BAB 16| DANGER 2
"Siapa di sana??!" Miss Clara yang mendengar suara pintu di dobrak segera berjalan mendekat ke arah pintu.
Namun, sebelum wanita itu membuka pintunya. Aku lebih dulu mencegat kemudian menggeleng "jangan di buka dulu, Miss. Kita perlu hati-hati"
Miss Clara menatap ku bingung "jangan bertanya banyak, Miss. Atau kita akan mati di sini" aku berseru tegas.
Membuat seluruh kelas termasuk Morgan dan Miss Clara tercengang, menatap ku.
Aku segera membuka baju putih yang tadi aku kenakan. Mengambil pemukul kasti yang terletak di pojok, dan melompat langsung ke depan pintu.
Aku membuat isyarat lewat tangan dan kedipan mata ke arah David dan Tessa.
Keduanya mengangguk kemudian menyusul ku di belakang.
David segera mengambil posisi untuk membuka pintu, Tessa yang akan menjadi umpan, dan aku sudah berjaga-jaga untuk menyerang.
Karena aku sudah yakin jika yang mendobrak itu bukan lah orang biasa, paling remis dia adalah seorang buronan.
Saat aku sudah memberi kode sekali lagi, David segera membuka pintunya.
Begitu pintu terbuka, langsung terdengar suara tembakan
Dorrr.....
Dua orang berjubah hitam nan kotor, segera masuk tanpa melihat lingkungan.
Keduanya lebih dapat di golongkan kepada penjahat yang tertangkap basah, dan lari kocar-kacir seperti tikus yang di kejar oleh kucing di atas atap rumah.
"Hallo... benar!! Ini kelompok B dari markas Orukusa. Saat ini kami berada di sekolah Nusantara"
Ujarnya ketar-ketir lewat telepon genggam yang biasa di gunakan para anggota FBI untuk menyelidiki masalah, seperti Paman Jo yakni orang kepercayaan paman Hendon.
Tunggu dulu! Markas Orukusa? Sepertinya aku sedikit familiar dengan tempat itu. David dan Tessa menatapku dan aku mengangguk.
Perlahan namun pasti, aku mulai mendekat ke arah keduanya.
Sementara itu, Miss Clara dan yang lainnya sudah ketakutan.
Bagaimana tidak? Bagaimana tidak takut jika tiba-tiba berhadapan dengan musuh seorang buronan?
Saat aku melihat musuh lengah, aku muncul persis di hadapan nya "heh.... cepat katakan! Kalian siapa?" bentak ku, terkekeh sinis.
Keduanya yang tiba-tiba mendapati aku berdiri di hadapan masing-masing mungkin membuat mereka terkejut. Namun saat menyadari jika aku seorang anak sekolah, manusia itu bangkit dan menatap ku sinis.
"Tckk...ternyata masih ada seorang gadis cantik yang ingin membunuh kita, ya? Tidak cukup sampai di sini, bahkan tikus kecil masih ada di sini" decak keduanya.
"Aku ingin tenang kali ini. Dan bersiaplah menghadapi ajal mu"
Sebelum dia melakukan hal yang tidak-tidak, aku sigap meninju wajah nya membuat rok-ku tersingkap ke atas.
Namun, Tessa segera menurunkan nya kembali "trimakasih" aku tersenyum dan hanya di balas anggukan oleh Tessa.
Saat aku lanjut hendak menyerang, tanpa aku sadari, keduanya ternyata memiliki pistol masing-masing di saku celana nya
'Ternyata musuh punya senjata' batin ku yang artinya tidak boleh asal menyerang
Kini sama persis, saat mereka hendak menyerangku lagi, Tessa yang seakan tahu apa maksud ku berpura-pura pingsan tepat di hadapan kedua musuh. Sepertinya kedua musuh itu bukanlah penjahat senior, yang artinya masih banyak melakukan kelalaian serta kesalahan dalam menjalankan sebuah misi.
Menjadi umpan juga sebuah tugas yang berbahaya. Saat Tessa berhasil mengalihkan perhatian mereka. Aku dan David langsung menyerang kedua lelaki itu dari belakang dan mengambil pistol keduanya.
Menaruh mata pistol tepat ke leher nya, yang berupa tindakan mengancam "katakan! Kenapa kalian bisa menerobos masuk kemari?" bentak ku dingin
"Heh?! Tidak mau bicara ya? Sekarang nyawa kalian yang menjadi gantinya"
Ketika aku bersiap untuk meluncurkan peluru, suara familiar itu melarang ku keras agar tak melakukan tindakan membunuh lagi.
Cukup hanya saat kejadian malam itu saja aku pernah membunuh orang. Memang dari dulu baik itu paman Alex maupun Hendon melarang keras kami bertiga untuk membunuh.
Namun pada saat itu, itu memang bukan tujuan ku. Namun karena terpaksa, daripada nyawa sendiri yang hilang, bukan? Akhirnya aku membunuh dua penjahat itu.
"STOP IT! DO NOT DO IT AGAIN"
Aku menoleh. Begitu juga dengan David, Tessa, kedua penjahat, dan yang lainnya.
"Paman Alex? Paman Hendon?" kaget ku "kenapa kalian ada di sini?"
"Paman galak, kenapa kemari' sih?"
"Ayah?" seru David yang memanggil paman Hendon sebagai Ayah.
Sementara aku bisa mendengar gumam-an yang keluar dari mulut kedua penjahat itu "aku tak mengira ternyata ketiga anak ini punya hubungan dengan mereka"
Aku terkekeh sinis "artinya kalian di kejar sama lelaki itu, ya?! Haha... ternyata tebakan ku tak salah lagi. Kalian benar-benar orang buronan"
Aku menarik kerah keduanya dan membawa mereka tepat ke hadapan kedua paman ku yang di kawal oleh paman Jo dan para bodyguard .
"Sipp!! Aku sudah menuruti nasehat kalian waktu itu, paman. Dan ini kedua bajin*an yang sudah berani membuat onar"
Seruku seraya melepaskan tangan dari tubuh kotor itu dan berdiri di depan David serta Tessa.
Paman Hendon menatapku dan juga David serta Tessa "ikuti aku. Kedua penjahat ini akan di tangani oleh Alex dan bodyguard ku"
Lelaki itu segera beranjak pergi. Aku, David, dan juga Tessa menatap ke arah Miss Clara "kami pamit sebentar Miss"
Setelah mendapat izin, kami bertiga segera pergi meninggalkan ruang lab. Menyisakan teman sekelas yang termangu serta kaget begitu juga dengan Miss Clara. Serta menyisakan penjahat yang sudah di tangkap oleh para bodyguard yang di pandu oleh paman Alex.
Mumpung paman Hendon belum jauh, membuat kami lebih mudah untuk mencari dan mengikuti kemana pria itu pergi.
"Hurry up guys" aku menggenggam kedua tangan sahabat ku itu dan menuntun mereka berlari.
"Benar Ran!! Perut gue jadi kram kalo gitu. Gue lagi haid tahu" bisik Tessa namun aku pura-pura mengabaikannya.
Genggaman tangan kami terlepas, karena Tessa yang sudah kesal berusaha mengejarku yang berada di depan. Sementara David hanya menggeleng kepala.
"Hahaha"
Tawa dan candaan akhirnya bisa di puaskan dengan cara seperti ini. Dan kami bertiga saling mengejar, menuju paman Hendon yang sudah duduk tentram di bangku taman menyaksikan gerak-gerik kami.
Meski pada akhirnya David-lah juara pertama, yang bisa lebih dulu sampai di depan paman Hendon. Namun meski begitu, kami tetap merasa kebahagiaan yang tiada tara.
Sahabat sejati bisa melebihi keluarga sendiri jika sesama kita sudah mempercayai satu sama lain, dan tak pernah berpikiran negatif lagi.
Dan keluarga yang paling aku akui adalah keluarga persahabatan.
****
"Aku bangga dengan kerja sama kalian dalam menjalankan sebuah misi"
Lengang!
Dari tadi, kami hanya menyimak dan menjadi pendengar setia dari setiap ceramahan lelaki itu.
Dan disinilah kami. Di sebuah taman, yang berada di sekolah Nusantara.
Aku duduk di sebelah Tessa dan David, sementara lelaki yang tak lain dari Paman Hendon duduk di kursi yang berada di depan kami.
Di depan?? Yahh.. lelaki itu sengaja memilih bangku yang berpasangan, agar muat untuk menampung b****g kami masing-masing. Meski kami bertiga harus saling desak-desakan, tapi itu bukan masalah.Lagian ini bukan hanya terjadi sekali dua kali, namun sudah pernah terjadi beberapa kali.
Dan kami hanya fokus mendengarkan ceramahan paman Hendon tanpa menghiraukan sekeliling yang mulai di datangi beberapa murid.
"Namun lain kali aku harus menegaskan lagi! Terutama kepada Ran. Kamu tidak boleh melakukan perbuatan membunuh lagi. Sekalipun itu penjahat. Kau harus te-"
"Kau harus bisa menyesuaikan lingkungan, Ran. Jika masalah itu masih bisa di tangani dengan ringan dan hanya permasalahan sepele saja, tidak perlu membunuh. Namun jika sudah terpaksa dan nyawa mu yang menjadi sanderanya, paman mendukung mu untuk melakukannya. Karena penjahat di haruskan mati, dan nyawa seorang K-satria yang berusaha mendamaikan kehidupan rakyat harus di hargai dan tidak boleh mati dengan sia-sia"
"Berani mempertaruhkan nyawa untuk menyerang, bukan berarti nyawa kita hilang secara gratis. Selama kita bisa melawan penjahat nya dan menyelamatkan nyawa, lebih baik lakukanlah. Tapi jangan pernah menjadi pecundang yang malah lari di kejar oleh penjahat"
Potong seseorang dan muncul tepat di hadapan kami. Apakah itu paman Alex?
Tidak! Suara ini lebih janggal berbahasa Indonesia. Dan ini bukan suara paman Alex.
Orang ini?? Sepertinya aku kenal dengan nya...
Tapi, siapa...!!??!
Sementara Tessa sudah lebih dulu tertawa terbahak-bahak. Dan David hanya tersenyum kepada pria itu.
Tunggu! Apakah hanya aku yang tidak ingat dengan pria ini? Tessa dan David sepertinya mengenalinya dari ekspresi mereka. Begitu juga dengan paman Hendon, yang juga tersenyum kepada pria itu.
Orang itu tertawa nyaring, seakan tahu maksudku "sudah lupa, padahal masih sebulan lalu kita bertemu"
Saat ia hendak berbicara, aku tersentak kaget "bukankah kau adalah adik paman Alex? Gray?"
Aku bangkit dan memeluk pria itu.
Gray seorang yang humoris, punya sifat usil, dan merupakan adik dari Paman Alex. Gray sepantaran dengan ku, memiliki umur yang sama, memiliki tampang tampan yang sebanding dengan David, namun tak tertarik tentang pacaran meski banyak gadis-gadis yang mengantri di Villa miliknya.
Wajah para gadis itu bisa di kategorikan ke tingkat 'Cukup Cantik' . Mungkin masih memiliki banyak kelebihan lagi dari aku.
"Rindu' kah?"
Aku melepaskan pelukan ku dan tertawa terpingkal-pingkal seperti Tessa "hahaha...... hahahaha......haha"
Tessa sama hal nya dengan ku. Gadis itu juga ikut tertawa, n'tah apa yang ia tertawakan. Mungkin alasannya juga sama dengan ku.
"A-aku tak menyangka jika orang genius seperti mu masih janggal dalam berbahasa" aku tergelak, memegangi perutku yang mulai sakit saking kerasnya tertawa.
Tessa juga mengangguk "suaranya kayak suara anak ayam, atau monyet"
"Jangan kelebihan, deh!! Gue baru datang kemarin. Dan belajar bahasa Indonesia seminggu lalu sebelum datang kemari. Bukankah itu hebat, hmm??!" decak nya menyombongkan diri.
Paman Hendon melihat arloji emasnya yang berharga kisaran 10jt$ buatan California, kemudian bangkit "paman pergi dulu ya, Ran, Tessa, David, Gray. Jangan hanya mengejek Gray saja, pergunakanlah waktu ke hal yang berguna"
Lelaki itu segera pergi, selepas sebelum ia pergi ia mendekap David putra angkatnya itu
"Baik paman"
"Baik Ayah"
"Sipp....paman"
"Aku masih baru datang, dan sudah di tinggal begitu' saja. Huh?!
"Hei bocah! Apa kali-?!!"
"Kalian mau kemana, hah?" Gray berteriak ketika melihat kami diam-diam pergi. Yeahh...kami sengaja mengusili nya.
"Mau kemana? Yahh...mau lanjut belajarlah. Lo pikir ini udah jam free, ya?? Dasar bodoh" dumel Tessa sengaja menguatkan suaranya dan menjulurkan lidahnya, mengejek Gray yang sudah terbakar api emosi dan kesal.
"Ahh....dasar Tessa sialan" umpat Gray, mengusap wajah nya.
Sementara aku hanya mampu menahan tawa. Karena tak sanggup lagi untuk tertawa, akibat perut yang sudah mulai kram
****
KELAS SAAT JAM KOSONG
"Ran!! Gue ga salah liat tadi' kan??".
"Beneran pria tampan tadi paman lo?"
"Pria tampan tadi bukan gebetan lo' kan?"
"Pesan satu dong kalo masih jomblo"
Begitu Miss Clara pergi, murid-murid yang menyaksikan adegan kedatangan kedua paman ku tadi, segera berkerumun di meja dan kursi ku yang sedang aku duduki bersama David dan Tessa mengerjakan tugas dan belajar.
"Ahh...reseh banget!! Kepo, ya?? Yahh...tanya aja sama orang nya,sana!!" Tessa menepis salah atau tangan cewe yang hampir menyentuhku, yang membuat Tessa terhalang menulis.
"Siapa lo?! Gue ga nanya sama lo, kali? Jangan perasaan deh. Sok narsis deh" ketus cewe tadi.
"Diam emangnya, napa? Sebegitu pentingnya' kah paman ku itu membuat seluruh gadis kelas ini menjadi begitu kepo, ya?" aku bangkit membuat semuanya mulai tenang.
"Yoooo"
"Bagi nomornya dong"
"Nomor siapa?" tanya ku pura-pura tak tahu
"Cowo yang mandu para bodyguard buat nangkap penjahatnya tadi"
'Paman Alex, ya?' batin ku.
"Gue ga punya nomor nya" elak ku
"Lo ponakannya' kan? Tentu saja punya kontak satu sama lain"
"Trus?" aku mengangkat sebelah alis ku, dan bertanya dingin.
"Yahh...bagi dong nomornya" pinta nya.
Aku hanya diam. Apa berhadapan dengan cewe narsis memang seperti ini? Serasa waktu di Paris, lebih tepatnya teman cewe sekelas ku.
Meski pertama kali terpesona dengan ketampanan dan kegagahan paman Alex dan Hendon, mereka tak seheboh orang-orang di sini.
Asli sekarang ini, andai David tidak ada, mungkin bisa-bisa telinga ku buta dan aku akan meluapkan amarah ku.
Itupun David tak berhasil mendiamkan semuanya. Malah membuat yang lain nya semakin salah paham. Dan topik ini? Kenapa malah lari jalur?!
"Diamm!!"
"Apa kalian diajarkan sopan-santun di rumah? Jika orang lain tidak mau, kenapa malah maksa kehendak sendiri?"
"Gue ga mau banyak-banyak bicara ya. Sekarang bubar, atau nanti kalian ga bisa lagi duduk di kursi ini" ancam David.
"Halahhh!! Omong kosong, doang! Emang nya lo siapa, hah? Ga duduk di bangku kelas ini? Emang nya salah kalo ngejar gebetan?"
"Lo tahu kalo pemilik sekolah ini siapa gue?"
"Mentang-mentang orang bule, orang Paris. Lo jadi berkuasa di sini, hah?"
"Ehh ..jangan lupa! Kalian itu mah cuman penduduk baru di sini. Kite-kite senior, dan kalian junior. Jadi harus sopan dikit. Tau, ga?"
"Apa pun yang kami minta harus di turuti dong!"
"Juara pertama di sini gue. Dan Tessa malah sok-sok-an bilang pernah ikut olimpiade Kimia tingkat Internasional bahkan dapat juara. Bualan macam apa, huh? Gue aja juara pertama, orang yang paling di akui kepintarannya di sekolah ini belum pernah bisa juara tingkat Nasional"
Aku yang tidak tahan lagi langsung bangkit "D..I..A..M...!! BISA GA?"