#18

890 Kata
Zero membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap Luna yang bahkan sudah tertidur pulas sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar. Mereka tidak melakukannya, tadi ia hanya bercanda untuk menggoda gadis kecil itu. Zero baru saja menyelesaikan ritual mandinya, dan saat ini ia sudah berpakaian. Udara terlalu dingin untuknya, karena itu Zero memasang penghangat di dalam kamar agar suhu ruangan tetap stabil. Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam, dan ia masih belum mengantuk. Rasa bersalah terus menekan Zero sejak ia tahu kebenaran tentang remaja cilik itu, fakta di mana ia melampiaskan kemarahan pada orang yang salah. Lalu, sekarang, demi menebus segala dosanya Zero berniat untuk bersikap baik pada gadis itu. Memperlakukannya bagai ratu dan membuatnya senang dengan segala hal yang bisa Zero lakukan. Bukan hal yang sulit baginya untuk mengeluarkan uang dan membelikan barang yang mungkin akan disukai Luna. Namun, ia berpikir kalau benda-benda mahal saja tak cukup untuk menebus segala kesalahannya. Setidaknya Zero harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan usahanya sendiri untuk membahagiakan Luna, bukannya dengan mudah membeli barang-barang mahal dan lepas tangan akan gadis itu, kan? Dengkuran halus yang terdengar dari sampingnya membuat Zero menoleh dan menatap Luna sejenak. Gadis itu terlihat tenang, dengan kedua mata yang terpejam ia yakin sekarang Luna tengah berada di dalam dunia mimpi. Belakangan ini, Zero mulai melihat sisi lain dari Laluna semenjak sikapnya juga berubah kepada gadis itu. Ia sebenarnya hanya remaja polos yang terpaksa mengikuti kemauan Bu Fahmi untuk tinggal bersama Zero, lelaki yang menghancurkan segalanya. Sejujurnya saat melihat Luna tersenyum bahagia dengan hal-hal kecil yang Zero beri, hatinya menghangat. Namun, hal itu hanya sekadar perasaan lega karena Luna saat ini sudah mampu tersenyum dengan lebar. Zero sempat mengsalahartikan perasaannya sebagai jatuh cinta. Namun, semua itu tentu tidak benar. Segala tindakan yang ia lakukan hanya semata-mata untuk membuat Luna bahagia, tetapi hatinya masih berada pada Joanna. Gadis itu tidak henti-hentinya menghubungi Zero sejak insiden ciuman mereka terakhir kali. Zero mencintainya, sungguh. Akan tetapi, kembali menjalin hubungan setelah merasa dikhianati bukan perkara mudah. Zero akan mempertimbangkan hal itu masak-masak sebelum mengambil keputusan. Oleh karena itu dia butuh sedikit waktu untuk berpikir, dan selama itu pula Zero akan memanfaatkan kesempatan yang ia punya untuk menebus dosanya pada Luna.  Zero menarik selimut pada tubuh Luna hingga ke d**a, lalu ia mengelus kepalanya pelan. Suatu saat nanti, kala Zero sudah merasa segala tindakkannya cukup dan Luna pantas untuk pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri, ia akan melepaskan gadis itu dari pelukannya. Ia akan membiarkan Luna hidup sendiri dan mencari seseorang yang ia cintai. Suatu hari nanti, Zero pasti akan melakukannya. Semoga saja ... Luna akan menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus, menjaganya, dan tidak akan pernah menyakitinya. Karena, gadis itu pantas untuk bahagia. Setelah segala penderitaan yang dia alami dalam hidup, pintu suka cita seharusnya lebar terbuka baginya. "Selamat malam, Laluna." *** Malam telah berganti dengan pagi, Luna bangun lebih awal daripada Zero karena ia terlalu bersemangat. Terkadang, ia melupakan fakta kalau ia kemari hanya untuk membeli fish and chips. Ia nyaris tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk berlibur dan berkeliling di kota ini. Gadis itu membuat secangkir kopi hangat untuk menemani paginya, ia sudah mandi dan tidak memiliki baju, karena itu Luna memilih untuk menggunakan bathrobe hotel, juga handuk kecil yang membungkus kelalanya. Dia menatap ke arah jendela yang menampilkan view indah dari atas kota London. Salju turun hari ini! Luna nyaris menjerit saat butiran-butiran kecil itu tampak indah dari atas, membuatnya ingin cepat-cepat turun ke bawah dan membuat boneka seperti yang ia tonton di film-film. Ia melirik pada Zero yang masih terlelap, dan untuk sesaat Luna terpana. Zero tidur bak malaikat, dia bahkan tidak bergerak seinci pun sejak terakhir kali Luna menatapnya. Dari samping saja, wajahnya sudah sangat memesona. Apalagi dari depan? Terlebih, dari dekat?! Bisa bayangkan alasan Luna selalu berdebar saat menatap wajah Zero? Ia bahkan terpesona saat ia masih membenci Zero kala itu. Secara perlahan, rasa kebenciannya menguap. Ia masih belum bisa memaafkan dan melupakan apa yang Zero pernah buat padanya. Namun, Luna berpikir berlarut-larut dalam emosi dan hal-hal yang negatif tidak akan baik bagi dirinya sendiri. Karena itu, dia berusaha positif dan menganggap bahwa Zero akan terus seperti ini. Dia menikmati kebersamaan mereka saat Zero telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik, bahkan ia sangat senang saat sampai di London. Kota ini begitu indah! "Luna, kau sudah bangun?" Zero menatap gadis yang tengah terdiam di depan kaca itu dengan pandangan tak terbaca. Paginya disambut dengan indah kala ia menyadari Luna hanya menggunakan bathrobe pendek milik hotel yang mengekspos bagian paha dan dadanya, juga handuk kecil yang menampilkan leher jenjangnya yang indah. "Sudah," jawab Luna sambil meyodorkan secangkir kopi ke arah Zero. "Apa kau mau kopi?" "No." Zero menolak sambil menggeleng. Dia mengusap wajah kasar kala menyadari pikiran kotor sudah menguasai dirinya di pagi buta seperti ini. Juniornya sangat bersemangat di balik celana ini rupanya. "Kau sudah mandi? Tidak menungguku?" "Eh?" Luna menatap Zero bingung, dan saat gadis itu mengerti dia merasa pipinya memanas. Apa-apaan itu? Godaan vulgar secara terang-terangan? "Aku bercanda." Zero terkekeh kala melihat Luna tersipu di tempatnya. Lelaki itu bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya, menelepon seseorang. "Aku ingin baju dan sarapan, antar ke kamarku." Zero berkata singkat, lalu mematikan sambungan. Sudah, sesingkat itu. Bahkan panggilannya tak sampai 10 detik. Luna melongo. Namun, dia tidak berkata apa-apa. Di dalam benaknya, berbagai pertanyaan muncul secara tak diduga. Zero, sebenarnya ia sekaya apa?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN