#15

1129 Kata
Luna pikir menyetujui ajakkan makan malam bersama dengan Zero akan menjadi penyesalan terberatnya, karena situasi yang canggung mengingat bagaimana lelaki itu biasanya memperlakukannya. Kasar, kejam, tidak berperikemanusiaan, dan ... dingin. Namun, yang terjadi sesungguhnya justru di luar ekspetasi Luna. Jika sebelumnya dia membayangkan acara makan malam yang membosankan dengan situasi canggung di antara mereka, maka Zero justru berhasil mematahkan semua angan-angan kosongnya. Tidak ada makan malam canggung dengan situasi membosankan, karena pada nyatanya Zero mengajaknya ke bagian luar rumah milik lelaki itu yang belum pernah Luna jamah sebelumnya. Kolam berenang. Tempat dengan luas yang luar biasa, air biru bening itu tampak indah di malam hari dengan hiasan lilin-lilin kecil di atas kapal mainan yang berlayar. Entah siapa yang menyiapkan segalanya, Luna sendiri tidak yakin. Lantunan musik lembut juga menemani malam mereka, Luna mendongakan kepala menatap langit yang tampak lebih gelap daripada biasanya, tetapi bintang-bintang menjadi lebih hidup karenanya. Selain itu, ada sebuah meja makan kecil diletakkan di dekat kolam, sudah terisi penuh dengan segala lauk pauk yang jauh lebih sedikit dari jumlah yang biasa pelayan Zero sajikan saat sarapan atau makan malam biasa, tetapi tampilan makanannya jauh lebih mewah. Angin sejuk membelai pipinya lembut, membuat Luna mau tak mau tersenyum, merasa nyaman dengan suasana ini. Dia sempat melupakan betapa kasarnya sifat Zero, karena terlalu terbuai dengan godaan di hadapannya. Dari segala keindahan yang ada, Luna tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Dia terus-terusan berdecak mewah kala menyadari rumah Zero benar-benar luar biasa, mirip seperti istana yang memuat Raja dan Ratu di dalamnya. Persis di negeri dongeng. Kepala Luna menoleh ke samping saat ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bagian bahunya, dan kala dia menengok ia menemukan mata abu dengan lirikan lembut tanpa intimidasi itu tengah menatapnya lekat. Membuat Luna tanpa sadar mundur satu langkah dari tempatnya karena gugup sekaligus terpesona. "Dingin, bukan? Pakai, udara malam tidak bagus untuk dirimu yang baru sembuh." Setelah mengatakan hal yang membuat Luna nyaris menjatuhkan rahangnya karena heran, Zero berlalalu begitu saja. Dengan santainya, lelaki itu mendekati meja makan di dekat kolam tadi dan duduk di sana. Luna menggunakan jaket hitam yang beraroma parfum Zero dengan patuh meski dia baik-baik saja tanpa balutan pakaian tebal ini. Sesungguhnya, ia hanya tidak ingin merusak suasana yang sudah telanjur membuatnya jatuh cinta. Sejujurnya memang Zero terlihat aneh malam ini, biasanya lelaki itu memperlakukannya dengan semena-mena, tetapi malam ini ia justru mengajak Luna untuk makan malam di tempat yang bahkan tidak pernah Luna bayangkan sebelumnya. Sebenarnya, apa yang terjadi? "Tidak mau duduk?" Zero bertanya kala ia melihat Luna masih berdiri di depan pintu sambil menatap kolam dengan pandangan terpesona, persis seperti orang bodoh. Terbesit rasa nyeri di hatinya kala lelaki itu menyadari kalau ia telah menyakiti seorang gadis kecil yang bahkan senang dengan hal-hal yang wanita lain anggap 'biasa saja'. "Eh? Iya!" seru Luna tanpa sadar saat ia tertangkap basah tengah melamun. Lalu, dengan langkah cepat ia berjalan mendekat ke arah Zero dan duduk berhadapan dengannya. Musik masih mengalun dari dalam, tetapi bunyinya terdengar sampai ke luar. Luna menunduk dan menatap ke arah makanan kala sadar kalau meja makan ini terlalu kecil daripada yang biasanya, hingga jaraknya dan Zero menjadi begitu dekat saat ini. Napasnya terasa semakin sesak kala menyadari Zero tengah menatapinya dengan cara yang tak biasa. Bukan menusuk, tajam, ataupun intimidasi. Entahlah, Luna sendiri juga tidak mengerti. Akan tetapi, hanya dengan sorotan mata, lelaki itu berhasil membuat jantungnya menggila di dalam sana. Kelopak mata itu terpejam sejenak kala Luna berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tidak terlihat bodoh dan bersikap biasa saja di depan Zero, tetapi semua usahanya itu tiba-tiba terasa sia-sia saat sebuah sentuhan lembut terasa di bagian tangan Luna. Luna sempat mengerang kecil karena geli, tetapi kedua kelopak itu masih tertutup rapat. Terlalu takut untuk membuka. Dia membayangkan berbagai skenario buruk, mulai dari Zero yang mungkin saja hendak mencelakainya, dan masih banyak lagi. "Buka matamu." Zero bergumam, tetapi masih terdengar di indra pendengaran Luna. "Kenapa kau menutupnya seperti orang bodoh?" "Hah?" Luna membalas dengan heran, lalu perlahan ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Kedua netra itu membulat kala menyadari ada sesuatu yang aneh dengan tangannya yang terasa di sentuh oleh Zero tadi. Ada kilauan yang cantik di sana, sebuah perhiasan indah di bagian jari-jarinya yang buluk. "Cincin itu terlihat simpel dengan ikon bunga matahari di bagian atasnya, apa kau suka?" Zero menuang wine ke dalam gelasnya, lalu mengaduk-ngaduk minuman itu sembari menatap Luna. "Kudengar, kau menyukai bunga kuning itu." Luna tidak bisa menyembunyikan rasa terpesona sekaligus terkejut dengan hadiah yang Zero berikan. Tidak henti-hentinya gadis itu berdecak tanpa sadar kala menyadari ada keindahan yang tengah tergantung di bagian tangannya. Cantik sekali. Benar, Luna menyukai bunga matahari di saat manusia lain biasanya lebih memilih mawar. Baginya, matahari itu tampak indah, cerah, dan membawa semangat bagi orang lain. Dia selalu ingin menanam bunga itu, tetapi lahan panti asuhan terlalu kecil untuk sekadar menanam bunga. Lagipula, semua tanah telah teriisi dengan pohon-pohon rindang milik Bu Fahmi yang tidak bisa Luna ganggu gugat. Jadi, harapannya pupus sudah dan tak pernah terwujud. "Cantik ... cantik sekali." Luna bergumam, masih terpesona. Dia tidak pernah menyangka kalau Zero akan melakukan semua ini hanya untuknya. Ini tidak seperti lelaki itu karena biasanya dia kasar sekali, tetapi masa bodoh. Luna tidak peduli, dan bukankah hal ini jauh lebih baik? Luna mungkin bisa betah tinggal di sini jika Zero memperlakukannya dengan sedikit lebih baik. Lagipula, dia tidak punya tempat tujuan lain. Dia memang selalu berpikir untuk kabur dari kediaman Zero, tetapi sesungguhnya Luna bingung ke mana dia harus melangkah pergi di saat tidak ada tempat yang mau menampungnya? Kembali ke Bu Fahmi pun tidak mungkin, karena Luna tidak yakin dia bisa melangkahkan kaki lagi di sana. Bu Fahmi sudah memiliki banyak beban dengan anaknya yang sakit-sakittan. Luna tidak mau menjadi sumber masalah baginya. "Simpanlah, anggap saja itu hadiah penyambutan untukmu karena telah tinggal bersamaku, meski sangat terlambat." Zero menarik senyumannya, tipis. Melihat Luna yang bahagia dengan hal-hal kecil membuat hatinya terasa hangat. Sebelum bertemu dengan Joanna, Zero juga pernah menjalin hubungan dengan gadis-gadis lainnya, tetapi tidak ada yang pernah puas dengan apa yang Zero berikan. Padahal jika dipikir-pikir apa yang ia beri untuk Luna tidak seberapa, jika dibandingkan dengan hadiah untuk mantan-mantannya. "Terima kasih!" Luna menatap Zero dan tersenyum, hingga kedua matanya menghilang. Melihat hal itu, Zero justru terpaku di tempatnya. Persis seperti apa yang Luna lakukan di depan kolam tadi, saat mereka pertama kali masuk ... terpesona. Luna menyibukkan diri dengan cincin matahari barunya, sedangkan Zero tidak bisa mengalihkan pandangan dari gadis itu. Entah bagaimana, apa pun yang ia lakukan terasa lucu dan berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah Zero temui. Hal itu berlangsung cukup lama, hingga Zero tiba-tiba merasa jantungnya berdebar dan wajahnya seketika memanas kala menyadari apa yang baru saja terjadi padanya. Oh sial, apa dia baru saja jatuh cinta pada Laluna?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN