#17

1262 Kata
Belasan jam penerbangan panjang yang mereka alami cukup membuat tubuh Luna terasa pegal-pegal sekaligus kelelahan. Meski pesawat milik Zero menyediakan kasur yang nyaman untuk tidur, tetapi tetap saja dia tidak bisa terlelap. Mereka sudah sampai di London, dan saat ini tengah berada di mobil, siap menuju ke kamar hotel yang sudah Zero pesan. Suasana di antara mereka hening. Zero sedaritadi hanya diam, sedangkan Luna sempat terpana saat ia menatap ke arah jalanan yang ramai dengan berbagai kumpulan orang yang melakukan pertunjukkan musik. Bulan Desember adalah waktu yang dekat dengan natal, di mana saat itu musim salju juga datang. Perbedaan suhu dan waktu di antara Indonesia dan London sempat membuat Luna tidak terbiasa, tetapi untungnya Zero sudah memprediksi hal itu. Ia mempersiapkan baju tebal untuk Luna dan dirinya, pakaian yang pasti mahal, mengingat Zero selalu mengutamakan kualitas premium. Sebentar lagi natal, oleh karena itu ada banyak pohon cemara yang dipasang bahkan di pinggir jalan. Tampak cantik dengan lampu dan hiasan yang berkelap-kelip. Sejak pertengahan Desember, Luna terkurung di rumah Zero. Tentu saja dia tidak tahu bagaimana perayaannya di Indonesia. Luna tidak bisa mengalihkan pandangan dari pemandangan kota London di malam hari, tampak indah dan meriah. Dia terpesona, karena untuk pertama kalinya di dalam hidup, Luna menyaksikan hal seperti ini secara langsung. "Dingin?" Pertanyaan Zero itu membuat Luna terpaksa mengalihkan pandangan dan menatap sang pemilik suara. Mereka memang menggunakan jasa supir, karena Zero tidak hapal jalan di London. Luna menggelengkan kepala, meski sebenarnya memang udaranya sangat dingin hingga pipinya memerah dan tangannya mati rasa. Mungkin, ia hanya tidak terbiasa dengan semua ini, mengingat dia tidak pernah ke luar negeri sebelumnya. Karena Zero tampak biasa saja di tempatnya, bahkan lelaki tidak menggunakan syal seperti yang Luna pakai.   Zero menggeser posisinya lalu memegang kedua tangan Luna. Menariknya mendekat, lalu menggosok dan meniup secara perlahan. Seolah lelaki itu tengah berusaha menghangatkan gadisnya. "Kalau dingin, bilang dingin." Zero berbicara di sela-sela kegiatannya, lalu ia mendongak dan menatap mata Luna. "Aku tahu kau tidak terbiasa." Benar, aku tidak terbiasa, batin Luna tiba-tiba bersuara kala netranya kembali bertatapan dengan milik Zero yang berwarna abu pekat. Jantung Luna kembali berdebar kala ia menyadari Zero baru saja peduli dengannya, dan berusaha menghangatkan Luna dengan usaha kecil yang ia lakukan. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak berharga, tetapi sangat bermakna bagi gadis itu. Ia selalu mensyukuri hal-hal kecil sejak dulu, dan saat ini Zero tengah menjungkirbalikkan dunianya. Semenjak lelaki itu berubah drastis semalam, Luna jadi mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya. Mulai dari perasaan minder saat ia berada di pesawat bersama Zero. Bukankah seharusnya dia tidak perlu merasa kecil hati dan bertindak seolah ia tidak peduli dengan apa pendapat orang lain? Akan tetapi, kenapa Luna justru memikirkannya? Apa dia menyimpan rasa lebih? Pada Zero? Pemikiran itu membuat kepala Luna sakit. Dia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, karena itu ia tidak tahu pasti bagaimana rasanya. Namun, berdasarkan buku yang Luna baca ... apa yang dia rasakan saat ini sejurus dengan rasa cinta itu sendiri. Hal yang terasa tidak masuk akal. Ini baru 24 jam sejak Zero berubah menjadi manusia yang lebih baik, secepat itukah Luna terjatuh atas pesonanya? "Kita sebentar lagi sampai." Zero melepaskan tangan Luna yang jadi jauh lebih hangat setelah apa yang lelaki itu lakukan. Lalu, Zero menundukkan tubuhnya, membuka ransel bag yang mereka dapatkan saat sampai di bandara Heathrow tadi. Entah darimana Zero bisa mendapatkan benda itu, Luna sendiri mengira tas yang berisi berbagai macam pakaian tebal ini adalah hal yang Zero siapkan untuk kedatangan mereka kemari. Luna memejamkan matanya saat Zero tiba-tiba saja memegang kepalanya, memasang sesuatu di sana. Hal yang membuat kepala Luna yang awalnya terasa beku, menjadi lebih hangat. "Pakai topi ini, kau pasti masih kedinginan." Zero menatap Luna dalam lalu melengkungkan senyumnya. Seolah ia bahagia dengan apa yang ia lakukan. "Terima kasih." Luna ikut tersenyum dengan kedua pipinya yang memerah karena dingin. "You're welcome, baby girl."   ***   Luna celangak-celinguk kala mereka sudah sampai di hotel yang Zero maksud. Bahkan, sebelum dia masuk ke dalam, gadis itu sudah terperangah akan dekorasi tempat penginapan yang luar biasa mewah ini. Bintang lima, sudah pasti Zero menyewa tempat dengan kualitas terbaik mengingat lelaki itu punya banyak uang. Ia bahkan tidak menyuruh Luna membawa pakaian apa pun, karena mereka akan membeli semuanya di sini. Luna masih sibuk memperhatikan dekorasi hotel yang luar biasa mewah, saat Zero mendekati resepsionis hotel sendirian. Gadis itu tak henti-hentinya terpesona, apalagi kala dia menemukan pohon natal yang super besar, dengan hiasan emas di bagian paling atasnya. Ia berdecak kagum, merasa bahwa saat ini ia tengah berada di dunia lain. Alunan lagu lembut edisi natal juga membuat tubuh Luna bergoyang. Suasana hatinya sedang bagus, dia bahagia kemari dan ia tidak akan pernah melupakan hal ini seumur hidup. "Ruangan atas nama Alexandriou?" Tidak memperhatikan betapa senangnya Luna, Zero sibuk dengan pegawai hotel yang akan ia tempati. Jeremy sudah mengurus segalanya, termasuk soal transport, penginapan, makan, pakaian, juga perusahaan Zero. Dia andal meng-handle segalanya, jadi Zero tidak perlu cemas. Sesungguhnya ia sangat mempercayai Jeremy karena lelaki itu pernah menyelamatkannya satu kali, juga ia tidak pernah melakukan kesalahan sekalipun. Zero mengajak Luna kemari dengan alasan ia ingin memakan fish and chips, tetapi sebenarnya bukan hal itu yang menjadi dalih kenapa dia mau kemari. Melainkan ... dia ingin mencoba membuat Luna bahagia lagi. Zero pikir, sebuah cincin kecil tidak akan cukup untuk menebus segala kesalahannya. Atau tepatnya, seberapa banyak pun usaha dan uang yang dia keluarkan demi Luna tidak akan pernah layak untuk menggantikan apa yang telah Zero renggut dan rusak dari hidup Luna. Setidaknya ... ia ingin mencoba melakukan sesuatu, karena itu ia mengajak Luna kemari. Pegawai itu menunduk sejenak ke arah Zero sebagai bentuk hormat dan berniat menuntunnya menuju ke kamar saat Zero melihat Luna yang tengah terpesona dengan pohon natal raksasa di hotel ini. Lelaki itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya kala ia menyadari ... gadis itu benar-benar polos, sekaligus lucu. "Laluna." Zero memanggil dengan lembut, tetapi cukup untuk membuat Luna menoleh dan berlari mendekatinya. Beberapa orang memperhatikan mereka karena langkah kaki Luna yang terlalu heboh. "Kita harus segera beristirahat." Luna mengangguk, lalu mengikuti langkah Zero. Mereka dituntun menuju lantai hotel yang paling atas bersama sang pegawai. Suasana diam sempat memenuhi ruang di antara ketiganya, tetapi hal itu hanya berlangsung sebentar karena lift dengan cepat mengantarkan mereka ke lantai yang dituju. Kamar 1120, lantai 11. Pegawai itu berhenti di depan satu kamar yang Luna prediksi adalah milik Zero. Pintu dibukakan, lalu sang pegawai hotel memberikan sebuah kartu yang Luna yakini adalah kunci ke arah Zero. "Enjoy your holiday, Mr. and Mrs. Alexandriöu." Pegawai itu membungkuk sebelum undur diri. Meninggalkan Zero berdua dengan Luna yang sedang kebingungan. "Tunggu apalagi? Kau tidak mau masuk?" tanya Zero saat Luna masih bergeming di tempatnya. "Wait. Kenapa hanya ada satu kamar?" Luna memiringkan kepala, heran. "Kenapa lagi? Kita akan tidur berdua malam ini." Zero menaikkan alisnya, ikut heran dengan pertanyaan Luna. "A-apa?" Luna membulatkan mata. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Zero hanya tidur dengan Luna di saat ia tidak sadar setelah mereka habis melakukan 'perang'. Tidak pernah dalam kondisi segar bugar seperti ini. "Maksumu ... kita? Tidur berdua?" Apakah malam ini kami akan melakukannya lagi? batin Luna tiba-tiba bersuara. Sudah lama sejak mereka terakhir kali berhubungan, dan ada satu bagian di dalam diri Luna yang ... merindukan hal itu. Memalukan? Sangat! Akan tetapi, Luna sendiri tidak bisa menampik perasaan itu. Terkadang sisi jalangnya bisa mengambil kuasa terlalu kuat, hingga ia tak mampu berbuat apa-apa. Zero menarik senyumannya, lalu mengangguk. "Akan tetapi, sekarang aku tidak yakin kita bisa tidur dalam artian yang sebenarnya, di saat pikiran kotormu itu sudah menjalar ke mana-mana, Laluna."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN