#14

1073 Kata
Suara jam dinding terasa sangat nyata kala keadaan sepi, di tengah ruangan kerja, seorang lelaki dengan pakaian kaos oblong hitam polos dan celana pendek tengah duduk terdiam, menatap ke depan dengan pandangan  kosong. Seolah pikirannya menerawang jauh, meski raganya masih di sini. Zero memucat di tempat kala mendengar fakta nyata yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Hal yang selalu ia lewatkan ternyata dapat menjadi kunci jawaban, di mana semua letak dendam dan kebenciannya nyatanya salah sasaran. Di depan Zero, ada Jeremy yang tengah berdiri sembari membawa kertas yang berasal dari laboratorium, hasil tes DNA. Sudah setengah jam sejak lelaki dengan tubuh proporsional itu berdiri di sana, mengamati Zero dan mengulangi kalimat yang sama kala bosnya memerintah. "Ulangi." Zero berkata dengan ekspresi datar. Hanya bibirnya yang hidup di sana, sedangkan organ tubuhnya yang lain seolah mati. Ini kali pertama Jeremy melihat Zero bertingkah aneh, seperti orang yang kehilangan arah. Sulit untuk membaca apa yang Zero pikirkan, dia menyimpan rapat segalanya sendirian, dan selalu seperti itu. "Zero Bennedict Alexander, dan Laluna Laviora Angel, tidak bersaudara." Jeremy mengulangi kalimat yang telah ia ucapkan untuk ke-15 kali hari ini dengan sabar. Entah kenapa Zero memintanya mengulang hal yang sama, seolah fakta yang baru saja ia ucapkan sangat sulit diterima oleh lelaki itu. Sesungguhnya Jeremy tidak mengerti alasan Zero memintanya melakukan tes DNA di antara dirinya dan Laluna. Bukankah hal itu sudah jelas, kalau mereka tak bersaudara? Zero memang bukan orang baik, tetapi, apakah dia tega untuk membawa Luna kemari dan memperlakukan dirinya bak wanita jalang, kala dia berpikir kalau Luna adalah adiknya? Banyak pertanyaan tidak terjawab di benak Jeremy. Tentang alasan Zero membawa dan memilih Luna, alasan Zero melakukan tes DNA, alasan Zero membenci Papanya sendiri, dan masih banyak lagi. Bosnya terlalu misterius, bahkan setelah tinggal di atap yang sama selama bertahun-tahun, Jeremy sadari dia sama sekali tidak mengenal Zero secara personal. Lelaki itu membangun tembok yang sangat tinggi, hingga dirinya sama sekali tak bisa tersentuh. Seolah ... dia tengah melindungi dirinya sendiri dari orang lain, karena takut terluka. "Keluar." Ucapan yang keluar dari mulut Zero itu langsung ditanggapi Jeremy dengan bungkukan hormat ke arahnya. Namun, baru saja Jeremy hendak bergerak pergi, perkataan Zero kembali menghentikan langkahnya. "Tinggalkan kertas itu di sini." Zero berkata singkat, yang dibalas dengan anggukan oleh Jeremy. Saat pegawainya itu sudah keluar, Zero langsung berdiri dan mengambil kertas-kertas berisi bahasa yang membuat kepalanya terasa berdenyut. Zero membaca satu kalimat kesimpulan yang benar-benar membuat seluruh dunianya terasa runtuh. "Jadi ... Laluna tidak bersalah?"   ***   Zero mengusap wajahnya kasar. Dia berusaha menerima segala yang baru ia ketahui hari ini dengan lapang d**a, meski ada rasa sesak yang menghimpit diri terlalu kuat, hingga rasanya sulit untuk sekadar bernapas. Laluna Laviora adalah korban dari rasa egois, kebencian, dan dendamnya akan kejadian di masa lalu. Zero berpikir Luna adalah bagian dari penyebab kenapa ia harus menderita di masa kecil, karena itu ia ingin menyiksa si gadis mungil itu dengan mengurungnya, merebut kehidupannya, melakukan hubungan seksual secara paksa, dan yang paling parah ... menganggapnya sebagai seorang wanita jalang. Akan tetapi, sekarang segalanya telah berbeda. Tidak ada lagi alasan untuk Zero kembali menghukum dan menyiksa Luna, di saat gadis itu sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang terjadi padanya di masa lalu. Lalu sekarang, apa yang harus Zero lakukan? "Bodoh, bodoh, bodoh!" seru Zero keras sembari melempar segala benda yang ada di meja kerjanya. Membuat banyak kertas berhamburan ke sembarang arah. Napas lelaki itu memburu, rahangnya mengeras diiringi dengan tubuh yang bergetar. Dia kehilangan arah, karena rasa bencinya yang mendarah daging, dia harus merebut kebahagiaan seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Zero lirih pada dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya lagi dengan kasar, lalu menyandarkan kepala ke kursi kerja. Luna, gadis itu sudah ditinggalkan sejak kecil. Dia tidak memiliki siapa pun, keluarganya telah menghilang semua. Zero tidak tahu apa hubungan pasti Luna dengan jalang yang menghancurkan keluarganya, tetapi selama mereka bukan saudara maka Luna tidak berhak untuk mendapat perlakuan tidak pantas dari Zero. Ia sudah menghancurkan kehidupan gadis itu karena keegoisanya, dan sekarang ... Zero tahu, dia harus menebus segalanya. Ia harus membuat Luna bahagia, setidaknya dengan caranya sendiri, dan setelah gadis itu melupakan segala rasa sakit dan derita yang pernah Zero buat untuknya, barulah Zero akan melepaskannya dan membiarkannya hidup damai seperti biasa. Melakukan kehidupan normal seperti orang lainnya,  dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan Zero Alexander. "Aku harus membahagiakannya." Zero bergumam lalu menghela napas. Dia berdosa besar pada Luna, dan ia harus menebusnya. Sekarang, fakta telah terungkap, dan segalanya ... akan jauh berbeda.   *** Laluna sedang berdiam diri di kamarnya karena merasa bosan, tidak ada kegiatan yang bisa ia lakukan tidak peduli saat siang maupun malam. Kondisinya sudah jauh lebih baik karena obat yang dokter berikan, demamnya cepat turun dan ia bisa beraktivitas seperti biasa. Ia sempat berpikir untuk mengajak bermain pelayan lain saking bosannya, sampai ia ingat, kalau hal itu bisa membahayakan mereka. Bisa-bisa, karena Luna mereka kehilangan pekerjaan.  Suara knop pintu yang terbuka membuat Luna mendongak, menemukan Zero yang tengah berdiri di sana dengan pandangan tak terbaca. Lelaki itu selalu menawan, tidak peduli apa pun keadaannya. Netra abu yang membius, rahang keras, tubuh atletis, serta bibirnya yang kissable cukup untuk memabukkan siapa saja yang melihatnya. Luna menggelengkan kepala kala sadar tentang apa yang ia pikirkan. Saat sakit kemarin, dia melupakan misinya untuk membuat Zero jatuh cinta, tetapi sekarang kondisinya sudah fit. Terlalu sehat, malah. Haruskah dia mencoba menggoda Zero lagi? Meski Luna tidak yakin dia akan menang dari lelaki itu, mengingat Zero yang kemarin mempermainkannya dengan sentuhan-sentuhan yang membuat Luna harus menahan erangannya. "Kau mau apa?" tanya Luna langsung saat Zero masih betah bergeming di ambang pintu, meski sudah beberapa menit sejak mereka saling berpandangan. Luna semakin mengernyitkan dahinya saat sadar Zero menatapnya dengan cara yang berbeda. Lebih lembut dan santai daripada biasanya. Netra abu itu entah bagaimana tidak berusaha untuk mengintimidasi Luna lagi. Apa ini? Apa saat ini Luna tengah berkhayal? Zero? Menjadi baik kepadanya? Apa itu mungkin? Mengingat kemarin-kemarin ia sangat membenci Luna, hingga memperlakukannya bak wanita jalang. Rasanya ... pemikiran tentang Zero baik padanya terasa hampir mustahil. "Luna ...," panggil Zero dengan suaranya, lembut. Jantung gadis itu tiba-tiba berdebar lebih kencang daripada biasanya saat mendengar Zero menyebut namanya dengan cara yang begitu berbeda. Luna memejamkan matanya sejenak, berusaha mengendalikan dirinya yang mulai menggila. "Apa?" balas Luna heran. Ia berusaha bersikap senatural mungkin, meski degupan jantungnya masih terasa sangat nyata terdengar. "Apa kau mau ... makan malam denganku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN