Luna sudah selesai diperiksa dan sekarang ia terlelap kembali karena pengaruh obat. Kata dokter, dia demam dan butuh banyak istirahat, mendengar hal itu membuat Zero sadar tentang betapa berengseknya dia malam itu kepada Luna.
Rekam medis Luna diserahkan kepada Zero. Ia merasa malas untuk berangkat ke kantor, dan lebih memilih untuk menyerahkan semua urusan ke tangan Jeremy demi stay di rumah.
Zero masuk ke dalam kamarnya dan duduk di kursi kerja, saat dia mengeluarkan selembar kertas dari amplop dokumen yang diberikan oleh dokter tadi. Itu rekam medis milik Luna, ada kelegaan yang luar biasa di dalam diri Zero saat tahu gadis itu tidak menderita penyakit yang serius.
Mata Zero bergerak dari atas ke bawah, meneliti isi dari kertas itu. Meski tidak paham dengan bahasa asing yang membuat kepalanya mulai berdenyut, ada satu hal yang menarik perhatian lelaki itu.
Sesuatu yang terasa salah ... di sana.
Zero melemparkan kertas itu ke sembarang arah dan bangkit dari tempatnya. Dia mengambil ponsel dan kembali menelepon dokter yang bertanggung jawab atas Luna tadi.
Telepon berdering diiringi dengan degup jantung Zero yang mulai menggila. Bibirnya bergetar, sedangkan tubuhnya terus bergerak karena cemas.
Dia biasanya selalu bertindak dengan hati-hati dan penuh pemikiran. Namun, ketika dendam menyelimuti, bagaimana bisa Zero tetap bersikap waras dan rasional?
Selama bertahun-tahun dia diselimuti dendam pada Laluna, karena gadis kecil itu dianggap sebagai penghancur kebahagiaannya. Zero mengikuti Luna dan membelinya, bahkan dengan perjuangan yang keras setelah ditolak berkali-kali oleh Bu Fahmi.
Dia mengurung Luna di sini, membakar semua bajunya, merebut hal yang ia jaga selama ini, kesuciannya. Lalu, Zero memaksanya melakukan hubungan seksual, memintanya untuk tidak kabur, berniat menikahinya secara paksa.
Setelah semua yang dia lakukan itu .... Jangan katakan padanya ... kalau sebenarnya ... dia ... salah paham?
"Halo?"
Suara bapak-bapak khas Dokter Ryan membuat Zero tersentak dari lamunannya. Dia membulatkan mata sejenak, berusaha untuk tidak terlihat panik sebelum bertanya, "Dokter, apa mungkin jika seorang bapak bergolongan darah A, dan Ibu yang bergolongan darah AB menghasilkan anak bergolongan darah O?"
"Hah?" Alih-alih menjawab, Dokter itu justru bergumam heran. Mungkin, dia tidak siap dengan pertanyaan Zero yang terlalu tiba-tiba. Atau, lebih jelasnya, Zero tidak pernah berbicara sepanjang itu kepadanya.
"Jawab aku!" seru Zero kesal saat tak mendengar jawaban yang ia mau. Rahangnya mengeras dengan urat yang mulai menonjol di sekitar leher. Lelaki dengan mata abu itu menyimpan kekhawatiran di dalam sana.
"Ehem. Baik. Begini, menurut medis, hal itu tidak mungkin. Jika ada orang tua dengan golongan AB dan A, maka anak-anaknya kemungkinan akan bergolongan darah di antara A, B, dan AB. Bukan O."
Penjelasan itu terdengar ribet, tetapi Zero mengerti maksudnya. Dia paham soal golongan darah, karena itu dia memutuskan untuk menelepon dokter akan kebenarannya.
Hal sepele yang selalu dia lewatkan selama ini, ternyata ... bisa menjelaskan segalanya.
Kepalanya tiba-tiba terasa pening, dengan pandangan berkunang-kunang. Dahi lelaki itu mengernyit, dan tubuhnya terasa lemas. Ponsel berlogo apel digigit itu terjatuh secara tragis, bersamaan dengan Zero yang ambruk di tempatnya.
Dia selama ini mengikuti Laluna, sudah belasan tahun sejak dia mengincar gadis kecil itu hanya untuk membalas dendam, dan selama itu, tidak ada sedikitpun niatan dari diri Zero untuk menyelidiki tentang Luna lebih lanjut karena dia merasa sudah tahu segalanya.
Dia merasa mengenal Luna dan menyalahkan Luna atas segala yang menimpanya. Tidak ingin tahu hal lain, Zero hanya memedulikan ambisinya, padahal ada banyak hal yang ia lewatkan dari sana.
Segela perasaan berkecamuk membuat d**a Zero terasa sesak, seolah dirajam dan dicabik di waktu yang bersamaan. Ia tidak bisa bernapas dengan baik.
Meski masih merasa lemas, Zero berusaha mengambil ponselnya dan menghubungi Jeremy. Telepon itu diangkat tepat setelah deringan ketiga.
"Halo, Mr. Zero?"
"Jeremy, aku ingin kau melakukan tes DNA untukku."
***
Luna bangun dengan kondisi yang sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tangannya diinfus, dan tubuhnya diselimuti sampai ke d**a. Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, mencari Zero atau orang lain yang ada di dalam kamarnya, tetapi dia tidak menemukan siapa-siapa.
Luna berdiri saat ia yakin rasa pening itu tak lagi menyerang, dan berjalan ke arah meja sambil menarik tongkat infusnya. Merepotkan, tetapi mau bagaimana lagi?
Ia duduk di kursi belajar sambil menatap langit, seperti yang biasa ia lakukan. Rasa tenang yang menghampiri gadis itu menjadi alasan utama kenapa ia tetap melakukan hal ini.
Luna ... tidak ingat apa pun soal orang tuanya, dia hanya ingat ia diantarkan ke panti asuhan Matahari oleh orang asing saat hujan turun dengan lebat. Dia ingat, kalau pertama kali ia melihat Bu Fahmi yang datang dan menyambutnya dengan pelukan hangat, memperlakukan Luna seperti anaknya sendiri.
Akan tetapi, ia tidak bisa mengingat kejadian sebelum itu. Alasan kenapa dia sendirian di hari yang hujan. Alasan kenapa orang tuanya meninggal.
Mimpi buruk samar yang sering kali menghampiri Luna bukanlah mimpi soal orang tuanya. Tidak ada gambaran jelas di bunga tidurnya. Yang ada hanyalah suara jeritan penuh penderitaan, makian, amarah, serta kebencian yang terdengar pekat.
Luna tidak ingat apa pun, sedikit pun tidak. Akan tetapi, setiap kali mendengar suara-suara samar dari mimpinya, dia merasa tercekik. Di saat itu, bernapas dengan baik bukan hal yang mudah.
Luna menghapus air matanya yang turun tanpa sadar kala hatinya kembali terasa sesak setelah mengingat hal itu. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ini bahkan lebih menyakitkan rasanya daripada saat ia harus pergi meninggalkan kehidupannya karena Zero.
Ia selama ini berusaha bersikap tegar agar tak terlihat lemah di depan orang lain. Luna tidak ingin membiarkan rasa sakit itu melahapnya hidup-hidup secara perlahan.
Namun, selama belasan tahun ini, sesungguhnya Luna sering kali merasa ia hidup, tetapi mati. Bak zombie.
Ia bernapas. Jantungnya berdetak. Kulitnya berseri. Akan tetapi, hatinya mati. Ia bahkan tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
Terkadang, ada sisi lain dari diri Luna yang terasa familier serta asing. Dia hidup di badan ini, tetapi dia tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik.
Luna mengambil selembar kertas dan menggerakkan jarinya yang tak diinfus di atas sana dengan menggunakan pena. Menuliskan satu kalimat pendek yang mewakilkan segala pemikirannya saat ini.
Kalimat singkat yang mungkin tidak bermakna bagi orang lain, tetapi sangat besar artinya bagi Luna.
Sebenarnya, siapa aku?