BAB 15| CEMBURU 2
“David?” seru ku menoleh
“Heh…Dav! Jangan ganggu suasana dong! Gue lagi ngambek, tau ga?” ketus Tessa.
David hanya mengangkat bahu, pura-pura tak peduli “hmm?? Emang nya urusan gue ya, bund??”
Wajah Tessa merah padam. Dia berusaha mengendalikan amarahnya dan kekesalan nya kepada David.
“Dav! Bukan nya kalian sahabatan? Kenapa jahat sama sahabat sendiri, sih?? Tessa tukang ngambek artinya ga boleh di ganggu asal-asal” seru seorang gadis yang tak lain dari teman sekelas kami yang tiba-tiba saja nongol seperti Jin.
David hanya diam membungkam, tak minat menjawab. Sementara itu, gadis tadi yang sudah di abaikan oleh David juga merasa kesal. Dan dengan langkah panjang, ia segera berlari menjauh dari lingkaran kami bertiga.
“Jangan terlalu sering mengabaikan orang, Dav” ujar ku menegur “semisal kalo lo juga di abaikan gitu sama orang lain, otomatis lo juga kesal’ kan? Bukan hanya itu, kalo lo di abaikan di tempat umum. Harga diri lo yang jadi taruhannya” nasehat ku mengingatkan.
Lelaki itu diam sejenak, sepertinya sedang merenungi apa yang aku katakan barusan. Menarik nafas panjang, kemudian menghela nya dengan berat.
Sedetik berlalu, ia menatap ku dan mengangguk “bakal gue usahaian. Makasih udah ngingetin, Ran” ujarnya
Aku mengangguk kemudian menggaruk kepala yang tidak gatal “haha…ga usah gitu Dav! Kita sahabat dan udah seharusnya saling ngingetin” entah kenapa, aku malah menjadi salah tingkah.
Dan salah tingkah itu segera di buyarkan oleh deheman Tessa “hmm….oho…oho…hrmm…??! Kayaknya gue salah tempat kali??”
“Rann…!”
“David….!!”
“Kalian dimana, sih?? Kayak nya gue udah salah tempat dan tersesat di sini, ya..?!”
Teriak gadis itu. Lelucon macam apa ini? Jelas-jelas manusia usil itu, lagi-lagi sedang mengejek dan mengerjai ku dan David.
Aku menyikut perut Tessa menggunakan lengan ku “reseh banget, Tess?? Diam dikit, napa?”
“Hah?? Ran?? David?? Gue ga lagi salah liat’ kan?? Jadi orang yang di depan gue tadi, kalian dua ya?? Wahh…wahhh…kabar baik, apa nih??” lagi-lagi Tessa pura-pura tidak tahu.
“Tessa!!” aku mencubit pelan lengan nya saking kesal.
“Ya, honey?? What’s wrong?”
“Ahh…buset! Lo makin ke sini, makin banyak tingkah, ya?? perlu gue kasih pelajaran deh’ aku menggertak gigi.
“Salah, ya?? Setau aku sih…kagak dong! Jelas-jelas gue jadi nyamuk tadi. Semoga langg-..”
“Tessa! Diam! Jangan terlalu reseh jadi orang” bentak David tegas.
Tessa bukannya menciut atau diam layaknya orang yang sedang di marahi. Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak “membantahh…artinya, apa yang gue omongin tadi bener’ kan?? Congrats….congrats…”
Dan yang tanpa kami sadari, seseorang dari seberang sana sudah terbakar api cemburu. Dan seseorang itu tengah menahan amarah dengan mengepalkan tangan nya dan menggertakkan gigi, guna menahan amarah.
****
“Perhatian semuanya”
Saat jam pelajaran, seruan dari Miss Clara membuat kami semua mendongak.
Wanita itu nampak tengah memegang sebuah tablet dan membawa beberapa botol campuran reaksi kimia yang sering di gunakan untuk uji coba di labolatorium.
“Semua keluar. Ikuti ibu ke ruang lab. Ahh…benar! Jangan lupa mengambil perlengkapan kalian di ruang peralatan” titah nya dan mulai berjalan keluar.
“Baik bu”
“Baikk,…Miss cantik”
“Baik Miss Cla”
Saat aku dan David sedang membereskan buku-buku pelajaran, Tessa segera datang bersama Morgan “Heiii…cepetin dahh!!! Gue ga sabar buat praktek”
“Se-semangat itukah?” David bertanya.
“Tentu! Aku suka mata pelajaran Kimia terutama materi tentang proses campur-mencampur. Dan saat di Paris, aku murid terpintar di kelas dalam bidang ini. Bukan’ kah begitu?? Hmm??? Ayo…dong!! Puji gue, biar si g****k ini tahu aku juga pintar”
Pinta Tessa seraya menunjuk wajah Morgan menggunakan telunjuknya. Namun segera ku tepis “ga sopan! Tau, ga?”
“Aku bakal sopan, kalo udah di puji” lagi-lagi Tessa mengembangkan senyum sumringah.
Yeahh…meski Tessa terkenal jahil, usil, dan salah satu murid pembuat onar selama di Paris bahkan di sini. Namun ia juga memiliki kelebihan.
Waktu di Paris ia sudah di kenal sebagai salah satu murid terpintar di bidang Kimia dan sudah meraih banyak medali emas, piagam pernghargaan, bahkan sudah pernah berfoto bareng Prince William saat bertanding di Inggris, lebih tepatnya di Britania.
Saat itu, Tessa-lah yang menjadi utusan olimpiade dalam bidang Kimia tingkat Internasional. David yang menjadi utusan olimpiade bidang Fisika, dan aku dalam bidang Matematika, dan bidang acting.
Dan semuanya mendapat hasil yang memuaskan. Namun sayang nya, sikap keusilan Tessa tak pernah bisa hilang.
Semenjak itu, setiap ada pertandingan tingkat Nasional maupun Internasional, aku, David, dan Tessa-lah yang selalu menjadi peserta utusan. Harapan yang besar baik dari para guru, teman, sekolah, orangtua, keluarga, dan yang lain nya juga mendorong kami agar lebih giat untuk belajar.
Karena itulah mungkin kami tak terlalu mementingkan masalah pacaran.
Meski sebuah rasa suka muncul di antara sesama, kami memilih untuk menanam nya dalam-dalam. Karena menurut prinsip kami, suka boleh. Namun jangan terlalu gegabah untuk pacaran di masa dini yang bisa merusak masa depan. Tiba saatnya telah sukses, rasa suka itu dapat di ungkapkan.
Dan jika pacaran saat telah sukses, itu lebih baik. Karena sudah bebas, dalam artian. Jika ingin makan malam di restoran, liburan, bisa menggunakan uang sendiri tanpa perlu membebani orangtua lagi.
Dan kalimat itu dulu berasal dari paman Alex, dan berhasil kami cam’ kan.
Pacaran setelah dewasa dan telah berkarier, itu jauh lebih baik. Dan meski aku mememiliki rasa tersendiri kepada David—sahabatku itu. Aku berusaha untuk tetap menganggap nya sahabat, meski Tessa dengan usil sering menjahili kami berdua.
Bagaimana dengan Tessa dan David?
Tessa meski usil, kurasa dialah yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain selain kami berdua. Meski sering menjodohkan aku dan David, namun, ia tak pernah berpikir untuk pacaran.
Dan David?? Bagaimana dengan sosok lelaki itu? Sama halnya dengan ku, dia juga tak pernah mengatakan apa-apa mengenai perasaan.
Dan motto kami adalah ‘Jomblo Lebih Bagus’. Karena apa? Orang jomblo tentunya memiliki kehidupan yang lebih leluasa dari orang berpacaran yang masih harus memikirkan perasaan ini dan itu.
****
“Fine….!! Sekarang, Miss bakal tanya. Siapa yang udah pernah ngikutin olimpiade tingkat nasional ataupun internasional Kimia yang melibatkan praktek reaksi kimia yang menghasilkan gas?”tanya wanita itu dari arah depan yang sudah mengenakan masker, dan juga baju berwarna putih bak seorang dokter.
Mendengar tuturan sang guru, Tessa dengan antusias mengangkat tangan “saya Miss cantik” seru nya.
Miss Clara menatap ke arah ku, Tessa, dan juga David “bukankah kalian bertiga adalah murid pindahan dari Paris, kala itu?” tanya nya.
Kami bertiga mengangguk “benar Miss”
“Nama kamu siapa, nak?” tanya nya kepada Tessa.
“Tessa Miss” jawab nya
“Tessa maju dulu” pinta nya, dan Tessa hanya mengangguk patuh.
Sesampai di dekat Miss Clara, gadis itu segera di suguhi banyak pertanyaan yang tentunya berasal dari wanita itu.
“Tessa udah pernah ngikutin olimpiade Kimia tingkat apa?”
“Tingkat Nasional sama Internasional, Miss”
“Tapi ga dapat juara’ kan?” ledek siswa lainnya.
“Diam!” bentak wanita tadi.
“Okeyy..sebelum Tessa lanjutin nya. Miss juga mau tanya, siapa yang udah pernah ikut olimpiade tingkat nasional ataupun internasional terserah mata pelajaran apapun” serunya dari depan.
Kemudian, aku, David, dan salah satu siswa lainnya yang tak lain dari Morgan mulai maju ke depan dengan berjalan beriringan.
“Woahhh….si cantik maju juga” sorak lelaki lain nya menatap ku kagum. Namun entah kenapa, tatapan nya membuat ku sedikit merasa jijik.
Sampai di depan, aku segera memilih berdiri di dekat Tessa. Sementara David dan Morgan berdiri berdampingan dan menatap satu sama lain dengan tatapan membunuh. Yang kadang akan membuatku bergidik ngeri sendiri.
"Okey...sekarang! Lanjutkan perkataan kamu tadi, Tessa"
Saat Tessa hendak berbicara kembali, seseorang malah datang mendobrak pintu.
Dan... orang itu adalah??!