#19

1123 Kata
Sarapan benar-benar datang ke dalam kamar mereka beberapa menit setelah Zero menelepon. Luna menganga, tidak percaya kalau Zero juga punya kuasa untuk memerintah di luar negeri. Luna duduk bersebrangan dengan Zero kala ia sudah memakai pakaian yang dibawakan bersamaan dengan sarapan. Hari ini, dia memakai sweater tebal berwarna cokelat muda yang dipadukan dengan jeans panjang bersama sepatu boots senada dengan pakaiannya. Ia tampak imut mengenakan semua ini. Sedangkan Zero juga menggunakan sweater dan celana panjang. Busana mereka yang mirip membuat keduanya seakan memakai baju couple, padahal tidak. Mungkin, pihak hotel berpikir mereka berdua adalah sepasang suami istri. "Aku ingin bertanya." Luna mengeluarkan suara, memecah keheningan saat Zero tengah makan dengan lahap, sepertinya lelaki itu kelaparan semalam. Hari ini, menunya telur, bacon, daging, kacang merah, dan sosis. Sebenarnya di Indonesia juga banyak makanan sejenis, bedanya di sini harganya mahal mengingat hotel ini sangat mewah, juga tampilan makanannya jauh lebih elegan. Pihak hotel menyediakan dua piring yang diisi masing-masing dengan paket lengkap, satu untuk Zero dan satu untuk Luna. Di bagian telur, mereka membentuk gambar hati. Hal itu sempat membuat Zero mengernyit karena heran tadi. "Tanya apa?" Zero mendongak, mulutnya sudah selesai menguyah saat dia membalas perkataan Luna. "Uhm." Luna memiringkan kepala, dia tampak ragu. "Sebenarnya ... aku bingung apakah keputusanku benar menanyakan ini, karena sepertinya kau lupa." "Hah? Soal?" Zero mengelap mulutnya dengan tisu lalu minum air putih sejenak, ia menatap Luna serius kala mendengar pembicaraan gadis itu. "Sekolah." Luna berkata pelan. "Kaubilang padaku kalau kau akan menyewa guru secara privat. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda soal itu." Luna menggaruk lehernya canggung, ia merasa seperti menagih hutang pada seseorang. Zero memejamkan matanya kala ia melupakan hal itu. Astaga! Ia terlalu sibuk melampiaskan dendam dan mengurisi masalahnya sendiri hingga ia lupa janjinya pada Luna. "Aku lupa soal itu." Zero mengusap wajahnya kasar. "Akan segera kucarikan saat kita kembali ke Indonesia." "Okay," balas Luna sambil mengangguk-angguk mengerti.  Gadis itu hendak memakan sarapannya, tetapi hal itu terhenti karena ia ingin bertanya lagi. "Kita akan pergi makan fish and chips siang ini, lalu pulang?" "Ya." Zero mengangguk. "Kau betah di sini?" "Sangat!" jawab Luna refleks, setengah berteriak. "Aku tadi melihat butiran salju, indah sekali. Ini kali pertama aku bisa menatapnya secara langsung. Kau tahu, aku tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, karena itu, terima kasih karena telah membawaku kemari." Luna menarik senyumannya. Membuat sesuatu terasa tercubit di hati Zero. Atas segala yang ia lakukan, meskipun ia sekarang sudah berubah, rasanya Zero tidak pantas menerima kata 'terima kasih' dari bibir milik gadis cilik itu. "Kau tak perlu berterima kasih." Zero memejamkan mata sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya. "Karena kau betah, maka kita akan berlibur di sini untuk seminggu, dan selama itu kita akan berkeliling kota London." "Benarkah?!" seru Luna bersemangat. Dia sempat sedih kala membayangkan mereka akan pulang setelah makan fish and chips, karena liburannya terlalu singkat. Namun, Zero berhasil membuat gadis itu tersenyum lagi. Bahkan sekarang Luna ingin melompat-lompat saking girangnya. "Tentu." Zero tersenyum, melihat Luna yang antusias seperti itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia ingin melepas segala stres dan penat di sini, sebelum kemudian kembali ke kehidupan nyata yang menyakitkan. Sejenak saja ... Zero ingin beristirahat. *** "Kita naik apa?" Mereka sudah selesai makan dan sekarang bersiap-siap untuk pergi, Zero memastikan ia membawa dompet dan ponsel yang tak bisa ia tinggalkan. Lalu, pandangannya teralih pada Luna yang saat ini tengah menatapnya bingung sembari melayangkan pertanyaan. "Sebenarnya aku ingin pergi naik mobil, karena praktis dan simpel. Akan tetapi, kurasa naik kereta akan lebih menyenangkan." Zero berkata. "Kereta?" Mata Luna kembali membulat sekaligus bersinar. Ini kali pertamanya menaiki kereta! Bahkan di Indonesia pun, Luna tidak pernah pergi menggunakan transportasi itu. Hidupnya selama ini hanya sebatas sekolah, pulang. Membantu Bu Fahmi, bermain dengan anak-anak di panti, tidur. Selalu demikian, siklus yang berulang. Luna tidak pernah punya kesempatan untuk hangout seperti remaja pada umumnya karena keterbatasan uang. Dia juga tidak terlalu pandai bergaul. Karena latar belakangnya yang miskin, tak banyak orang mau berteman dengannya. Dia hanya punya satu sahabat lelaki yang sangat pengertian, namanya Luke, dan sekarang, mereka harus terpisah.  Luna bahkan tidak pamit padanya dan langsung menghilang begitu saja. Ah, Luke, apa kabarnya ia? "Iya, kereta. Kenapa? Kau tak suka?" tanya Zero. "Tidak! Aku suka. Ini pertama kalinya aku naik kereta!" seru Luna yang membuat Zero ternganga. Gadis itu sebenarnya melakukan apa di 19 tahun hidupnya? batin Zero bertanya-tanya. Pengalaman Luna terlalu sempit, sepertinya dia selalu mendekam di panti asuhan layaknya anak baik, karena itu dia tidak pernah melakukan apa-apa. "Bersamaku, kau melakukan banyak hal untuk pertama kalinya dalam hidupmu, bukan?" Zero menyombongkan diri, membuat Luna mengulum senyuman karena geli dengan ekspresi lelaki itu. "Benar. Kau membuatku melakukan banyak hal baru, karena uangmu yang banyak kita bahkan bisa ke sini untuk sekadar makan fish and chips. Luar biasa." Luna masuk ke dalam drama Zero dan ikut memuji lelaki itu. "Kau tahu, aku bisa membeli kedai fish and chips itu bersama orang-orangnya. Namun, aku terlalu rendah hati itu melakukan itu," canda Zero terbahak. Luna nyaris tertawa lepas. Hari ini dia melihat sisi lain dari Zero. Sisi arogan yang memperlihatkan kekayaannya secara terang-terangan. Namun, tidak terasa menyebalkan. Aneh? Benar, sangat aneh. "By the way, untuk guruku, apa boleh aku menyarankan seseorang?" tanya Luna hati-hati, takut Zero marah. Well, meski sudah berubah, tetapi terkadang Luna merasa segan kepada Zero. Dia tidak tahu kapan lelaki itu bisa berubah menjadi jahat lagi, meski Luna sebenarnya berharap Zero akan tetap seperti ini selamanya. "Uh? Aku berniat menyewakanmu seorang tutor berpengalaman." Zero berkata dengan dahinya yang berkerut. "Apa kau punya ide lain?" Luna mengangguk. "Iya. Aku punya seorang teman di SMA, namanya ... Luke. Dia lelaki yang cerdas. Aku ingin dia yang mengajariku ... apa boleh?" Mendengar penuturan Luna, sebenarnya Zero tidak setuju. Seorang lelaki SMA yang masih ingusan, mau mengajari Luna? Hell! Memangnya dia bisa apa? Kencing saja mungkin belum lurus. Jelas, ide itu ingin Zero tolak mentah-mentah. Namun, tatapan Luna yang begitu memelas agar permintaannya dikabulkan membuat Zero terdiam. Sebenarnya ini adalah salah satu cara untuk membuat Luna bahagia, meski Zero tidak menyetujui idenya. Haruskah ia kabulkan? "Luke itu ... siapamu?" tanya Zero penasaran. "Sahabatku!" seru Luna. "Dia cerdas di seluruh pelajaran, dan ia juga pandai mengajariku. Dia berpengalaman, apalagi dia ramah dan punya banyak teman. Dia sosok guru yang sempurna." "Oh." Zero menjawab singkat. Tidak terlalu senang dengan deskripsi Luna. Dia butuh waktu berpikir cukup lama, hingga akhirnya dia mengangguk terpaksa. Membuat Luna bahagia adalah prioritas utamanya. Jadi dia bisa apa saat Luna menginginkan bocah ingusan bernama Luke itu untuk menjadi tutornya? "Baiklah." Zero bergumam pelan, tetapi masih terdengar. "Terima kasih!" seru Luna sambil tersenyum sampai matanya hilang, tanda bahwa ia begitu senang.  Sedangkan di tempatnya, Zero memperhatikan gadis itu dalam-dalam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Sebenarnya, Luke itu punya arti apa untuk Luna?          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN