WAKTU DAN UANG

2063 Kata
BAB 14| WAKTU DAN UANG RAN POV “Hufttt…capek banget, sih?” keluh ku merebahkan tubuh di kasur. Setelah makan, kami memutuskan untuk segera pulang. Tugas menumpuk dan aku harus menyelesaikan nya segera agar sempat untuk belajar. Membahas Makalah di mata pelajaran matematika dan masih banyak lagi. Meskipun aku pindahan dari Paris dan merupakan salah satu murid pintar, tapi, aku tak se-genius para ilmuwan. Dalam arti lain, aku masih butuh belajar lebih banyak lagi. Tidak peduli itu di Negara Eropa maupun Asia, jika kualitas seseorang itu memang sudah dijamin sempurna kemanapun dia akan tetap menjadi seorang yang unggul. Bagaikan emas jika berada di tempat berlumpur, jika emasnya asli tidak akan ada alasan berubah menjadi baja ataupunn aluminium. Jika emasnya di ambil kembali, ia masih tetap emas. Sesuai kualitas benda tersebut, seperti itu juga yang kita jalani di kehidupan nyata. **** AUTHOR POV Setelah mendengar kabar Frengky di bunuh seseorang dari anak buahnya, Erickh yang masih berada di Rusia kala itu segera kembali ke Indo. Marah? Tentu saja ia marah. Di tambah saat tengah menuju kediaman Helios ia malah di pertemukan dengan seseorang yang tak lain dari putrinya. Membuatnya tak bisa segera berangkat menuju tujuan utamanya, apalagi saat Alex mengintrogasi nya membuatnya sangat sebal. Dan di sinilah ia sekarang. Ia mengusahakan waktu agar bisa menyelasaikan masalah kematian Frengky tanpa di ketahui oleh bos besar-nya—Patrick. **** Prokkk…..prokk….prokkk… “Bagus! Apa sekarang kau sudah puas dengan membunuh, nya??” Helios tersentak kaget mendengar penuturan seseorang yang lebih tepatnya sedang mengejek nya. Di tolehnya ke sumber suara dan menggertak’ kan gigi “apa mau-mu, hah?” bentak nya. “Aku bertanya! Apa dengan membunuh Frengky, kau sudah puas??” pria yang baru datang itu menatap tajam Helios. Pria itu?? Siapa lagi jika bukan Erickh—si setan berkepala dua? Helios terkekeh-kekeh dan menampilkan senyum devil-nya “Puas! Tapi, aku belum senang sebelum aku bisa membunuh mu” “Membunuh? Apa kau sanggup? Tckk…dasar pengecut kelas rendahan” ejek Erickh berdecak. “Pergilah sebelum aku membuat hal-hal yang melanggar hukum” “Melanggar hukum? Apa kau tidak sadar jika dengan membunuh seseorang, itu sudah melanggar hukum? Bahkan melanggar agama” “Diam! Manusia sampah seperti mu tak perlu menceramahi ku. Kau bahkan lebih banyak melanggar hukum. Ibaratkan masalah hancur-menghancur, aku masih membuat kerusuhan di bumi tapi kau sudah menghancurkan semua muka bumi! Jangan berlagak seperti orang bodoh, kau pasti tahu artinya” Helios menatap dingin Erickh. “Aku akan pergi setelah kau mejawab alasan membunuh Frengky” Helios berdecak kesal “Apa kau Hakim atau Jaksa? Memang nya hak mu, apa? Kenapa aku harus memberitahu kepada manusia sampah mengenai masalah ku?” Perkataan Helios barusan benar-benar membuat emosi Erickh mendidih sampai ke ubun-ubun “tentu saja aku ber-hak! Karena akulah ketuanya” “Nyawa di bayar dengan nyawa, dan kau-lah yang menjadi taruhan-nya” Erickh merogoh saku laras panjang nya yang berwarna hitam. Lebih tepatnya, pakaian yang ia kenakan serba hitam khas jubah para mafia. “Kau akan mati sekarang ju-“ jika yang tadinya Erickh berdiri gagah dengan pistol di tangan nya, kini tidak lagi. Lelaki itu sudah terkapar di lantai Apartemen Helios yang kedap suara dengan lengan penuh darah segar. Mengalir terus bak air sungai, membuat pria itu mulai melemah. Sementara itu, Helios berdiri tegap dengan memegang pistol yang terkenal lebih berbahaya dari yang di kenakan oleh Erickh “cihh…beginilah yang terjadi jika menantang ku! Aku sudah pernah bilang bukan? Berhenti menguntit kemana aku pergi dan berhenti untuk menggangu hidupku kepada kalian semua. Karena ‘Helios Yang Dulu, Bukan Helios Yang Sekarang Lagi’!” “Tapi tenaglah! Demi menghargai sikap mu yang juga mementingkan anak buahmu, aku akan mengantar kau kembali ke rumah mu. Aku ingin lihat, apa reaksi orang yang ada di rumah mu. Apa kau pikir, selama ini aku juga berhenti mencari info tentang diri mu??” “Tapi sudahlah! Aku juga berterima kasih karena kau datang mengunjungi ku kemari. Membuat aksi yang sudah lama ku tahan, akhirnya ku lakukan juga” “Apa kau pikir aku tak sanggup membunuh mu? Ohh..tentu saja aku sanggup! Tapi, aku harus melihat orang-orang di sekitarmu menderita terlebih dahulu” “Cukup sampai di sini. Aku akan mengantar mu pulang ke kediaman Neraka” **** RAN POV Mendengar derup dan suara klekson mobil yang berhenti di depan rumah, aku yang tadinya tengah belajar. Menyempatkan waktu untuk membuka pintu untuk melihat siapa yang datang tengah malam begini. Meski kesal karena di ganggu saat belajar, tapi aku harus membuang jauh-jauh ego itu. Saat membuka pintu rumah, siapa sangka yang aku dapati malah sesosok lelaki familiar yang tengah terbaring di tangga masuk dengan sebuah kertas berisi tulisan yang berada tepat di dekatnya? Lelaki familiar? Kertas berisi tulisan? Yeahh…aku tentu saja memilih untuk melihat kertas itu dulu. Kenapa bukan lelaki itu? Yang pastinya hanya satu! Karena aku sudah jengah menghadapi sikap nya. Erickh itu jarang sekali pulang ke rumah dengan kondisi normal. Melainkan, tiap kali ayah ku itu pulang ke rumah kondisi-nya selalu memuakkan. Memuakkan karena mabuk dan aroma menyengat seperti aroma minuman keras. Jika dia adalah orang lain, aku akan menyebutnya sebagai orang gila. Tapi sudahlah! Aku juga lelah jika terus komat-kamit. Memang butuh kesabaran yang besar untuk hidup di tengah-tengah keluarga Sera. “Ayah! Apa ayah minum, tadi?” aku berusaha memapah tubuh berat itu. Namun hanya gumaman yang terdengar “hmm??” Dengan mengarahkan semua tenaga, aku mulai memapah nya menaiki tangga rumah menuju kamarnya yang berada di lantai pertama, lebih tepatnya di samping kamar bunda. “Hosshhh…berat banget, sih??” keluh ku. Saat sudah tiba di depan pintu kamarnya, aku mendorong keras pintu itu dan merebahkan tubuh lelaki itu ke atas ranjang dengan keras. Membuka sepatu dan kaos kaki yang bau itu bercampur dengan beragam bau alkohol dan rokok. Aku segera keluar dari sana. Berlari menuju kamar, sekarang aku ingin menghidup udara segar. Sesampai di kamar, aku mematikan lampu belajar dan membereskan semua buku-buku. Mengambil topi musim salju dan long coat berwarna silver, aku segera turun ke bawah. Mengunci pintu kemudian mulai berjalan di antara trotoar jalanan. Masih banyak toko yang buka dan terkadang aku hanya membalas dengan senyuman atau anggukan saat di sapa. Saat melewati sebuah toko yang nampaknya hanya menjual makanan dan minuman, aku segera mampir ke sana. Membeli beberapa makanan serta minuman yang sering aku komsumsi saat di Paris, aku mulai membayarnya. Ahh…benar! Jangan lupakan jika aku juga membeli Yogurt. Makanan yang rada-rada asam yang proses pembuatan nya hampir sama dengan Yakult. Dimana makanan ini di buat melalui proses fermentasi bakteri salah satu makanan faforitku. Usai membayar nya, aku bergegas untuk kembali ke rumah sebelum ayah bangun. **** PERUSAHAAN H.L PADA PUKUL 05.00 A.M SUBUH “Jo! Bagaimana dengan penyelidikan akhir-akhir ini? Apakah ada kemajuan lagi setelah pelaporan mu kala waktu?” Tanya Hendon sembari meminum Americano dan berdiri di dekat meja nya. Lelaki itu nampak tengah menatap bangunan-bangunan dari ruangan kaca khusus miliknya. Jo menggeleng ragu. Ia sudah lemah setelah menyelidiki masalah ini selama beberapa hari. Bahkan waktu tidurnya hanya satu sampai dua jam sehari tanpa ada istirahat malam hari. Matanya sudah berkantung laksana mata panda. “Hasil penyelidikan masih sama seperti kala waktu, tuan besar” jawab Jo dengan suara serak Hendon spontan menoleh ke arah Jo. Ada gurat kekhawatiran yang nampak di wajahnya saat melihat fisik Jo yang sudah seperti kurang sehat. Lelaki itu mendekat ke arah Jo “sudahlah! Besok masih bisa di lanjut. Kau bisa beristirahat besok full time, tapi jangan lupa, besok malam kau harus segera datang. Trimakasih karena sudah bekerja keras untuk ku Jo, aku akan membayar gaji-mu sepuluh kali lipat dari biasanya” “Aku tahu kau lelah dan misi ini juga penting. Tapi aku tak mau kau menjadi sakit nantinya” sambung nya menepuk pundak Jo pelan. Senang? Ohh…, tentu saja! Begitu mendengar penuturan dari Hendon, Jo yang tadinya menunduk saking kantuknya, spontan menengadah. Menatap Hendon dengan mata cerah “benarkah?? Thank you very much, tuan besar” Entah dorongan dari mana, tanpa sungkan, Jo memeluk erat Hendon saking senang nya “memang tak salah, aku memilih mu sebagai tuan besar ku. Tuan sungguh perhatian. Trimakasih….trimakasih..trimakasih banyak, tuan besar” Kali ini, Jo sudah seperti seseorang yang di berikan uang 100M$. Padahal hanya di berikan waktu istirahta bukan? Tapi begitulah. Terkadang waktu istirahat kita lebih penting dari apapun. Karena tanpa istirahat, meski memiliki banyak harta kita bisa di serang penyakit mematikan. Yang intinya, kesehatan lebih penting dari uang. Jika kita sehat, tentu masih bisa mencari duit yang banyak, right? Namun, jika kita sakit bahkan hanya sanggup berbaring di tempat tidur, uang kita bisa habis kapan saja dan akhirnya kita hanya bisa melarat. Hendon tersenyum “Sudahlah! Cepatlah pulang, kau butuh waktu istirahat yang banyak” titah lelaki itu, dan Jo mengangguk patuh. **** Kediaman Sera “Ahhh….sakit sekali??” ringis Erickh berseru tertahan. Ia bangkit perlahan. Menahan rasa sakit yang menyerang nya begitu bangun “dasar b******n sialan!” umpat Erickh menatap lengan nya yang di balut oleh per-ban. “Tapi aku harus berterimakasi juga. Kemarin dia mengganti jubah hitam ku dengan pakaian jelek ini, dan segera membalut luka ku. Setidaknya, itu bisa mengurangi rasa curiga Ran” gumam nya kemudian. “Ayah! Mari sarapan..!!” seru ku saat sudah mendengar sebuah suara dari arah kamar ayah. “Hmm?? Sebentar” jawab nya kemudian. Aku yang sudah siap berpakaian dan tinggal sarapan, segera duduk di salah satu kursi makan usai memasak roti bakar, roti sayur, dan dua buah telor mata sapi lengkap dengan salad buah, air putih, dan teh s**u. Menunggu ayah datang, aku mengecek sekali lagi isi tas ku. Memastikan tak ada lagi yang ketinggalan, meliputi buku dan alat-alat tulis. “Maaf. Ayah telat datang” Aku menoleh, dan menatap ayah yang berjalan dan mulai duduk di salah satu kursi lebih tepatnya di depan ku. “Tidak apa-apa. Ayo nikmati, ayah” ujar ku berpura-pura semangat dan mulai membagikan porsi sarapan pagi masing-masing. Dan sebelum memakan nya, aku memimpin doa dalam ajaran agama Katolik. Saat telah usai, aku segera memakan sarapan yang terhidang di depan ku begitu juga dengan ayah “selamat makan” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ku dan mulut ayah. Lengang! Saat makan, tak ada lagi yang membuka bicara. **** “Ran! Kemarin sorry ya…kita-kita ga bisa ikut. Yahh….alasan nya kayak kemarin deh” Aku hanya mengangguk dan tersenyum “it’s okay” ujar ku. “Heii….kenapa lu malah minta maaf sama Ran, ha? Jelas-jelas yang buat intruksi itu kemarin gue. Yahh…seharusnya kalian harus minta maaf juga sama gue” Suara familiar? Aku menoleh “Tessa?? Buset amat dehh…masalah kecil aja harus di perbesarin” aku terkekeh merasa lucu Namun, melihat gurat wajah Tessa aku menjadi kurang tega “udah deh, Tess! Jangan terlalu kekanakan. Lu tuh’ kan udah dewasa, jangan make trik kayak anak kecil lagi” tegur ku memberi nasehat. “Yahh…abisnya mereka tuh ngeselin. Pokoknya mereka kalo minta maaf sama kamu, yahh…sama gue harus minta maaf juga dong” gadis itu masih bersi keras berada di pendirian nya. Menarik tangan nya, aku membawa Tessa ke tempat paling sepi. Lebih tepatnya di taman sekolah yang terkenal akan ke-asrian dan keramaian nya saat jam siang. “Tess! Kenapa lo tambah aneh deh semenjak di sini? Ga kayak biasanya. Kalo orang itu ga minta maaf, untung nya sama lo apa? Begitu juga sebaliknya. Jangan terlalu keras kepala, Tess. Kita bareng David sahabat-an, artinya harus bisa denger perkataan satu sama lain” “Denger. Gue ga maksa, tapi ini semua gue lakuin buat kebaikan kita juga” jelas ku panjang lebar. Dan tanpa aku sadari, panggilan antara ‘gue-lolu’ dan ‘aku-kamu’ memang sering bertukar. Dan aku menggunakan nya sesuai kenyamanan memanggil saja. So, jika terkadang aku make kosakata tadi secara berganti-ganti ga usah terlalu di masukin deh. Nama nya aja baru tinggal di Indo, jadi masih sering melakukan kesalahan maupun kejanggalan. Baik itu bagi pengucapan bahasa, perilaku, budaya, dan masih banyak lagi. Lebih tepatnya, begitulah tabiat seorang Ran Sera. Saat aku tengah melamun dan menatap Tessa, sebuah tangan datang menyentuh pundak ku mengalirkan sensasi kehangatan dan kelembuatan. Tunggu dulu! Sentuhan ini?? Lagi-lagi aku merasakan sentuhan khas dan familiar. Apakah hari ini aku akan di penuhi dengan hal-hal yang familiar dan mengejutkan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN