Mereka sudah sampai di kedai fish and chips setelah melalui perjalanan jauh, dan saat ini keduanya tengah mengantre di barisan panjang. Terlalu banyak manusia, bahkan toko kecil itu tak mampu menampung semuanya hingga para pelanggan harus berdiri di luar, dengan suhu cuaca yang mampu membekukan kulit Luna.
Gadis itu mendongak dan menatapi langit yang tampak indah. Seketika, ia teringat dengan kejadian di dalam kereta tadi. Setelah Zero bertukar posisi dengan Luna, pemuda itu langsung bangun dari tempatnya dan berlari, begitu cepat seolah ia tengah dikejar oleh setan.
Luna sempat melihat Zero berbisik pada pemuda itu. Namun, ia tak menangkap apa yang lelaki itu katakan. Ia ingin bertanya, tetapi diurungkan. Mereka berdua seolah telah melupakan kejadian tadi karena Zero sendiri tampak enggan membahasnya.
"Ramai sekali," gerutu Zero sambil menghela napas. Dia benci keramaian, tetapi kedai yang ia cintai sejak beberapa tahun yang lalu ini memang selalu kedatangan pengunjung. Orang rela mengantre karena cita rasanya yang luar biasa.
"Iya. Apa ini tempat terkenal?" tanya Luna penasaran. Ia sendiri tidak merasa terganggu dengan keramaian yang ada. Namun, kakinya sudah pegal karena terlalu lama berdiri, dan jangan lupakan udara dingin yang membuat pipi Luna membeku.
"Iya. Sangat, bahkan sejak dulu." Zero menjawab. "Aku sering ke sini sebelumnya."
"Bersama siapa?" Luna memiringkan kepalanya penasaran. Siapa yang mau menemani Zero makan fish and chips? Jeremy, kah? Atau justru ... Joanna?
"Seseorang yang tak ingin kuingat." Zero menjawab samar lalu menghela napas, dan setelahnya tak ada lagi pertanyaan yang Luna lontarkan. Dia merasa lelaki itu tak ingin berbagi, mungkin ada kenangan menyakitkan yang ia ingin simpan sendiri.
Perlahan-lahan, orang-orang mulai berpergian setelah menikmati fish and chips yang mereka pesan, dan tidak butuh waktu lama bagi Luna dan Zero sudah masuk ke dalam.
Mereka memilih menu andalan yang selalu Zero sukai, dan setelah pesanan mereka datang, keduanya hendak keluar dari kedai.
Mereka berdua bergandengan dengan sebelah tangan Zero memegang kantong plastik fish and chips yang dibungkus. Sepertinya, makan di pinggir taman ditemani dengan salju bukan ide yang buruk, apalagi hal itu adalah pertama kalinya untuk Luna.
Well, Zero hanya bisa berharap gadis itu tahan dengan dinginnya udara, semoga saja ia tidak flu di kemudian hari.
Tempat yang kecil membuat keduanya kesulitan untuk keluar, dan saat mereka telah berhasil, tepukan lembut di pundak Zero membuat Luna dan lelaki itu menoleh secara bersamaan. Merasa bingung.
Tubuh lelaki itu membeku kala ia menemukan seseorang yang tampak familier.
Sedangkan Luna terpesona. Gadis di depannya sangat cantik, mirip seperti artis, dengan mata hijau, hidung mancung, bibir seksi, dan tubuh yang sempurna wanita itu pasti menjadi primadona di mana pun ia berada.
Ia mengenakan pakaian tipis berupa dress putih selutut yang terbuka di tengah suhu dingin. Tubuhnya seksi, kakinya jenjang, buah dadanya ... jangan tanya seberapa montok.
Ah, kapan Luna punya yang sebesar itu?
Zero tidak menyangka ia akan bertemu dengan wanita ini di sini, di tempat yang menyimpan kenangan mereka di masa-masa indah dulu. Sebelum semuanya berakhir dengan tragis.
"Eli?" Mata Zero membulat. Menyadari kalau wanita ini sama sekali tidak berubah, hanya wajahnya yang jadi sedikit lebih dewasa. "Kau ...."
"Aku terkejut ketika aku menemukanmu di tempat yang menyimpan banyak kenangan kita." Wanita bernama Elizabeth itu tersenyum dan memeluk Zero erat, tanpa aba-aba. Mengabaikan Luna yang masih berdiri cengo di sebelah Zero dengan tangan mereka yang masih bergandengan. "God, its nice to see you again. I miss you so much."
Zero merasa tubuhnya kaku apalagi kala menyadari banyak orang tengah memperhatikan mereka karena volume suara Elizabeth yang besar. Yah, dia wanita yang memperkenalkan Zero tentang kedai fish and chips ini. Mereka tidak menjalin hubungan yang spesial di masa lalu, tetapi status keduanya terlalu rumit untuk dijelaskan.
Elizabeth melepaskan pelukannya dan menatap Luna dengan pandangan bingung. Ia melirik dari atas ke bawah penuh selidik, lalu matanya terpaku pada tangan Zero dan gadis itu yang masih bergandengan.
"Aku pikir kau tidak punya adik. Apa kau baru saja mengadopsi satu?" tanya Elizabeth yang disusul dengan tawa renyah, seolah hal itu adalah sesuatu yang lucu.
Luna mengernyit heran di tempatnya. Apa wanita ini gila?
Sedangkan Zero hanya menatap tanpa ekspresi, tidak berniat untuk ikut tertawa. Setelah menyadari kalau gurauannya diabaikan, gelak Elizabeth surut digantikan dengan raut wajah kesal.
"Sudah tertawanya? Kalau begitu, kami pergi." Zero baru saja berbalik dan hendak menarik Luna menjauh saat Elizabeth tiba-tiba saja lari dan menghadang mereka dari depan.
Respons Zero yang dingin itu membuatnya mengingat kembali masa lalu mereka. Sesuatu yang selalu Elizabeth rindukan, bahkan hingga sekarang. Kalau boleh, dia ingin mengulang malam hangat bersama Zero lagi, tentu tanpa gadis kampungan itu di sisinya.
"Kenapa terburu-buru?" Elizabeth tersenyum, perilakunya menunjukan bahwa ia sama sekali tak sakit hati. Padahal, Zero sedaritadi tidak menanggapi ucuapannya. "Kau jahat sekali padaku, Zero. Padahal kita pernah menghabiskan malam yang panas bersama."
Mendengar itu nyaris membuat Luna tersedak ludahnya sendiri. Dia bukan lagi gadis yang polos, tepatnya setelah mengenal Zero ia berubah pesat, dan tentunya ia sangat mengerti apa yang Elizabeth siratkan.
Zero pernah menghabiskan malam dengannya? Berarti, gadis ini bukan sembarang orang?
Apa dia mantan kekasih Zero?
Oh astaga, lelaki itu punya berapa mantan?
Kenapa banyak sekali gadis yang pernah ia kencani? Mulai dari Joanna, dan sekarang orang ini?
Apa dia tidak bisa setia pada satu wanita saja?
"Aku tak punya waktu berbasa-basi. Pacarku lapar, dan kau menganggu waktu makan kami." Zero menarik pinggang Luna mendekat dan mengenggam tangannya erat
Perlakuan yang tiba-tiba itu nyaris membuat Luna menjerit terkejut. Namun, setelahnya dia malah merasa nyaman. Dipeluk seperti ini membuat tubuhnya kembali menghangat. Apalagi dengan jarak sedekat ini Luna bisa mencium aroma parfum Zero yang familier. Tenang dan nyaman.
"Oh, jadi dia pacarmu?" Elizabeth menatap Luna, membuat Luna tanpa sadar memegang jari Zero semakin erat karena takut. Dia terintimidasi, apalagi netra hijau itu tampak menyala seolah hendak membelah tubuhnya menjadi dua.
Elizabeth menarik napasnya panjang, dia tahu ia tidak bisa sekadar berbasa-basi karena Zero akan segera meninggalkannya. Karena itu, ia segera membuka tas hermes keluaran terbarunya dan mengeluarkan sebuah kertas bernuansa hitam emas yang dilapisi plastik di sana.
"Pada hari natal, aku mengadakan konser." Elizabeth memaksa Zero menerima undangannya. "Datang dan ajaklah pacarmu. Aku ingin kau tahu kalau sekarang aku sudah menjadi sosok yang berbeda."
Zero menerima kertas itu tanpa berkata apa-apa dan langsung menarik Luna pergi. Meninggalkan Elizabeth yang masih membatu di tempat sembari menatap punggung Zero menjauh.