"Bukankah aku tidak perlu tampil mewah hanya untuk menghadiri sebuah konser?" Luna menatap Zero yang tengah mengelilingi butik dengan dahi yang berkerut. Mereka berdua sudah sampai di sebuah tempat bernama Black&lipz collection.
Lokasinya berada di posisi strategis, oleh karena itu mereka bisa sampai dengan cepat tanpa perlu berhadapan macet. Luna menatap dekorasi megah nan mewah butik itu dengan takjub, dia yakin harga gaun di sini setara dengan membeli mobil di Indonesia, atau justru lebih?
Mahal sekali!
Zero tidak menanggapi perkataan Luna dan masih berkeliling. Dia mendapat informasi kalau butik inilah yang paling terkenal akan koleksi gaun-gaun indahnya, dengan pelayanan yang cepat nan ramah.
Sesuai janji Zero kemarin, hari ini mereka berkeliling mencari baju dan mengubah Luna menjadi seorang ratu. Hal itu dimulai dari pembelian gaun, sepatu, tas, dan juga perubahan potongan rambut. Tak lupa, besok Zero juga akan mem-booking make up artis terkenal yang akan menyulap Luna menjadi sosok yang paling cantik di muka bumi ini.
Berlebihan? Well, anggap saja ini pembalasan dendamnya pada Elizabeth karena gadis itu pernah meninggalkannya demi lelaki lain. Kali ini, Zero ingin tunjukkan kalau dia telah menemukan seseorang yang luar biasa. Perempuan yang bahkan jauh lebih sempurna beribu-ribu kali lipat dari Elizabeth.
"Kau mau balas dendam dengan menggunakan aku, ya?" Kali ini Luna menatap punggung Zero penuh selidik, dia bahkan baru terpikir akan hal itu. Oh astaga, betapa kurang pekanya ia.
"Bingo." Berbeda dari ekspetasi Luna yang berpikir Zero akan merasa bersalah akan pernyataannya, lelaki itu justru tampak santai-santai saja. Tanpa rasa bersalah dia memasukan tangannya ke dalam kantong celana dan menatap Luna intens. "Kau harus membantuku."
"Dan apa yang akan kudapatkan?" Luna pasti sudah gila karena menjawab seperti ini. Gadis itu merutuki dirinya sendiri beberapa detik setelah ia mengucapkan hal itu. Well, setiap hari dia berdoa pada Tuhan agar ada seseorang yang mau mengingatkannya kalau Zero bisa kembali menjadi jahat kapan saja, jadi Luna tidak akan terbuai.
Sejujurnya dia sudah hanyut pada tingkah laku Zero yang membaik dan memperlakukannya bak teman seperti ini, Luna merasa nyaman. Hanya saja, dia terkadang melupakan fakta bahwa ia adalah seseorang yang Zero beli seharga satu miliyar dari panti asuhan.
Kenyataan yang pahit memang tak bisa dihapus.
"Kau mau apa?" Zero menaikkan alisnya tertarik, membelikan Luna sesuatu bukan hal yang sulit. Lagipula, gadis itu berbeda dari wanita kebanyakan. Saat orang lain baru merasa senang saat dibeli hadiah mahal, Luna justru bahagia akan hal-hal kecil.
Perbedaan itulah yang membuat dia terlihat spesial.
"Uhm," gumam Luna sambil mengigit bibir bawahnya, berpikir. "Apa boleh kupikirkan dulu?"
"Sebagai gantinya kau harus berakting maksimal untuk besok," sahut Zero menyetujui. Dia bahkan tidak berpikir dua kali untuk sepakat pada perjanjian ini.
"Deal. Ok, sekarang gaun mana yang harus kupakai?" Menyadari dia bisa membeli sesuatu dengan uang Zero membuat Luna merasa senang. Dia bukannya materialistis atau ingin menghabiskan harta Zero, tetapi ia hanya mau membeli hal yang selalu inginkan. Namun, tak pernah tercapai.
Zero menarik senyumannya, senang akan semangat Luna. Dia memanggil pegawai butik dan mereka dituntun menuju koleksi terbaru.
Keluaran terbaru ternyata berada di lantai dua, Luna dan Zero mengikuti si pegawai dengan langkah ringan dan tidak sampai dua menit, mereka tiba di ruangan itu.
Luna menganga kala ia menyadari tempat ini bahkan lebih luas daripada yang terlihat dengan sekujur ruangan yang dipenuhi lemari di bagian pinggir tembok. Lalu, di bagian samping ada koridor yang menghubungkan pada ruang ganti, di mana Luna bisa mencoba gaunnya di sana.
