#20

864 Kata
Suasana di stasiun sangat ramai, bahkan padat! Zero dan Luna sudah membeli tiket setelah bertanya kepada beberapa orang. Ternyata, Zero sendiri tidak pernah mengurus hal-hal kecil seperti tiket untuk masuk, karena ia sudah terlalu lama dilayani oleh orang lain. Terlalu banyak manusia, rasanya Zero pusing melihatnya. Mereka seperti semut yang mengerubungi gula, ia pribadi sejujurnya tak terlalu suka kondisi ramai yang penuh orang seperti ini. Semua ini terjadi karena idenya sendiri tentang kereta yang kemudian disetujui oleh Luna. Berbicara soalnya, Zero melirik ke arah samping dan memperhatikan Luna. Gadis itu tampak antusias dengan tubuhnya yang bergerak-gerak akibat terlalu senang. Ia sama sekali tak terlihat terganggu dengan kondisi ini. "Kau senang?" Luna menoleh kala mendengar suara samar yang masuk ke dalam indra pendengarannya. Ia menatap Zero yang saat ini tengah menandanginya tanpa ekspresi dengan bingung. "Kau bilang sesuatu?" tanya Luna. Kondisi yang bising membuat Luna harus meninggikan volume suaranya. Oh astaga, ini weekend. Pantas saja suasana jauh lebih ramai daripada biasanya. Apalagi, lusa adalah hari natal. Mayoritas warga London tampaknya merayakan christmas, mengingat banyaknya pohon cemara yang telah dihias sepanjang jalan kemarin. "Apa kau senang?" Zero mengulangi, tetapi suaranya yang berat lagi-lagi teredam akan keramaian. Lelaki itu menarik napasnya kala menyadari Luna masih menatap dengan raut wajah bingung. Tanda bahwa ia tak mendengar apa-apa. Zero maju satu langkah dan mendekatkan wajahnya pada Luna. Gadis itu nyaris tersentak kala jarak di antara mereka terkikis dengan begitu cepat, hingga saat ini muka lelaki itu berada tepat si samping telinga Luna, dengan bibirnya yang berbisik, "Apa kau senang, Laluna?" Merinding. Luna merasa sekujur bulu kuduknya meremang karena ulah Zero. Gadis itu refleks mundur satu langkah dan mengangguk, menjawab pertanyaan Zero tanpa suara. "Baguslah," kata Zero sembari mengangguk, dia sudah menjauhkan wajahnya dan hal itu membuat Luna tanpa sadar menghela napas lega. Suasana di antara keduanya kemudian menjadi hening, meski bising masih terdengar karena keramaian di stasiun. Baik Luna maupun Zero sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, dan tidak butuh waktu lama kereta yang akan mereka naiki sampai. Ramai, banyak sekali orang yang keluar dari sana membuat Luna nyaris terhuyung berkali-kali karena ditabrak. Postur tubuh orang Eropa memang tinggi-tinggi, berbanding terbalik dengan dirinya yang mungil. Nyaris, gadis itu tidak bisa bernapas. Ia merasa sesak dan nyaris mati saat dirinya yang kecil dihimpit oleh banyak orang. Menyadari hal itu, Zero menarik Luna ke dalam pelukannya dan menggeser posisi mereka ke tempat yang lebih sepi. Setelah semua orang keluar, barulah keduanya masuk ke dalam kereta. Zero mendudukan Luna di kursi dan menatapnya cemas. "Kau tak apa?" Luna mengangguk, bersyukur Zero masih menyelamatkannya. Banyak orang yang masuk setelah mereka membuat kondisi kembali ramai. Zero tidak tahan akan hal itu, dia risi. Apalagi, saat ada seorang pemuda yang duduk di sebelah Luna tengah tertidur sambil menyender ke arahnya. Luna menoleh ke arah samping kala ia menyadari ada kepala yang tersender di atas bahunya. Gadis itu bingung mau bereaksi bagaimana, apalagi saat ia sadar yang tertidur di sampingnya adalah seorang pemuda yang terlihat nakal. Haruskah kubangunkan? Atau dibiarkan saja? Luna menimbang-nimbang di dalam hati. Mau dibangunkan pun, ia bingung bagaimana cara ngomongnya. Sejujurnya, bahasa Inggrisnya pas-passan. Dia hanya mengerti sedikit-sedikit. Beruntung Zero menguasai hal itu dengan baik. Gadis dengan rambut hitam yang tercepol itu mendorong kepala pemuda di sampingnya pelan, hingga ia tertidur sambil menyender di besi. Setelah melakukannya, Luna menghela napas lega.  Namun, tidak butuh waktu lama sampai kepala itu kembali menyender ke arahnya. Gadis itu memejamkan mata, frustrasi sekaligus bingung. Luna tidak menyadari kalau sedaritadi Zero memperhatikan dirinya dari samping. Zero tahu semua tempat itu harus diwaspadai dan berbahaya, sekalipun dia berada di negara maju yang terkenal seperti London. Ia mengamati sang pemuda aneh yang tertidur di samping Luna dengan tatapan menyelidik dan menghela napas. Pemuda itu baru saja duduk dan langsung tertidur, hal yang tidak masuk akal. Sepertinya dia hanya mencari kesempatan untuk tidur dan bersender di bahu Luna, berhubung gadis itu cantik. Apalagi saat rambutnya dicepol seperti itu, s**t! "Dorong lagi," bisik Zero di telinga Luna yang nyaris membuat gadis itu terlonjak. "Dorong dia ke besi lagi," lanjut Zero, menjelaskan dengan lengkap apa yang ia perintahkan. Luna mengangguk, kemudian mendorong kepala itu lagi pelan, enggan membangunkan. Gadis itu sungguh berpikir pemuda di sampingnya tengah terlelap, tak terselip satu persen pun kecurigaan di dalam benak Luna. Gadis yang sungguh polos. Luna berhasil mendorong kepala itu, dan dia yakin tidak butuh waktu lama pemuda itu akan kembali pada bahunya. Ia menoleh ke arah Zero dan menatap lelaki itu penuh makna, dari pandangannya Luna seolah menyiratkan, apalagi yang harus kulakukan? "Geser," bisik lelaki itu pelan, lalu Zero tiba-tiba berdiri dan meminta Luna untuk bertukar posisi dengannya. Permintaan itu dipatuhi Luna dengan sepenuh hati. Mereka melakukan pertukaran secara diam-diam tanpa suara, sehingga pemuda di samping itu tidak menyadari kalau manusia di sampingnya bukan lagi gadis cantik yang ia incar tadi, melainkan seorang lelaki dewasa dengan tatapan yang mengintimidasi. Zero menarik napas dan melirik ke arah pemuda itu, dan benar saja tidak beberapa detik kemudian kepalanya kembali turun dan kali ini menyender pada bahu Zero. Melihat hal itu, Zero dengan senang hati mendekati bibirnya pada telinga lelaki itu, lalu berbisik lirih, penuh ancaman. "Bangun sekarang juga atau kau tidak akan keluar hidup-hidup dari kereta ini, Bangsat."                                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN