal dari cewek cerewet. Karena itulah ia langsung masuk ke kelas.
Namun apa yang terjadi selanjutnya, aku' pun tak tahu
Flashback Off.
"Emangnya apa yang salah?"
Tanya ku masih setia mengikuti alur pembicaraan gadis itu.
"Apa yang salah? Apa lo sadar atau memang sengaja menipuku dengan memberi nomor telepon Morgan kepadaku dengan alibi jika itu adalah telepon gebetan gue? Dan gue udah di permalukan. Saat kontak tadi ngangkat telepon gue! Gue langsung ngenalin diri dan menyatakan kalo gue jatuh cinta sama dia. Namun siapa sangka, Morgan malah datang dengan sebuah suara yang di keraskan berasal dari ponselnya. Dan suara itu, suara gue. Gue udah di permalukan! Tau ga, anjing?"
Jelas nya cepat. Entah apa yang ia bicarakan, aku sungguh tidak mengerti apa maksudnya. Yang mampu aku katakan hanyalah 'jika rencana ku tadi berhasil' dan perkataanya adalah sebuah ke-ngawuran.
"Heh...lo bicara apa kumur-kumur?! Benar-benar bicara kayak bayi" Tessa mencebir.
"Konyol! Sekarang kasih penjelasan sama gue, kenapa lo lakuin kayak gitu sama gue?!"
"Ohww...??! Jadi lo mau gue ngasih penjelasan masalah yang tadi, ya"
Aku mendekat ke arah nya. Menatap sekilas ke arah papan nama, aku bisa melihat nama nya "Kayla, ya? Kenapa gue bisa lupa sama nama dan rupa lo, yahh?!" kekeh ku
"Kay, lo tahu ga? Kalo di atas langit masih ada langit?"
"Lo tuh cantik, kaya, pasti banyak yang suka sama lo, ya? Tapi...kenapa malah harus suka sama paman gue, hmm?? Apa lo suka cowo lajang yang udah tua?!"
"Hah?"
"Ga usah pura-pura bingung deh! Gue udah tahu gimana perawakan orang-orang kayak lo. Wajar deh, gue udah banyak ketemu sama orang kayak lo. Tapi bandelnya belum pernah selain lo"
"Lo bilangin apaan, sih?? Kalo bilangin sesuatu langsung ke intinya aja! Ga usah make cara-cara kayak gini...jijik tau, ga??" bentak nya menepis kasar tangan ku.
"Hahaha...fine...fine. Jadi, lo mau minta penjelasan sama gue masalah yang tadi' kan??"
"Okeyy....kita langsung ke inti aja. Soalnya gue bukan tipe orang yang suka bicara sama sampah yang bakal buang waktu gue berjam-jam, bahkan berhari-hari kalo ga di selesaiin dengan bijak" aku menatap nya sinis.
"Manusia sampah??! Hei...kali bicara ada batasnya juga, ya!" hardik nya menatap ku tajam.
Tatapan seperti itu, malah semakin menunjukkan bahwasanya dirinya hanyalah seorang pengecut jalanan.
Jangankan menghadapai matanya, mata singa nyata yang begitu seram bahkan sudah pernah aku lihat bahkan bersentuhan langsung tepat di hutan liar yang ada di Afrika saat melakukan pelatihan di hari pekan bersama paman Alex dan David.
"Tckk....jangan pura-pura bodoh! Jelas-jelas lo yang ngajak gue bicara, tapi masih nanya siapa yang gue maksud!"
Paaakkkkk.....
"Ini adalah alasan masalah tadi"
Paaakkkkkkkkkk.......
"Dan ini pembalasan yang ga setimpal sama tamparan kasar lo tadi"
"Siapa suruh lo maksa gue buat ngasih nomor telepon paman gue, hah? Bahkan udah nya minta tolong. Seharusnya tahu' kan posisi di mana?" aku memegang kerah baju nya.
"Kalo yang namanya udah minta tolong, artinya tangan harus di bawah bukan malah di atas"
"Lo tahu, ga? Meski cuman kontak telepon, bagi orang penting itu adalah hal berharga dan ga boleh asal di beberkan sama orang lain.
Kalo seseorang ga mau nuruti permintaan lo, seharusnya harus tahu' lah buat sujud di kaki.
Bersujud kaki belum tentu bisa meluluhkan hati seseorang. Apa lo tahu, bahkan sogokan uang berjumlah 1M$ belum tentu bisa menjamin sesuatu yang kita harapkan. Sujud kaki dan sogokan belum tentu bisa menjamin sesuatu, lahh?? Apalagi kalo meminta sesuatu dengan nada tinggi. Lo pikir orang bakal ngasih? Tentu saja ga mau, malah jadi menimbulkan rasa benci. Dan hanya orang bodoh yang mau ladenin orang kayak gitu"
"Okey?? Jadi mulai saat ini, menjauh dari kehidupan gue sama sahabat gue. Jangan pernah mengganggu kehidupan paman gue. Berhenti berlagak sok hebat di depan semua orang. Ingat, masih banyak orang hebat di luar sana yang bahkan lebih hebat dari lo"
"Okey.. deh!! Gue rasa cukup sampai ini ceramahan nya. Gue pergi dulu. Semoga lain kali terutama kali di kelas, kalo ketemu masih punya muka buat cari masalah ya"
"Bye...."