Zero memilih beberapa gaun mahal yang tak kuasa Luna sentuh, karena takut merusaknya. Dia menganga saat melihat enam digit angka tertera pada price tag gaun itu.
Dan harga itu dalam dollar! Oh, bisa bayangkan berapa harga gaun ini jika dikalikan ke harga rupiah? Benar, sembilan digit alias miliyaran rupiah!
Gaun ini bahkan lebih mahal daripada hargaku saat dibeli oleh Zero dari panti! s**t! batin Luna menjerit.
Gaun nomor satu berwarna hitam, tampak elegan dengan panjangnya yang mencapai mata kaki. Terbuka di bagian d**a, dan Luna yakin siapa saja bisa melihat belahannya jika ia memakai dress itu, dan ia tidak mau!
"Kau yakin soal ini?" Luna sudah sampai di depan ruang ganti saat ia bertanya pada Zero yang tengah duduk di sofa depan gorden. Tempat ia menunggu Luna kala gadis itu mencoba pakaian. "Aku bisa flu kalau memakai gaun ini saat suhu benar-benar dingin."
"Jadi kau mau pakai kostum mumi saja agar tubuhmu hangat, begitu?" Zero menatap Luna dengan alis terangkat, wajahnya yang terlihat serius itu ingin membuat Luna mengumpat.
"Oke. Fine." Luna tidak bisa mengelak lagi karena perkataan Zero. Ia memasuki ruang ganti tanpa protes mengenai gaun kedua dan ketiga.
Gaun kedua berwarna merah terang dengan daerah punggung yang terbuka sempurna. Ia menyempit di bagian pinggang ke b****g, hingga p****t Luna pasti akan terjeplak dengan nyata di sana. Dia bisa mati kedinginan karena dress ini.
Gaun ketiga lebih parah. Warnanya cream. Tidak terlalu terbuka di bagian punggung atau d**a, tetapi terlalu pendek, bahkan nyaris lima belas senti di atas lutut! Luna tidak habis pikir dengan pilihan Zero, ia hanya bisa berdoa dalam hati kalau semua ini tidak cocok dengan tubuhnya.
Ada dua pegawai yang sigap membantu Luna memakai gaun. Well, sebenarnya dia malu karena harus membuka baju di depan orang lain, tetapi hal itu jauh lebih baik daripada merusak gaun dengan harga miliyaran itu.
Setelah mencoba ketiganya, ternyata tidak ada yang menarik perhatian Zero dan hal itu membuat Luna menghela napas lega. Untungnya dia tidak harus memakai pakaian seksi di musim dingin seperti ini.
Dia kembali menggunakan pakaiannya hari ini, sweater abu-abu polos dan celana jeans panjang. Juga topi kupluk berwarna senada dengan baju tebalnya.
Memakai yang begini saja Luna masih mengigil. Dia benar-benar belum terbiasa dengan suhu di London.
"Ada yang bisa kubantu?" Seorang wanita cantik dengan pakaian modis ala-ala gaun pesta, tetapi terlihat santai muncul entah dari mana. Kecantikannya membuat Luna nyaris terpana.
"Dia pemilik butik ini, Mr. and Mrs. Alexandriöu, namanya Velitjia." Salah satu pegawai butik itu menjelaskan, yang hanya bisa dibalas anggukan oleh keduanya.
"Bisa cari gaun yang bagus untuk dia?" Zero langsung mengungkapkan apa yang ia pikirkan sambil melirik Luna.
Si pemilik toko yang bernama Veli itu tersenyum, menunjukkan koleksinya yang mungkin cocok untuk Luna. Dia mengeluarkan sebuah gaun putih dengan panjang semata kaki, terbuka di bagian d**a, tetapi tidak separah tadi. Dengan sebuah mantel berbulu tebal yang juga berwarna senada sebagai pasangannya.
Melihat gaun itu membuat Luna membulatkan mata, terpesona. Sederhana, tetapi indah. Ini baru gaun yang bagus! Dia berharap Zero juga sependapat kali ini.
"Kami ambil itu." Zero merasa pusing melihat Luna yang terus beganti baju meski baru tiga kali mengeluarkan kartu dari dompetnya. "Sekalian tunjukkan koleksi tas, anting, sepatu, dan segala pernak-pernik lain yang kaupunya untuk gadis di sampingku ini. Tidak peduli berapa nominalnya, aku akan membayarnya."