#22

829 Kata
Mood Zero memburuk karena Elizabeth, hal itulah yang Luna simpulkan saat tiba-tiba lelaki itu mengajaknya kembali ke hotel dengan naik mobil. Alasannya, ia lelah. Fish and chips yang mereka beli dengan perjuangan panjang tidak dimakan oleh lelaki itu, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu karena sedaritadi ia hanya diam sembari memandang ke luar jendela. Sedangkan Luna? Dia lapar. Jadi tanpa mengajak Zero makan, ia sudah mencomot kuliner London itu dengan lahap, merasa terpesona akan cita rasanya. Enak sekali! Luna bahkan nyaris menangis karenanya. Meleleh dan lembut di mulut, tekstur yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Bumbu yang pas dan rasa renyah membuat segalanya lebih sempurna. Ia menyesal hanya membeli satu bungkus. Gadis itu menikmati makanannya sampai ludes dan melirik ke arah bungkusan milik Zero. Di dalam hati, ia bertanya-tanya. Apa Zero tidak mau memakan fish and chipsnya? Hanya karena Elizabeth? Apa gadis itu sungguh punya arti yang besar? Padahal mereka sudah jauh-jauh kemari karena keinginan Zero untuk memakan ini. Dan sekarang ... kenapa begini? "Dia itu temanku." Pembicaraan itu membuat Luna tersentak, sedaritadi netra cokelatnya menatap kosong ke arah bungkusan milik Zero yang belum terbuka. Penjelasan tiba-tiba yang keluar dari mulut lelaki itu membuat Luna memiringkan kepala, dia pikir Zero tidak ingin berbagi kisah. "Teman?" Luna menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak tahu kalau ada teman yang tidur bersama?" tanya Luna dengan polos, meski gadis itu bermaksud menyindir Zero. Zero menarik napas lalu menoleh ke arah Luna. Membuat gadis itu seketika kicep. Apa dia salah bicara? "Friend with benefit." Zero menjelaskan. "Kau tidak tahu maksudnya?" "Tentu saja tidak." Luna mengerutkan dahi. "Apa itu semacam sebuah istilah?" "Yeah. Teman dengan keuntungan, yang berarti kami tidak menjalin hubungan serius apa pun, tetapi kami saling memuaskan satu sama lain." "Memuaskan dalam arti ...." Luna bergumam, dia kembali teringat dengan perkataan Elizabeth soal malam panasnya bersama Zero, dan entah kenapa membayangkan mereka berdua pernah bermain bersama di masa lalu membuat ada sedikit rasa tercubit di dalam diri Luna. Dia tidak mengerti. Zero memang punya banyak mantan, salah satunya adalah Joanna. Bukankah hal itu harusnya sudah bisa Luna prediksi? Mengingat lelaki itu tampan, kaya, dan kharismatik.  Namun, kenapa sekarang memikirkannya saja Luna enggan? Membayangkan Zero pernah melakukannya bersama wanita lain membuat dirinya merasa ... cemburu? Oh, jangan katakan kalau Luna sekarang sedang jealouse? Dengan mantan kekasih Zero? Tidak, tidak. Tentu saja tidak. Untuk apa aku cemburu? Aku tidak mencintai Zero, batin Luna bersuara, membela dirinya sendiri. Meski sudah berusaha mengelak, entah kenapa rasa sakit itu justru terasa semakin nyata. Membayangkan bibir Zero berpangutan dengan milik orang lain membuat Luna merasa marah. Sial, ada apa dengan diriku? Sejak kemarin aku terus bersikap aneh, batin Luna kembali merutuki diri sendiri. Hatinya terus bertingkah berlawanan dengan yang ia pikirkan. "Kau tahu bagaimana maksudnya." Zero mengalihkan pandangannya lagi, menatapi salju yang masih turun dengan deras. "Semuanya berjalan dengan baik, sampai dia menemukan mimpinya, sebagai seorang pemain biola yang handal." "Dan dia meninggalkanmu, demi mimpinya? Karena itu kau marah?" tanya Luna penuh selidik. Jika hal itu yang terjadi, bukankah Zero terlalu egois untuk membenci Elizabeth? "Karena dia menemukan cinta sejatinya." Zero bergumam, pelan sekali. Untungnya masih terdengar di telinga Luna. "Saat dia mengejar mimpi itu, dia menemukan seseorang yang ia cintai, dan hal itu mengakhiri hubungan kami." Sekarang Luna mengerti, Zero hanya seseorang yang masih menyimpan luka karena sakit hati atas tindakan Elizabeth. Hal itu menjelaskan segalanya. Namun, kenapa Elizabeth memperlakukan Zero seolah ia belum lupa dengan lelaki itu? Dan setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya Zero memang tidak beruntung dalam kehidupan percintaan. Dia selalu disakiti, mulai dari Elizabeth, hingga ke Joanna. Akankah semuanya berbeda bila dia mencintai Luna? "Aku memikirkan apa." Luna memukul kepalanya sendiri sambil bergumam karena pemikiran anehnya. Dia pasti sudah gila, dia tidak mungkin jatuh cinta pada Zero, bukan? Semua ini pasti hanya karena ia merasa baper sesaat dengan perilaku Zero yang tiba-tiba berubah menjadi luar biasa baik. Pasti begitu, tidak mungkin Luna menyimpan rasa lebih pada seseorang yang pernah menyiksanya ... dan memperlakukannya bak jalang. Dan ini baru beberapa hari sejak Zero berubah menjadi lebih baik, ia tidak tahu kapan lagi lelaki itu bisa kembali menjadi jahat. Karena itu, Luna tidak boleh memberikan hatinya. Tidak boleh! "Jadi, apa kita akan hadir ke konsernya?" Luna membuka pembicaraan lagi, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang terus bersarang di benaknya. "Sejujurnya aku belum pernah menonton konser musik klasik sebelumnya." Zero tidak menjawab, suasana yang hening membuat Luna mengigit bibirnya. Dia merasa salah bicara, apa tidak seharusnya ia bertanya? "Kita ... akan datang." Pernyataan yang Zero layangkan itu membuat Luna membulatkan mata. Hal itu tak terduga, ia pikir Zero tidak akan sanggup untuk datang karena rasa sakitnya. Namun, ternyata lelaki itu jauh lebih kuat dari perkiraan Luna. "Dia sepertinya menganggapku belum move on, karena itu akan kutunjukkan kalau aku sudah melupakannya." Zero tiba-tiba saja menatap Luna lagi dan memegang tangannya, membuat Luna merasakan sengatan listrik yang tidak bisa dideskripsikan kala kulit mereka bersentuhan. "Aku ingin kau ikut ... besok kita belanja di butik ternama London, akan kupastikan kau menjadi Ratu di hari natal."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN