#16

1094 Kata
Langit yang menggelap belum mulai menampilkan sinarnya lagi saat Luna terbangun lebih pagi dari biasanya, dengan suasana hati yang luar biasa bagus karena perlakuan Zero semalam. Baru jam empat lewat ternyata, ia tidak bisa tidur dengan baik saking bahagianya. Bahkan, semalam Luna tidak bisa berhenti tersenyum karena Zero memberikannya sesuatu yang sangat ia sukai, bahkan sejak dulu. Katakanlah dia lebay hanya karena hadiah kecil yang Zero berikan, ia bersikap berlebihan sampai tidak bisa tidur dan terus-menerus tersenyum bahagia. Namun, sejak kecil ia memang tidak pernah menerima hadiah apa pun, bahkan dari Bu Fahmi sekalipun. Dia selalu merayakan ulang tahunnya sendirian, karena keterbatasan sang ibu panti untuk mengingat seluruh tanggal lahir anak yang tinggal di sana. Luna sesungguhnya tidak mengingat tanggal lahir aslinya, karena ia kehilangan semua memorinya sebelum ia sampai di panti asuhan, entah apa yang terjadi. Oleh karena itu, Bu Fahmi memberikannya tanggal lahir yang sama dengan saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di panti asuhan. Sedangkan untuk nama Laluna sendiri tertulis di kalung yang selalu ia pakai sejak kecil, untungnya namanya tidak diganti dengan yang lain. Gadis itu masih tidak bisa menghentikan kebahagiaannya kala ia mengangkat tangan tinggi-tinggi ke udara, dan memandangi sebuah perhiasan yang masih berada di sela jari-jarinya dengan pesona yang bahkan tidak berkurang sejak semalam.   Luna tidak tahu berapa harga cincin ini, tetapi dari warnanya dia menyimpulkan kalau ini terbuat dari emas, dan emas bukan benda yang murah. Namun, mengingat Zero yang sangat kaya raya membuat perasaan tidak enak itu segera terangkat dari hati Luna. Kekayaannya bahkan tidak berkurang satu persen hanya karena ia memberikan aku ini, batin Luna bersuara, menenangkan dirinya sendiri dari rasa tidak enak yang mengganjal meski perasaan bahagia masih mencuat nyata. Ia menganggap hadiah ini sebagai permintaan maaf atas sikap Zero yang selama ini sangat buruk pada Luna, meski gadis itu sendiri masih bertanya-tanya alasan kenapa lelaki kasar itu berubah menjadi lembut dan romantis dalam sekejap. Akan tetapi, syukurlah, bukan? Ada sedikit perasaan yang senang luar biasa di hati Luna, kala menyadari Zero mungkin akan terus bersikap seperti ini, dan membuang segala tabiat buruknya. Suara pintu yang dibuka secara paksa membuat Luna terlonjak dari tempatnya. Ini masih terlalu pagi untuk bangun dan beraktivitas, apa iya Zero akan masuk ke dalam kamarnya di subuh buta seperti ini? Lagipula, memangnya lelaki itu sudah bangun? "Zero?" Luna memiringkan kepalanya saat menemukan Zero tengah berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang rapi, tetapi bukan jas kantoran seperti biasanya. "Kau ... sudah bangun?" Pertanyaan bodoh, jelas Luna tanpa sadar melayangkan hal itu karena terlalu bingung. Ada rasa sedikit minder yang ia rasakan, karena ia masih mengenakan baju tidur dengan wajah yang acak-acakkan saat Zero sudah rapi dengan wajahnya yang menawan selalu. "Bangunlah," kata Zero dengan lembut. Membuat Luna yang belum terbiasa dengan semua ini merasa sedikit aneh mendengarnya. "Kau harus bersiap-siap." "Hah? Bersiap-siap? Maksudnya, kau mau mengajakku pergi?" Luna mengernyitkan dahi, dia sempat berpikir kalau ia akan terkurung selamanya di dalam penjara rumah Zero ini karena lelaki itu tidak akan melepaskannya keluar. Namun, sekarang ... apa maksudnya? "Ya. Aku sedang sangat menginginkan fish and chips yang dibuat oleh kedai kusukaanku, di London." Zero mengangkat sebelah alisnya. "Dan kali ini, aku ingin mencobanya denganmu." "Maksudmu ... kita akan pergi ke London?" Luna melongo, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.  Baru kali ini dia menemukan seseorang yang mengajaknya untuk pergi ke London, hanya karena ingin memakan sesuatu. Seolah biaya untuk pergi ke sana sama sekali bukan masalah untuk Zero. Well, harus Luna akui Zero memang tajir melintir. Ia yakin banyak sekali gadis yang ingin menjadi pendamping lelaki itu, mengingat wajahnya yang tampan, auranya yang berkharisma, dan uangnya yang terus mengalir deras. "Ya. Kita akan pergi ke London, untuk membeli Fish and Chips."   ***           "Zero ... aku tidak memiliki paspor. Bukankah kita perlu paspor untuk pergi ke luar negeri?" Luna menarik jaket Zero dengan tangannya kala mereka sudah sampai di depan pesawat terbang yang Luna yakini adalah transportasi yang akan mereka gunakan untuk pergi ke Inggris. Zero menoleh, menemukan Luna yang tampak cemas. Gadis itu hanya menggunakan kaus putih polos dan celana jeans panjang, tetapi dia tampak sangat cantik. Wajahnya yang imut itu membuat Zero ingin mencium bibirnya di detik ini juga. "Aku sudah mengurusnya." Zero memasang kaca mata hitam dan tersenyum miring. "Kau ... ikut saja, jangan banyak protes." Luna membulatkan matanya lagi, hendak protes, sampai Zero menarik napas berat dan menggengam tangannya. Menuntun Luna untuk masuk ke dalam pesawat. Hal itu terlalu tiba-tiba, membuat Luna harus mengikuti langkah Zero dengan terseret-seret. Jantungnya berdebar dengan kencang kala ia menyadari saat ini ada banyak pasang mata yang menatap mereka-awak pesawat-dengan pandangan intens menilai. Luna menunduk, merasa malu. Saat ini tangannya sedang bertautan dengan milik Zero, seolah mereka adalah pasangan. Namun, Luna hanya merasa ... ia sedikit tidak pantas untuk lelaki itu jika disandingkan sebagai sepasang kekasih. Bukankah dia agak ... terlalu rendah, untuk seseorang yang sangat sempurna seperti Zero? Perasaan minder itu membuat nyali Luna menciut, bahkan setelah ia dan Zero memasuki pesawat. Gadis itu terus menundukkan kepala, mengabaikan segala awak pesawat yang datang dan menyambut mereka. Terlalu takut untuk menatap ke depan, Luna tidak menyadari kalau ia berada di dalam pesawat pribadi milik Zero yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Mulai dari ruang tidur, kamar mandi, bar, dan tempat-tempat lain yang tidak akan dia temukan di pesawat biasa. "Kau kenapa?" Zero duduk bersebelahan dengan Luna di kursi besar yang memang khusus tersedia untuknya saat ia menemukan Luna tidak berkata apa pun usai perihal paspor tadi. "Merasa gugup karena baru pertama kali naik pesawat?" Luna menggeleng. "Tidak ... aku tidak apa-apa." Zero memiringkan kepala, merasa ada sesuatu yang salah dengan Luna, tetapi sepertinya gadis itu enggan mengatakannya. Lelaki dengan kaos berwarna navy blue dan celana potongan pendek jeans itu membenarkan posisinya hingga tubuhnya berhadapan dengan Luna. Lalu, tangannya terulur dan menyentuh wajah Luna. Mengangkatnya hingga netra mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Luna terdiam, tubuhnya terasa membeku setiap kali Zero menatapnya seperti itu. Jantungnya lagi-lagi menggila diiringi dengan sengatan listrik yang terasa di bagian perutnya, membuat ia merasa mulas. Cup! Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga Luna bahkan tidak sempat mengedipkan matanya. Apa itu? Apa ... Zero baru saja menciumnya? Di depan para awak pesawat? Mencium bibirnya?! Pipi Luna seketika memanas hingga ronanya berubah semerah kepiting rebus. Jantungnya yang sudah menggila sebentar lagi mungkin akan meledak. Mereka sudah pernah melakukan hal yang lebih daripada ini. Namun, kenapa rasanya sangat berbeda? "Ciumanku akan membuatmu lebih rileks." Zero tersenyum jahil kala melihat ekspresi cengo Luna yang kebingungan. "Kalau kau mau lagi, boleh. Panggil saja aku, dan dengan senang hati bibirku akan melakukannya."   ***                                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN